Saat semua terasa berlawanan arah. Ingatlah, bahwa Allah tau yang terbaik untuk hambaNya

❣ Chile in a Photography ❣
trying on a metaphor
Sweet Seals For You, Always
Misplaced Lens Cap
macklin celebrini has autism
No title available
he wasn't even looking at me and he found me
Xuebing Du

roma★

★

gracie abrams
No title available
𓃗
The Stonewall Inn
cherry valley forever
d e v o n
occasionally subtle
One Nice Bug Per Day
TVSTRANGERTHINGS
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from United Kingdom

seen from Finland

seen from Singapore

seen from Iraq
seen from Spain
seen from Singapore
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from Malaysia

seen from Türkiye

seen from Indonesia

seen from Canada
seen from Switzerland
seen from Indonesia

seen from Italy
@hanifari
Saat semua terasa berlawanan arah. Ingatlah, bahwa Allah tau yang terbaik untuk hambaNya
Ukhuwah yang tidak melulu seimbang.
Ketika seorang berbuat baik, ternyata tanpa sadar ia sedang menyeimbangkan kekuatan ukhuwahnya.
Ketika seseorang menolong orang lain, ternyata tanpa sadar ia sedang berusaha menyimpul kembali ukhuwahnya yang mulai terasa serabutan.
•••
Ukhuwah yang terjalin di antara kita, tidak melulu seimbang.
Boleh jadi kamu yang terlalu banyak berbuat baik kepadaku,
Atau kamu yang tak pernah lupa memberi walau hanya seulas senyum.
Ukhuwah yang kita rajut, tak selalu rapi dan tanpa cela.
Terkadang aku banyak membuat kecewa,
Dan tanpa sadar memberikan sikap yang tidak diharapkan.
Ukhuwah ini, memang perlu dikuatkan bersama.
Antara kamu dan aku, yang bukan makhluk sempurna, namun berusaha saling menyempurnakan.
Maka, ketika aku memberimu hadiah, menanyakan kabarmu, menolong urusan-urusanmu,
Ketahuilah saat itu aku sedang berusaha menguatkan tali ukhuwahku, agar seimbang dengan kekuatanmu.
Agar tak hanya kamu yang berjuang dalam kebaikan, namun juga aku dengan segala kemampuan.
Agar ukhuwah kita, seimbang adanya. Bernilai sama, tidak ada yang terlalu lebih dan terlalu kurang.
Agar menyempurnakan sesama, bukan hanya menjadi tugasmu tapi juga tugasku.
Barangkali ada saat dimana aku lupa membuat ukhuwahku tetap seimbang. Karena ternyata, jatuh-bangun itu benar adanya. Naik-turunnya iman itu nyata dirasa.
Maka, ketika salah satu di antara kita sedang di bawah, jangan lupa untuk saling menarik ke atas.
Sampai atas, sampai benar kuat kembali.
Sampai atas, sampai tak lagi mudah terjatuh.
Saat ukhuwah di antara kita sedang tidak seimbang, jangan anggap aku tidak lagi peduli atau bahkan sengaja membuat jarak denganmu.
Aku hanya sedang menarik tali, untuk kembali ke atas. Setelah jatuhku, dan aku berharap kau mau membantu.
Mari saling menyeimbangkan ukhuwah di antara kita, dan juga saling memahami. Bahwa dalam tali ukhuwah, harus ada tarik-menarik. Agar seimbang, agar tak dirasa berteman sendiri.
Kairo, 2 November 2019 || 16.53 clt
Wanita Sebagai Pewaris Peradaban
25 Oktober kemarin, almamater saya, ISLAH (Ikatan Silaturahmi Alumni Husnul Khotimah) sempat mengadakan acara sekolah ibu di Mesir, dengan mengundang pak Cahyadi Takariawan sebagai pematerinya. Beliau adalah seorang konsultan pernikahan dan keluarga. Materi yang beliau sampaikan sangat menginspirasi, oleh karena itu sayang sekali jika hanya segelintir orang yang mendapatkannya.
Tulisan ini saya buat, dengan menambahkan beberapa opini saya di banyak perkataan pak Cah untuk mewakili keseluruhan materi acara sekolah ibu. Sekedar sharing, semoga bisa diambil manfaatnya.
-------------------------------------
"Menjadi akhwat harus kuat dan pintar, kamu tidak hanya akan menjadi seorang pendamping, melainkan partner sesosok manusia lain untuk membangun peradaban. Sebagai seorang teman ibadah, teman mengokohkan diri pasanganmu yang akan menemukan garis finish bersama yaitu membangun generasi yang gemilang."
