Sejak tanganmu mengambil amanah langit, hidupku berubah haluan.
Tatapan matamu yang penuh makna, yang bagaikan kaca, terpantul bayang diriku menyambut genggamanmu.
Aku ingin membasuh air mata itu.
Aku ingin memeluk erat punggung itu.
Aku ingin mengecup mesra kening itu.
Kini, aku dan kamu berubah menjadi kita. Menyatu untuk beriringan menuju ujung perjalanan hidup ini.
Hari demi hari kita lalui bersama. Tawa dan tangis mungkin akan selalu mewarnai hari kita. Berbagai tanya akan sering terlontar dari pikiranku yang terus berputar tanpa arah. Membuatmu khawatir apa yang sedang kupikirkan.
Ketidakjelasan ini masih menghantuiku. Entah sampai kapan.
Pada awal waktu, aku ingin jawaban pasti darimu. Tetapi di akhirnya, aku tidak siap mendengar semua itu. Hatiku berdesir akan rencana masa depanmu, masa depan kita. Mataku menghangat dan ingin mengalirkan airnya. Kadang kutahan agar kau tidak semakin khawatir. Kadang ia tak terbendung, sehingga kau kembali kebingungan.
Aku yakinkan hati ini, apapun jawabanmu, akan kutaati sebagai abdiku. Akan kuikuti, sebagai wujud cintaku. Akan kuridhoi, sebagai amal ibadahku.
Aku masih jauh dari kata sempurna dan tak akan mungkin sampai. Kenyataan bahwa engkau manusia yang tak sempurna juga, semakin menyadarkanku. Bahwa, aku harus melapangkan hati ini. Aku harus menyadarkan diri ini. Kita berjalan bersama, langkah demi langkah, tatih demi tatih, menuju cita tinggi itu.
Wahai separuh agamaku, aku ingin mencintaimu seutuhnya. Aku ingin syukur selalu hadir tiap detiknya. Aku ingin sabar selalu hadir tiap hembusannya.
Wahai separuh jiwaku, aku ingin dicintai olehmu. Aku ingin tatapmu selalu hangat kepadaku. Aku ingin senyummu selalu tersungging kepadaku. Aku ingin tanganmu selalu merangkulku. Aku ingin pundakmu selalu sedia untukku.
Aku ingin selalu bersamamu.