الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ هَدَانَا.
NASA
Stranger Things
noise dept.
No title available
One Nice Bug Per Day
occasionally subtle
KIROKAZE
d e v o n

if i look back, i am lost
Sade Olutola
Jules of Nature
RMH
The Bowery Presents

izzy's playlists!

@theartofmadeline
h

blake kathryn

#extradirty
Misplaced Lens Cap
he wasn't even looking at me and he found me
seen from United States
seen from Mexico

seen from Türkiye
seen from United Kingdom
seen from Australia

seen from Vietnam

seen from United States

seen from Türkiye
seen from United States
seen from Colombia

seen from Malaysia
seen from Malaysia

seen from Colombia

seen from United States

seen from Netherlands

seen from Türkiye
seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from Chile

seen from Malaysia
@gureshasy29
الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ هَدَانَا.
الْحَمْدُ لِلّٰهِ
الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِ
المقدمة
الْحَمْدُ لِلّٰهِ الْبَرِّ الْجَوَادِ. الَّذِيْ جَلَّْتْ نِعَمُهُ عَنِ الْإِحْصَاءِ بِالْأَعْدَادِ. الْمَانِّ بِاللُّطْفِ وَالْإِرْشَادِ. الْهَادِيْ إِلَى سَبِيْلِ الرَّشَادِ. الْمُوَفِّقِ لِلتَّفَقُّهِ فِى الدِّيْنِ مَنْ لَطَفَ بِهِ وَاخْتَارَهُ مِنَ الْعِبَادِ. أَحْمَدُهُ أَبْلَغَ حَمْدٍ وَأَكْمَلَهُ وَأْزْكَاهُ وَأَشْمَلَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّااللّٰهُ الْوَاحِدُ الْغَفَّارُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُصْطَفَى الْمُخْتَارُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ.
الْحَمْدُ لِلّٰهِ الْفَتَّاحِ الْجَوَادِ. الْمُعِيْنِ عَلَى التَّفَقُّهِ فِى الدِّيْنِ مَنْ اِخْتَارَهُ مِنَ الْعِبَادِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّااللّٰهُ شَهَادَةً تُدْخِلُنَا دَارَ الْخُلُوْدِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدِنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الْمَقَامِ الْمَحْمُوْدِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْأَمْجَادِ. أَمَّا بَعْدُ.
Maafkanku Umi
(001)
Dua Minggu sebelum keberangkatanku ke Yaman, Umi lebih dulu meninggalkanku dalam rangka melaksanakan ibadah haji. Di mana saat itulah kuingin menghabiskan seluruh waktuku untuk terus bersama dan bercengkrama dengan keluarga. Saat mengantarkannya ke Pondok Gede, di situlah terakhir kali ku bertemu dengannya. Rasa sedih yang kualami saat itu, tiada hentinya sampai hari keberangkatanku. Tiap kali kuhendak tidur, kuselalu merintih menahan tangis sebab tak dapat berjumpa kembali dengannya. Tak kuasa menahan rindu akan dirinya. Tak tahu apa yang harus kulakukan. Dunia seperti sedang mencampakkanku di kala itu. Aku tak percaya bagaimana bisa semua itu terjadi padaku. Hingga diriku tak mampu menahan airmata yang selalu membendung di mataku.
Dua Minggu Umi berpisah denganku, tak ada satu pun kata yang kusampaikan untuknya. Tidak pula menanyakan kabar akan dirinya. Sedih, kesal, dan amarah bercampur menjadi satu dalam jiwaku. Ku tak sanggup, hatiku terasa hancur terkoyak-koyak. Meskipun begitu kuselalu berusaha tuk menutupi segala kesedihan yang kualami di hadapan keluargaku. Tak pernah kutampakkan kesedihanku di hadapan mereka. Hingga tak ada satupun dari mereka yang mengetahui alasan diriku tidak menanyakan kabar tentang Umi. Tak ada yang tahu bahwa hampir setiap malam ku meredam suara tangis dengan sebuah bantal. Tak ada yang tahu bahwa kuselalu berharap dalam do'a, "Umi kuingin bertemu denganmu". Semua itu karena kuingin terlihat kuat dalam menghadapi tantangan pertama sebelum memasuki zona merajut impian.
