Almost Love Story - Volume 1 (Part 4)
Try to deny it as much as you want
But in time our feelings will show~
Almost is Never Enough by Ariana Grande
Pekan kedua semester genap kelas 3 SMA.
Hari-hariku makin penuh berisi tambahan pelajaran. Jadwal Try Out yang menumpuk hampir setiap minggu, ditambah jadwal les mandiri setiap senin rabu jumat, plus diberi les wajib di sekolah setiap hari senin sampai kamis seusai pelajaran resmi berakhir. Suntuk sekali rasanya, mau bermain Facebook-pun isinya ya hanya postingan teman-teman SMA juga.
Hampir setiap malam, aku bersama beberapa temanku akan mencari ruang kelas kosong di sekolah untuk belajar mandiri sampai jam 9.30 malam. Karena gedung asrama dan gedung sekolah hanya berjarak 1 bangunan saja, kami selalu diperbolehkan belajar di kelas apabila menbutuhkan tempat belajar yang nyaman dan tenang. Alhasil, hampir setiap malam di setiap kelas akan diisi murid-murid asrama putri yang belajar sekaligus beberapa kelas diisi mereka yang menyewa guru les pribadi.
Aku senang belajar di kelas. Selain suasana lebih kondusif daripada belajar di kamar, kami juga dapat menikmati wifi berbayar yang bisa digunakan untuk play lagu sembari mengerjakan soal. Selain itu, kami bisa sekalian sambil membuka media sosial juga, semacam Facebook, Twitter, atau mungkin Ask.fm yang sedang naik daun.
Malam itu, aku sudah menyelesaikan belajarku jauh sebelum pukul 9.30 malam. Artinya, aku masih punya cukup banyak waktu untuk bermain media sosial. Kubuka satu persatu akunku, meng-update berita, serta mengomentari beberapa status teman. Lalu aku membuka Ask.fm untuk sekedar jahil menanyakan hal-hal aneh kepada temanku dengan akun anonim. Seru tau, membaca satu persatu jawabannya. Kadang jawaban ke-GRan, kadang jawaban sok galak, kadang jawaban kepo. Setidaknya, sejam bermain media sosial dapat membuat otakku kembali fresh dahulu setelah seharian berkutat dengan soal-soal pra-UN.
'Hanifa lagi buka apa sih kok senyum-senyum mulu dari tadi'. Dina, temanku yang sering sekali belajar bersamaku, melongok ke arah laptopku.
'Ha, mmmm gapapa kok Din, cuman lagi iseng nanya di Ask.fm trus balasannya lucu haha' jawabku sembari menunjukkan daftar reply dari teman-teman.
'Healaaah kukira apaan tadi, kamu udah selesai apa belajarnya? Kok cepet banget sih?! Ajarin aku dong yang ini' celotehnya karena aku masih sibuk me-reload browserku sambil senyum-senyum.
'Bukannya udah selesai belajar sih, tapi udah bosen, plus target belajarku malam ini sudah tercapai kok' aku menimpali.
'Yadah deh sini, kamu mau nanya soal apa, tapi aku ga jamin aku bisa jawabnya ya hehehehe' tambahku lagi.
Aku bukan seseorang yang pintar sebenarnya. Aku hanya cukup lancar saat memahami matematika, bahasa, dan sedikit biologi. Fisika? Jangan tanya, aku selalu remidi di setiap ulangan. Kimia? Boro-boro faham, baru memahami pencampuran larutan saja aku sudah menyerah hehe.
'Ini, mau nanya matematika kok, bisa-bisa neh kamu, ajarin ya sampai bisa ya, yayaya?' Dina semakin cerewet. Temanku satu ini memang sangat bawel dan cerewet. Pun di setiap tingkahnya, ia terkesan seseorang yang judes dan bermulut tajam saat mengomentari sesuatu. Tapi, aku sangat menyukai sifatnya itu karena dia selalu jujur dan apa adanya. Dan karena kami selama 3 tahun selalu mendapat kelas yang sama, kamipun menjadi semakin akrab.
'Iyaaa, yaudah sini sini, bentar ya aku close akun Facebook-ku dulu, takut keliatan online tapi ga jawab chat hehe' kataku.
'Yaya sanaaa' kata Dina. Sisa jam saat itu hanya kami habiskan untuk membahas matematika, sembari mengulang materi les yang sudah diberikan kemarin oleh Tentor.
Pukul 9.30 malam, kami telah selesai berdiskusi dan mengemasi barang-barang kami. Kalau telat masuk asrama, bisa-bisa gerbang sudah dikunci dan kami harus tidur di luar. Atau kalau berani, harus mau mengetuk rumah ustadzah untuk meminta gerbang dibukakan kembali hehe.
Aku sudah melupakan semua isi medsosku, dan sudah tak ingin membukanya lagi malam ini. Besok sajalah dibukanya biar hari ini aku mau tidur lebih awal, asal tahu saja, aku ini suka ngebo kalau sudah tidur kemalaman hehe.
-------------------------&-------------------------
"Ciye ciye Hanifa, kamu punya fans baru ya?" ledek Dina kepadaku.
"Iya tuh Han, direbutin dua adek kelas tuh." Tambah Alya.
Hah, apalagi ini anak berdua malam-malam membikin keributan.
Aku menoleh, " Kalian ngomongin apa sih Din, Al?" Aku menatap bingung.
"Ituuu, coba kamu buka FBmu deh, pasti tahu. Ciye ciyeeee" Dina semakin gencar meledek.
Akhirnya kubuka akun sosmed-ku karena terlalu penasaran. Dalam sekejap, puluhan notifikasi baru langsung memenuhi layar laptopku.
'Ah mereka berdua, nulis apalagi sih ini' batinku. Kubuka satu persatu notifikasi, yang ternyata menyambungkan pada salah satu status yang kubuat. Kulihat nama Andra dan Sony memenuhi kolom komentar dengan tulisan dan huruf aneh, macam anak kecil rebutan nulis di keyboard. Tuhan, mengapa dua adek kelas ini selalu klop kalau sedang mengerjaiku, huh!
"Halah, bukan apa-apa kok itu Din, Al. Cuman lagi pada iseng aja rebutan laptop kali" candaku. Aku sedang malas memperpanjang masalah, karena aku sedang tidak ingin digosipkan dekat dengan siapapun lagi.
" ih Han, itu kayaknya lagi pada pedekate deh, soalnya mereka ributnya cuman di akunmu aja tuh" Dina menimpali.
"Iya Haan, jawab dong, kasian tau mereka dicuekin, yakan Din?" Alya justru memperparah ejekannya.
"Hmmm yasudah, kujawab nih kujawab, kujawab 'dasar kalian gajelas' gitu yaaa" jawabku sambil mendiktekan tulisan di layar laptop.
" Perasaannya juga dijawab ga? Tuh udah direbutin 2 orang loooh" Alya kembali menggoda, dan aku menimpuknya dengan buku pelajaran. Anak ini, sukanya sembarangan aja hmmmm. Kamipun kembali pada rutinitas kami masing-masing, belajar malam untuk persiapan Try Out Ujian Nasional.
Sesekali, aku melirik layar laptop. Benar juga sih kata Alya, kalau aku disuruh menjawab perasaan seseorang, aku mau jawab apa?