Sekolah ibu; layaknya sekolah kehidupan yang prosesnya memakan waktu setiap hari, namun berpotensi memberikan dampak besar bagi peradaban.
Berbicara dengan kata peradaban tentunya bukan hanya perjuangan menghasilkan bibit unggul untuk mengubah dunia setahun kedepan, melainkan sampai seratus tahun kedepan.
Ketika kita memakai konteks akhwat (agar beban dan tujuan akhirnya terasa lebih besar) sebagai pewaris peradaban, tentunya kita sudah harus selesai dengan urusan diri sendiri seperti beban-beban masa lalu, serta beberapa hal yang masih dirasa kurang dari pribadi.
Agar nantinya setelah menikah kita bisa memikirkan hal yang lebih besar seperti mendidik dan menciptakan generasi yang potensial dalam membangun peradaban islam.
Mengutip perkataan pak Cahyadi Takariawan, bahwa strong person itu lahir dari strong family, dan adanya strong family juga salah satunya karena peran seorang ibu yang sangat besar dan visioner.
Menjadi seorang calon ibu/ibu di masa kini, tentunya kita harus bisa menyelaraskan antara urusan rumah dan membangun peradaban. Anggapan seperti, "Ah, boro-boro ngurusin peradaban, mikirin besok masak apa aja udah pusing.", jika kita telaah dari fungsi seorang ibu, tentunya ini anggapan yang sangat tidak relevan. Sebab, mengurus rumah dan membangun peradaban adalah dua hal yang tidak saling meniadakan, melainkan saling selaras.
Oleh karena itu untuk tetap menjaga agar kedua hal ini selaras, dalam berumah tangga perlu adanya 3 lapis yang harus dipahami. Lapis pengetahuan, lapis kesadaran, dan lapis aplikasi. Pertama, seorang ibu harus mengetahui dengan benar visi dan misinya untuk membangun sebuah peradaban. Kedua, seorang ibu harus sadar bahwa pengetahuan harus dibarengi oleh kesadaran, bahwa ia tetaplah seorang ibu yang meski dengan tugas mengurus rumah, ia tidak bisa mengabaikan mendidik anaknya sendiri. Sebaliknya, walaupun ia memiliki keaktifan di luar rumah, ia juga harus sadar bahwa rumah tetaplah tempat ia pulang dan membangun peradaban. Ketiga, adalah aplikasi dari seluruh pengetahuan dan kesadaran yang ia miliki.
Menelaah dari sebab-sebab keluarga menjadi kuat, ada beberapa prinsip strong family yaitu diantaranya adalah hubungan suami istri yang kuat menjadi sentral dalam membangun keluarga. Anak-anak akan tumbuh optimal jika memiliki lingkungan dan keluarga yang bisa memberikan efek baik baginya.
Sebagai calon ibu, kita perlu mengerti bahwa ada beberapa fase dalam sebuah keluarga. Fase pertama, saat hanya berdua dengan suami. Fase yang sedang senang-senangnya, waktu hanya untuk berdua. Lalu datang fase kedua, saat sudah dikaruniai seorang anak. Fase inilah yang menuntut seorang ibu harus bijak dan pintar mengetahui perannya. Ia harus tetap sadar, meski telah menjadi seorang ibu, ia juga adalah seorang istri bagi suaminya. Sehingga ketika seorang ibu sudah paham peran, maka kewajiban sebagai seorang istri juga masih dia tunaikan dengan baik.
Fase ketiga adalah ketika anak sudah mulai memasuki sekolah. Disini diperlukan kerjasama yang baik antar ayah dan ibu, sebab waktu tidak lagi hanya milik berdua lagi, tetapi juga milik si buah hati. Fase keempat, fase yang banyak disalahpahami dan banyak ujiannya; ketika anak sudah mulai remaja. Disinilah diperlukan konsentrasi penuh dalam mendidik anak remaja. Salah satu yang harus diketahui para ayah dan ibu adalah ketika seorang anak remaja menolak sebuah perintah atau kebijakan yang telah ditetapkan, itu bukan berarti ia membangkang. Melainkan ia hanya menggerutu, oleh karena itu diperlukan konsentrasi besar dalam memahaminya.
