I LOVE MY LIVE LIKE JAYMasih catatan seorang kuli Berkali kali aku mencoba untuk diam dari tempat dudukku namun kaki minta dan memaksa untuk segera turun ke laut, banyak yang terjadi, datang dan pergi membuatku sedikit tergerak dari pikiran hayalku, aku telah melewatkan beberapa hari dengan duduk dan diam tanpa melakukan hal yang berguna, semula hanya untuk berpikir lama-lama menjadi rasa malas dan sangat menjengkelkan bagiku. Berhari-hari aku mencoba merenungkan jalan hidupku yang serasa agak sempit, meski aku merasa bahagia dan senang, namun aku merasakan duniaku makin sempit karena aku tidak bisa bergerak dari beban pikiran yang agak menjengkelkan, sejujurnya aku merasa sedih setelah merasa kreativitasku agak mandek, karena urusan yang klasik aku merasa tidak memiliki kekuatan materi yang mendukung untuk mengembangkan kreativitas padahal aku sadar orang creative akan selalu lahir tanpa berpikir akan adanya uang. Tidak seperti aku yang beberapa bulan yang lalu ketika dengan sangat berani bertindak dan bereaksi seperti angin cepat dan bergerak se-cepat kilat, namun di sini aku terdiam membuatku terlihat bodoh dan semakin kehilangan focus pada impian yang selama ini ingin aku bangun. Berbekal i-Pod kuno milikku ku langkahkan kaki menikmati kopi pagi yang nikmat buatan ibu penjual kopi keliling, masih dengan pikiran melayang pada perubahan nyata yang tidak aku perbuat, aku tenggelam pada situasi yang tidak enak untuk kudiskusikan dengan diriku, hanya perubahan pada diri yang selama ini aku tunggu tapi belom menunjukkan pada hakikat sebenarnya. Pada sisi ini aku menunjukkan semangat yang belum pernah aku rasakan dan sebuah tindakan pasti dan aksi, tapi ternyata lagu reggea yang menghentak dan melayang dalam pikiran membuat duniaku terdiam dan memutarku pada dunia yang berjalan di tempat, sementara sebagian orang berbuat sesuatu yang membuat mereka berkembang dan berubah, dan perubahan yang aku rasakan hanya pada diriku dan aku sungguh-sungguh berharap perubahan yang nyata, ternyata hanya berakhir pada situasi yang menyedihkan, aku terperangkap pada ambisi dan kesenangan pribadi. Aku mencari jati diriku yang terlepas pada kehidupanku, aku terlepas pada kehidupan yang sudah mapan dan mencari kesempatan kedua untuk diwujudkan dan melampui pada nasib yang telah dirubah oleh tanganku pada tahun tahun sebelumnya, aku berusaha mendekatkan diri pada kesenanganku dan berusaha mendekatkan diri pada dunia selancar yang selama ini merasuk jiwaku, hingga ku sulit untuk melepaskan diri dari belenggunya, sedangkan aku menyadari ini adalah kesempatan yang harus aku perjuangankan. Tak menyadari apa yang akan aku lepaskan dari sisi kesenanganku, aku berusaha menyambut kesempatan ini dengan jiwaku yang sangat rock n roll, aku tidak punya criteria untuk jadi orang lain, karena ku sudah menjalani kehidupan dengan penuh kebebasan dan aku bisa merasakan kebebasan bahkan melebihi burung yang memiliki sayap sekalipun, kini hanya perlu membuktikan seberapa kuat aku terbang dan seberapa kuat diriku bertahan diantara hantaman angin untuk tetap pada sisi yang kuyakini, yaitu jalani hidup rock n roll-mu dan buktikan kesempatan kedua memang ada. Aku hanya berusaha lebih dekat dengan diriku saat ini dan ingin menjadikan standart diri lebih tinggi, aku ingin membuat sejarah diriku dan membahas diriku serta menjadikan passion yang aku punya sebagai sebuah motivasi, aku termotivasi pada surfing yang selama ini, maksudku beberapa tahun terakhir setelah aku melepas kesempatan pertama, aku benar benar tertarik pada surfing. Dan mempusatkan passion hidupku pada hal-hal yang berbau surfing. Aku merasa ini adalah proses seleksi dari beberapa passion special dari hidupku yang berhasil aku sisihkan dan aku berusaha membunuh passion yang lain, meski ini ngga berpengaruh pada dunia olahraga di Indonesia tapi aku ngga mau berbuat