Hak Anak terhadap Kedua Orang Tuanya
     Perlu kami ingatkan bahwa apabila umat Islam ingin mengembalikan kemuliaan, kegagahan, dan kedudukannya, serta mampu menyelesaikan seluruh problematikan sosial, ekonomi, dan politik dalam tataran individual dan masyarakat, maka kita harus menumbuhkan sebuah generasi yang taat kepada Allah swt., dengan cita-cita tertingginya adalah Islam. Di antara mereka harus ada generasi yang seperti Umar bin Khaththab ra., harus ada yang mengikuti jejak Khalid bin Walid ra., dan harus ada pula yang mengobarkan keberanian umat seperti Shalahuddin Al-Ayyubi rahimahullah. Semua itu tidak akan terwujud kecuali jika orang tua mereka tahu bahwa anak dapat menyebabkan mereka masuk ke Surga, dan juga bisa menyebabkan mereka terjerumus ke jurang Neraka.
    Allah Taâala berfirman, âWahai orang-orang yang beriman, lindungilah diri kalian dan keluarga kalian dari Neraka, yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.â (QS. At-Tahrim [66]: 7)
    Semoga saya tak pernah melihat putrimu bergantung di lehermu pada hari Kiamat berseru di Mahsyar, âYa Rabbi, wahai Penolong-ku, ayahku tak pernah memerintahkan aku mengenakan jilbab. Orang tuaku tak pernah menunjukiku adab yang bermaktub dalam surat An-Nur. Dia tidak pernah mendidik aku dengan adab surat Al-Hujurat. Dia tak pernah mengajariku hukum-hukum dari surat Al-Ahzab. Oleh karena itu, kenakan sebagian jatah siksa untukku kepada orang tuaku.â Atau mungkin juga putramu berkata, âYa Rabbi, wahai Penolong-ku, bapakku tidak mengarahkanku menuju jalan-Mu. Dia tak pernah mengajarkan Al-Qurâan kepadaku. Dia tak pernah mendidikku berdasarkan pengajaran Islam. Maka kenakan sebagian siksaan untukku kepada orang tuaku, wahai Yang Maha Pemaksa.â
    Berikut ini kami paparkan beberapa kaidah penting pendidikan anak menurut Islam.
Langkah pertama yang harus dilakukan oleh kedua orang tua dalam mendidik anak secara Islami adalah memilih pasangan hidup berdasarkan pertimbangan dien dan akhlak. Jika calon pasangannya, selain memiliki kualitas dien dan akhlak yang baik juga memiliki kecantikan atau ketampanan, kaya, kemuliaan keturunan, serta strata pendidikan yang baik, maka itu lebih utama dan lebih sempurna tentunya. Tetapi jika tidak, maka pertimangan dien dan akhlak sudah cukup. Rasulullah saw., bersabda, âApabila datang kepada kalian seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya maka nikahkanlah dia. Jika tidak maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan. (HR. At-Tirmidzi)
Pada masa awal kehamilan, kedua orang tua sebaiknya mempelajari buku-buku yang bertema pendidikan anak.
Ketika bayi sudah dilahirkan ke dunia, orang tua mengumandangkan lafadz adzan pada telinga kanan bayi dan menggemakan iqamah pada telinga kirinya. Kemudian ayah men-tahnik-nya dengan kurma basah sesudah mengunyahnya sampai halus. Ibunda melantunkan bacaan-bacaan ruqyah syarâiyyah ke telinga bayi setiap hari. Pada hari ketujuh, dilakukan aqiqah dengan menyembelih dua ekor kambing untuk bayi laki-laki, atau satu ekor kambing untuk bayi perempuan. Rambut kepala bayi dicukur dan rambutnya ditimbang beratnya untuk disedekahkan perat seberat rambutnya itu. Kemudian bayi diberi nama dengan nama yang baik dan menunjukkan makna yang baik. Sebaik-baik nama adalah yang bermakna penghambaan kepada Allah, yang terpuji, dan yang baik. Rasulullah saw., bersabda, âSesungguhnya nama yang paling dicintai Allah Taâala adalah Abdullah dan Abdurrahman. (HR. Muslim)
Pada dua tahun awal usianya, hendaklah orang tua menjadikan rumah sebagai tempat tinggal yang penuh ketaatan kepada Allah dan penuh kebaikan. Bayinya tidak pernah mendengar kecuali lantunan ayat Al-Quran atau dzikir. Tak pernah sampai ke telingan si bayi nyanyian, irama dansa, atau musik apapun. Sang anak bisa duduk setiap hari mendengarkan ayat-ayat Al-Qurâan Al-Karim, nasyid Islami yang ringan penuh makna. Menjaga pandangan anaknya, sehingga kedua mata sang anak tak pernah melihat kecuali gambar yang baik. Kedua orang tuanya berupaya keras untuk tidak pernah sekali pun bertelanjang di depan  anaknya, karena hal itu bisa terekam dalam pikiran anaknya dan mengacaukannya.