Fase kelima, selanjutnya ketika anak sudah menikah. Diperlukan pemahaman juga ketika melepaskan anak yang ingin menikah, senagai ayah/ibu, ketika sudah memiliki visi misi membangun peradaban, maka mereka akan siap kapanpun untuk melepas anaknya. Sebab, nilai-nilai baik sudah tertanam di pribadi anaknya tersebut. Fase keenam, adalah ketika seluruh anak sudah menikah dan kembali menghabiskan waktu berdua sebagai kakek dan nenek. Fase terakhir, adalah fase dimana salah satu dari pasangan sudah kembali lebih awal menuju Tuhan. Seluruh fase ini, perlu dipahami dan dimengerti dengan baik, perlu disiapkan visi misi membangun keluarga, agar siap kapanpun dengan perubahan yang terjadi.
Selain fase-fase keluarga yang sangat penting untuk dipahami, ada 4 hal yang harus dihindari dalam kehidupan berumah tangga, yaitu saling mengritik, saling mencela, saling menyalahkan, dan membangun benteng. Ketika sudah memiliki 4 hal ini, perlu adanya kesadaran dan kedewasaan yang dibangun. Ketika tidak bisa mengembalikkan ke kondisi semula yang harmonis, ada baiknya jika meminta saran dari anggota keluarga/bahkan teman yang dirasa memiliki kekuatan dalam menjalin komunikasi.
Memahami pasangan, memahami mertua, memahamkan orang tua sendiri tentang bagaimana kehidupan rumah tangga yang nantinya akan dijalani, seperti apa visi misinya, apa saja tujuan dan targetnya tentu tidak serta merta bisa dibangun dalam waktu yang cepat. Perlu pemahaman yang dalam untuk bisa berkomunikasi dengan semua pihak keluarga, terkhusus pasangan sendiri. Atas sebab ini, kita perlu memahami apa itu 'Bahasa Cinta' dalam keluarga.
Bahasa Cinta adalah cara mudah berkomunikasi, cara simpel memahami satu sama lain agar bisa meminimalisir hal yang tidak menyenangkan terjadi. Ada 5 bahasa cinta, diantaranya adalah affirmasi/kata-kata, pelayanan, quality time, hadiah, dan sentuhan fisik.
Jika kita bisa memahami apa bahasa cinta pasangan kita, maka tidak akan ada anggapan, "Suamiku/istiku tidak romantis.", tapi ketika kita sudah paham, maka kita akan menjadi sosok paling romantis di hidup pasangan kita.
Seorang suami yang bahasa cintanya adalah pelayanan, ia tidak nyaman ketika sepulang dari kerja istrinya belum menyiapkan apa-apa untuk dimakan. Namun, suami yang bahasa cintanya adalah quality time, ada/tidak adanya makanan di atas meja tidak akan berpengaruh. Sebab, suami dengan bahasa cinta quality time sudah sangat bahagia apabila istrinya menemaninya kemanapun dia pergi. Berada disampingnya, sebagai istrinya sudah sangat cukup bagi suami dengan bahasa cinta quality time.
Lain halnya dengan suami yang bahasa cintanya hadiah. Seorang istri harus sering memberikan hadiah, karena menurut suaminya itulah hal paling romantis dalam suatu hubungan. Sehingga, hadiah menjadi momen untuk menambah tangki cinta suami yang memiliki bahasa cinta hadiah. Seorang suami yang bahasa cintanya adalah kata-kata, ia sangat senang jika diberikan puisi-puisi indah dan gombal dari istrinya. Ia tidak butuh hadiah, pelayanan dan quality time karena yang paling dianggapnya penting adalah kata-kata dan rayuan istrinya. Versi lain lagi, ketika suami memiliki bahasa cinta sentuhan fisik, maka dia akan sangat senang saat sepulang kerja ia bisa merasakan istrinya ada disampingnya, menggait tanggannya, dan menyandarkan bahu padanya.
Begitupun sama halnya bahasa cinta yang dimiliki oleh seorang istri yang harus dipahami oleh suaminya. Jika bahasa cinta pasangan sudah kita ketahui, maka akan lebih mudah untuk berkomunikasi. Tentunya bahasa cinta ini juga bisa diaplikasikan ketika ingin berkomunikasi dengan orang tua, mertua, dan lain-lain.
Dari pemaparan-pemaparan terkait edukasi menjadi seorang ibu yang ideal dan bisa mewarisi peradaban, begitu pentingnya kita terus belajar sedari muda akan hal-hal yang bisa menjadi bekal rumah tangga nantinya. Oleh karena itu, sekolah ibu sama sekali bukan hanya untuk mereka yang sudah menikah, melainkan sangat bermanfaat jika diikuti oleh mereka yang belum menikah. Agar bisa banyak mengevaluasi diri sendiri sebelum nantinya menjadi manusia dengan dua peran; seorang istri dan seorang ibu.