sesuatu hanya berdasarkan materi dan jadi hobby kebanyakan orang, aku hanya ingin membuat olahraga yang sedang naik daun ini lebih disukai dan benar-benar jadi passion untuk berbuat sesuatu lebih semangat dan pantang menyerah, dengan yakinnya kamu nanti memantapkan hatimu dan berkata “gw surfing bukan buat siapa-siapa tapi untuk ketenangan diriku”. Sehingga aku bisa mengalirkan energi tanpa merasa kehilangan kekuatan, akan bangun setelah jatuh berulang-ulang, dan tetap bertahan dengan segala perubahan jaman dan aku yakin ada pada alam yang benar-benar aku sukai, sehingga tidak ada yang tidak kamu ketahui. Melaju pada kenyataan yang serius namun tetap berusaha tenang dan santai karena keyakinan yang kita bangun untuk tetap bertahan lama dan memberi pengaruh pada orang sekitar untuk menyadari potensi tentang kecintaan pada passion sendiri adalah segalanya. Kita tidak membahas tentang penghasilan dan materi, tapi kita membahas tentang eksistensi dan peran aktiv yang bisa kita berikan jika kamu benar benar menemukan passion jadi mesin semangat yang tak pernah mati. Tatap sejenak dirimu di cermin dan temukan seberapa dekat impianmu dengan kesuksesan, sejujurnya aku melihat tidak ada kesuksesan yang akan aku kejar aku ngga bisa melihat apa-apa. Aku hanya menjalani semua kegiatan yang aku cinta da aku tetap semangat menatap ke langit, selama itu keyakinanku tentang batas pandang yang aku bisa lihat aku bisa merasakan kesuksesan yang aku cari masih terhampar di depanku tinggal laju rock n roll ku pacu lebih kencang. Aku sering diingatkan untuk tidak bermain main dengan hidup, tentu saja ku jawab aku tidak pernah bermain-main dengan hidup, aku hanya ingin menjalankan hidup yang aku suka tanpa harus berpikir tentang materi sebagi barometer kesuksesannya. Tentu saja aku ngga bisa membuktikan ini pada keluargaku dan orang-orang sekitarku serta teman sekolahku karena aku masih menjalani proses berliku, jujur saja ini adalah hal baru dalam hidupku ketika aku harus berkeyakinan lebih pada jalan yang aku pilih, karena sebelumnya aku tidak pernah memilih dan membiarkan orang lain membuat pilihan dalam hidupku, membuat diriku lupa pada pilihan hidupku sendiri dan aku sungguh peduli pada pilihan hidupku tidak ada jalan lain bagiku untuk menjadi diri sendiri kecuali dengan membuat pilihan dan berdamai dengan resiko yang akan dihadapi. Benar kawan tidak ada toleransi dalam hidup ini, toleransi hanya berlaku bagi mereka yang telah dipilihkan jalan hidupnya dan rela memaksakan keinginan orang lain terpenuhi dan cita yang sebenarnya perlahan terhapus karena terbayar dengan materi. Aku bertaruh untuk hidupku karena ini menyangkut ketenangan yang aku jalani, aku ngga tahu sampai kapan aku bisa hidup jika bukan kebahagian dan hati nurani yang aku ikuti, aku yakin ketika aku mati hanya penyesalan yang mengiriku. Lagu “simple song” dari The Shins mengalun menghentak dan memaksaku untuk beranjak pergi dari tempat ini, sementara tanganku masih ingin terus menulis, karena ketakutan yang besar jika aku tidak segera menuliskan isi pikiranku akan segera bertukar dengan isi paha gadis bule yang bertebaran disekitarku, bukan aku melihat diriku semakin mengecil dan mengerucut sementara ambisi yang kubangun dengan percaya diri perlahan memudarkan kesan jika aku harus berdamai dengan situasi semakin jauh, dan itu membuat harus berpikir lebih jauh tentang jalan keluar dari masalah ini. Pandanganku terfokus pada papan selancar yang baru aku beli beberapa hari yang lalu dari sebuah artshop, dan menyakan kenapa aku harus menebusmu dari toko sialan itu, dan mengangkatmu jadi bagian dari keluargaku, bukankah aku sudah punya papan selancar di kamarku. Dan aku mulai tenggelam pada hayalan yang tak berujung dan membuat aku semakin tersisih dari diriku, aku melangkahkan kaki dan mengambil papan selancar, aku tahu pagi ini cuaca