Aspek-Aspek Pendidikan Anak
Pendidikan Keimanan atau Akidah
Luqman berwasiat kepada anaknya agar memegangi akidah yang shahih. âDan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya di waktu ia memberi palajaran kepada mereka, âHai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar.â Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku-lah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Ku-lah kembalimu. Maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Luqman berkata), âHai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahuiâ.â (QS. Luqman [31]: 13-16)
     Kita dapat melihat bahwa pendidikan keimanan dibangun atas dua perkara:
Meninggalkan selain Allah swt., tidak meyakini adanya pengaruh atau kekuatan selain Allah, dan itu tersurat pada perkataan Luqman, âJanganlah kamu menyekutukan Allahâ
Mengisi hati dengan mengakui nikmat Allah dan memerhatikan karunia-Nya, karena pengenalan ini akan membuahkan cinta kepada Allah dan bertambahnya ketaatan kepada-Nya.
    Nabi Muhammad saw., mengajarkan keyakinan ini kepada Ibnu Abbas ra., ketika beliau bersabda, âWahai anak, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa petuah. Jagalah Allah niscaya Allah menjagamu. Jagalah Allah niscaya kau dapati Allah ada di hadapanmu. Apabila kamu meminta maka mintalah kepada Allah. Apabila kamu meminta tolong maka minta tolonglah kepada Allah. Ketahuilah bahwa andaikata umat ini semuanya bersepakat untuk memberi manfaat kepadamu niscaya mereka tidak dapat melakukannya kecuali dengan sesuatu yang sudah ditetapkan Allah untukmu. Sedangkan jika mereka bersepakat untuk menimpakan suatu mudharat terhadapmu maka mereka takkan dapat melakukannya kecuali sesuatu yang telah ditetapkan Allah kepadamu. Pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering. (HR. At-Tirmidzi, dia menyatakan hadits ini hasan shahih)
    Dalam pendidikan Nabi Muhammad saw., ini terkandung pelajaran bahwa pendidik harus mengajarkan laa ilaaha illallaah sebagai ucapan pertama bagi anak yang mulai bisa berbicara, lalu menanamkan di dalam hatinya pokok akidah dan rukun iman, serta mengingatkannya bahwa Allah swt., senantiasa mengawasinya, agar yang di didik merasa takut kepada-Nya, mencintai-Nya, dan mencintai sekalian kekasih-Nya.
Luqman berwasiat kepada anaknya, âWahai anakku, tegakkanlah shalat.â
Orang tua sebagai pendidik harus mengajarkan shalat kepada anak-anaknya sejak mereka berusia tiga tahun, membiasakan mereka masuk ke masjid, menyuruh mereka mengerjakan shalat ketika mereka berumur tujuh tahun.
Allah mengajarkan akhlak mulia itu melalui Luqman, âDan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Alah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.â (QS. Luqman [31]: 18-19)
Mengarahkan Anak Agar Menghafalkan Al-Qurâan
âOrang yang membaca Al-Qurâan dan mengamalkannya, maka kedua orang tuanya akan dipakaikan mahkota pada hari Kiamat yang sinar terangnya lebih indah daripada sinar matahari di dalam rumah-rumah di dunia. Seandainya matahari ada di tengah kalian, lantas apa persangkaan kalian terhadap orang yang mengamalkannya.â (Hadits hasan, diriwayatkan Abu Dawud dan Al-Hakim)âBacalah Al-Qurâan karena dia akan datang pada hari Kiamat sebagai pemberi syafaat kepada pembacanya. Bacalah Zahrawain, yakni Al-Baqarah dan surat Ali âImran, karena keduanya akan datang pada hari Kiamat seperti dua gumpalan awan, atau seperti dua hal yang menaungi, atau seperti dua rombongan burung dalam keadaan bershaf-shaf yang membela pembaca kedua surat itu. Bacalah Al-Baqarah karena membacanya akan mendatangkan berkah, sedangkah meninggalkannya akan menyebabkan kerugian, dan tak ada kebatilan yang mampu mengalahkannya.â (Hadits shahih, diriwayatkan Muslim)
Berkenaan dengan pendidikan psikologis, Luqman berwasiat kepada anaknya, âDan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Alah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.â (QS. Luqman [31]:18). Ayat ini menjelaskan salah satu tugas orang tua yang baik, yakni menanamkan dasar-dasar kejiwaan yang baik pada hati anak berupa: ikhlas, tawadhuâ, tidak cenderung kepada dunia, serta tidak tertipu dan bangga kepada diri sendiri.
Dalam melaksanakan pendidikan sosial, orang tua harus memberitahukan kepada anaknya tentang hak-hak orang lain. Yang pertama adalah hak kedua orang tua, kemudian hak sanak kerabat, hak tetangga, hak guru, hak orang yang lebih tua usianya, hak teman, hak muslim, hak jalan, hak pemimpin, serta hak orang non-muslim. Orang tua juga harus membiasakan anak dan mengajarinya adab-adab sosial lainnya.