Selamat belajar, para calon ibu pewaris peradaban!
Oleh: Faramuthya Syifaussyauqiyya
Sumber: pak Cahyadi Takariawan
Kairo, 28 Oktober 2019 || 1.48 am
Krn wanita pewaris peradaban :")
Mata Paling Pesimis
Sudah banyak orang bicara perihal pahitnya kehidupan. Bahkan tak sedikit yang bercerita sampai berbusa, seakan-akan dia orang paling sengsara di dunia.
Sudah banyak orang berbagi pengalaman, bagaimana ia pernah terjatuh, bangkit, jatuh lagi, lalu bangkit lagi.
Kita pun, tak kurang referensi bagaimana kiat-kiat menghadapi sulitnya hidup, pahitnya kegagalan, atau beratnya perjuangan menggapai kesuksesan.
Tapi tahukah kamu, apa yang paling pilu dan menyakitkan di dunia ini tapi belum pernah ada satu orang pun yang berbagi pengalaman tentang itu sebelumnya?
SAKARATUL MAUT!
Jika mau lihat mata paling pesimis, lihatlah mata orang sakaratul maut.
Saat itulah dirasakan sakit yang teramat sakit. Mata membelalak, entah karena kesakitan, atau karena dipenuhi penyesalan. Lidah tercekat, tak sempat ada kata maaf dan terima kasih, atau sekadar ucapan selamat tinggal untuk orang-orang tersayang.
Datangnya tiba-tiba. Ingin teriak meminta tolong, tapi siapalah manusia yang bisa menolong. Dokter dan pengobatan terbaik pun, tak ada yang sanggup menolong.
Sebaik-baiknya manusia, tak ada satu pun yang luput dari perih dan sakitnya sakaratul maut.
Lantas bagaimana kita yang kurang ilmu, sedikit amal, banyak mau, dan banyak mengeluhnya ini?
Taufik Aulia
Kecerdasan yang Membunuh
@edgarhamas
Selamat datang di zaman yang menuhankan kecerdasan. Walaupun secara tersurat kita tak benar-benar mengatakannya, nyatanya dunia ini begitu memuja gelar; dibeli dan diburu. Kalau demi ilmu yang dipakai untuk berkhidmat maka ia mulia, tapi kalau untuk berkhidmat pada egonya, itu yang jadi problema.
Cerdas itu anugerah. Ia bisa memudahkan yang susah, menguraikan yang rumit, dan membantu yang sulit. Tapi jadi bencana kalau cerdas untuk membohongi, memperalat dan memperdaya. Itulah mengapa banyak Ulama bilang, bahwa kecerdasan bisa masuk dalam kategori "fitnah" yang menyesatkan manusia.
Fitnah? Ya. Jika penggunanya bertambah ilmu, tapi dengan ilmunya ia bermain-main dengan aturan-Nya. Fenomenanya seperti ini; orang yang beriman utuh dengan akal dan hatinya bernarasi Sami'na wa atha'na; "kami mendengar dan kami taat", tapi orang yang cerdasnya untuk membangkang akan bernarasi, sami'na wa nazharna; "kami mendengar tapi kami timbang-timbang dulu."
Barangkali inilah salah satu jawaban dari tanda tanya besar saya yang seringkali berpikir, mengapa Rasulullah berdoa dengan lugasnya,
"Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu dan dari doa yang tidak dikabulkan."
Karena ilmu itu ada yang menghidupkan dan ada yang membunuh. Dalam salah satu dars-nya, Syaikh Ratib An Nablusy berkata, "tanda ilmu bermanfaat adalah ilmu yang mendekatkan pada Allah, dan tanda ilmu yang membahayakan adalah yang membuat pemiliknya mencari celah untuk menghindari aturan Allah."
Ada juga sebuah ungkapan Ulama —ada yang menisbatkannya pada Rasulullah walaupun tidak kuat— bahwa "siapa yang bertambah ilmunya, tapi tak bertambah dekat dengan Allah, maka sebenarnya tidak bertambah kecuali bertambah jauh (dari Allah)"
Itulah mengapa, dalam literatur Islam, seorang 'Alim' bukanlah tentang orang yang banyak tahu saja. Orang digelari sebagai 'Alim' jika ia mengilmui kebenaran dan dia mengamalkannya. Adapun jika banyak tahunya, ia hanya masih sebatas 'naqil' atau sang pelaku copy paste saja.