tidak bagus dan akan turun hujan. Aku seperti tidak peduli situasi aku tetap melangkah dan merasakan damai jika semakin dekat dengan air laut di pantai semakin dekat aku merasakan panggilan dari dewi laut yang cantik, aku semakin melangkah seakan terhipnotis aku terus melangkah dan semakin besar getaran dalam hatiku seakan tidak pernah merasakan bersentuhan dengan air laut sebelumnya. Dalam sepersekian detik aku terdiam dan membiarkan ombak mengombang-ambingkan tubuhku, dan membiarkan ini beberapa saat sebelum aku mulai paddle out, dan membiarkan wajahku tersentuh belaian air laut, aku terus bergerak dan menjauh dari pantai dan ingin merasakan kesendirian dalam cuaca hujan dan merasakan kesendirian di tengah laut dan dari jauh aku merasakan hembusan angin dan hujan akan turun dengan lebatnya. Aku mulai kembali pada diriku dan komunikasi yang tadi sempat terhambat kini kita lanjutkan lagi, aku mulai bertanya pada diri sendiri “benarkah kamu ingin berkenalan dengan hujan pagi ini?” dengan congkaknya pikiranku meremehkan aku dan mulai meragukan semangat ku tentang hidup. Dengan pasti ku tengadahkan muka dan merasakan satu tetes air hujan jatuh ke mataku, aku mulai tersenyum dan aku terus berkata pada pikiranku, sebentar lagi aku akan bertemu dengan kepuasan yang selama ini tidak pernah pikirkan dan kita selalu abaikan. Perlahan angin berhembus dengan kencang aku bisa merasakan ketika aku menatap air laut mulai bergerak teratur dan aku melihat barisan buih berbaris dengan indah berusaha kabur dari kesatuannya ketika ombak datang dengan dahsyatnya. Beberapa gumpalan air berjumlah ratusan ribu liter tumpah mengenaiku, aku tersenyum dan membiarkan terus berulang terjadi aku tenggelam memeluk papan selancar yang baru kuangkat jadi keluarga. Kita berdua saling tolong-menolong untuk keluar dari situasi darurat. Tapi pikiranku tidak menganggap ini situasi yang sangat darurat karena memang ini yang kita tunggu untuk membuat pikiran lebih tenang dan terbebas dari himpitan. Aku tak menghiraukan beberapa ombak yang datang pada tiga baris pertama aku menatap langit dan aku sudah tidak bisa melihat pohon yang tumbuh di pinggir pantai, aku tidak bisa melihat barisan orang yang lalu lalang karena sudah terhalang oleh derasnya air hujan dan kurasakan air hujan kali lebih besar tetesannya, aku duduk di atas papas selancar dan menengadahkan muka kelangit dan berbisik “aku bisa merasakan kekuatan-Mu”. Aku masih duduk dan mukaku tengadah ke atas merasakan tetesan hujan, sengaja tidak ku pejamkan mata, merasakan seolah diburu oleh peluru yang jatuh dari langit aku tersenyum dan perlahan memejamkan mata, dengan perlahan kuangkat ke dua tanganku, ingin merasakan hal yang sama, seperti sedang berdoa aku tanganku berhenti aku masih menghadap ke laut, aku merasakan kekuatan yang maha besar ada di dalam tubuhku, dan merasakan keindahan yang tidak pernah aku rasakan, aku seperti tenggelam dalam balutan hujan, seolah hujan ini turun hanya untuk mendinginkan pikiranku yang sempat mendidih beberapa saat yang lalu, dan perlahan ku buka mata dengan jelas kulihat air laut yang beriak riang ketika kejatuhan oleh air hujan, sungguh interaksi yang indah ketika aku merasakan air hujan jatuh dan masuk ke mulutku tawarnya seakan sanggup merubah rasa asin seluruh volume air laut, interaksi yang indah ketika dengan berbarengan air jatuh dan dengan senang disambut ombak yang bersatu dengan angin membawa semangatku kembali naik pasang dan menghempaskan semua keraguanku yang selama ini. Aku mengambil ombak dan berdiri diantara derunya, dan mengantarkan aku pada perjalanan yang menakjubkan. Aku melompat turun dan hujan masih dengan lebat turun aku mengangkat tanganku dan menatap langit, tersenyum ku bisikkan “terima kasih hujan dan angin yang datang pagi ini, kalian telah membuat aku bangun dan mendinginkan temperatur otakku”. AKU