Minhyun: Life isn’t always easy, you have to claw through the anxiety, depression, and self-loathing until-
Jisung: Until you get to a place in life where you’re happy?
Minhyun: No, until you die.
ojovivo

⁂

No title available
we're not kids anymore.

★

oozey mess

Andulka

titsay

ellievsbear

Janaina Medeiros
art blog(derogatory)
YOU ARE THE REASON
I'd rather be in outer space 🛸
will byers stan first human second
taylor price
🪼
todays bird

PR's Tumblrdome
Cosmic Funnies
d e v o n

seen from Türkiye
seen from Malaysia

seen from Brazil
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from Italy

seen from United States

seen from United States
seen from Mexico

seen from United States

seen from Australia

seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from El Salvador
@heraisme-blog
Minhyun: Life isn’t always easy, you have to claw through the anxiety, depression, and self-loathing until-
Jisung: Until you get to a place in life where you’re happy?
Minhyun: No, until you die.
Akan ada titik dimana setiap orang terbentur antara perasaan dan kenyataan. Apa yang ia rasakan, berbeda dengan kenyataan. Seiring waktu, saat usia bertambah, kau akan semakin mengerti bahwa menuruti perasaan bukanlah hal yang selamanya tepat. Seperti perasaanmu kepadanya? Kenyataannya mungkin bertolak belakang dan upayamu untuk menuruti perasaanmu selalu membuahkan kekhawatiran
kurniawangunadi
(via kurniawangunadi)
Akan ada titik dimana setiap orang terbentur antara perasaan dan kenyataan. Apa yang ia rasakan, berbeda dengan kenyataan. Seiring waktu, saat usia bertambah, kau akan semakin mengerti bahwa menuruti perasaan bukanlah hal yang selamanya tepat. Seperti perasaanmu kepadanya? Kenyataannya mungkin bertolak belakang dan upayamu untuk menuruti perasaanmu selalu membuahkan kekhawatiran
kurniawangunadi
(via kurniawangunadi)
Pendadaran Mas Satria
Prima: Hera, mas sat sidang jam 1 siang ini Hera: Heeeiii Hera: Seriusan? Hera: Dimana Prima: Dia fisipol laah, masa di fmipa .-. Hera: Engga wkw, maksudnya fisipol mana Prima: Meskipun dia kadang nyebeli kaya orangtua tp dia kakaku yg paling dewasa Prima: Jam 1 paling sampek jam 2 Hera: Mas satria, orang paling telaten bantuin nyelesain masalah-masalahku 😭 Prima: Hayo looooh galau kan Prima: Japri mas sat sanah Hera: Aku Hera: Ngga Hera: Punya Hera: Nomernya .__. Prima: Apaaah???? Prima: Adek macam apa kau inii Prima: Ituuuh aku kasih deh .-. Prima: Jadi kaya drama korea gini yaa chatnya Hera: Wkwkwk Prima: Kowe kiiii, ibarat aku di jogja. Aku her yg antar kamu ke mas sat langsung, mau dimarahi mau diuneni mau disemprot mau diapain aja biariin aku pasrahin ke mas sat caranya nasehatin kamu. Mas sat baik dan sayang sama adik adiknya lho her, kok jd aku yg gregetan sama kamu. Aduuh duuh Hera: Aku aja gregetan sama diriku sendiri kok prim 😖 Prima: Alamaaaak udah udah sini puk puk Prima: Ayok kita liat ke depan aja, mulai kurang kurangin liat ke belakang yg ga enak2 itu Hera: Shaap priim
