Terkadang, tidak semua rasa sakit harus diselesaikan.
Beberapa boleh disimpan.
Barangkali bisa menjadi buah tangan.
Kenang-kenangan dari yang memilih meninggalkan.

Andulka
Cosimo Galluzzi
Alisa U Zemlji Chuda

roma★

tannertan36
cherry valley forever
TVSTRANGERTHINGS

Origami Around

izzy's playlists!

★
NASA
YOU ARE THE REASON

shark vs the universe

Discoholic 🪩
h
tumblr dot com
Today's Document
🪼
he wasn't even looking at me and he found me
Monterey Bay Aquarium
seen from United States
seen from United States

seen from T1
seen from United States
seen from France
seen from United States
seen from United States
seen from Belgium
seen from United States
seen from Netherlands
seen from Austria

seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from T1

seen from United States
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from Sweden
seen from United States
@hellotsanshine
Terkadang, tidak semua rasa sakit harus diselesaikan.
Beberapa boleh disimpan.
Barangkali bisa menjadi buah tangan.
Kenang-kenangan dari yang memilih meninggalkan.
berkali-kali kamu meruntuhkanku
selayaknya kemarau yang memaksa gugur
gersang kemudian layu
sebab daun yang jatuh itu adalah aku
terbang tak tentu
hanya untuk menapak pada sebuah tanah lapang
dipaksa berlapang
terkapar pada sebuah gurun gersang
aku tahu kamu tidak akan datang,
tetapi pada sisa waktu aku masih menunggumu pulang
pada suatu pagi yang ramai
kamu memilih melewatiku
berkali-kali,
beruntun berlalu bersama kabut
pada ujung persimpangan buntu
aku memilih tinggal
diam-diam,
luruh dalam kubangan embun
aku sering lupa,
telah melewati pagi yang sama
bahwa tidak lagi aku lihat kamu berhenti
menungguku untuk sampai di sebuah jalan sepi
Kamu adalah petang paling cepat, yang tenggelam ditelan malam.
Pertama kali, kamu datang melalui celah pintu yang tidak aku temukan lagi Bersama keramaian pada gerimis di penghujung hari Sebab basah pada bahumu cukup membuat aku terpaku dan hanya menanti
Sama halnya sebuah sore yang layak dinikmati sejenak, kamu memilih berjalan dan hilang Sebab menurutmu meninggalkanku bukanlah hal kejam Aku yang terbiasa sendiri tidak akan menanggung luka akibat ditinggalkan
Mengesankan, tapi tidak juga aku sesalkan
Pilihan menghampirimu adalah awal dari mengharapkanmu, sama besarnya jika merindukanmu bukanlah hal tabu Atau haruskah aku sembunyikan niatku pada hal-hal ambigu(?) Agar jejakmu menjadi rancu
Begitulah satu usaha kecil yang aku lakukan, agar tidak tampak menginginkanmu tanpa segan Karena satu-satunya yang aku inginkan adalah memilikimu sendirian (seandainya itu memang memungkinkan).
Satu kali waktu aku mengingatmu Ketika sore dengan merah-merah di langit pukul lima Gerimis tertumpuk di atas kardus pada lengan kokohmu yang tampak sulit aku raih
Di lain harinya aku dengan sengaja memutar kembali waktu Ingatanku memainkan bagian manisnya saja Menolak bahwa kamu petang paling cepat ditelan malam yang tidak mungkin aku capai
Memang sejak hari itu, aku menghabiskan waktu hanya dengan berbaring seperti debu Terkadang memoriku abu-abu semu bercampur air mata Setelahnya jingga bercampur merah di pipi persis ketika kamu menarikku kuat pada tubuhmu yang tinggi
Seperti biasa, aku tidak memiliki pilihan selain merindukanmu Bahkan ketika drama kecil bermain dalam kepalaku, memainkan semua kemungkinan untuk berkamuflasa seolah nyata Begitulah caraku menghibur diri ketika kamu sudah enggan menolehku kembali
Meski harusnya kuputar lagi waktu untuk mengingat yang lalu Aku mengusirmu yang berdiri di depanku dengan nyata Lalu diam-diam menyimpan dirimu yang semu dalam kepala untuk aku tangisi tiap malam sebelum pagi mengambil alih
Sebatas punggungmu yang aku tangkap malam itu sedikit basah oleh hujan dini hari Dikelabui oleh ikal sebahumu yang sedikit dikoyak angin pukul satu pagi Wangi tubuhmu? Masih aku tebak, sebab kepulan asap yang menyelimutimu adalah satu-satunya bau yang aku definisikan sebagai kamu
Aku tidak pernah benar-benar ingat, bagaimana persis dan apa-apa saja saat itu Hanya saja aku masih menyimpan, bagaimana kamu menatapku dalam suatu kali temu
