Pentingnya mengetahui gejala-gejala bayi mengalami PJB | Ini adalah lanjutan dari artikel saya yang sebelumnya . Menurut penelitian PJB di Indonesia terjadi pada 8-10 dari 1000 kelahiran. Gejala-gejala bayi mengalami PJB yang bisa kita lihat adalah sesak napas, nyeri dada, sianosis, syncope, kurang gizi atau kurang pertumbuhan. Sianosis adalah membirunya kulit atau terlihat pucat karena kandungan oksigen yang rendah di dalam darah. Biasanya terlihat pada bibir, lidah, ujung jari, ujung hidung. Sedangkan syncope adalah hilangnya sadar seseorang akibat tidak tercukupinya aliran darah di otak.
Pentingnya mengetahui gejala – gejala pada bayi mengalami PJB seperti yang disebutkan di atas tadi membuat orang tua sadar bahwa mereka harus membawa bayi mereka ke rumah sakit. Yang jadi masalah adalah jika tidak terlihatnya gejala-gejala tersebut, maka kontrol rutin ke dokter selain imunisasi sangatlah penting untuk sang bayi. Seperti kasus yang terjadi pada anak saya, dia tidak mengalami gejala-gejala seperti diatas. Pada waktu usia 5 bulan, anak saya mengalami batuk berat selama kurang lebih 2 bulan. Setelah diperiksa dokter ternyata terdapat kelainan jantung. Setelah saya berkonsultasi dengan dokter kardiologi anak di RSCM, batuk yang diderita anak saya tidak ada hubungannya dengan kelainan jantungnya dengan kata lain batuknya bukan penyebab dari kelainan jantung yang dideritanya. Kepada para ayah dan bunda,di harapkan lebih jeli dan concern terhadap sang buah hati. Bawalah sang buah hati setidaknya 3 bulan sekali untuk kontrol rutin ke dokter. Apabila anak kita sehat,maka Alhamdulillah sekali, dan kita bisa berkonsultasi tentang hal lain, misalnya perkembangan dan pertumbuhan sang bayi.
Membicarakan pentingnya mengetahui gejala gejala bayi mengalami PJB biasanya berkaitan dengan faktor faktor yang mempengaruhi penyakit jantung bawaan ini. Apakah faktor keturunan atau keadaan si ibu ketika mengandung sang buah hati? Yang jelas penyebab PJB ini belum diketahui secara pasti. Bisa karena faktor genetik dari ayah atau ibu yang menderita penyakit jantung bawaan atau kelainan kromosom seperti down sindrom. Sedangkan dari segi faktor lingkungan, bisa disebabkan oleh keadaan ibu saat mengandung bayi menderita penyakit infeksi seperti rubella, cacar air, influenza. Penyebab lain bisa juga dikarenakan gizi buruk sang ibu ketika mengandung, umur ibu lebih dari 60 tahun, ibu menderita diabetes mellitus yang membutuhkan insulin, ibu meminum obat obatan penenang atau jamu atau pun ibu alkoholisme. Dari faktor faktor di atas sepertinya tidak ada yang sesuai dengan keadaan saya ketika mengandung dulu. Dari beberapa informasi yang pernah saya baca memang faktor PJB ini 90 persen belum diketahui, 7 persen karena keturunan dan 3 persen karena faktor lingkungan.