To the peak! . #merbabu via #suwanting . #sabana #gunungmerbabu #jalursuwanting

Love Begins
Sweet Seals For You, Always
styofa doing anything

PR's Tumblrdome
Claire Keane

Discoholic đŞŠ
Xuebing Du
Show & Tell

romaâ
NASA
ojovivo

Janaina Medeiros
Cosimo Galluzzi
we're not kids anymore.

No title available
noise dept.
trying on a metaphor

Kaledo Art
No title available

No title available

seen from Oman
seen from Germany

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Spain
seen from United Kingdom

seen from Canada

seen from Malaysia

seen from United Kingdom

seen from United Kingdom
seen from TĂźrkiye
seen from Indonesia

seen from TĂźrkiye

seen from Oman
seen from United States
seen from United States

seen from Canada

seen from Thailand

seen from United States
@hilmigazza
To the peak! . #merbabu via #suwanting . #sabana #gunungmerbabu #jalursuwanting
Musik dan liriknya asik..
Mudah
Kenyataannya, Allah memberikan kita kesukaran pada suatu hal, tetapi juga kemudahan pada hal lain. Allah Mahatahu mana yang kita mampu, mana yang kita tak mampu, sehingga kesukaran datang dalam takaran, begitu pula kemudahan.
Kalau kau ingin sesuatu menjadi mudahâ bantulah seseorang. Dengan demikian Allah bisa jadi memberikanmu salah satu dari ini. Pertama, kemudahan karena kau mempermudah urusan orang lain. Atau kedua, rasa syukur karena kau tersadar, bahwa di luar sana ada orang-orang yang hidupnyaâmungkin dalam hal yang berbeda denganmuâlebih sukar jalannya daripada jalanmu.
Apapun itu, bantulah seseorang. Kau tidak perlu jadi pahlawan besar. perhatikan apa yang menyukarkan orang tuamu, bantu. Dengarkan apa yang menyukarkan saudaramu, bantu. Rasakan apa yang menyukarkan sahabatmu, bantu.
Tidakkah hidup menyenangkanâdan membahagiakanâsaat semua orang merasa ringan saat kau ada di sekeliling mereka? Kau tidak pernah tahu, bila kau adalah satu-satunya yang membantu.
Barangkali, kemudian Allah membantumu. Mengangkat beban dari pundakmu. Melapangkan dadamu. Memudahkan urusanmu. Atau justru menguatkan hatimu. Menebalkan imanmu.
âSesungguhnya pada setiap kesukaran, ada kemudahanâ
Šprawitamutia
Menikah dan Berpuasa
Sekitar tujuh tahun yang lalu, ketika hendak menikah, saya mendatangi guru saya untuk meminta nasihat tentang pernikahan. Sebagai seorang laki-laki, ada sejumlah kebimbangan dalam hati saya. Di satu sisi, saya ingin segera menikah karena saya merasa sudah menemukan âjodohâ saya. Di sisi lain, saya masih merasa belum mampu menjalani pernikahan tersebutâterkait kesiapan mental, kesiapan batin, terlebih kesiapan materi karena barangkali kelak saya yang akan memegang tanggung jawab finansial lebih besar dalam rumah tangga. âKalau kamu belum mampu menikah, berpuasalah!â Kalimat itulah yang pertama kali diucapkan guru saya setelah saya menceritakan semuanya. Dingin dan datar. Rasanya saya ingin bertanya, apakah puasa akan menyelesaikan masalah-masalah yang saya keluhkan? Apakah puasa akan membuat saya siap secara fisik, mental, batin, bahkan finansial? Namun, saya tak berani mempertanyakan semua itu kepada guru saya, hingga saya menanyakan hal lainnyaâ âSaya mengerti tentang bahwa kita harus menahan diri, Kiai, menjaga pandangan dan kehormatan,â ujar saya, berusaha memberanikan diri, âTapi saya ingin menikah bukan karena saya tidak bisa menahan nafsu seksual sayaâŚâ Guru saya mendelik, âKamu belum siap untuk menikah, Nak,â ujar guru saya, âMaka berpuasalah!â Ada yang berontak dalam diri saya. âIni soal lain, Kiai. Lebih ke soal bahwa saya khawatir saya belum siap membimbing istri saya atau menafkahinya secara materi. Bukan tentang hasrat seksual yang tak bisa saya tahan. Mengapa saya harus berpuasa juga?â âJangan remehkan perkataan nabimu!