Influencer kerap berani menabrak agama demi fyp. Kedok agama digunakan asalkan akunnya viral.
seen from China
seen from United States

seen from China

seen from United Kingdom
seen from Yemen
seen from Myanmar (Burma)

seen from China
seen from Romania
seen from United States
seen from China
seen from Poland

seen from Malaysia

seen from United States

seen from Sweden
seen from Brazil
seen from Hong Kong SAR China
seen from United States
seen from United States
seen from China
seen from China
Influencer kerap berani menabrak agama demi fyp. Kedok agama digunakan asalkan akunnya viral.
Berkah
Aku dibesarkan dengan konsep berkah. Suatu yang abstrak sekali, namun lazim diucapkan oleh kedua orang tua,
"Dihabiskan makanannya, siapa tau berkahnya ada di butir nasi terakhir itu" "Yang penting ada keberkahan di sana, kami meridhai apapun keputusan Balqis"
Hingga aku beranjak dewasa dan percakapan mengenai pernikahan mulai muncul ke permukaan pun, konsepnya masih sama:
"Menikah itu adalah proses melipatgandakan keberkahan. Maka bisa jadi nanti ditemui hal-hal yang tidak rasional, tapi berkahnya ada di situ"
Butuh waktu 20 tahun lebih untuk mencerna kalimat-kalimat ini. Aku bahkan sempat bertanya-tanya alasan Ayah dan Ibun begitu berjuang atau merelakan sesuatu demi mengejar "berkah" ini. Seolah dalam hidup, kita tidak mengejar apa-apa selain berkah.
Dari Ust. Salim A. Fillah, aku belajar bahwa keberkahan adalah Gizi dan Nutrisi yang Allah berikan dalam setiap potongan kehidupan kita. Ia pasti hadir, namun kuantitasnya pada setiap orang bisa berbeda. Waktu yang berkah adalah ketika kita mampu mengerjakan banyak kebaikan dalam waktu yang singkat. Rezeki yang berkah adalah ketika kita bisa mensyukuri kurang dan lebih yang Allah berikan. Keputusan yang berkah adalah ketika kita merasakan ketenangan dalam menjalaninya.
Singkatnya, berkah adalah sesuatu yang hadir ketika kita menyertakan Allah di setiap upayanya. Dengan beragam rupanya, berkah memiliki satu karakteristik: ketenangan.
Maka, ketika hidup kita terasa begitu gaduh, hati terasa gelisah, fisik begitu lelah, bisa jadi ada upaya-upaya keberkahan yang luput kita hadirkan. Sibuk berikhtiar namun lupa bertawakkal. Sibuk menuntut ilmu namun mengurangi porsi ibadah mahdhah. Sibuk mencari rezeki namun lupa menyisihkan sebagiannya untuk Allah. Atau bahkan sesederhana tidak mengawali forum dengan nama Allah dan mengakhirinya dengan istighfar. Luput menyebut nama-nama Allah dan menyertakan Allah pada setiap langkah kecil kita.
Mengejar sesuatu yang begitu abstrak memang lah sulit. Otak kita seringkali dipaksa untuk berpikir rasional ketika Allah menjanjikan hal-hal yang acapkali di luar nalar. Namun, lagi-lagi mengutip kata Salim A. Fillah
"Memburu berkah amatlah berat. Tapi justru di dalamnya lah terdapat banyak rasa nikmat."
Barangkali sesuatu ditunda karena hendak disempurnakan; dibatalkan karena hendak diganti yang utama; ditolak karena dinanti yang lebih baik. - Salim A. Fillah
"Wahai Syaikh" ujar seorang pemuda
"Manakah yang lebih baik, seorang Muslim yang banyak ibadahnya tetapi akhlaknya buruk ataukah seorang yang tak beribadah tapi amat baik perangainya pada sesama?"
"Subhaanallah, keduanya baik" ujar sang Syaikh sambil tersenyum.
"Mengapa bisa begitu?"
"Karena orang yang tekun beribadah itu boleh jadi kelak akan dibimbing Allah untuk berakhlaq mulia bersebab ibadahnya. Dan karena orang yang baik perilakunya itu boleh jadi kelak akan dibimbing Allah untuk semakin tat kepada-Nya."
"Jadi siapa yang lebih buruk?," desak si pemuda.
Airmata mengalir di pipi sang Syaikh.
"Kita Anakku" ujar beliau.
"Kitalah yang layak disebut buruk sebab kita gemar sekali menghabiskan waktu untuk menilai orang lain dan melupakan diri kita sendiri." Beliau terisak-isak.
"Padahal kita akan dihadapkan pada Allah dan ditanyai tentang dir kita, bukan tentang orang lain"
- Sunnah Sedirham Surga
SEMUA ORANG ADALAH GURU, YANG BAIK MAUPUN YANG BURUK — @agoytama Jika kita terampil dalam mengambil hikmah dari suatu hal, maka keburukan pada orang lain pun ada hikmahnya. “Setiap orang adalah guru bagi kita. Ya, setiap orang. Siapapun mereka,” kata Ustaz Salim A. Fillah, “yang baik, juga yang jahat.” Berguru pada orang baik adalah belajar menjadi gelas kosong yang siap menerima kesegaran dan kejernian ilmu. Tidak perlu ragu lagi untuk lekas mereguk dan menghadiahi dahaga diri dengan ilmu yang menyehatkan. Tidak perlu ragu lagi untuk memandikan jiwa dengan budi pekerti yang menenangkan. Berbeda dengan berguru pada orang jahat atau buruk perangainya. Kita tidak berharap ia akan memberi kejernian ilmu dari dalam dirinya. Kita tidak berharap ia akan memberikan kesegaran ilmu, sehingga dahaga diri kita terpuaskan. Tidak. Namun, kita berharap ia menjadi cermin bagi diri kita—juga sebagai wasilah kesadaran diri—agar selalu ingat untuk terus lebih baik dalam berbenah diri. Sungguh sangat mulia dengan kerendahan hati yang bersih, Ustadz Salim A. Fillah menutup artikel pendeknya yang berjudul “Guru” di blog pribadinya (salimafillah.com/guru/), “Walau telanjur kita dianggap berilmu, jangan malu untuk berkata ‘Aku tak tahu’, dengannya Allah-lah yang kan jadi Sejatinya Guru, membimbing kita selalu.” Malang, 17-7-2021 #agoytama #agoytamaquotes #prosa #cerita #salimafillah #kutipan #quotes #bakutuke #carakerja (di River Side Malang) https://www.instagram.com/p/CReGLtgBL3G/?utm_medium=tumblr
Jadi, kamu udah siap belum bangun cinta bersamaku? ☺ . . #kutipanbuku #bahagianyamerayakancinta #salimafillah https://www.instagram.com/p/CBBCwJYArB0/?igshid=1o3n5f9xbve01
Seringkali ketidaksukaanku Hanyalah bagian dari ketidaktahuanku 🍃 . . #kutipanbuku #jalancintaparapejuang #salimafillah https://www.instagram.com/p/B-yibb4gxGS/?igshid=13ra2e2uag9vv
[HARAPAN PAGI]
Ya Allah, berkahi tiap kata yg mengalir dari ujung jemari ini; menebar kebaikan, mencantikan kebenaran, menggerakan perbaikan.
Ya Allah, lempangkan lisanku dlm kebenaran, indahkan tuturku dgn kesantunan, jadikan yg mendengar terbimbingkan.
Ya Allah, ilhamkan kebajikan ditiap huruf yg terucap, lahirkan amal utk setiap kata yg terbicara, alirkan pahala tiada putusnya.
(Ust. Salim A. Fillah)