Saat itulah muncul banyak sekali penyesalan yang membuatku termenung. Memikirkan segala hal yang belum sempat kulakukan untuknya. Kesalahan yang tak sempat kumintakan maaf darinya. Seolah-olah hidup dengan kurangnya oksigen yang perlu di hirup di setiap detiknya.
Hingga tiba malam sebelum keberangkatanku, diriku sangat merasakan kesedihan yang tak kunjung usai airmataku membasahi pipiku. Aku sakit, aku takut, aku lemah. Tiada daya dan upaya yang harus kulakukan saat itu. Abi pun memaksa agar diriku memberi kabar kepada Umi bahwa esok ialah hari keberangkatanku. Sempat kutolak, namun Abi semakin memaksa. Dan akhirnya dengan perasaan terpaksa, saat itu juga kuberi kabar kepada Umi melalui Handphone Abi yang sudah tersambung Video Call dengannya.
Hanya berlangsung beberapa menit ku berbicara dengan Umi untuk sekedar menanyakan kabar, kemudian kulepas dan kutinggalkan Handphone tersebut. Abi pun yang saat itu sedang sibuk mengurusi barang bawaanku saat ku berbicara dengan Umi, seketika bergegas untuk menyusul ke kamarku sembari menghantarkan Handphone-Nya untukku. Namun kali itu aku benar-benar menolak tawarannya. Dan kurapatkan pintu kamarku dengan menguncinya.
Sungguh ketika itu airmata yang keluar dari mataku membanjiri kasurku. Dan aku benar-benar tak dapat menahannya lagi. Sembari ku mengucapkan kata, "Yaa Allah, ketentuanmu ini sangatlah berat bagiku. Besarkan dan kuatkanlah hatiku ini agar diriku mampu menerima akan takdir yang telah kau berikan padaku".
Tibalah di hari keberangkatanku. Sepanjang jalan menuju Bandara, ku merasakan ada sesuatu yang kurang saat itu. Yakni tidak ada Umi di sisiku. Kugugup, keringat terus bercucuran dari tubuhku karena datang masa yang telah kunantikan sejak lama. Namun di sisi lain, kulebih bersedih karena Umi tidak dapat turut serta tuk mengantarkanku. Bahkan kehadiran banyak teman pun tiada ubah tuk menggantikan ketidakhadiran seorang Umi. Nampak kurang sempurna ketika melihat foto kenanganku saat hari keberangkatan. Sekalipun di edit, tetap tidak dapat merubah kenangan yang tersimpan kuat dalam memoriku.
Saat itu ialah detik-detik terakhir ku merasakan kebersamaan dengan keluarga dan teman-teman. Dan diriku pun tetap enggan untuk menghubunginya. Justru diriku malah asik berfoto dengan keluarga dan juga teman-teman tuk kujadikan foto tersebut sebagai kenangan. Ketika terdengar panggilan atas namaku, spontan diriku tersentak dan seketika itu ku berlari sembari menangis menuju keluarga dan teman-teman. Kupeluk mereka semua erat-erat sembari ku meminta maaf dan mendengar sedikit wejangan dari tiap-tiap mereka yang kupeluk.
Seusai itu, Umi menghubungiku melalui Video Call. Tangisku pun semakin menjerit ketika melihat dirinya. Kuminta maaf kepadanya karena seakan-akan kutelah melupakannya. Namun kulihat dirinya seolah-olah menutupi kesedihannya. Umi menangis, tapi dengan berusaha Umi menahan airmata yang saat itu membasahi keduamatanya. Sungguh hatiku sangat miris ketika Umi mengatakan, "Maafin Umi karena tak sempat mengantar Abang. Tapi Umi akan selalu terus mendo'akan yang terbaik untuk Abang".
