As an Apprentice..
“Merantaulah,… engkau kan mengerti alasan kenapa harus pulang. engkau akan mengerti siapa saja sesungguhnya yang kau rindukan dan merindukanmu.”
Mungkin sering sekali kita mendengar kalimat itu ya? Memang, kalimat itu saya kutip dari novel Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi. Bisa dikatakan kalimat itu dapat menggambarkan kondisi saya, beberapa hari yang lalu. Iya, tepat seminggu yang lalu saya baru saja menuntaskan dunia-permagangan. Ada banyak hal yang saya dapat pelajari disini. Senang!
Ceritanya, dimulai dari beberapa pertanyaan yang dilontarkan oleh teman – teman pada pertengahan semester 6 kemarin; Mau magang dimana? Dan jawaban dari pertanyaan itu yang membuat saya terlempar pada beberapa hari saat awal semester 6 kemarin. Saya masih ingat betul ketika itu saya ‘mengejar – ngejar’ senior di kampus untuk mencari informasi mengenai proyek LRT. Kebetulan saat itu, mas Teguh belum bekerja disana. Dan ia pun juga masih menunggu panggilan untuk interview. Hingga saya menemukan tim yang sama – sama ingin magang di proyek ini; Wahyu, Alme dan Izzul. Lalu beberapa minggu setelahnya, akhirnya mas Teguh berhasil diterima kerja. Sedikit banyak juga kami korek informasi mengenai prosedur untuk melamar magang sampai harga makanan disana. Sampai pada perjalanan mengurus surat perizinan magang. Ini bukan tidak ada hambatan. Tidak semulus seperti yang dibayangkan. Sebagai informasi, saat itu kami belum menerima jawaban dari tempat magang hingga h-2 batas penutupan magang dari pihak birokrasi kampus. Lalu, setelah berkomunikasi dengan Pak Didit-Project Manager Section 3&4 dan mas Nur Alhamdulillah kami berempat diterima.
Survival life has been begun.. Untuk yang pertama kalinya, naik ke atas box girder yang asli bikin mau jantung copot. Keluar rumah jam 10 malam. Balik ke rumah bebarengan dengan rombongan yang akan berjamaah subuh di masjid. Begadang dan minum kopi di atas gantry bersama para pekerja yang super ramah. Order go-food pada pagi buta. Tertidur di emperan jalan karena obat pereda radang tenggorokan yang telah berhasil membuat kantuk yang tak tertahankan. Mengantri bus TransJakarta pada rush hour, berdesak – desakan-hingga susah bernapas.
Lalu?
Tiba-tiba time flies begitu saja..
Selama kurang lebih 2 bulan, banyak sekali pelajaran yang dapat saya petik. Bukan hanya secara akademik, tetapi dalam pelajaran kehidupanpun juga. Selama beberapa tahun hidup dengan orang tua, dengan beragam fasilitas yang diberikan akan menjadi sangat berbeda saat kamu di tanah perantauan. Ternyata dunia luar memang ‘keras’ ya. Kamu harus mencoba sesekali merasakan. Memang belum bisa dibilang sesuai. Saya juga masih sangat jauh dari jalan. Masih ada rasa takut yang menghantui. Tapi, bukannya memang begitu? Salah satu bentuk ketakutan adalah langkah pendewasaan. Dan menjadi dewasa itu memang sebuah pilihan, kan?
Terima kasih sebanyak – banyaknya kepada semua orang baik disana; Keluarga di Bekasi, Pasar Minggu dan Tangerang yang selalu support saya. PT. Wijaya Karya team project LRT Kelapa Gading-Velodrome, bapak&ibu JakPro, Tensindo, CECI, SHE, Bu Wit Kos, teman – teman seperjuangan magang, mbak-mbak dan mas-mas yang namanya tidak bisa disebutkan satu persatu disini. Terima kasih banyak!
Ini adalah proses. Masih akan ada kelanjutan sebelum akhirnya selesai. Menapaki momentum sebuah peristiwa yang akan selalu dipetik hikmahnya. Biarlah berjalan seperti air mengalir. Sambil belajar, berusaha meraih apa yang ingin dicapai. Semoga Tuhan selalu membersamai setiap langkah yang diambil. Sampai jumpa hingga LRT beroperasi!
Surabaya, 26 Agustus 2017 Jauh, tapi dekat. Cuma satu jam dengan pesawat.