HARUS MENJAWAB TANTANGAN HARI ITU Aku menulis secara jujur tentang keadaan hati yang semakin hari semakin galau, bukan untuk mengeluh tanpa mencari solusi, namun langkah semakin sulit untuk digerakkan. Ku lirik isi dompet yang semakin menyedihkan hanya tinggal yang berwarna hijau, semakin tidak bisa bergerak aku. Perlahan aku menyandarkan diri di tiang tembok toilet, dan mulai menyangkal kenyataan-kenyataan yang membuat diriku semakin susah, aku mulai ketakutan dan menghindari pandangan pesimistis orang orang yang dulu melarangku. Seolah-olah mereka telah jadi raksasa sekarang dan semakin mendekatiku untuk sekali lagi menginjak dan mematahkan semangat dulu pernah aku gembar-gemborkan, aku terpojok. Aku masukkan tangan ke dalam kantong belakang celanaku dan memeriksa sebagian harta yang masih tersisa itu, aku tidak terbiasa menahan lapar dan tidak terbiasa makan dua kali sehari, bukankah itu melanggar aturan sang dokter. Padahal di sisi dunia lain ada orang tidak makan berhari-hari hanya kemasukan air putih dan makanan yang ngga jelas, pikiranku kembali pada petualangan menakjubkan beberapa bulan lalu ketika aku bersama seorang rekan menyeberang ke sebuah pulau terpencil dan tidak ada yang di sebut dengan kesusahan, tidak orang ada berteriak dan memencet klakson secara membabi buta, tidak ada orang yang memamerkan kehidupan glamournya di depan jalanan, tidak ada tingkah gadis bergaya seperti merak yang akhirnya ku ketahui si gadis hanya bertugas sebagai administrasi perusahaan, di sini orang bekerja dengan tenang dan saling menyapa sambil tersenyum aku yang masih berapa jam sampai di tempat ini serasa baru sampe di planet baru, sebagian melihatku sambil berbisik dan sebagian tersenyum melemparkan pesona yang ajaib, senyum tulus, lama aku tidak melihat hal yang seperti tidak di kampungku yang sebentar lagi masyarakatnya hilang karena kena arus urbanisasi tidak juga di Jakarta yang notabene ku sebut sebagai kota huru-hara di mana orang sudah tidak mengenal sopan santun dan tata krama. Aku duduk di sebuah bale kecil dan menatap satu wajah agak tua dan saling tersenyum menawarkan teh yang mungkin sudah dari pagi di siapkan untuknya. Hanya ada lampu templek di dinding kayu itu dan ada tv 14 inchi. Aku tidak melihat suasana duka, aku juga tidak melihat suasana dikejar mafia karena telat bayar kredit, yang mereka ceritakan adalah suasana kesunian dan keteduhan yang membuatku kembali tersadar tentang keramahan yang di miliki oleh republic ini beberapa puluh tahun silam, sekarang memang sudah memudar. Aku memperkenalkan diri sebagai orang pusing yang sengaja mencari kesunyian dan mencari suasana alam yang berbeda, mereka juga menanyakan asalku, tentu mereka sangat ingin tahu betapa megah kota yang mereka lihat di tv dan betapa sangat ingin mereka melihat orang di dalam itu. Aku mendiamkan diriku dan memecah beberapa kesunyian dan kegelapan dalam hatiku, aku melihat wajah itu masih saja tampak tidak percaya melihat wajahku yang tidak tampak seperti manusia yang berasal dari daerahku. Ya aku menjelaskan betapa muka ini emang agak eksotis dan tidak banyak ditemui di dataran Jakarta, tapi banyak dijumpai di daerah timur Indonesia sana. Aku tersenyum sendiri aku memandang ke laut sejenak dan bersandar, dari jauh aku melihat kepulan asap dari sebuah platform pengeboran minyak lepas pantai sekitar 2 jam dari pelabuhan ujung pulau ini. Semakin mundur aku menghayal dan semakin aku teringat beberapa tahun yang lalu aku sering mengusir para pencari ikan yang suka mondar-mandir di tempat para pengebor itu mengekploitasi gas, dan aku pernah bekerja di platform itu. Layaknya seorang raja aku dan sekian orang memandang dari ketinggian 50 m, melihat ke arah mereka yang mencari ikan dan memberi aba-aba untuk meninggalkan tempat yang mereka dekati, karena bisa menyebabkan bahaya. Tapi tahukah kalian, kita yang