5 Oktober 1952, tepat pukul 15.00 WIB lahirlah seorang bayi perempuan bernama Fatimah. Bayi perempuan yang diberi nama seperti putri Rasulullah SAW, sebetulnya orang tuanya tidak terlalu mengetahui betapa indah nama yang diberikan pada putri mereka. Kedua orang tua dari bayi ini pada masa itu tinggal dilingkungan yang belum terlalu mengenal dan faham mengenai agama.
Tahun silih berganti, waktu berputar tanpa henti. Empat belas tahun berlalu, membuat Fatimah sang bayi kecil tumbuh menjadi remaja 14 tahun yang shalehah dan juga pekerja keras. Orang tuanya berhasil membuatnya menjadi seorang putri yang sangat senang bekerja, terlebih ketika ia mendapat upah. Tak ada hari ia lewatkan tanpa bekerja. Tetapi meski begitu, tidak pernah sekalipun Fatimah absen dari pengajian di sebuah pesantren yang berjarak 1 Km dari rumahnya. Kala itu, tidak ada angkutan umum. Jarak 2 Km terasa dekat dengan berjalan kaki. Jarak itu ia rela tempuh demi kecintaannya terhadap agamanya.
Fatimah tidak suka sekolah, bahkan meskipun jarak rumah nya dengan sekolah terbilang lebih dekat dibandingkan dengan jarak rumahnya ke pesantren Kyai Omo. Fatimah tidak sekolah bukan karena ia berasal dari kalangan tidak mampu, bahkan orang tua Fatimah memiliki banyak lahan pertanian. Hanya saja karena ia lebih senang membantu orang tuanya dan juga belajar mengaji di pesantren Kyai Omo. Terkadang Fatimah heran mengapa dirinya begitu senang bekerja, hingga ia hanya memiliki sedikit teman saja, bahkan banyak waktunya ia habiskan hanya dengan saudaranya perempuannya saja. Tentu saja pekerjaan yang Fatimah lakukan bukanlah pekerjaan yang terlalu berat, hanya sekedarnya membantu di ladang milik orang tuanya.
Suatu sore yang amat indah, Fatimah duduk bersama adiknya Nurhayani satu-satunya saudara perempuannya yang hanya berbeda usia 1 tahun. Memandangi langit yang diselimuti oleh lembayung jingga membuat angannya melayang berimajinasi. Tapi pikiran lugunya tetap hanya mengamati indahnya pesawahan milik ayahnya. “yan, orang-orang mau pada pergi ngaji tuh. Kamu ga ikut?” Fatimah mulai bertanya pada Nurhayani adiknya. “mba sendiri ko ga ngaji? aku minggu depan saja ngajinya”. “ko nunggu minggu depan toh yan yan, mba mu ini lagi halangan jadi ga ke mesjid ” jawab Fatimah. Yani bertanya lagi ”mba, kenapa mba ngga mau lanjut sekolah? Seru loh mba di sekolah itu. Moso cuma jadi tamatan SD aja toh mba?” lalu Fatimah menjawab “Nda ah, aku mau nikah muda aja yan. Seperti yang Kyai Omo bilang, menikah itu sama dengan memenuhi setengah dari agama kita”. “yah meskipun begitu tetep harus dong mba, biar dihargain sama suami dan mertua” jawab yani. “so dewasa kamu yan, mba mu ini juga kan belajar agama mba juga tau mana yang benar dan yang salah” timpal Fatimah. “yo wes aku kalah deh, gimana mba aj kalo gitu”. Percakapan adik kaka itu akhirnya berhenti seiring dengan tenggelamnya lembayung yang mengharuskan mereka pulang karena maghrib sudah tiba.
Keesokan harinya selepas bekerja, Fatimah pergi ke pengajian Kyai Omo. Kiyai Omo merupakan satu satunya pemuka agama didaerah itu. Sejak kecil Fatimah sudah mengaji disana. karena mereka sudah termasuk usia yang paling besar disana, mereka pun bergabung dengan santri yang hampir seusia dengan mereka.