Seketika terlintas dalam benakku, anak macam apa aku ini yang seolah-olah telah melupakan Uminya karena tak rela di tinggal pergi olehnya. Dan waktu pun membuat semuanya usai saat namaku di panggil untuk segera memasuki ruangan Stay untuk Landing. Ketika itulah terakhirkalinya ku bertemu dengan keluarga dan teman-teman dengan saling melambaikan tangan yang menandakan sebuah perpisahan.
Dan ku berharap bahwa saat itulah kusedang memasuki pintu gerbang kesuksesan yang harus kugapai dikemudian hari.
Wahai Umi, apa yang telah kulakukan terhadapmu saat itu, bukan semata-mata karena diriku tak lagi cinta dan sayang kepadamu. Meskipun begitu, di setiap saat tetap kulantukan do'a untukmu. Maafkan diriku wahai Umi.
Selamat Hari Umi. You are is the best. ❤
- 22/12/17
"Hanya karena aku tidak bicara denganmu, bukan berarti kalau aku tidak rindu."
- 20/12/17
“Jika memang malas termasuk sifat manusiawi, lantas pantaskah pengorbanan dibalas dengan kemalasan?”
- 17/12/17
Siasat manusia itu lebih dahsyat daripada siasat binatang. Yg d butuhkan umat saat ini ialah pemurnian hati, lisan, dan tangan. #tholibulilmi #santri #khoirulwalad (di Tarim, Yemen)
شكرا لما اهديتني قلبا بذكرك يخشع،، Syukur terucap utk petunjuk yg telah kau berikan padaku. Hati ini dgn menyebutmu merasakan khusyu'. #عجيب (di Salalah, Oman)
يا من يفرح القلوب ،، ما غيبك الا المغضوب #تريم
Kini telah tiba saatnya Saat yg sangat dinantikan sejak lama Berlayar menuju negeri yg ku impikan Negeri Yaman Sungguh terasa berat di hati Kan meninggalkan negeri serta orang yg kucintai Tapi ku tak perduli Karna ku ingin menjiwai diri ini Maaf,, Maafkan diri ini yg tak sempat berbagi kasih Sehingga terlihat kurangnya rasa perduli Maaf,, Maafkan diri ini yg selalu berbuat salah Hingga seringkali membuat batin terluka Karna ku jauh dari kata sempurna Maaf,, Maafkan diri ini yg hanya pandai berkata Namun sulit utk berkaca Sehingga terlihat aib yg nyata Maaf,, Maafkan diri ini yg tak pemurah Karna ku sangatlah lemah Bahkan seringkali membuat susah Ku memang terlihat tak perduli Tapi sungguh ku akui Bahwa diri ini sangatlah mencintai Mencintai dgn sepenuh hati Sangat ku sadari Diri ini sangatlah mensyukuri Atas segala kenikmatan yg telah diberi Yaitu memperoleh keluarga yg amat mengerti Ku kan pergi meninggalkan Utk dapat membuktikan Kalau diri ini bukanlah sosok yg selalu membuat kerusakan Justru yg dapat membangun segala peradaban #khoirulwalad #ajiib #santri #tholibulilmi
Waktu tak pernah henti Dan takkan mungkin akan berhenti Sebelum diri ini mengakhiri Waktu kan terus berjalan Hari demi hari Jam demi jam Menit demi menit Bahkan detik demi detik Tak terasa diri ini akan pergi Pergi meninggalkan negeri Dimana terlahirnya diri ini Tak kuasa menahan rasa perih Kini sakit yang ku alami Terasa berat dihati Kan meninggalkan orang yang ku cintai Maafkan diri ini Yang tak sempat berbagi kasih Hingga terlihat kurangnya rasa perduli Tapi sungguh diri ini sangat lah mencintai Mencintai tanpa henti Bersyukur karna bisa memiliki Ku kan berlari Dan terus berlari Mengejar ridho umi abi Serta mengharap ridho illahi #khoirulwalad #ajiib #tholibulimi #santri