Fitnah orang berilmu juga besar. Al Qur'an menyimbolkannya dengan sosok Haman, arsitek Fir'aun yang berjanji mempersembahkan pada rajanya sebuah menara tinggi untuk bisa menengok Tuhannya Musa. Dengan ilmunya, ia mampu membuat bangunan yang tak tertandingi secara teknologi kala itu, tapi tujuannya membuat murka langit.
Pernah melihat yang seperti itu di zaman ini? Ya. Saya pun nggak kaget lagi. Sejarah selalu mengulang dirinya sendiri. Fenomenanya sama, walau pelakunya berbeda. Itulah mengapa kita perlu jadikan Al Qur'an sebagai imam kita, logika sebagai makmumnya. Jangan dibalik, nanti jadinya seperti orang keblinger yang menghalalkan hubungan di luar nikah.
Al-qur'an
Alquran, adalah sebuah kemuliaan.
Dengan Alquran, ramadhan menjadi bulan yang paling mulia.
Dengan Alquran, lailatul qadr menjadi malam yang paling mulia.
Dengan Alquran, makhluk Allah dimuka bumi menjadi mulia.
Bahkan Rasulullah SAW sang kekasih Allah, seorang yang sudah dijaminkan Allah mendapat surga tertinggi pun selalu berdo’a agar dirinya jangan sampai tidak mendapatkan keberkahan dan keutamaan Al-Qur’an yang telah Allah SWT janjikan.
أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قَلْبِيْ وَنُورَ صَدْرِيْ وَجَلاَءَ حُزْنِيْ وَذَهَابَ هَمِّيْ
“Ya Allah aku mohon kepadaMu agar Al-Qur’an ini menjadi penyejuk hatiku, dan cahaya dadaku, dan penghilang kesedihan dan kegundahan hatiku” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban dan Al-Hakim)
Amanah
Tentang amanah, yang mungkin tidak pernah kita minta, bahkan tidak pernah kita harapkan.
Krn amanah adalah sesuatu yang sengaja Allah hadirkan. Krn ini adalah cara Allah mendidik HambaNya, agar lebih meluaskan kesabaran, meninggikan harapan hanya kepada Allah, dan meningkatkan kapasitas kita menjadi seorang Hamba
UJIAN SEBAGAI PENGHAPUS DOSA Apabila kita diuji.. Hati berbisik.. Orang sekeliling menasihati.. “Allah uji sebab nak hapus dosa” Ya betul…. tapi.. Kita makin sedih.. makin kecewa.. makin meratapi dosa.. ALLAH jua diajukan soalan.. Kenapa dan Mengapa… Kenapa aku.. kenapa aku.. kenapa aku….. ?? Wahai kawan.. berhenti sejenak.. tukarkan fikiran kita yang negatif itu.. Allah dah janji, INNA MA'AL USRI YUSRO.. INNA MA'AL U'SRI YUSRO INNA MA'AL U'SRI YUSRO (setiap kesusahan itu BERSAMA kesenangan) Nabi Muhammad juga diuji.. bahkan lebih hebat daripada kita.. adakah kerana DOSA ?? (Allahumma solli a'la saiyidina Muhammad) Nabi Zakaria dipotong badannya.. terputus dua.. adakah kerana DOSA ?? Sumayyah dicampak ke dalam parit api.. habis sekeluarga.. adakah kerana DOSA ?? Bilal bin Rabah juga terseksa di dunia.. dihenyakkan batu besar diatas dada.. adakah kerana DOSA ???? Bukan.. bukan.. bukan.. Bukan kerana DOSA semata2.. Allah uji untuk MENAIKKAN DARJAT.. ALLAH UJI SEBAB DIA KASIHKAN KITA.. ALLAH RINDU AIRMATA KITA.. bahagianya !! Manusia tak suka tengok orang menangis.. Tapi ALLAH suka !! BILA KITA MENANGIS, MALAIKAT TADAH AIRMATA.. SIMPAN DI AKHIRAT.. AIRMATA KEINSAFAN KITA YANG RINDUKAN DAN TAKUTKAN ALLAH MAMPU MEMADAMKAN API NERAKA.. Berhentilah prejudis pada Allah apabila diuji.. Jangan menghukum diri apabila diuji.. Terlebih baik ambil wudhu’.. solat dua rakaat.. selepas salam.. istighfar dan selawat.. senyum memandang ke langit.. biarlah airmata berlinang.. bisikkan dalam hati sedalam-dalamnya…. “Ya Allaaaaahhhhhh.. terima kasih kerana TIDAK MELUPAKAN aku..” Allah itu ADIL.. Allah itu PENUH KASIH SAYANG.. Allah itu PENCIPTA kita.. Siapa lagi nak UJI kita kalau bukan Allah .. Siapa lagi nak SAYANG kita kalau bukan Allah .. Siapa lagi nak MULIAKAN kita kalau bukan Allah .. Allah datangkan ujian pada kita sebab Allah nak tunjuk yang DIA wujud…. Tanda Allah nak ingatkan kita kewujudan Allah..supaya kita tahu Allah ingat pada kita. Jangan berhenti MENGGALI kasih sayang Allah… ALLAH MAHA PENGASIH LAGI MAHA PENYAYANG.. SILA SHARE DAN SEBARKAN
Ustaz Iqbal Zain (via bukangadisbiasa)
Setelah kewafatan Rasulullah s.a.w, Bilal meninggalkan Madinah kerana tidak mampu menahan rindu pada Nabi. Suatu hari, Bilal kembali ke Madinah, menziarahi Makam Nabi juga kerana rindu.
