*Catatan Perjalanan Menuju Gaza*
Maimon Herawati, relawan IGPC, Direktur SMART 171
Kami berangkat dari Indonesia pada Sabtu, 30 Agustus. Meninggalkan Smart camp 4.0 yang sedang berlangsung. Hari saat pengeboman Kota Gaza semakin jadi.
Allah sampaikan di Tunisia pada *Ahad siang (31/9)*. Panas menyerbu begitu keluar bandara. Terik. Katanya kalau puncak musim panas, bisa di atas 45 C.
Gaza bagaimana? Sedangkan air juga minim di sana.
Sore ini memulihkan tenaga karena menurut jadwal esok sudah mulai pelatihan. Sekaligus menyiapkan bahan kuliah. Pada hari yang sama, *20 kapal Global Sumud Flotilla (GSF) dari Barcelona Spanyol bergerak* menuju Tunisia. Alhamdulillah. The journey began!
*Senin (1/9)* pagi sehabis Subuh mengajar dulu secara daring.
Agenda GSF, pagi ada pelatihan khusus koordinator negara. Senin malam ada ajakan kumpul sesama relawan di pinggir pantai, tak jauh dari hotel. Saya memilih tetap di hotel karena menyiapkan bahan mengajar. Lagipula mulai demam.
Senin ini Menlu Turkiye mengumumkan penghentian perdagangan dengan Israel dan menutup pelabuhan untuk kapal Israel. Hari ini juga Israel mengatakan mereka telah membunuh jubir Hamas, Abu Ubaida.
New York Times memuat berita hasil survey Harvard Univ dengan Harris Foundation, 60 % pemuda Amerika memilih pejuang Palestina dibanding penjajah Israel.
*Selasa (2/9)* mengajar kelas penulisan sehabis Subuh.
Lanjut berangkat ke Gedung Serikat Buruh Tunisia untuk mengikuti pelatihan. Walau masih pagi, sudah gobyos keringatan, jalan dari penginapan. Sesampai di sana, kaget juga. Banyak sekali yang hadir.
Panitia mengira peserta sekitar 150 orang. Yang hadir 300-an. Proses pendaftaran lumayan antri. Sangat antri sih, tepatnya.
Pembukaan pelatihan dilakukan ketua Steering Committee (SC) Global Sumud Flotilla, Saif dan Rebecca. Mereka menjelaskan misi GSF adalah membuka koridor kemanusiaan, membongkar blokade Gaza.
Pelatihan sampai sore. Masa rehat, sempat diwawancara Mathilda, wartawan Middle East Eye.
Di Gaza, drone dan robot meledakkan rumah-rumah.
*Rabu (3/9)* Kami kembali ikut pelatihan. Semangat makin membara karena hari itu pelatihan khusus tentang strategi jika kapal dinaiki IDF. Ada simulasi juga. Kursi-kursi ditata seakan ada di geladak kapal besar. Lampu ruangan dipadamkan. Speaker mengeluarkan bunyi ombak, mesik kapal, dan drone.
Lalu masuk belasan orang, menendang kursi, berteriak-teriak, dan mendorong orang bersimpuh di lantai.
Kami mengangkat tangan sesuai yang diajarkan, tapi IDF ala Tunisia ini malah menarik saya keluar. Selain saya, Mathilda, wartawan MEE. Kami ditawan, tangan diborgol. Kata rekan sekontingen, saya dan Mathilda sudah ditandain. Sedikit menyesal banyak berkontribusi dalam diskusi saat pelatihan.
Siang Rabu ini juga merekam video SOS. "Jika Anda melihat video ini, artinya saya telah diculik Israel dsb."
*Kamis adalah free day*. Harusnya Kamis ini hari berangkat naik kapal tapi kapal Barcelona belum sampai ke Tunisia. Sebagian kapal Barcelona sempat kembali ke pelabuhan karena kena badai. Jadi, keberangkatan dari Tunisia diundur.
Saya menggunakan hari ini untuk full istirahat. Hanya mengajar satu kelas pas pagi. Sisanya istirahat. Sejak Senin mulai batuk dan demam. Biar fit di kapal, setiap ada kesempatan, rehat full.
*Jumat (5/9)* adalah hari delegasi yang membeli kapal berangkat ke pelabuhan, mendokumentasikan kapal. Saya di penginapan.
Sorenya ada pelatihan P3K untuk relawan dalam bahasa Inggris dan Arab. Setelahnya sesi P3K berbahasa Turkiye.