Ketika ku menatap langit,, Oh langit itu sungguh indah,, Ku berfikir bagaimana ku meraih keindahan tersebut,, Karna keindahan langit itu dapat dinikmati oleh seluruh makhluk,, Kini ku berjalan karna ku ingin melaju ke depan,, Ku ingin menjadi seperti langit layaknya bisa bermanfaat bagi seluruh makhluk,, Ku meninggalkan bukan utk bersenang senang,, Melainkan tuk mencari perbekalan,, Ku rasa tinggal hitungan hari lagi,, Tak kuasa diri ini tuk meninggalkan,, Kan terkumpul banyak sekali kerinduan,,
Negeri Yaman
Senang sedih kini bercampur jadi satu,, itulah yg kurasakan saat ini. Senang karna ingin melanjutkan perjalanan yg masih cukup panjang, meneruskan dakwah rosulullah utk menegakkan kalimat tauhid. Namun, ku merasakan kesedihan yg begitu mendalam karna ku akan meninggalkan banyak orang yg ku sayang. Ikhlas, rela namun diri ini tak kuasa. Tak kuasa menahan tangis air mata. Hati ini kan selalu merasakan kepiluan. Yaa allah, kuatkan hati ini. Sungguh berat tuk meninggalkan mereka yg ku cinta. 6 thn jangka waktu yg cukup lama. Tak bisa ku bercengkrama, berbagi kasih rasa dgn keluarga dan para sahabat tercinta. Hati ini seringkali membatin. Membayangkan betapa jauh nya diriku akan pergi meninggalkan negeri kelahiran ini. Hanya saja diriku selalu berusaha memaksa agar tetap terus berjuang melewati segala tantangan ini. Kini waktu kan tiba. Dlm jangka waktu hitungan hari lagi, ku kan terbang menuju negeri yg sangat ku impikan. Negeri yg sangat ku nantikan utk menginjakkan kaki ini disana. Negeri dimana para wali dilahirkan. Negeri Yaman, negeri yg biasa disebut dgn kota seribu wali. Ku kan datang dgn hanya membawa sedikit perbekalan. Ku kan cari disana sebanyak banyaknya perbekalan tuk ku bawa kembali pulang. Ku kan selalu mengabdikan diri ini dgn setulus hati demi mengharap ridho illahi.
Lelaki Sederhana
Aku hanya lelaki sederhana. Tiada bermahkotakan harta, yang mengamanahkan tahta, pun mengagumi wanita. Bertemankan pena dan secarik kertas untuk menemaniku bercengkrama dengan bulan. Tentang masa lalu yang kupunggungi. Tentang masa depan yang kutatap tajam. Tiada dariku yg terumbar lepas, tiada pula yang tertutup rapat. Aku berucap dengan sederhana. Yang lantang untuk kebajikan, yang pelan untuk rendahnya hati, yang terputus untuk kekhilafan. Tak perlu menelisik akal untuk memahaminya. Walau lisan ini lebih sering bersuara di kesunyian. Bukan berarti lidah ini kelu, bukan berarti ia tak pernah lancang. Aku melangkah dengan sederhana. Memijak takdirku sebagai khalifah di dunia. Beriringan dengan waktu yg tak bisa terulang. Berkejaran dgn angin yang membawa pesan kehidupan. Mencari hakikat kebahagiaan tanpa pernah lelah. Aku mencintai dirimu dengan sederhana. Atas nama Allah yang menganugerahkannya. Tanpa mawar, tanpa puisi, hanya sejumput asa. Bersama niat ikhlas tuk memberi tanpa menerima. Kepada yang terindah, yang mengajariku arti kata rindu. Aku hanya satu dari sekian makhluk ciptaan-Nya. Tiada sempurna. Memujiku, aku angkuh. Teracuhkan, aku sendu. Menghinaku, aku rapuh. Di setiap nafas yang masih ditiupkan-Nya, di setiap detik yang berharga, aku akan hidup. Sebagai lelaki sederhana. -24/07/17
Haflatul Wada' 😢