Hari ini semacam hari yang nano-nano bagiku. Ibuku datang dan Mas Satria pendadaran, di waktu yang bersamaan. Aku harus memutar strategi agar semuanya seimbang. Aku ngga sempet buat ngerasain gimana rasanya wira-wiri, yang penting tuntas aja semua. Setelah semua selesai. akhirnya aku bisa istirahat di kamar, sekitar ba’da maghrib aku mulai merasa kebawa perasaan. Sejujurnya sewaktu melihat Mas Satria keluar ruangan, aku deg-degan, bukan karena aneh-aneh ya wkw (ntar aku dimarahin), justru karena aku udah lama ngga ketemu Mas Satria, dan hari ini pula untuk pertama kalinya setelah 5 bulan (+-) aku bertemu dan boncengin Rina lagi.
“Usaha itu kan ngga ada batasnya, Hera. Sabar itu juga bagian dari usaha. Jadi, Sabar itu juga ngga ada batasnya, kan Hera?”
Salah satu kalimat dari Mas Satria yang masih terngiang-ngiang hingga saat ini. Bagiku, Mas Satria itu udah kayak kakak sendiri. Nyebelin, tapi nasehatnya tepat sasaran. Sosok yang ngga bisa dijelasin dengan kata-kata, lebay sih, tapi yaudah memang nyata seperti itu. Ade Septin benar, aku harus mengingat kembali dimana aku belajar banyak hal dari Mas Sat. Selamat Mas, akhirnya unofficially S.P. Barakallah ilmunya. Semoga rencana-rencana ke depan dimudahkan Allah :”)
Maafin Hera ngilang ditelan bumi berbulan-bulan, udah ngga pernah berkabar.
Mungkin. Mba He perlu menyendiri, perlu masa-masa tazkiyah. Memaknai lagi sosok Mbahe yg dulunya bersemangaat. Di awal2 hijrah, ke JS, seakan menemukan oase dipadang pasir Mengenal teman-teman di Kediri. Mengenal Mas Satria, Mba Prima. Mengenal dakwah ini. Mengenal BEM. Mengenal RDK. Mengenal sosok Abi yg dulu jadi salah satu semangat Mbahe buat berlomba-lomba dalam kebaikan dan totalitas kerja tanpa batas. Bertemu image. Dan akhirnya hari ini...
ASN
Mungkin. Benar, De.
Kemana aku harus berlari ketika merindukan Bapak? Kumulai dengan menutup mata, dan emosiku memancing kehadirannya. Aku memeluknya sekarang, lewat ilusi yang terasa nyata. Aku memang sudah tidak bisa memberimu selamat ulang tahun, namun aku akan selalu ingat hari lahir laki-laki cinta pertamaku :)
“あなたがいってくれてよかった” ” I am glad you are here” Apapun yg terjadi dalam hidupmu, bersyukurlah telah lahir ke dunia karena semua akan baik baik saja. #haveasongonyourlips
To love and be loved is to feel the sun from both sides. Barakallah fii umrik, Mbahkung 💞 (di Nganjuk)
Berlari Tanpa Kaki
setelah begitu lama, tersisa air mata banyaknya kenangan yang tak akan terlupakan masa-masa yang indah, masa-masa kita bersama perasaan mendalam yang takkan pernah reda maafkan aku tak pernah mendengar maafkan aku tak pernah melihatmu pergi ku ingin kau di sini tegar... ku kan mencoba melewatinya lepas... lepaskan semua yang sudah berlalu tapi tanpa dirimu tak mungkin ku terus berlari tanpa kaki waktu terus berjalan tapi tak henti ku berharap melihat senyumanmu walau sedetik saja erat ku kan bertahan janjiku tekat ada untukmu sampai selamanya tapi tanpa dirimu tak mungkin ku terus berlari tanpa kaki oh semakin ku coba tuk lupakan, semakin terbayang ragu tanpa kamu ku tahu kau tak mungkin kembali, ku ingin kau di sini
:(
