Flirting ala Han Sejin #OurUnwrittenSeoul
“Daripada buru-buru ambil keputusan, kenapa kamu tinggal di sini sambil melihat strawberry tumbuh bersamaku?”
Meskipun keliatan effortless, tapi pemilihan kata Sejin itu bener-bener menenagkan dan menghangatkan Mirae. Kita yang nonton aja ikutan merasa tenang, bukan?
Jadi inget bagaimana Park Boyoung menggambarkan hubungan Miji-Hosu dan Mirae-Sejin. Ibaratnya, dalam keadaan hujan, Hosu akan rela bahunya basah kuyup demi melindungi Miji dari hujan menggunakan payung. Sementara Sejin, dia akan buang payungnya dan akan nemenin Mirae untuk basah kuyup diguyur hujan.
1. Maaf atas ucapanku yang kasar kemarin
Sejin ga sadar ternyata kursi yang kakinya udah patah itu berharga baginya, sampai kursi itu di buang Mirae. Tapi setelah tau bahwa Mirae beneran nggak sengaja dan nggak mau makan gaji buta, dia inisiatif bersihin gudang Sejin. Permintaan maaf ini diikuti sama flirting pertama Sejin.
“Wah kok bisa kebetulan, aku nggak sengaja bawa bekal untuk 2 orang.”
“Di saat semua orang menganggapku lemah, mengenaskan, dan bahkan ceroboh, mereka cenderung akan meninggalkanku. Tapi kenapa, kenapa dia enggak?”
2. Kakekku adalah orang yang paling ku sayang di dunia
Dari episdoe 2 Sejin udah bilang “kamu meningatkanku pada seseorang” tapi Sejin lupa sama siapa. Ternyata,
Kakek Sejin ~ Mirae
3. Afternoon Tea Party
🌞✨♡♢🌸 Afternoon 🌞 Tea Party☕ Kami mengundangmu ke pesta yang indah ini 🌹 🍓Dengan hormat mengundangmu 🌹 📍Tempat: Kebun Changhwa 💚 🕓Waktu: Besok ✅ Sore hari 👜 Yang perlu dibawa: 🤸🏻♀Perut kosong 🤸🏻♀
Lucu banget kan itu undangannya. Emoticon 🤸🏻♀ apalah ini. Lihat reaksi Mirae nih biar tambah salto
4. Aku suka, rumor tentang kita.
Ini highlight sih, dan scene paling populer. Puncak dari flirting Han Sejin yang bikin Mirae perutnya ikutan yapping. Saat itu juga Mirae tau bahwa Sejin bukan orang sembarangan. Lebih dari itu, Sejin yang hadir di kehidupan Mirae dengan tepat.
5. Goodbye, Mirae-ssi
Mirae yang dari awal nggak pernah jadi Miji, atau pura-pura jadi Miji di depan Sejin, karena emang dari awal Sejin nggak pernah kenal Miji. Dunia Mirae yang dari awal balik ke desa, seakan-akan selalu bertopeng dan penuh kepalsuan, dia cuma bisa jujur dan apa adanya di depan Sejin. Dan Sejin, sejak saat itu ga pernah salah panggil. Iya, Mirae.
6. Aku berkeliling komplek berharap bisa ngucapin goodbye lagi.
Ujungnya, kalimat itu menunjukkan perasaan yang dalam dan nggak mudah diungkap. Sejin selalu pakai kalimat yang implisit, yang secara nggak langsung nembak tapi belum tau arahnya kemana.
7. Kalau malam ini kamu nggak ke Seoul, mau nggak kita ketemu nanti malam?
Karena bintang adanya pas malam, Mirae-ya. Hari itu ulang tahun kakek Sejin kan? Sejin ingin ngerayain ultah kakeknya dengan cara yang sama saat kakeknya ngerayain ultah Sejin. Katanya waktu Sejin lahir, banyak bintang terlihat. Jadi Sejin ingin merayakan ultah kakeknya dengan melihat bintang sambil bungkus sup rumput laut. Lihat bintangnya sama Mirae.
Pertanyaannya, Mirae udah sembuh kan? Kalo Hosu kan masih ada kambuhnya gitu, kalo Mirae syukurlah kelihatan sehat-sehat aja.
8. Why don’t you stay here and see the strawberries grow with me
“Daripada terburu-buru mengambil keputusan, bagaimana kalau kamu tetap di sini dan melihat stroberi tumbuh bersamaku, sambil kamu mengambil waktu untuk memikirkan langkahmu selanjutnya?”
Kalo dari nomor 1–7 tadi sebenernya bikin senyum-senyum sendiri, entah kenapa di momen ini bikin nangis dikit. Sejin eakan bilang ke Mirae, ga usah buru-buru. Ga harus sekarang. Boleh pelan-pelan. Ambil waktumu. Semuanya akan aku temenin.
Deep talk ini bener-bener menyentuh, rasanya Sejin bisa membelai jiwa Mirae yang rapuh itu. Buktinya, Mirae beneran mempertimbangkan tawaran Sejin sebagai salah satu opsi. Excuse me, did you knock the door?
Kalau kita bertemu di Seoul, bagaimana jadinya ya? Kita tuh… bahkan kalaupun kita kebetulan bertemu di Seoul, kurasa itu tetap akan sangat menyenangkan.
Aku rasa Han Sejin-ssi bahkan tidak akan melihatku. Saat berjalan di jalanan yang penuh orang, aku mungkin hanya terlihat seperti salah satu bintang di langit. Terilihat terlalu biasa saja. Ah, benar. Kalau di Seoul, mungkin aku bahkan tidak akan terlihat sama sekali.
Syukurlah. Kalau kita bertemu di Seoul dan aku tidak mengenalmu, aku juga tidak akan merasa kehilangan. Tapi sekarang kamu ada di sini.
Percakapan ini sangat puitis dan deep banget. Gimana takdir dan kebersamaan kadang tidak terjadi karena kebetulan, tapi karena keduanya memilih untuk hadir dan melihat satu sama lain lebih dari sekadar “biasa”.