Khalifah kedua, Umar al Khattab meminta Bilal untuk melaungkan azan. Bilal menolak. Tak sanggup. Datang pula cucunda Nabi Hasan & Husin memujuk Bilal.
“Pakcik, kami rindu laungan azan pakcik. Mohonlah laungkan azan.”
Bilal tak mampu menolak. Lalu berdiri untuk melaungkan azan.
Sejak Nabi wafat, Bilal tak pernah lagi laungkan azan. Dan saat itu, kali pertama Bilal azan sesudah Nabi wafat.
Seluruh Madinah sunyi sepi. Kali pertama pertama ketika Nabi wafat, kali kedua, ketika Bilal laungkan azan itu.
Bilal tak mampu habiskan azannya. Bilal menangis teresak-esak kerana menahan sebak. Betapa rindunya Bilal kepada kekasih Allah. Seluruh Madinah juga menangis kerinduan.
Allahummasolliala sayyyidina Muhammad. Wa alaa alisayyidina Muhammad.
Bilal Bin Rabah, seorang sahabat yang dijanjikan syurga. Nabi s.a.w mendengar tapak kaki Bilal Bin Rabah di syurga ketika peristiwa Israk & Mikraj. Sedangkan waktu itu, Bilal masih hidup di Madinah.
Bilal adalah lelaki berkulit hitam, secara fizikalnya dia tidak rupawan. Dengan izin Allah, dia bernikah dengah wanita yang cantik.
Ketika ajal menghampiri, Bilal tidak bersedih kerana bakal meninggalkan isterinya yang cantik. Bahkan Bilal gembira & bahagia, kerana dia tahu & yakin bahawa detik pertemuannya dengan Nabi kekasih Allah kian hampir.
Begitulah kisah betapa hebatnya rindu sahabat kepada Rasulullah saw.
#thedaiegraphy #dakwahmudah #abuhanifah #akudaie
Masyaallah
Apa yang kamu rasakan ketika teman-teman yang ‘dulu’ satu visi satu misi mulai berpakaian ketat, mulai rapat dengan lawan jenis, mulai mengecil jilbabnya, bahkan mulai menarik diri dari lingkungan fitrahnya?
Sesak, bukan? (via salmanfariis)
Saudaramu amanahmu
Bukan berarti aku menyerah mencintaimu, hanya saja caraku berbeda memperjuangkanmu lewat DOA. . Rasanya ingin ku berlari dari Rindu ini, Namun ujungnya aku tetap berada pada rindu itu. . Dalam doaku, selalu saja semoga itu adalah sebuah harapan. Aaminku dan Aaminmu … Semogaku dan semogamu … berharap menjadi sama. Tapi dalam doaku juga, aku merindukanmu Kuberi nama ini Rindu sebatas doa Tentang rindu yang tak terungkap. Tentang hati yang tak berucap. . Rindu ini mengajarkan arti menunggu, arti sebuah kata sabar. Sulit memang, tapi Allah suka 😊 Rindu juga yang mengajarkan untuk tetap sabar dalam doa. Walau sebenarnya, diri ini tahu, jika aku selalu diam kau tak akan pernah tahu. . Tapi jika Allah suka, lelah pun menjadi Indah. Biarlah untaian doa dan senandung sholawatku sampai pada penduduk langit. Biarlah semua terbingkai syariat. Bersama kita melangkah menggapai ridhoNya. . ????📝 hati kecilku memang selalu ingin tahu. Apakah rindu dan sang pangeran adalah seseorang yang sama? Tapi bukankah sesuatu yang di takdirkan untuk kita tidak akan menjadi milik orang lain? . Jawabannya: Percayalah hanya padaNya. Sang Pemilik Rasa 😃 . #Allahdulu#Allahterus#Allahlagi#Rindu#langitrindumuslimah . . Kontribusi oleh @ihda_maghfirah
#duniajilbab
Like2👍🏻👍🏻 Nih yg sering Jdi pertanyaan tmn2
Berlawan Arah
Suatu ketika saat kamu sedang memiliki perasaan kepada seseorang, tiba-tiba muncul orang lain yang memiliki niat terbaik dalam hidupnya untukmu. Apakah kamu berani melawan arah perasaanmu?