[GTH: Hmm] Kamu tahu Suckseed, May Who, PeeMak, ATM Error, Top Secret (Billionare), Seven Something, Hormones The Series, atau Hello Stranger? Kamu tahu Peach Pachara, Kao Jirayu, Davikah, Punpun, Pitteung, Bank, atau Ter Chantavit? Terhitung 31 Desember 2015, production house yang menaungi mereka-mereka, yang memproduksi film-film kece itu resmi bubar. I don't know, ingin membahas ini. GTH, kependekan dari GMM Tai Hub, adalah perusahaan film terbesar di Thailand. GTH merupakan gabungan tiga perusahaan, yakni GMM Grammy, Tai Entertainment, dan Hub Ho Hin. Nah, kenapa bubar? Karena Tai Entertainment ini ingin membawa GTH ke pasar saham. Sedangkan, Hub Ho Hin ngga mau. Yaudah deh, bhay. Simpel. Eh, engga simpel deng. Eits, tapi sekarang udah ada yangg baru kook. Kepoin GDH599 yaa, first production mereka ada One Day :D Oh iya, kepoin GTH Farewell Clipnya mereka, jadi semua artis GTH nyanyiin lagu soundtracknya Suckseed versi akustik. Jadi, sedikit baper nontonnya. #NggaBanget #PostinganNggaBerfaedah #GapapaKok (at Ma'had Ad-Da'wah FOSDA Masjid Mardliyyah UGM)
Asing? Aku merasa seperti sudah menghilang dari peradaban tempat ini. Entah kapan terakhir aku menginjakkan kaki di tangga takmir, entah kapan terakhir ndekem nugas di pojokkan perpustakaan, entah kapan terakhir aku mengamati dapur dari atas. Semuanya terasa begitu lama sekali. Ah, sepertinya aku ingin kembali. (at Masjid Kampus UGM)
[9/15] Aku tak pernah berpikir akan melangkahkan kaki ke lingkaran baru di tahun ini, tentu dengan ranah karya yang baru pula. Aku hanya bisa membisu ketika sesi ta'aruf dengan mereka, ya aku harus belajar memahami manusia-manusia ini ke depannya. Adikku bertambah lagi, buk! Eits, ini masih ada 13 manusia lagi; 6 akhawat & 7 ikhwan. Semoga betah yaa, maaf ya first impression mba pendiam wkwk. Aslinya engga kok. Ayo kita sebar kebaikan dengan indah dan mengena, menyentuh hati dan jiwa, yang tak tersentuh oleh lisan. Hamasah wa istiqomah, Fajr Studio! (at Masjid Mardliyyah UGM)
CeritaJika #31 : Jika Istrimu Seorang Terapis Anak Difabel
Aku anak perempuan Ayah, berusia duapuluhsatu dan teramat menyukai dongeng-dongeng. Engkau calon suamiku, ada sedikit cerita tentang diriku. Aku biasa, sebiasa dandelion kecil jika kau bandingkan dengan rangkaian daisy, tapi kuharap aku akan menjadi bagian yang tak biasa dari dirimu yang luar biasa.
Awalnya, aku pikir Tuhan sengaja menjebakku masuk ke dunia kejiwaan (Psikologi). Hal ini karena Dia menakdirkan orangtua kesayanganku tak menyukai sastra seperti caraku. Dan bagiku tak mungkin menolak permintaan dua orang yang tidak pernah berkata tidak padaku. Yah, mungkin aku bisa mencintai sastra dengan cara yang lain.
Namun seperti Caroll meletakkan Alice di Wonderland, Tuhan menjebakku dengan cara luar biasa indah, aku tiba-tiba jatuh cinta pada Psikologi, seperti caraku jatuh hati pada membaca dan menulis. Aku menikmati moment-momentku bersama anak-anak yang diciptakan Tuhan dengan cara spesial. Mungkin bagi orang lain tidak ada yang menarik ketika bermain dengan mereka yang bahkan tak menganggap kehadiranmu, tidak menangkap lemparan bolamu, tidak tertawa jika kau gelitik. Tapi sungguh, memeluk dan mencium mereka adalah hal terindah bagiku.
