Tentang "Kapan Nikah?"
Nikah itu ibarat kelulusan kuliah. Bagi saya, kelulusan kuliah itu bukanlah soal lulus tepat waktu. Tetapi soal lulus di waktu yang tepat. Begitu pula dengan menikah.
Berapa banyak mahasiswa yang lulus tepat waktu, bahkan lebih cepat, kesulitan untuk melanjutkan studi, mendapatkan pekerjaan, dsb. Tetapi banyak mahasiswa yang menunda kelulusan karena satu dan lain hal, akhirnya lulus lebih lama, tapi saat itu di waktu yang tepat: banyak beasiswa, lowongan pekerjaan, proyek ini-itu, dsb. Ia justru lebih beruntung ketimbang yang lulus tepat waktu. Mungkin ini kasuistik—tidak semuanya begitu. Tapi saya bisa memberikan contoh diri sendiri.
Satu hal yang saya pelajari adalah bahwasanya setiap mahasiswa punya alasan tersendiri mengapa lulus cepat dan lulus lama. Setiap mahasiswa punya argumentasi yang unik. Tapi, yang pasti mereka semua ingin lulus. Begitu pula dengan menikah. Setiap orang punya argumentasinya sendiri mengapa menikah cepat atau menunda pernikahan. Tapi mereka semuanya punya keinginan untuk menikah. Terlebih urusan jodoh itu adalah perkara takdir Yang Kuasa.
Jadi alangkah bijak jika kita mengurangi pertanyaan, “Kapan nikah?” “Kok belum nikah?” Kemudian ditutup dengan kalimat simpati mengasihani—yang sama sekali tidak memberikan solusi, “Semoga disegerakan.” Jika mau, ganti kalimat simpati itu dengan, “Butuh dicarikan?” “Butuh bantuan?” “Mau disambungin?” Atau, ya, sama sekali tidak usah dipertanyakan. Sebab, sekali lagi, setiap orang punya argumentasinya sendiri tentang waktu menikah, sama seperti kelulusan.
Bagi saya, kebahagiaan dan keberkahan itu tidak dipercepat dengan menikah cepat, atau diperlambat karena menunda menikah.


