Pada persekian pecahan waktu, akhirnya kamu berbalik kepadaku Begitu cepat, aku tidak pernah bersiap dengan sempat Karena yang terakhir aku tahu, Sebuah jelaga gelap menangkapku terperosok pada sepasang netra coklat
Sampai aku mendapati sudah tenggelam begitu dalam Tanpa ada jalan keluar bertahan di dasar Menghitung kesepian diambang pasrah Tak apa, aku tahu kamu enggan ikut menyelam
benar begitu,
seharusnya memang tetap asing tanpa bertemu
lalu pelan-pelan saling lupa
agar lukaku, bisa sembuh tanpa sisa
seperti biasa, bahasamu semu
selayaknya langit sore yang jingga tapi kelabu
ragu, ambigu, bercampur rancu
beberapa kali aku memaknai
sampai aksaramu terdengar jernih
ternyata aku disuruh pergi
sialan
sialan
sialan
aku dipermainkan
dari mana yaa aku harus memulainya dari awal?
aku harus menatanya dari mana?
dari aku yang seharusnya tidak menggubrismu
,atau justru seharusnya aku menghindari pertemuan pertama kita?
kataku, jangan penasaran denganku
aku hanya seperti perempuan pada umumnya saja
Sejak awal, aku sudah bilang kalau jangan jatuh hati kepadanya.
Sekarang siapa yang sedih dan menangis sendirian?
(Aku).
Aku rasa orang yang memutuskan untuk pergi tidak seharusnya menyesal.
Anehnya, itu seringkali terjadi.
Teruntuk para lelaki yang pernah aku lewatkan…
Akhir-akhir ini beberapa dari kalian kembali muncul ke permukaan. Tentu saja kalian tidak sendiri. Sekarang, sudah ada sosok perempuan yang ada di samping kalian ya?
Tidak. Aku tidak iri melihatnya. Justru aku turut bahagia. Kalian memang layak mendapatkannya.
Kataku juga apa… Kalian itu terlalu baik buat aku.
Saat aku mengatakannya, percayalah bahwa itu bukanlah bualan belaka untuk menolak halus. Kalian memang terlalu baik. Kalian layak bersama perempuan yang baik juga berbahagia. Bukan aku yang masih saja berkutat dengan luka masa lalu dan yang diam-diam pergi ke kamar mandi atau sembunyi di balik selimut hanya untuk menangis.
Jika pada lain kesempatan nantinya kita akan bertemu, aku tidak akan bertanya kepada kalian mengenai bagaimana cara kalian mendapatkannya. Bagaimana kalian setelah kita tidak lagi bersama.
Aku mungkin hanya akan membiarkan kita menjadi begitu asing. Sekadar menghargai perempuan yang telah berada di sisi kalian. Maka, jangan marah dan jangan salahkan aku ya jika nantinya aku akan begitu acuh.
Aku harap bantuan kecil dariku untuk menutup masa lalu kita bisa berguna untuk kalian. Anggap saja sebagai ucapan terima kasihku atas usaha-usaha kalian yang lalu.
Sama-sama ya... Sama-sama karena aku sudah memilih untuk melepas dan membiarkan kalian untuk menemukan kebahagiaan
Tertanda,
salah satu bagian dari ceritamu
Nanti kamu juga akan mengerti :
bahwa aku harus menghindarimu berkali-kali hanya agar tidak terjatuh lagi
Kamu ditinggal pergi lagi? Bukannya biasa? Kenapa masih sedih? Kecewa? Kamu ini lucu sekali, Hal-hal seperti ini kan sudah biasa Entah berapa kali kamu lalui Dan kamu seolah merasa ini kali pertama
Bagaimana? Lukanya sakit lagi? Rasanya sama? Atau jauh lebih sakit dari yang pertama kali? Kamu ini bagaimana, Harusnya kan sudah terlatih Tetapi kamu masih saja Masih saja rapuh dan menangis sendirian lagi.
Aku kembali hanya untuk menemukanmu lagi Sampai aku mendapati Kalau kamu sudah jauh pergi
Daripada aku kecewa dengan yang telah terjadi Aku memilih untuk menyalahkan diri sendiri Bagaimana jika.. Seandainya saja..
Aku kemudian mengingatkan diriku dengan pasti Bahwa aku tidak bisa selalu berbalik lari Untuk mencoba mencapaimu lagi dan lagi
Jangan ditunggu. Beberapa saat yang lalu, baru saja kehilangan dia lewati. Jalannya sunyi sekali.
Di tengah riuh juga berisik, dia hanya sendiri. Baru saja dia ditinggal pergi. Dunianya kini menjadi begitu sepi.
Jangan kamu tunggu lagi, sebab kini dia seorang yang hanya akan memilih duduk sendiri. Tidak peduli berapa pun yang menghampiri, dia tetap mendiami satu tempat sepi untuk dirinya seorang diri
Maka, cukup berdiri di tempat. Dan jangan mendekat. Biarkan saja sendiri, karena dia masih takut kehilangan (lagi).