baru buka beberapa bulan di tempat ini sudah berani mengusir para nelayan yang hidup bertahun tahun untuk mencari nafkah dan menjadi kehidupan keseharian mereka, serta menjadi kearifan budaya masyarakat local ini. Dengan hati berat aku mengingat kejadian itu, bahkan perusahaan asing itu menyewa polisi untuk menghalau para nelayan agar tidak mendekati kita. Aku yang masih muda, melihat mereka dan bilang “they are crazy”. Sekarang aku benar-benar dekat dengan para masyarakat yang aku usir itu untuk mencari sebuah ketenangan. Ya setelah berlalu empat tahun mendatangi pulau kecil dan damai itu, di sana di pulau kecil itu mereka tidak mengusirku bahkan menganggap sebagai keluarga, bahkan ketika aku bertanya tentang si pengebor minyak di tempat itu, mereka tidak tahu juga yang jelas kata mereka tempat itu sudah diawasi polisi dan tidak boleh mendekati tempat itu, padahal di situ posisi strategis untuk para nelayan melintas dan mencari ikan, dahulu. Aku benar benar mendapatkan sebuah kenyataan yang berbelok dengan yang ada di pikiranku selama ini, tidak semua orang di dunia mengejar harta dan memburunya seperti mengejar maling di area massa. Mereka tampak lebih tenang dan berbudi tinggi, meski keadaan yang mereka hadapi lebih primitive. Aku tahu kepalaku kebanyakan menyimpan materi dan sekutunya, tentang ambisi untuk menjadi seperti Bill Gate dkk, menjadi cover majalah forbes, mengimpikan kekayaan yang besar dan kemewahan, perlahan mataku terbuka, ini jalur hidupku? Untuk menjadi seeorang yang kaya raya dan punya segala hal yang diinginkan di setiap manusia yang punya kepala. Rasanya kalo pertanyaan itu dijawab saat ini, saat aku menulis catatan gila ini, aku telah melewatkan beberapa hal penting dalam hidupku, seperti pengabdian dan berbuat kemanusiaan untuk menciptakan kedamaian bersama. Aku terlalu mengedapankan materi dan kesenangan pribadi. Vonis diriku. Aku kembali kepada dompet kosong itu lagi, eh maaf dompet berisi lembaran hijau itu, apakah aku senang dengan hidupku saat ini? Aku mulai merangkai kejadian kejadian penting dalam hidupku yang berjalan beberapa bulan terakhir, setidaknya yang telah berlalu dengan indah dan penuh liku dan bahagia berjalan sekitar delapan belas bulan, aku merasakan keindahan yang aku inginkan, aku tidak dikejar harta, aku tidak dihantui rasa ingin kaya, pikiranku masih penuh dengan ego yang tidak berguna seperti ingin senang sendiri dan memanjakan diri dan melakukan segala hal yang aku senangi, bahkan aku sendiri kadang keluar dari jalur yang aku tentukan sendiri, terlampau jauh membuat diri senang, saat terpenting ini sebenarnya berpengaruh terhadap hidupku untuk melangkah lebih jauh dan belajar lebih. Kisah uang hijau ini kembali mengembalikan aku pada titik balik dari perjuangan yang aku tinggalkan dua puluh empat bulan yang lalu, di mana dengan angkuhnya aku memutuskan untuk menikmati hidup dengan caraku sendiri dengan kebodohanku aku mencari hidup yang aku rasakan lebih baik, tahukan kamu??? Ambisi seperti itu adalah ambisi murahan sesaat sebelum badai datang alias koar-koar hanya di mulut, ketika badai datang bukan kita lari ke dek dan meng-antisipasi keadaan tapi malah berpegangan ke tembok dan gemetaran tidak ada gerakan penyelamatan. Aku mulai merasakan tekanan yang nyata dan kesungguhan arti dari sebuah perjuangan. Diantara sekian lama aku melakukan pertualangan aku kembalikan ingatan indahku pada indahnya matahari berwarna hijau di Norwegia, pada perjuangan seorang gadis dan ayah yang mengamen di pinggir kota Bergen, menikmati permainan bassnya dan menikmati senyumnya, bertahun lalu aku menulis kisah si gadis dan ayah yang kabarnya datang dari Denmark untuk bernyanyi di jalanan kota yang indah itu. Aku sebenarnya tidak percaya hingga akhirnya aku menulis kisah ini dalam bukuku. Si gadis yang itu benar benar menjelma jadi seorang artis dan dia