â Kata guru saya lagi, kali ini dengan suara agak meninggi. Saya tahu nasihat itu beliau ambil dari hadits Nabi. Tapi, saya bukan sedang ingin meremehkannya. âBerpuasalah!â Guru saya tetap pada perkataannya. Saya tak ingin mendebat lagi. Maka saya menjalankan nasihatnya. Bulan demi bulan, berganti tahun, saya tak kunjung menemukan solusi dari kecemasan saya selama ini. Niat menikah saya justru makin kendur karena kian tak yakin apakah saya siap menjadi imam untuk istri saya, apakah saya siap bertanggungjawab pada seluruh aspek kehidupan keluarga saya nanti? Maka saya mendatangi guru saya lagi. âSaya sudah berpuasa, Kiai,â ujar saya, âTapi tak ada perubahan!â Guru saya menatap mata saya, âPerbaiki kualitas puasamu,â ujarnya, âKamu hanya berpuasa untuk menahan nafsu makan dan nafsu seksualmu!â Deg! Tiba-tiba saya menyadari bahwa selama ini saya hanya menjalani puasa yang kekanak-kanakan tanpa benar-benar menghayati apa sesungguhnya pelajaran di balik semua itu. âJadi, apa yang harus saya lakukan dengan perintah itu, Kiai?â âBerpuasalah seperti kamu menjalani puasa Ramadhan,â jawab guru saya, âBerpuasalah seperti seseorang yang kamu memperbaiki kualitas-kualitas dirimu selama menjalani puasa itu. Berpuasalah seperti seseorang yang ingin mengubah dirinya dari seekor ulat menjadi kupu-kupu.â Saya terdiam. Tak bisa berkata apa-apa selain menyadari bahwa selama ini saya berpuasa tetapi tak memperbaiki kualitas diri saya. âApa yang perlu kamu lakukan untuk kuat berpuasa, Nak?â Tanya guru saya. âSaya sahur, Kiai,â jawab saya. Guru saya mengangguk-angguk, âSahur mengajarimu tentang persiapan dan perencanaan. Mungkin kamu akan kuat berpuasa seharian tanpa sahur. Tetapi dengan bangun sahur, kamu melatih dirimu menjadi pribadi yang bertanggung jawab. Kamu mempersiapkan dirimu untuk menjalani puasa sebaik mungkin. Kamu menghitung apa yang perlu kamu makan saat sahur sehingga kamu kuat menjalani aktivitas terberat sekalipun saat berpuasa. Jika sahurmu baik, maka kamu akan siap melakukan yang terbaik dalam puasamu.â Saya mendengarkan perkataan guru saya dengan seksama, rasanya ingin mencatat semuanyaâ âPuasa bukan hanya melatihmu tentang kesabaran. Ia juga melatihmu tentang kejujuran dan rasa hormat. Nilai-nilai itulah yang penting kau miliki saat berumah tangga. Apa gunanya berpuasa tetapi kamu tak menjalani puasa itu? Apa gunanya menahan haus dan lapar tetapi kamu hanya tidur seharian? Itulah mengapa semua aktivitas yang kau lakukan selama puasa memiliki nilai yang berlipat ganda, jika kau menyadari betapa penting semuanya untuk meningkatkan kualitas dirimu sebagai seorang manusia.â Saya tak bisa berkata-kata lagi. âKelak jika sudah saatnya, kau akan berbuka. Itu bukan tentang melampiaskan nafsumu. Bukan tentang membayar semua lapar yang kau tahan seharian. Buka puasa mengajari kita dua hal. Pertama, ia adalah tentang menyadari bahwa diri kita punya batas-batasnya. Kita tak bisa terus-menerus menahan lapar dan haus, kan? Maka kita perlu makan. Batas itu mengajari kita sikap mawas diri. Kedua, buka puasa juga mengajari kita tentang merayakan kebahagiaan. Percuma saja kualitas dirimu meningkat selama puasa jika kamu tak memberi ruang pada dirimu sendiri untuk berbahagia. Dua hal itu kelak penting untukmu saat kau berumah tangga.â Saya tertegun. Ada yang tertahan di tenggorokan. âRupanya saya harus memperbaiki puasa saya, Kiai. Agar saya siap.â Guru saya tersenyum. âKau kira anjuran berpuasa saat kau belum siap menikah tak berhubungan dengan semua aspek yang selama ini kau keluhkan, termasuk soal kemapanan hartamu? Nak, cobalah terapkan prinsip sahur-puas-buka dalam usahamu seperti yang sudah aku jelaskan tadi. Jika tak ada perubahan apa-apa dalam hidupmu, baru kau bisa mempertanyakan perkataan nabimu!