Aku termasuk satu dari sepersepuluh teman-temanku yang berminat pada tumbuh kembang anak. Jadi ketika banyak teman-teman yang menguasai cara memahami orang dewasa, aku lebih ingin memahami anak-anak yang ketika mereka normal saja susah dipahami. Kau setuju ini? Kuharap iya.
Sebagai terapis, mungkin nantinya aku akan sering melakukan home visit anak-anak difabel, dan aku ingin sekali dua, kau menemaniku bermain bersama mereka, mengajak mereka ke supermarket, atau jalan-jalan ke kebun kota, kau tak keberatan kan?. Mereka mungkin terlihat aneh bagimu, tak menjawab sapaanmu, tak pernah mau menatap matamu, berlarian mengejar capung, melihat kipas angin seperti melihat alien, menangis dan tertawa tanpa sebab. Yah itulah cara mereka. Kau tak keberatan kan mengizinkan mereka berjalan bersama kita dan anak-anak nanti?
Aku mafhum jika kau ingin aku menjadi istri yang lebih pintar, dan aku juga tak menyalahkan ketika kau ingin aku meningkatkan kualitas diri dengan pekerjaan yang lebih baik dari sekedar mengajari anak down syndrome tentang toilet training. Aku mengerti, ketika nantinya kau lebih suka aku sebagai istri yang berpakaian rapi sedang aku berangkat bekerja dengan kaos lengan panjang. Tapi seperti yang kubilang tadi, aku sebiasa ini, berlarian mengejar kupu-kupu bersama anak-anak autis atau menangkap anak hyperactivity disorder yang naik ke atas bangku.
Tapi kau tak perlu khawatir, seberapa pun aku mencintai anak-anak special itu, aku tak akan membuat anak-anak kita merasa kehilangan ibu mereka. Aku akan mencintai mereka lebih, menceritai mereka tentang cerita-cerita lama, agar kelak mereka menjadi Alfatih yang tangguh, Tariq Bin Ziyad yang luar biasa berani, Atau Abdurrahman yang yang teramat dermawan.
Seperti itulah, aku menyukai cara-cara sederhana untuk bahagia dengan orang-orang yang kucintai. Aku nantinya mungkin sering bercerita denganmu dengan menggebu-ngebu bahwa aku ingin setangguh Mulan, sejelita Rapunzel, atau kadang berpikiran konyol untuk menjadi Tinkerbell dan kau memintamu menjadi Peterpan lalu kita mampu melarikan diri ke Negeri Tak Pernah Tua (Neverland) *jangan terkejut ya nanti.
Itulah hidupku, seperti yang tadi kubilang, aku biasa, sebiasa dandelion kecil jika kau bandingkan dengan gerombolan daffodil kuning, tapi aku harap menjadi bagian yang tak biasa dari dirimu yang menurutku luar biasa.
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
pengirim :
Futri Zakiyah Darojat
Psikologi, Universitas Negeri Surabaya
ceritaJika_project : klik di sini
pria peka, aku pengagummu. dan juga kamu, hei dara tangguh.
“Sekarang zaman postmodern, kan? Banyak efek samping yang terasa di zaman postmodern, dan itu merupakan ampas dari zaman modern, Tris.”
Sadis sekali senja kala itu.
Ada seorang teman cantik mengajak ngobrol soal postmodern dan modernisme, lah. Percakapan macam apa ini? Ahaha.
Kami mengobrol soal postmodern dan ampas zaman modern.
Zaman modern adalah dimana semuanya dikategorisasikan. Ilmu alam, ilmu sosial. Feminitas, maskulinitas. Laki-laki begini, perempuan begitu. Inilah Aristotelian, kalau yang kudengar dari Guru Besar FIlsafat Unpar Prof. Bambang Sugiharto.
Ilmuwan barat dahulu meramu bahasa Latin sedemikian rigid. Hitam ya hitam. Putih ya putih. Tidak ada yang namanya “Kosong adalah isi, isi adalah kosong.”
