Renungan dari Kitab Ayub. Shocking but beautiful revelation about God’s Sovereignty
Pagi Pak. Saya sudah beberapa kali baca Ayub, tapi tetap ga ngerti.
Apa sebenarnya salah Elifas, Bildad, dan Zahor sahabat Ayub? Yang mereka jelaskan sepertinya tidak ada yg salah.
Lalu siapa lagi Elihu, tiba-tiba muncul di akhir. Bukannya hanya ada 3 sahabat Ayub? Allah bahkan tidak menyinggung Elihu di pasal akhir, hanya 3 sahabat saja.
Lalu apa arti jawaban Allah? Saya masih bingung mana dari jawaban Allah yang bisa menjelaskan kenapa Allah menimpakan kepada Ayub semua penderitaan luar biasa itu?
Salah 3 teman Ayub adalah premise yg salah: Ayub dihukum maka ia berdosa.
Elihu, orang paling muda, dihadirkan mempertanyakan pertanyaan Ayub tentang Tuhan, kemudian disusul dengan kehadiran Tuhan yg menjawab pertanyaan Ayub dengan pertanyaan. Part ini, dari Elihu ke Tuhan ini, yg keren sekali. Kenapa Elihu tidak di balas lagi? Jawabannya di nomor 3.
Jawaban Allah - sebelum mengerti jawaban Allah, kita telusuri sedikit background Ayub.
Kitab Ayub, awal dan akhir nya saja yang bersifat narasi (“appetizer - dessert”). Tapi “main course” nya adalah prosa-puisi berupa percakapan yang hendak mengangkat satu isu teologis: Kedaulatan Allah.
Setan dimasukan dalam kisah ini, tetapi kalau kita perhatikan (ini lumayan beautiful) setalah masuk ke percakapan 3 sahabat, setan tidak disebut lagi, bahkan dihukum pun tidak. Mau menyatakan apa? Setan mengganggu hidup manusia pun ada dalam kedaulatan Allah. [tambahan: Allah berdaulat dan berkuasa penuh bahkan untuk memanfaatkan Setan untuk rencanaNya]. Sama hal nya dengan Istri Ayub atau Elihu dimunculkan jika itu berguna dalam penekanan teologis dalam sastra puisi ini. Maka ketika Ayub bergumul akan penderitaannya (dimana pergumulannya muncul justru karena ada sahabat-sahabat sialan), justru mau mengangkat bahwa Allah berdaulat melampaui pengertian tabur-tuai manusia. Singkatnya, inilah kenapa jawaban Allah kepada Ayub adalah Ayub ditantang mengenai Penciptaan!
“Kamu menderita Ayub? That’s My Sovereignty beyond even satan's intention.”
“My Sovereignty beyond human understanding and any presupposition.”
Ini juga point penting dalam kitab puisi Pengkotbah dan Amsal.
(bagian yg ini saya kutip dari Tim Keller, my favourite Phd preacher dari Westminster).
Ayub ngeluh “saya dihukum tanpa alasan.” Dan emang bener spt itu, dan jawaban Tuhan menceritakan penciptaan? Kok ga nyambung?
Ayub memang tidak dikasi tau alasanNya, karena Tuhan tau: yang perlu diketahui Ayub adalah He is in charge, dan itulah juga yang harus diketahui oleh sahabat-sahabat Ayub (dan yang harus kita ketahui). Tidak mesti hukum tabur-tuai, meski hukum tabur-tuai itu ada, tapi Allah kita beyond that. Justru dengan Ayub tidak dikasi tau, Allah mau Ayub untuk believe God’s control and plan.
Refleksi: Kenapa kita sering kali mau tau alasan kita menderita? Karena sering kali kita mau in charge.
Kenapa Bapa orang beriman bukan Ayub ya Pak? Ayub hilang 10 anak, dihajar habis-habisan dan tetap tidak menyangkal. Abraham, Isak pun ga jadi dikorbankan.
Agenda penebusan Pak. Tuhan pakai Abraham untuk menjalankan agenda penebusan. Keturunan Ayub bukanlah Israel.
Tapi ini yg bikin lebih gila lagi: Kristus is the true Ayub.
Ayub wajar menderita karena ia memang berdosa, dan saat Ayub bertanya Tuhan masih jawab. Kristus tidak wajar menderita karena Dia tidak berdosa, namun saat Yesus bertanya (di atas kayu salib), Bapa bahkan tidak menjawab! (Bapa seperti memalingkan muka terhadap penderitaan Kristus). Untuk apa??? Agar kita yang menderita seperti Ayub boleh dikuatkan bahwa planNya tidak pernah salah dan selalu indah meski tidak kita lihat.
Karena kalau Bapa merencanakan keselamatan bahkan sampai harus mengorbankan AnakNya yg tunggal, rencana indah apa lagi yang Ia tahan untuk kita?