â Seketika, ada yang bergemuruh dalam hati dan pikiran saya. Jika saya ingin siap menikah, saya harus memperbaiki semuanya. Saya baru menyadari bahwa puasa memang akan menjaga âpandanganâ dan âkehormatanâ saya, seperti sabda Nabi. Tetapi jika saya menggali nasihat itu lebih dalam lagi, puasa akan menjadi penjaga yang membuat saya menjadi pribadi yang âterpandangâ dan âterhormatâ. âWahai sekalian para pemuda, barangsiapa di antara kalian telah mampu untuk menikah, maka hendaknya ia menikah, karena menikah dapat menundukkan pandangan dan lebih menjaga kehormatan. Barangsiapa yang belum mampu menikah, maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa adalah penjaga baginya.â (HR Bukhari-Muslim) Melbourne, 9 Ramadhan 1436 H FAHD PAHDEPIE #30HariMencariCintaNya #SahurKesembilan
Jakarta (2)
Kita adalah generasi yang mencintai dan mengutuki Jakarta di saat yang sama: Berhamburan serapah di dunia maya melaknat jalanan kota. Macet empat jam. Lima atau enam jam. Namun tak rela meninggalkannya âEmang mau kerja apa di daerah?â atau âEmang ada apaan di kampung halaman?â Meski kita juga menginsyafi bahwa karuniaNya terserak di seluruh sudut semesta.
Kita adalah generasi yang mencintai dan mengutuki Jakarta di saat yang sama: Kita keluhkan uang sewa sebilik persegi yang menghabiskan seperlima gaji. Harga besi beton yang melangit hingga kita hanya berani mengambil kredit rumah di tepian kota. Ujung Bekasi, sudut Depok, di antara Tangerang dan Bogor. Itu pun susah payah. Sedang di desa Ayah Ibu menua. Berharap di sisa umurnya bisa berdampingan tinggal bersama anak anaknya.
Kita adalah generasi yang mencintai dan mengutuki Jakarta di saat yang sama: Kita menghardik tanah tanah kota yang menjadi aspal. Aspal yang berlubang. Lubang yang bersekongkol dengan banjir. Dan banjir yang telah lama berkarib dengan jalanan, gedung gedung, rumah rumah. Lalu kita mengambil jeda untuk pulang sedang para kerabat dan tetangga turut melempar kata, âEh lah bara lapak waang di Tanah Abang? Manga ko baliak ka kampuang?â atau yang semacam, âWah terusno ae loh Le dadi PNS di Jakarta, wis apik Le masa depanmu.â
Kita adalah generasi yang mencintai dan mengutuki Jakarta di saat yang sama: Karir, jejaring, wawasan, dunia, semua tersedia. Para sarjana daerah pergi ke Jakarta dan yang di Jakarta enggan kembali ke rumah. Sedang di pelosok Nusantara ladang dan sawah terbengkalai. Bocah bocah buta arah karena yang memahami cara memanusiakan manusia akhirnya memilih Jakarta.
Aku tidak hendak menyudutkan dan menghakimi kita. Semenjak Batavia para gubernur kamar dagang Hindia memang telah mengistimewakannya. Lalu semua berlanjut dengan dongeng indah efek tetes bawah oleh para administratur istana. Segala hasil bumi diangkut dan hasilnya disimpan untuk Jakarta. Semenjak dahulu hingga pagi ini pukul sepuluh.
Kita adalah generasi yang mencintai dan mengutuki Jakarta di saat yang sama: Ah sudahlah, saya lelah.
Sidoarjo, 9 April 2015.
Generasi Hari Ini
seems true..
Only from the heart can you touch the sky. from 500px & flickr
3 Killed In Shooting Near University Of North Carolina At Chapel Hill The three victims were reportedly identified as Deah Shaddy Barakat, 23, Yusor Mohammad, 21, and Razan Mohammad Abu-Salha, 19.
American media didnât consider giving a decent report about them simply because they arenât Charlie Hebdo.
Once more TERRORISM HAS NO RELIGION!
REBLOG SO THE WHOLE WORLD COULD KNOW!!!
#CHAPELHILLSHOOTING
Astaghfirullah :â(
Jakarta, See you!
Mungkin, hari ini adalah...
terakhir kalinya merasakan berdesak-desakan di commuter line Sudirman demi mengejar jam masuk kantor;
terakhir kalinya naik Metromini 640 atau Kopaja 19 seharga 3,000 rupiah, yang baru saja naik jadi 4,000 rupiah karena BBM naik;
