Pemuda dan Gerakan: Pacar lama yang (mungkin) sedang HTS
Bagi yang tidak tahu terminologi yang saya katakan, izinkan saya untuk menjelaskannya sejenak. HTS yang saya maksud di judul tulisan ini adalah Hubungan Tanpa Status. Ya, sengaja saya menggunakan terminologi karena menurut sepemahaman saya, pemuda dulunya adalah motornya gerakan. Namun sekarang, motor itu bergerak dengan kecepatan yang makin pelan. Entah mungkin karena mesinnya yang sudah usang dan perlu diperbaharui. Atau mungkin karena karat yang sudah menumpuk dan perlu dibersihkan. Namun sebelum kita membahas lebih jauh tentang judul yang saya pakai, alangkah baiknya bila kita mendefinisikan dulu apa itu pemuda dan gerakan.
Pemuda, menurut undang – undang nomor 40 tahun 2009 tentang kepemudaan, didefinisikan bahwa pemuda adalah warga negara Indonesia yang memasuki periode penting pertumbuhan dan perkembangan yang berusia 16 sampai 30 tahun. Pemuda, dalam begitu banyak pembahasan sering disebut sebagai agen perubahan. Kumpulan orang yang mampu membawa perubahan yang signifikan terhadap bangsa melalui hal – hal yang dilakukannya. Dia diberikan tanggung jawab dan beban moral untuk membangun bangsa sesuai dengan bidang yang ditekuninya, dan dalam berbagai kesempatan yang ada. Begitu banyak kampanye dan doktrinasi yang berkembang di masyarakat terntang pengertian ini. Da hal in tidak dapat pula hal ini dianggap benar ataupun salah karena semuanya bersifat relatif. Tergantung dari perspektif mana yang dipakai untuk melihat arti kepemudaan itu sendiri.
Gerakan, menurut saya, adalah sebuah inisiatif. Inisiatif untuk mengambil tindakan terkait dengan keresahan yang ada di lingkungan sekitar. Banyak yang menganggap bahwa aksi demo ataupun turun ke jalan adalah bukti nyata dari sebuah gerakan. Namun, sebuah gerakan tidak hanya berkaitan dengan itu. Banyak hal yang bisa dikaitkan dengan gerakan. Gerakan sosial seperti membangun perpustakaan di desa yang belum punya perpustakaan, adalah contoh dari gerakan yang tidak melulu tentang demo atau turun ke jalan. Seiring dengan berkembangnya teknologi, gerakan yang dilakukan oleh berbagai pihak dapat dilakukan dengan cara – cara yang lebih variatif. Itulah mengapa, gerakan tidak boleh disempitkan hanya diartikan sebagai turun ke jalan. Karena gerakang lebih dari itu.
Lalu apa hubungan antara pemuda dan gerakan? Simpel saja. Gerakan adalah salah satu bentuk aktualisasi dari kepedulian pemuda terhadap lingkungan sekitarnya, dan pemuda seringkali adallah motor dari gerakan – gerakan kecil yang muncul di kota maupun di desa. Setidaknya itulah menurut saya. Sayangnya, begitu banyak pemuda yang sedikit tergelincir dan terlena. Terlena akan pembangunan yang begitu kencang di kota – kota sehingga mereka seringkali lupa untuk pulang dan menggerakkan masyarakat, menggerakkan desanya. Inilah mungkin akibat dari pembangunan perkotaan yang begitu pesar, sehingga menyebabkan pemuda desa menjadi begitu tertarik dan berkeinginan untuk memasukinya. Namun, ibarat sebuah perangkap pancing, sekalinya masuk, akan sangat sulit untuk keluar. Begitu banyak godaan yang menyebabkan pemuda lupa bahwa merekalah motor pergerakan. Makin lama ideologi mereka makin terkikis dengan materialisme perkotaan yang begitu menggoda untuk ditinggalkan.
Godaan itulah yang menyebabkan pemuda jarang pulang, jarang kembali ke desanya. Untuk melihat bagaimana kondisi masyarakatnya, dan berkontribusi terhadap desanya. Begitu disayangkan bila hal ini terjadi. Dahulu, pemuda begitu getol untuk membangun desa kebanggaannya. Namun, seiring berjalannya waktu, materialisme kota merenggut kepedulian mereka. Saya meyakini di dalam benak mereka terdapat keinginan untuk kembali dan membangun / menggerakkan desanya. Namun kota begitu berat untuk ditinggalkan. Ibarat orang pacaran, pemuda dan kepedulian untuk menggerakkan masyarakat itu berada di ujung tanduk hubungan. Sedang HTS, bukan sudah putus, tapi pun juga tidak seintim seorang pacar.
Ini adalah dilema yang dihadapi pemuda saat ini. Menurut saya, ada solusi yang barangkali bisa diterapkan untuk permasalahan ini, yaitu membiarkan pemuda untuk pulang ke desanya dan menggerakkan desanya. dari skala desa yang paling kecil, perubahan – perubahan besar bisa diinisiasi dengan masif dan berdampak besar. Karena, mengutip perkataan dari Mas Reza Zaki pada Sekolah Tjokro tanggal 15 Oktober 2016 lalu, “Indonesia tidak membutuhkan obor besar di Jakarta, tapi membutuhkan lilin – lilin kecil yang menerangi di tiap – tiap desanya”.