Kita Terhubung dengan Segalanya Kecuali Diri Sendiri
Pencapaian terhebat sapiens dalam 3 abad terakhir adalah keterhubungan. Dimulai mesin uap, lalu kereta api, mobil hingga jet; dari gelombang radio, telepon, hingga internet. Kita amat mudah terhubung dengan banyak hal, ruang dan waktu berhasil dirampatpapankan.
Lalu pandemi datang dan jarak mesti direnggangkan kembali. Pencapaian keterhubungan itu digoyang di jantungnya karena berdiam diri dinilai lebih berdampak dari bergerak. Kita akhirnya sadar berdiam diri, apalagi sendirian, ternyata sangat menekan. Belasan atau puluhan keterhubungan virtual yang diperantarai teknologi tak mampu melonggarkan tekanan itu. Dari kebosanan, lalu terbit kesepian, dan akhirnya menggelepar oleh rasa cemas; itulah kondisi manusia, itulah yang membuat kita rapuh sekaligus unggul. Kita didorong sampai jauh oleh naluri bergerak dan bukan berdiam, sehingga kita, kali ini saya mengutip Blaise Pascal yang sudah sepuh, “lebih senang mengejar ketimbang menggali”. Pascal yang itu bukan Pascal muda yang menemukan jawaban atas berbagai rahasia alam. Pascal itu pula yang, pada epigram yang sama dari buku “Pensees”, yaitu epigram ke-139, menulis: “Saya menyadari semua ketidakbahagiaan manusia muncul dari ketidaksanggupan kita diam di kamar masing-masing.” Ketidakmampuan diam bersama pikiran sendiri, mungkin bukan masalah besar secara langsung, tapi kemampuan kita benar-benar buruk dalam hal itu. Kita tidak bisa, atau lebih tepat: tidak sanggup, menjauh dari distraksi karena, jangan-jangan, berduel dengan diri sendiri (ketakutan, kecemasan, harapan, kemarahan) memang sehoror-horornya perjumpaan. Dulu saya pernah menulis: dusta yang paling buruk adalah kepada diri sendiri. Saya ingin meralatnya: bukan, itu bukan yang paling buruk, tapi itulah cara kita bertahan terhadap seramnya suara hati. Dari sana, dari ketidaksanggupan berduel dengan diri sendiri, kita memilih bertemu dan terhubung dengan dunia, dengan segala algoritmanya, tuntutannya, kebisingannya, juga racun dan madunya. Bisa dipahami jika kita semua akhirnya mengenakan selubung muka, eh… masker.
======
Sumber gambar: https://gemmaschiebefineart.wordpress.com/2014/03/15/painting-working-with-monochrome-and-being-more-gestural/