Lantas bagaimana efeknya? Postmodern, simpulnya, adalah zaman pemberontakan akan kejengahan akan segala sesuatu yang terlalu “terkategorikan”.
Jurusan sains lebih diminati dari jurusan sosial, sehingga pembangunan hanya sekadar fisik belaka. Maka dari itu yang namanya pembangunan semakin “maskulin”, tidak memperhatikan unsur “feminin” seperti penjagaan lingkungan.
Laki-laki—baik secara terpaksa atau tergiring opini publik—tidak pantas memiliki sifat-sifat feminin. Maka ketika ia memiliki sifat-sifat feminin, maka ia menyimpulkan sekejap jika ia tidak normal. Kemudian ia memilih operasi transgender atau tergiring menjadi gay.
“LGBTQ itu bisa jadi produk dari ampas zaman modern, Tris.” Ujar si teman.
“Hemmmm, bisa juga sih yah..,” gumamku sok pinter, padahal sambil mikir-mikir juga.
—
Percakapan di atas terjadi entah berbulan-bulan yang lalu. Namun percakapan tersebut menggiringku untuk berpikir lebih dalam perihal dikotomi. Atau kategorisasi. Ujung-ujungnya, sempat juga memikirkan tentang dikotomi karakteristik gender.
Aku dibuat heran dengan sahabat-sahabiyah Nabi Muhammad SAW.
Selama ini, aku selalu digaungkan stereotip jika pria lebih banyak menggunakan logika. Pria itu kurang sensitif. Pria itu lebih taktis. Pria itu lalala.
Namun, sahabat-sahabat pria Nabi tidak begitu. Bahkan, saya berani jamin mereka lebih beribu-ribu lebih sensitif dibanding saya. Tentu saja, mereka tidak menghilangkan logika mereka. Tapi mereka memberi “bensin” bagi logika mereka dengan sensitivitas luar biasa.
Nabi Muhammad SAW sendiri rela memakan buah tidak enak dari seorang perempuan, dengan alasan “Supaya tidak menyakiti hati perempuan tersebut.”
Nabi Muhammad SAW, ketika dalam perjalanan menuju sebuah forum yang dihadiri petinggi Quraisy, bertemu dengan seorang anak yang menangis karena burung peliharaannya mati. Apa yang dilakukan kekasih Allah tersebut?
Ia berhenti, menghampiri anak tersebut, dan mendengar curhatan sang anak.
Umar bin Khattab pernah salat sembari terpikir akan ladangnya. Selepasnya. Ia merasa bersalah sekali, kemudian mewakafkan ladangnya!
MasyaAllah. Bagiku ini tidak logis! Edunlah.
Coba kalau aku terpikir cuankie ketika salat, ya aku tetap saja beli cuankie-nya sih, haha (dulu).
Para sahabat pun terkenal sering menangis mendengar ayat-ayat Alquran. Abdullah Ibn Mas’ud adalah sahabat yang sering dimintai Rasulullah SAW untuk membacakan Alquran. Bacaannya konon bikin cirambay para sahabat.
Kaum perempuan era Nabi juga tidak semenye-menye yang dikira. Selama ini perempuan dianggap lebih bawa-bawa perasaan (baper) dibanding laki-laki. Perempuan “kurang akal” dibanding laki-laki. Lalu perempuan itu katanya ribet. Dan lalala.
Iya, sih. Gue kadang (apa sering, ya? mehehe) gitu kok.
Tapi setelah kubaca, tidak selamanya para sahabiyah Nabi begitu. Para sahabiyah Nabi bisa sedemikian lebih “maskulin” dibanding pria.
Perempuan Madinah, dikenal sebagai wanita yang “speak up”.
Sikap “speak up” ini adakalanya menyulitkan jika tidak ditempatkan di tempat yang benar. Seperti para perempuan Madinah pernah terlibat dalam pembagian ghanimah.