Desember 1967, Fatimah remaja yang pemalu bertemu dengan seorang pria yang benar benar tampan hingga membuatnya jatuh hati ketika keduanya berada di pengajian Kyai Omo. Laki-laki itu sudah sepenuhnya membuat Fatimah terbuai dalam angan yang terlalu jauh. Laki-laki itu akhirnya datang menemui Fatimah, memintanya pada orang tuanya. Betapa tidak, hati seorang gadis lugu yang memimpikan hal indah seperti layaknya dalam dongeng, terperangah menerima sanjungan dari seorang pria yang ia harapkan dapat menjadi seperti Ali suami Fatimah binti Rasulullah SAW untuknya.
Pernikahan Fatimah dengan laki-laki itu Juhadi namanya, berlangsung sederhana saja. Rumah Fatimah dan Juhadi suaminya berbeda kota cukup jauh. Dari sini lah, perjalanan seutuhnya Fatimah dimulai. Gadis pemalu berusia 16 tahun yang rajin bekerja, diboyong ke kota suaminya. Dengan pengharapan yang cukup tinggi ia membayangkan kehidupan yang benar-benar sempurna. Harapan Fatimah, Juhadi adalah Ali untuknya. Tapi nampaknya, keinginan tidak selalu sesuai dengan kenyataan. Juhadi dan Fatimah hanya saling mengenal kurang lebih 3 bulan. Sosoknya dimata Fatimah adalah pria yang shaleh rajin beribadah, dan takut kepada tuhannya Allah SWT.
Rasa cinta yang besar Fatimah berikan kepada sang suami Juhadi. Juhadi seorang pengangguran. Sebetulnya dari awal mereka menikah Juhadi memang tidak memiliki pekerjaan, tetapi keyakinan Fatimah yang sangat kuat bahwa Allah akan memudahkan setiap niat baik orang-orang mukmin menjadikannya mampu menerima Juhadi apa adanya. Juhadi berasal dari keluarga yang mapan, hampir sama dengan Fatimah orang tuanya memiliki ladang yang cukup luas untuk mereka garap.
Mengetahui Fatimah sangat terampil dalam mengurus hasil panen, ibu mertua Fatimah selalu memberikan tugas pada Fatimah untuk mengurusi hasil panen. Mengubah gabah menjadi padi untuk dimakan, tanpa menggunakan mesin. Hanya tangan kecil dan kasar yang dimiliki Fatimah yang mengerjakannya. Menggilingnya menggunakan tangan dan alat sederhana, lalu menumbuknya dengan menggunakan lumpang dan alu. Tubuh kecil Fatimah mengerjakannya dari pagi buta hingga pukul 2 siang. Fatimah yang pemalu tidak mampu menolak, bahkan tidak mampu mengeluhkan rasa lelahnya. Kala itu tidak ada mesin diesel seperti sekarang, hanya dengan tenaga manusia mengubah gabah menjadi padi dikerjakan.
Mertua Fatimah memberikan rumah dari bilik bambu kepada Fatimah dan Juhadi. Bilik bambu dimana ketika bulan purnama, maka cahaya rembulannya akan masu menembus celah dinding yang cukup besar hingga membuat cahaya purnama dapat menyilaukan mata. Di rumah itu, kamar mandinya tidak ada saluran air. Hingga mengharuskan Fatimah mengambil air dan memenuhi bak dari sumur yang berjarak sekitar 100 meter dari kamar mandinya.
Bulan ke-5 setelah pernikahannya, Fatimah hamil anak pertamanya. Sudah tidak usah diragukan, dengan pekerjaannya dan rutinitas Fatimah sebagai Istri yang melelahkan, menginjak usia ke-7 bulan kehamilannya Fatimah mengalami keguguran. Itu luka pertama yang benar-benar dirasakan Fatimah. Lalu bagaimana dengan Juhadi? Juhadi ternyata jauh dari perkiraan Fatimah, ia bukanlah Juhadi sebelumnya dipikirkan Fatimah. Sosok Shaleh yang dilihat oleh Fatimah lenyap seiring dengan kepindahannya dari kota kelahirannya. Tetapi tidak demikian dengan rasa cinta dan pengabdian seorang istri yang dilakukan oleh Fatimah. Juhadi sering kali pulang malam. Bahkan pulang dipagi hari. Ketika Fatimah bekerja menumbuk padi, tidak sekalipun ia menawarkan bantuannya pada Fatimah. Fatimah yang lugu dan sabar, hanya mampu terdiam dan dalam hatinya hanya mampu meratapi dan merintih pada sang pemilik alam semesta. Juhadi tetap tidak mau bekerja, bahkan hanya untuk menunaikan kewajibannya sebagai seorang suami.
