Memberi maaf pada yang merasa punya khilaf, mententeramkan hatinya. Memberi maaf pada yang tak merasa bersalah, mententeramkan hati kita.
No title available

PR's Tumblrdome

Kaledo Art

titsay
Game of Thrones Daily
hello vonnie
Sweet Seals For You, Always

Janaina Medeiros

blake kathryn
will byers stan first human second

⁂
wallacepolsom

❣ Chile in a Photography ❣
art blog(derogatory)
tumblr dot com
styofa doing anything
noise dept.

tannertan36
Mike Driver
DEAR READER
seen from United States

seen from Tunisia
seen from Pakistan
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from Italy
seen from Kazakhstan

seen from China

seen from India
seen from Netherlands

seen from United States
seen from Türkiye
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from Malaysia
seen from United Kingdom

seen from Philippines

seen from United States

seen from Slovenia
seen from Türkiye
@gunadeen
Memberi maaf pada yang merasa punya khilaf, mententeramkan hatinya. Memberi maaf pada yang tak merasa bersalah, mententeramkan hati kita.
Untuk dunia ini, serahkan semuanya kepada Allah. Urusan jalan hidup dan jodoh kita akan seperti apa, kita hanya bisa berikhtiar hingga Allah memberikan rahasia-Nya kepada kita.
Dengan berdoa bukan berarti kita memberi tahu kepada Allah soal keinginan kita, karena Allah maha tahu. Tetapi kita berbincang mesra dengan yang Maha Kuasa jika kita membutuhkan-Nya, agar apa yang Dia limpahakan kepada kita terdapat ridha dari-Nya.
Terlalu berharap pada sosok maupun kelompok; bersandar semata pada manusia & benda: adalah keliru yang nyata. Segala harapan di negeri ini begitu mudah layu, begitu cepat meranggas, dan mati. Kecuali harapan yang berakar, tumbuh, & mekar untuk Ilahi Rabbi. Cukuplah Dia bagi kami.
Ustadz Salim Akhukum Fillah
Kita sering meminta untuk diteguhkan hati dalam taat kepada Allah. Tapi ketika Allah timpakan ujian kepada kita, kita begitu mudah menyalahkan takdir, ngedumel kalau Allah itu tidak sayang kepada kita, merasa Allah tidak adil karena tak ada kebahagiaan datang kepada hidup kita.
Aduhai hati, kamu lupa kalau segala sesuatu itu butuh pembuktian. Termasuk pengakuanmu kalau kamu telah beriman kepada Allah.
"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?"
26 Juli 2019 | @quranads
Orang-orang yang menguji kesabaran kita adalah sebuah keberkahan. Tanpa mereka, kita tidak akan bisa melatih kesabaran.
Semua orang akan kembali kepada Allah setelah matinya, tapi berbahagialah mereka yang senantiasa melangkah kepada Allah sepanjang hidupnya...
Betapa indah tak terkiranya Allah itu, dengan menjadikan hal-hal sederhana sebagai jalan menuju surga-Nya.
Bukan dari tulang ubun kamu diciptakan, karena berbahaya membiarkanmu dalam hiasan sanjungan dan pujaan.
Tak juga dari tulang kaki karena hina menjadikanmu untuk diinjak dan diperbudak.
Tetapi dari tulang rusuk kiri lah kamu diciptakan, dekat ke hati untuk kucintai, dekat ke tangan untuk kulindungi.
Penilaian
Kita tidak akan pernah mencapai kesempurnaan, itulah keniscayaan yang harus kita akui. Untuk itu, mengharapkan itu ada pada orang lain pun akan sulit. Untuk itu, menginginkan sesuatu yang sempurna dari manusia juga sulit.
Sebab itu, ruang penerimaan kitalah yang sebijaknya kita luaskan. Ruang yang sanggup menerima upaya orang lain untuk terus berbenah, ruang yang selalu bisa memaafkan. Ataupun jika kita tidak bisa memaafkan, paling tidak kita bisa berdamai.
Kadang, ukuran yang kita buat terlalu berlebih. Bahkan secara tidak sadar, ukuran itupun tidak bisa kita capai tapi kita menjadikannya tolok ukur untuk orang lain. Kita juga lupa untuk tidak menilai orang lain secara parsial, melainkan menyeluruh. Saat satu saja ada hal yang keliru darinya, kita menutup mata atas semua kebaikannya yang lain.
Bukankah itu tidak adil?
Yogyakarta, 3 Juli 2019 | ©kurniawangunadi
Allah tahu hari, bulan dan tahunmu kemarin terasa tak sempurna. Maka Allah hadirkan pagi baru untukmu agar kamu berjuang lagi dalam Cinta-Nya.
Jalan Allah itu panjang, padahal kita berjalan di atasnya seperti kura kura. Oleh karenanya, target kita bukanlah untuk sampai hingga penghujung jalan... tetapi bagai mana ketika kita mati, kita berada diatas jalan itu...
Syaikh Albani Rahimahullah