Namun, si kekuatan “speak up” ini rupanya bisa digunakan untuk menuntut hak yang memang dibenarkan Allah. Seperti seorang perempuan yang mengadukan suami yang menziharnya. Atau seorang perempuan yang menegur kesalahan pada kepemimpinan Umar.
Kita bisa melihat bagaimana dua sahabiyah Nabi, Asma binti Abu Bakar dan Al Khansa, sangat menggebu-gebu dan mendorong anaknya melaju di medan perang.
Al Khansa adalah penggubah puisi (yang mana jika seseorang suka bikin puisi itu biasanya sensitif, ya)—namun ketika anak-anaknya satu per satu gugur di medan perang, beliau tegar dan tidak menangis tersedu-sedan.
Atau aku pernah dengar kisah istri Utsman bin Affan, Nailah binti al-Kurafafsah. Utsman sangat kagum pada tutur kata Nailah dan rangkaian kata-katanya yang indah. Selain itu, Nailah bijak mengambil keputusan dan ahli dalam bidang sastra.
Hal itu selalu dipuji oleh suaminya. “Aku tidak pernah menemui seorang wanita yang lebih sempurna akalnya dari dirinya. Aku tidak segan apabila ia mengalahkan akalku.”
Hal ini membuatku berkesimpulan, bahwa sifat-sifat maskulin bukanlah milik pria, seperti sifat-sifat feminin bukanlah milik perempuan saja.
Baik laki-laki maupun perempuan, sepatutnya menyeimbangkan kadar maskulin dan feminin dalam dirinya– tanpa membinasakan maskulinitas dan feminitas yang sudah tertanam dalam diri.
Jangan minder, wahai pria yang dikenal sensitif, you are one of a kind. Kau lebih mudah peka, menjadi jembatan bagi kawan pria yang sulit menjembatani alam perempuan. Seimbangkanlah dengan belajar tegas, decisive, dan kemaskulinan lain dalam diri.
Kau mendengar jerit hati tiap manusia, kau calon pemimpin yang akan banyak tersiksa batinnya. Namun terkuatkan lewat luka adalah anugerah Maha Indah. It hurts like heaven.
Dan perempuan yang dikenal maskulin, jangan pongah, dan sebaliknya, jangan berkecil hati.
Ketangguhanmu bukan milikmu yang kau bebas sombongkan. Ketangguhanmu, juga bukan aib yang membinasakan keperempuananmu.
Ketangguhanmu ialah bekal dariNya bagi dirimu, bagi orang-orang terkasihmu, bagi dien yang kaucinta. Kau sandingkan dengan kelembutan yang terlatih batin dan lakumu, maka utuh dan bersinarlah dirimu.***
*Gambar dari sini.
Setiap perempuan berpotensi untuk menjadi seorang istri yang baik -bahkan teramat sangat baik-, sepanjang ia tidak salah dalam memilih lelakinya.
Begitu juga sebaliknya.
Kalimat ini dibuat demikian karena keputusan untuk menerima/menolak laki-laki ada ditangan perempuan. Maka, libatkanlah segala hal yang di imani dalam menentukan pilihan tersebut. Semoga Allah senantiasa membimbing.
Kurniawan Gunadi
(via kurniawangunadi)
Perempuan di dunia ini akan masuk ke dalam surga karena amalnya, sholatnya, shalihnya, kesetiaannya, dan pengorbanannya untuk anak-anak. Perempuan yang dianggap shalih ketika ia taat pada Allah, yang tahu diri, yang tahu sampai batas mana ia harus berjalan, yaitu perempuan yang menelihara hal-hal yang tersembunyi (baik-buruk keadaan rumah tangga tidak akan dibeberkan ke luar). Fash sholihatu qaanitatun hafizhatun lil ghaibi bima hafizhallah.
Buya Hamka, dirangkum dalam berbagai halaman, Kedudukan Perempuan dalam Islam. (via dokterfina)