Seringkali ketika malam tiba, disela kelelahannya menumbuk padi Fatimah menggelar sajadah benar benar merintih memohon pada Allah SWT agar ia dikuatkan, dan suaminya dapat segera disadarkan oleh Allah SWT. Dua tahun berlalu, lahirlah anak pertama Fatimah, bayi laki-laki yang tampan dan ia beri nama Mulyana. Ditahun ke-3 pernikahan Fatimah, keadaan dan rutinitas Fatimah masih tidak berubah. Masih tetap berkutik dengan kegiatannya menumbuk padi, hingga kadang tangannya kram.
Malam-malam Fatimah selain shalat Tahajud, ia lalui dengan mengurus Mulyana. Sambil menunggu Juhadi pulang hingga sangat larut tetapi tanpa alasan yang jelas. Keesokan harinya kerabat dari Fatimah berkunjung kerumahnya, memberi kabar yang membuat Fatimah terenyuh. Kabar yang ia dapat adalah bahwa Juhadi memiliki kekasih lain dan suka berjudi. Sentak Fatimah meneteskan air matanya. Tak terbayang sebelumnya penghianatan yang ia dapatkan.
Ketika Juhadi pulang, terjadilah percekcokan hebat diantara keduanya. Bahkan semut yang kecil dan lemah pun ketika ia diinjak ia akan menggigit. Juhadi pun akhirnya meminta maaf pada Fatimah, masih dengan rasa cinta yang besar Fatimah akhirnya memaafkan Juhadi.
Kini hari-hari berlalu tak lagi sama, luka yang ditorehkan masih membekas menyisakan curiga. Bahkan setelah percekcokan hebat itu terjadi, tidak pernah lagi Fatimah melihat suaminya mengambil air wudlu dan melaksanakan shalat 5 waktu. Fatimah semakin teriris hatinya, mana sosok Ali yang ia impikan? Bukan hanya fisiknya yang dibuat lelah oleh pekerjaan menumbuk padi, tetapi juga hatinya dibuat geram oleh ketidak setiaan Juhadi. Lebih parah lagi, batin nya semakin terkoyak dan terluka melihat suaminya bukan lagi seorang mukmin yang sesungguhnya. Lalu apa lagi yang ia harakan saat itu.
Satu ketika Juhadi pulang dalam keadaan mabuk. Fatimah tidak tahan lagi melihat semua hal yang terjadi itu. Pertengkaran hebat terjadi lagi dan benar-benar hebat. Hal yang membuat Fatimah yang pemalu itu menjadi semakin kecewa adalah Juhadi sudah tidak bisa lagi menjadi imam. Bagaimana mungkin ia dapat membimbing dan mengajarkan agama kepada Mulyana ilmu agama dengan tingkahnya yang demikian. Ketika itu ia mengingat nasihat yang diberikan oleh Kyai Omo, mengenai hukum perceraian. Bercerai itu adalah hal yang paling dibenci oleh Allah. Akan tetapi diperbolehkan, dan yang ia ingat perceraian itu diperbolehkan jika alasannya adalah suaminya tidak beriman.
Suatu malam yang Fatimah rasakan sangat panjang, berurai air mata memohon ampunan kepada Allah SWT jika jalan yang akan ia tempuh adalah jalan yang paling Allah benci. Tak henti ia meneteskan air mata. Sambil menatapi Mulyana anaknya, ia beranikan diri mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya. Di tahun ketiga usia anaknya, ia memutuskan pergi dari lingkungan yang tidak akan mengajarkan iman dan islam pada anaknya.
“Masih digubuk yang dindingnya dapat ditembus oleh cahaya purnama rembulan. Mungkin ini adalah akhir pengharapan ku terhadap sosok Ali pada diri Juhadi yang tidak pernah ada. Kali ini aku menyerah bukan karena lelah fisik ku, bukan karena koyak hatiku, tapi tak kuasa ku bayangkan bayi mungil ku yang masih putih harus dinodai dengan tinta hitam yang tak mengenal mu ya Rabb. Semoga engkau mengampuniku, semoga engkau jadikan mulyana anakku menjadi seorang yang membela agamamu, memperjuangkan agamamu kelak
ketika ia dewasa”. (Fatimah, Januari 1973).