Jika kau sudah melakukan hal yang luar biasa yang tidak banyak orang capai. Lalu kau merasa dirimu memiliki pengalaman dan pandangan yang luas, bukan berarti orang lain kecil dan tidak tahu apa-apa dibanding dirimu.
Redamlah egomu sejenak, dan mulailah untuk membumi. Lihatlah sekeliling, bukankah mereka sama sepertimu? seorang manusia. Berkat siapakah dirimu bisa melangkah sejauh ini? Lihatlah kebawah dan renungilah, betapa beruntungnya dirimu dimudahkan langkahnya dibanding yang lain.
Jika kau sedang diatas, bersyukurlah lalu berdoa agar diberi hati yang besar dan luas. Tidak lupa untuk terus memanusiakan manusia, ingat jika kita hanya manusia yang sama seperti mereka. Karena jika tidak, kita akan terhempas.
Kita hanyalah seorang manusia yang bukan apa-apa tanpa rahmat dari-Nya.
Melangkah Bersama
Ketika kita telah menemukan seseorang yang siap untuk melangkah bersama kita (berproses bersama), darisitulah kita akan diuji. Diuji karena semua ini adalah merupakan rangkaian ibadah, yang didalamnya Allah simpan banyak sekali keberkahan, sebuah hal yang agung, dan dapat menyempurnakan separuh agama kita. Jadi mana mungkin kita akan mendapatkan semua itu dengan mudah, proses ini membutuhkan perjuangan besar didalamnya.
Kita akan diuji dari kekurangan yang ada dalam dari diri kita. Jika kita kurang bersabar, kesabaran kita akan diuji pada saat itu juga. Jika kita mudah khawatir, kekhawatiran kita akan diuji juga. Semua ujian itu terdapat pada orang yang (akan) menjadi pasangan kita.
Kepala terus berputar, hati terus menyisir apa yang telah kita perbuat, kita terus dintuntut untuk bisa melewati semua itu. Kenapa? Karena untuk hidup bersama (berumah tangga), itu membutuhkan perbekalan yang luar biasa.
Bukan sekedar akad saja, banyak rangkaian hidup yang akan terjadi setelahnya. Yang mana semua itu membutuhkan kesabaran, kesyukuran, ketegaran, pemikiran yang dingin sekaligus dewasa, dan hati yang kuat.
Ketika kita telah mulai berjalan bersama lebih jauh, banyak hal yang harus kita pahamkan. Apa yang akan dihadapi salah satu dari kita, itu akan menjadi tantangan bagi kita. Apa yang salah satu dari kita ingin kejar, itu akan menjadi impian untuk kita. Semuanya harus kita lewati dan kerjakan bersama. Mari menangkan!
Dari Allah-lah rasa yakin itu datang dan tumbuh. Hanya kepada yang siap menerimanya rasa yakin itu Allah berikan, karena darisitu Allah akan melihat sejauh mana seorang hamba berikhtiar untuk memperjuangkan dan mempertahankan keyakinannya, menjadi kenyataan. Tidak ada yang mampu menolak takdir Allah kecuali doa, dan ikhtiarlah yang membuat doa kita layak diberi pertolongan oleh Allah.
Semua ini hanyalah tentang keberanian dan keyakinan. Berani menghadapi tanda tanya tanpa banyak bertanya, tanpa kita memahaminya, dan tanpa bisa menawarnya. Kita yakin jika semua ini pasti ada jalan-Nya, dan apapun hasilnya adalah yang terbaik bagi-Nya. Hadapilah, yang pasti kepercayaan harus diperjuangkan.
Tulisan: Hari Keputusan
Ada yang harus jauh lebih kita khawatirkan dibanding segala keresahan yang kita alami hari ini. Sebab, kelak akan tiba waktunya di mana kita tak bisa lagi mengandalkan diri. Sekeras apapun mencoba, kekuasaan pada saat itu bukan terletak pada kita. Segala yang ada pada diri kita saat ini tak lagi akan berguna. Tak ada lagi sahabat baik, kawan baik, pasangan terbaik, atau keluarga terbaik. Segala kenyamanan, keindahan dan berbagai hal baik yang kita rasakan saat ini tak lagi akan teringat. Kita sibuk dengan perkara masing-masing.
Dunia saat itu berubah. Tempat yang nanti kita akan pijaki bukan lagi tempat yang saat ini kita pijaki, tapi nanti akan begitu sangat asing. Sebagian dari kita barangkali benar-benar tak mengira akan menjumpai hari itu. Dirinya dipenuhi oleh penyesalan. Sebab, tak ada lagi kesempatan untuk memperbaiki segalanya yang belum tepat. Segala harta, uang yang ia sempat simpan untuk diri sendiri ketika di dunia tak mampu membantunya. Kecantikan/ketampanan yang ia miliki jua tak mampu menyelamatkannya dari keputusan besar pada saat itu.
Hari besar itu begitu kita takutkan, tapi semakin hari semakin mendekat.
Pertanyaan besarnya, bekal apa yang sudah diandalkan sampai-sampai kita berleha-leha seperti saat ini?
25 Mei 2019 | @quranads