terkahir kalinya melihat gedung-gedung perkantoran bertingkat khas ibukota dan proyek MRT yang katanya akan selesai 4 tahun lagi;
terakhir kalinya masuk ke Wisma GKBI Lantai 32, melihat tumpukan dokumen-dokumen di cubicle yang penuh sesak, menunggu booting laptop, sarapan gorengan pantry kantor sambil minum milo dari dispenser kantor;
terakhir kalinya makan siang di warung be-we, king garden, ayam kari, warung baskom, ayam keju, mendoan, atau nasi padang ganja;
terakhir kalinya sholat dhuhur di masjid belakang kantor dan dilanjut tidur siang sampai jam setengah dua siang, atau di lantai 6 kantor sambil ngadem;
terakhir kalinya risau melihat jam kantor yang menunjukkan pukul 17.30, berusaha se-tenggo mungkin demi mengejar kereta Depok agar sampai kos tidak terlalu malam;
terakhir kalinya beli jajanan stasiun Pondok Cina, cilok, batagor, cappucino cincau, dan pancake durian, jalan di Detos, Margo City atau beli buku di Gramedia Depok....
Ya, setidaknya untuk beberapa bulan ke depan saya akan meninggalkan kehidupan di Depok-Jakarta. See you, Jakarta!
And welcome, Gresik.. :)
Double Summit Gede-Pangrango, 3-5 Oktober 2014
Thx Oki for the video. Itâs cool. Thx Gede-Pangrango family, so lucky to have met you guys ;)
Thanks all ... !!! :)
Sebelum memulai kebersamaan. Aku harus menyelesaikan urusanku terhadap diriku sendiri terlebih dahulu. Karena aku tidak ingin membawa urusanku sewaktu kita duduk bersama dan berjalan bersama. Agar kita âterutama akuâ tidak sibuk mengurus urusanku ketika kita telah memulai perjalanan. Hingga...
Dr. Mads Gilbert, a Norwegian doctor, Who has been treating hundreds of victims wounded in Israelâs ongoing assault, including young children. Dr. Gilbert says hospitals are operating without electricity, water and proper medical supplies, but adds: âAs a medical doctor, my appeal is donât send bandages, donât send syringes, donât send medical teams. The most important medical thing you can do now is to force Israel to stop the bombing and lift the siege of Gaza.â Gilbert recently recently submitted a report to the United Nations on the state of the Gaza health sector in 2014. âWhere is the decency in the U.S. government allowing Israel this impunity to punish the whole civilian population in Gaza?â
so far, close to 170 Palestinians have been killed, among them 36 children and 24 women. And among the 1,232 injured, there are 346 children and 256 women. So, 50 percent of the injured are women and children. Now, this tells you that these attacks are not targeting the militarists in Palestine, in Gaza. These attacks are targeting the whole population in order to intimidate them and to force them to give up their resistance. Iâve been to Gaza through the last 17 years, and every time it is the same story. Israelis are accusing the Palestinians of attacking them; they have to defend themselves, they claim. Actually, the truth is the exact opposite. Israel is the attacker, the occupant. Internationally, they are responsible, according to the law, for the security and the well-being of the occupied population, whereas in fact Israel is doing their utmost to kill them and to make their life as miserable as possible through these seven years of siege.
Pray. Because many questions canât be answered by Google.
(via kuntawiaji)
Kotonoha No Niwa + Rain Scenery
Speechless.
Seperti dipukul bolak-balik. Bahwa begitulah seorang muslim. Bahagia, berbagi, menolong, inisiatif, tak menghamba terhadap uang, peduli, penuh kasih sayangâbahkan kepada hewan, selalu berdoa, murah senyum. Mari menjadi muslim seutuhnya.
Never stop loving your father. a very nice short movie! :)
:ââââ))
2014
Lebih banyak membuka diri, banyak membaca dan berinteraksi dengan orang lain. Semoga.