Pendidikan dakwah adalah hasil dari seluruh pendidikan yang dilaksanakan sebelumnya. Luqman telah berwasiat kepada anaknya, âHai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).â (QS. Luqman [31]: 17)
     Untuk orang tua, cukuplah kiranya menasihati anaknya dengan wasiat Luqman Al-Hakim kepada anaknya yang termaktub dalam surat Luqman. Kemudian sesudah itu membekali dengan wasiat Luqman yang lainnya, diantaranya:
Wahai anakku, jadikanlah takwa kepada Allah itu sebagai barang daganganmu, niscaya dia akan menghasilkan laba yang tidak berbentuk barang dagangan.
Wahai anakku, hadirilah pemakaman jenazah dan jangan hadiri pesta pernikahan, karena jenazah itu mengingatkan kamu terhadap akhirat, sedang pernikahan itu membuatmu berhasrat besar kepada dunia.
Anakku, janganlah kamu menjadi orang yang lebih malas daripada ayam jantan yang berkokok keras pada waktu sahur, sementara kamu tetap tidur mendengkur di atas ranjangmu.
Anakku, jangan tunda taubatmu, karena kematian itu akan datang secara tiba-tiba.
Anakku, jangan mengharapkan cintanya orang bodoh, karena kamu akan dianggap meridhai amalannya.
Duhai anakku, bertakwalah kepada Allah, jangan kau perlihatkan kepada orang banyak bahwa kamu takut kepada-Nya agar mereka memuliakanmu dengan itu, padahal hatimu durhaka.
Anakku, kamu takkan menyesali sikap diammu sama sekali, karena berbicara itu perak sedangkan diam adalah emas.
Wahai anakku, jauhilah keburukan, niscaya keburukan akan menyingkirimu, karena keburukan itu selaras dengan keburukan lainnya.
Anakku, kamu harus mengikuti majelis dengan ulama dan mendengarkan perkataan orang-orang bijaksana, karena Allah menghidupkan hati yang mati dengan cahaya hikmah sebagaimana Dia menghidupkan bumi dengan kucuran hujan yang deras. Jauhilah dusta dan akhlak yang buruk, karena orang yang berdusta itu akan kehilangan air mukanya, barangsiapa yang buruk akhlaknya maka dia akan sering bersedih hati. Memindahkan batu besar dari tempatnya itu lebih mudah daripada memahamkan orang yang tidak paham.
Wahai anakku, jangan mengirim orang bodoh sebagai utusanmu. Jika kamu tidak mendapatkan orang yang bijaksana maka jadilah utusan dirimu sendiri.
Anakku, akan datang kepada manusia suatu masa yang saat itu mata yang lembut tidak senang melihatnya.
Duhai anakku, telitilah majelis-majelis sebelum engkau bergabung ke dalamnya. Jika kau lihat suatu majelis  yang di dalamnya disebut nama Allah swt., maka duduklah disana bersama anggota majelis itu. Karena jika kamu adalah orang yang berilmu maka ilmumu pasti akan bertambah, sedangkan jika kamu adalah orang yang bodoh maka anggota majelis itu akan mengajarkan ilmu kepadamu. Jika Allah swt., memberikan rahmat kepada mereka, engkau pun akan memperolehnya juga bersama mereka.
Anakku, jangan sampai kau duduk di majelis yang tidak disebut nama Allah swt., di dalamnya. Karena jika kamu adalah orang yang berilmu niscaya ilmumu takkan bermanfaat bagimu, sedangkan jika kamu adalah orang yang bodoh maka mereka akna menambahi kebodohanmu. Jika Allah menunjukkan kemurkaannya kepada mereka, dirimu juga akan terkena kemurkaan-Nya juga.
Wahai anakku, jangan sampai memakan makananmu kecuali orang yang bertakwa, dan ajaklah para ulama untuk bermusyawarah dalam urusanmu.
Duhai anakku, sesungguhnya dunia adalah samudera yang dalam, banyak orang telah tenggelam di dalamnya, maka jadikanlah takwa kepada Allah sebagai bahteramu, iman kepada Allah sebagai muatannya, dan tawakkal kepada Allah sebagai talinya, mudah-mudahan engkau selamat.
Anakku, janganlah kamu mempelajari sesuatu yang kamu tidak tahu sampai kamu mengamalkan apa yang sudah kau ketahui.
Wahai anakku, biasakanlah lisanmu berdoâa, âYa Allah, ampunilah akuâ, karena Allah menyediakan waktu-waktu yang doa apapun tidak tertolak pada saat itu.
Duhai anakku, hindarilah hutang, karena itu menjadi kehinaan pada siang hari dan menjadi kesedihan pada malam hari.