benar benar menunjukkan hasil dari jerih payahnya dengan manjadi perwakilan Denmark untuk sebuah pertandingan adu vocal di Eropa. Ketika aku mencarinya di youtube, seorang temanku dan bertanya siapa yang kamu cari, dengan senang hati aku menceritakan kalo aku sering menikmati pertunjukan jalanan selama tour Eropa beberapa tahun, aku mulai kembali mengenang keindahan kota-kota tersebut dengan bantuan google dan mencari gambar di mana aku pernah berdiri dan menikmati keindahan kota-kota tersebut. Si gadis itu bernama Soluna Samay dia adalah inspirasi. Dan dia telah menginspirasi untuk hal ini bahwa kecintaan kita pada hal yang kita cintai harus dibayar dengan jerih payah dan kerja keras tanpa kenal jarak dan waktu. Dia mengajarkan aku lagi tentang menghargai keindahan, sebuah kenangan yang begitu berharga itu adalah pengalaman kita untuk menaklukkan medan yang tidak bersahabat. Si kertas hijau belum lagi menampakkan hidung untuk berbuat sesuatu yang lebih baik. Aku terus berencana mengawinkan dengan gambar yang lain barangkali akan membuat dunia lebih meriah dengan jumlahnya yang semakin bertambah. Aku mulai menatap lebih tajam si kertas hijau dan mulai berpikir keras tentang suara-suara sumbang yang beberapa bulan terakhir terus menyerangku dan terus mempengaruhiku, aku harus menjawab semua keraguan yang ada dalam diriku sebelum aku menunjukkan hal lain yang sangat berharga untuk aku tunjukkan. Aku membunuh keraguan dalam diriku, aku harus membangun cinta yang mulai menghindar dari kehidupanku, benar dan sangat benar aku mulai tidak memperhatikan cinta sebagai anugerah dalam hidup, aku mulai tidak respek terhadap perasaanku, dengan mudah jatuh cinta dan menerima wanita manapun dan kapanpun, itu tidak baik. Bukankah itu membuatku kehilangan rasa loyal dan sisi keromantisan, aku muak dengan kisah hidup yang tak beraturan, pertualangan itu rasanya akan berakhir dan membuat aku ketakutan dengan kisah hidup selanjutnya. Pada dasarnya aku yang seorang penakut, maka harus rela untuk membuat kehidupan ini bersikap lebih kejam padaku, ternyata betul hidup tak kenal kompromi, itu hanya berlaku buat mereka yang lemah. Dan aku bagian dari yang lemah itu. Jika kamu ingin menatap luasnya dunia maka kamu jangan bersikap seperti aku jadilah pria yang pemberani, tegar, dan kuat. Kamu akan menemukan dunia dengan keyakinanmu dan kamu harus mewujudkan itu dengan kerja keras. Inilah tantangan terberat yang harus kamu hadapi ketika menemukan yang kamu cintai, tidak semua orang di sekitarmu menerima yang kamu cintai, apakah itu masalah? Tentu saja ini masalah. Tapi kamu hanya manusia biasa kamu tidak bisa membuat semua orang di sekitarmu senang semua. Kadang kita terjebak dalam situasi yang tidak menguntungkan, percayalah kawan! itu hanya ujian kecil dari sekian ujian yang akan kamu hadapi seperti ujian lapar, tekanan ekonomi, pressure dari orang sekitar. Aku tidak menyarankan kamu untuk meninggalkan mereka, namun resiko yang paling aman untuk mengejar cita cita adalah berada di lingkungan yang mendukung untuk mencapai cita, seperti ke-Germany jika kamu hobby membuat kapal terbang, itu versi masa lalu yang di perjuangkan oleh salah satu tokoh hebat negeri ini dalam mengejar cita-cita dan merantau, BJ Habibie. Bukankah mereka menantang dan meragukan kemampuanmu maka kamu harus memberi bukti bukan omong kosong dengan segala kepintaranmu. Percuma. Kekuatanmu lahir saat kamu sadar kamu benar jatuh. Kalo itu tidak membuktikan sering-seringlah ke toilet mungkin ketika berhajat kamu menemukan ide brillian untuk membuktikan nyali besarmu. Jay Moriarity is a great surfer from Maverick, got an accident in Maldives and passed away. Masih terdiam dan meninggalkan dompat itu sendirian, Kuli Bangunan mulai jengkel lihat dompet. Notes ini ditulis saat badai derita menerjang masyarakat Banjarnegara akibat tanah longsor.