Suatu ketika, impianmu runtuh satu persatu bukan karena kamu tidak berjuang mewujudkan. Tapi orang tuamu tidak setuju dengan segala hal yang kamu utarakan, mereka berharap besar terhadapmu. Apakah kamu berani melawan arah impianmu?
Di tengah jalan, kita akan dihadapkan pada hal-hal yang semenggelisahkan itu. Karena rumusnya adalah, perasaan tidak selalu sama dengan kenyataan. Dan Tuhan itu menghadirkan kenyataan-kenyataan untuk membuat kita mengerti bahwa menjalani hidup itu tidak sama dengan angan-angan.
Kita belajar berkali-kali tentang yang terbaik itu selalu Allah yang Maha Mengetahui. Hanya saja, ilmu kita tentang itu tidak pernah sampai dalam setiap langkah kita. Kita semacam merasa paling tahu yang terbaik untuk diri kita sendiri padahal sebenarnya kita tidak tahu apa-apa.
Kekecewaan itu lahir dari ketidakmengertian kita tentang keikhlasan.
©Kurniawan Gunadi
Hampir Mati Syahid Ketika Shalat
Pada suatu ketika, Rasulullah S.A.W. dan para sahabat sedang dalam perjalanan untuk berperang. Ketika hari sudah malam, mereka memutuskan untuk berkemah. Kemah pun disiapkan, kemudian Rasulullah S.A.W. bertanya kepada para sahabatnya “Siapa yang berjaga-jaga untuk malam ini?” Dua orang sahabat berkata “Ya Rasulullah, kami akan mengambil tanggung jawab ribat (menjaga para pasukan ketika malam).” Semua pasukan pun pulas tertidur kecuali dua orang yang berjaga tadi. Salah seorang dari mereka berkata kepada teman satunya “Daripada menyia-nyiakan malam ini, dan perjalanan kita masih jauh, lebih baik kita jaga secara bergantian. Kau tidur setengah malam, dan aku tidur setengah malam juga.” Mereka berdua pun setuju. Salah satu dari mereka berbaring untuk tidur. Sahabat yang sedang berjaga melihat-lihat di sekelilingnya, dan tidak ada siapapun malam itu. Dia berpikir “daripada menghabiskan waktu, lebih baik kugunakan untuk shalat Tahajjud?” Dan ketika dia shalat, musuh datang. Mereka tidak melihat siapapun kecuali sahabat yang sedang shalat itu. Jadi mereka mengambil panah dan menembakkannya. Panah itu mengenainya dan seketika mengalirlah darahnya. Namun dia terus melanjutkan shalatnya. Kemudian musuh mengambil panahnya lagi dan mengenainya, namun dia tetap melanjutkan shalatnya. Setiap anak panah bagaikan peluru. Bayangkan tangan kita tertembak tapi kita bahkan tidak tersentak, kita tetap berdiri diam disana dan tetap shalat. Dan mereka terus-menerus menembaknya hingga darahnya terus mengalir. Para ulama Syafi’i menggunakan hadist ini sebagai bukti bahwa darah yang mengalir dari tubuh tidak membatalkan wudhu, karena sahabat ini terus melanjutkan shalatnya. Dia berkata “Satu-satunya alasan aku membatalkan shalatku karena jika terus tertembak panah, maka aku akan mati. Dan jika aku mati, maka Rasulullah S.A.W. dalam bahaya.” Para sahabat yang lain bertanya “Bagaimana mungkin kau tidak merasakan sakitnya terkena panah?” Dia berkata “Bagaimana mungkin aku merasakan sakitnya dipanah sedangkan aku sedang membaca ayat-ayat Allah S.W.T.?”
Kejutan paling indah di dunia adalah ketika kamu mengetahui orang yang kamu suka, diam-diam juga menyukaimu.