Sungguh sangat menyakitkan jika suatu kebenaran itu tertutupi. Memang benar, usaha itu tak akan mengkhianati hasil. Tapi percuma saja, jika hasil tersebut membuat hati menjadi hancur. Kini zaman kebenaran di sembunyikan, justru kesalahan yg di tampakkan. Rasa kesal sedih bercampur aduk karena sebab tdk sanggup menerima takdir yg tak sesuai dgn harapan. Ketika harapan pupus, padamlah hati. Tdk ada lagi gairah hidup, serta fikiran pun ikut menjadi kacau. Tdk dapat menentukan kemana kaki ini harus melangkah. Tdk tahu akan di bawa kemanakah diri ini oleh hembusan angin. Terkadang persoalan kecil yg hanya melintas dgn waktu singkat, akan tetap selalu tersimpan dlm benak hati dan fikiran. Beban yg sangat berat utk di tangguhkan pada diri ini. Diri ini sangatlah lemah. Sulit bagi diri ini utk menerima kenyataan pahit yg di alaminya. Sungguh amat sangat merasa kecewa karena semua ini hanya sebuah permainan semata. Tangis air mata ini akan menjadi sebuah persaksian bahwa semua ini hanyalah sandiwara. Sandiwara permainan dunia yg tak akan ada habisnya. Diri ini hanya bisa menyerahkan semua kepada Rabb Nya. Rabb Nya lah yg lebih mengetahui segalanya. Dengan harapan semoga Rabb nya senantiasa akan memberikan sesuatu yg lebih baik dari itu. Yaa Rabb, kuatkanlah hati ini. Jadikanlah hamba termasuk orang yg bersabar dlm menghadapi ujian yg telah kau berikan. Kini hamba menyadari, bahwasannya bukanlah suatu kemenangan itu terlihat ketika hidup di dunia. Akan tetapi nanti ketika di akhirat kelak.
Caraku Mencintaimu
Dengan tak menghubungimu, tak juga mengirim pesan untuk menanyakan kabarmu, dan bahkan sekedar chatting untuk menyapamu. Aku mencintaimu dengan menjauh darimu, bukan karena aku membencimu. Namun karena aku ingin menjagamu dan menjaga diriku sendiri dari khalwat yang menjebak. Aku mencintaimu dengan menjaga diriku dan dirimu, menjaga kesucianku dan kesucianmu, menjaga kehormatanku dan kehormatanmu, .enjaga kebeningan hatiku dan hatimu. Ya beginilah caraku mencintaimu. Mencintaimu dalam diamku, karena diamku adalah bukti cintaku padamu. Dan sekarang keadaan menegurku. Sehingga dapat membantu menyadarkanku dari kesalahan yang telah aku perbuat, meskipun pesonamu terhadapku belum pulih. Aku tidak bisa memungkiri, bahwa setiap manusia pasti akan merasakan fitrahnya. Termasuk permasalahan ketertarikannya terhadap lawan jenis. Maka jika harus demikian, Untuk apa jika hati ini aku tambatkan kepada siapa yang bukan orangnya nanti, jika memang hati ini sangat peka terhadap pengaruh diri yang memilikinya ketika hati ini salah dalam pengelolaannya. Oleh karenanya, jika aku harus mencintai lawan jenis adalah fitrahku sebagai manusia, maka aku akan mencoba untuk mencintai siapa yang akan menikah denganku nanti, walaupun aku belum pernah bertemu dengannya, lantaran pasti Allah akan mempertemukanku dengannya. Sehingga usahaku yang sia sia akan cenderung berkurang di dalam lingkup fitrahku. Insyaallah, kalau saja Allah menjadikan aku menikah dengan seorang wanita yang ditakdirkan Allah kepadaku, maka untuk apa aku berharap dan menghabiskan waktuku kepada yang lainnya, yang belum tentu akan menjadi istriku kelak, sedangkan hati ini mudah terdominasi dengan sesuatu hal yang lain. Dan rasa ketertarikanku cukuplah akan aku tumpahkan kepada istriku kelak. Yaa Allah, sucikanlah hatiku hanya untuk siapa yang pantas menempatinya dengan keridhoanmu. Cukup dia sajalah yang aku cintai karena aku tidak menginginkan keburukan ketika aku berbuat salah terhadap hatiku. Amiin,, -24/05/17