(via coretanbiasa)
“Kejutan paling indah di dunia adalah ketika kamu mengetahui bahwa yang kamu kejar-kejar perhatiannya, diam-diam juga menaruh perhatian kepadamu, bahkan lebih besar. Dialah Rabbmu, jika kau tahu.” :’))
👍👍
(via unihanii)
Seorang penghafal Alquran harus shalat malam kala semua orang terlelap, puasa pada siang hari kala semuanya berbuka, sedih kala semuanya gembira, menangis kala semuanya tertawa, diam kala semuanya hanyut dalam berbicara, tenang kala semuanya bersikap sombong. Penghafal Alquran harus lemah lembut, tidak pantas bersikap kasar, suka membantah, berteriak gaduh, ataupun berperilaku keras.
Abdullah bin Mas’ud
Ini yang selalu mengingatkan. Baik khilaf yang belum, akan, atau bahkan sudah terjadi. Ini yang membuat ketika sudah typing di sebuah grup WhatsApp kemudian dihapus lagi, tersadar apakah yang ditulis benar berfaedah atau hanya senda gurau belaka. Ini yang membuat diri untuk bersabar ketika hendak marah. Ya, ini!
(via zulmamert)
Tadzkiroh
To get what you love, you must first be patient with what you hate.
Abu Hamid al-Ghazali
Originally found on: roadtojannah-1
(via islamic-art-and-quotes)
T__________T
(via marfah21)
Sahabat
Kisah antara Rasulullah dan Abu Bakar menunjukkan kita sebuah contoh yang amat agung tentang persahabatan.
Ketika isra mi'raj, Rasulullah mengabarkan kepada kafir quraisy bahwa ia telah ke baitul maqdis lalu kembali lagi hanya dalam satu malam.
Semua orang kaget akan kisah itu dan kemudian menertawakan Rasulullah, lalu mereka pergi menuju Abu Bakar, dengan harapan mendapat jawaban yang sama dari mereka bahwa Muhammad sudah gila atau berdusta.
“Kalau ia mengatakan begitu, maka itu benar!”
Sahabat, ia harus menjadi penguat.
Di lain kondisi, ketika hijrah dan bersembunyi di gua Abu Bakar menangis cemas dan takut “kalaulah mereka melihat ke bawah mereka pasti akan melihat kira ya Rasul, jika aku terbunuh maka yang terbunuh hanya abu bakar, namun jika yg terbunuh adalah engkau maka yang terbunuh adalah ummat ini”
Lihat bagaimana Rasul menguatkan Abu Bakar, “Janganlah engkau takut dan jangan bersedih, sungguh Allah bersama kita, Bagaimana menurutmu jika ada dua orang, kemudian Allah menjadi yang ketiga?”
Saat itu, Rasulullah menenangkan Abu Bakar.
Begitulah seorang sahabat, mereka saling menguatkan.
Selang beberapa waktu, di saat perang badar, Rasulullah berdoa memohon kepada Allah, mengangkat kedua tangannya tinggi ke langit bahkan hingga jatuh selendangnya “ya Allah jika engkau biarkan kami kalah sungguh engkau tak kan lagi disembah dimula bumi ini”
Abu Bakar datang, menenangkan Rasulullah,
“ya Rasulallah wallahi Allah tidak akan menyia-nyiakan dan menghinakanmu”
Abu Bakar telah belajar dari saat di gua tadi.
Abu Bakar jugalah yang paling paham dengan Rasulullah, ketika surat An-Nasr turun semua orang bahagia atas datangnya kemenangan dan pertolongan dari Allah, namun Abu Bakar (dan juga umar) malah menangis, mereka sadar ini adalah pertanda sudah dekatnya ajal Rasulullah.
Di waktu lain, Rasulullah pernah berkata kepada sahabat, sesungguhnya seseorang, Allah beri pilihan untuk hidup kekal di dunia atau kembali ke sisi Allah, maka ia memilih untuk kembali ke sisi Allah
Tiba tiba abu bakar menangis mendengar itu
Para sahabat tercengang, ada apa gerangan? Padahal Rasulullah hanya bercerita tentang seseorang.
Rasulullah ketika melihat Abu Bakar menangis, ia tersenyum, hanya ia yang sadar, bahwa seenarnya Rasulullah sedang bercerita tentang dirinya, Hanya abu bakar yang sadar Rasulullah sedang mengatakan bahwa ajalnya sudah dekat.
Akhiiran, saudaraku, begitulah hendaknya kita jika menjadi sahabat.