Kayak balik ke masa SMA sih, belajar dan mengajar P3K di PMR.
Di Gaza, rumah warga dihancurkan secara masif dengan bom-bom yang terus menerus. Ya Rabb. Jalan dipenuhi saudara yang mengungsi entah ke mana lagi. Yang syahid dan luka silih berganti di layar HP.
Ini sepertinya sesuai dengan perintah Trump. Saluran 12 israel melaporkan pesan Donald Trump ke Tel Aviv terkait *operasi duduki Kota Gaza. *"Lancarkan dengan cepat dan kuat!"*
Semoga Allah hancurkan dia dan sekutunya sehancur-hancurnya. Amiin.
Malamnya, tim Indonesia diundang Dubes untuk doa bersama bagi Gaza. Alhamdulillah, walau ngantuk banget karena jam tubuh masih jam Indonesia, alhamdulillah dibekali doa khusus berlayar.
*Sabtu (6/9)* adalah hari penting karena akan bertemu dengan teman sekapal. Paginya latihan media terkait bagaimana membuat konten yang harus selalu memperhatikan keamanan. Identitas Kapten dan kru harus dijaga karena mereka rentan disiksa jika diculik IDF. Lokasi terkait keamanan dan kontrol seperti ruang kemudi tidak boleh masuk konten karena akan jadi bahan pelajaran ai di ef.
Media memuat ancaman Ben Gvir GSF. Relawan akan dipenjara sebagai tahanan politis. Kapal akan disita dan dimanfaatkan militer laut ai di ef.
Ini bikin ngikik sih karena kami sudah dapat bocoran tentang keadaan kapal dari video GSF Barcelona. Mulai dari toilet yang tidak tersedia sehingga ehm hm .... harus melakukannya dalam ember atau loncat sekalian ke dalam laut.
Kecepatannya? Kapal nelayan aja kayaknya masih bisa memenangi lomba. Boro-boro mau dipakai militer. Setiap saat ada saja yang rusak dan harus diperbaiki.
Di Gaza, beredar video pembukaan makam pejuang yang telah syahid 16 tahun lamanya. Makamnya dibuka untuk memasukkan jenazah ayahnya. Saat disentuh pembungkus tubuhnya, ada kesaksian tubuhnya masih berdaging.
Surat Ali 'Imran Ayat 169: "Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; sebenarnya mereka itu hidup di sisi Tuhannya mendapat rezeki."
Sabtu sore diumumkan nama relawan berdasarkan kapalnya.
Saya satu-satunya perempuan Melayu di sailing boat. Ada tiga perempuan bule, dan dua lelaki bule, dan sepertinya dua lelaki Arab.
"I know nothing about sailing boat," aku saya pada rekan sekapal.
"Don't worry we will do it together."
"I am scare that I will burden you all."
"It's okay, we will be fine."
Video sailing boat dari Barcelona menunjukkan keadaan sibuk menarik dan melepas tali layar. Saya tidak tahu apa-apa tali temali sailing boat. Ini situasi yang disampaikan Sulung, 'Jangan jadi beban, Mi'.
Kemungkinan saya dimasukkan ke sini karena bisa berbahasa Inggris. Bisa juga karena menulis pernah naik kapal (ke Mentawai dan Jakarta-Padang). Mungkin.
Ini masih draft pertama, kata SC. Jadi sangat mungkin berubah. Jika ada usul, diminta sampaikan pada koordinator masing-masing. Minta pada Kang Hussein Gaza, tolong dipindahkan ke kapal yang bukan sailing boat.
Hari ini juga diminta mengirimkan dua nomor keluarga di Indonesia untuk hal-hal darurat.
Malamnya diputar video penculikan relawan dari kapal Freedom Flotilla oleh IDF. Bagi kami, sesi ini belajar memahami pola IDF supaya bisa mempersiapkan diri pada misi ini.
Sebelumnya ada permainan kumpul bersama:
Teman senegara berdasarkan lokasi yang sudah ditempelkan di dinding.
Kumpul bersama teman satu benua.
Kumpul bersama global south atau global north.
Sekalian mengajari berjalan aman di lokasi banyak orang dan sempit.
Nanti di kapal demikian. Sailing boat sangat kecil, hidup bersama 10 orang. Jika besarnya seperti cerita Dr Fauziah, maka tidurnya bergiliran. Ada video peserta Malaysia sholat sambil duduk karena ruangnya pendek. Sujud juga tidak bisa karena tempatnya sempit.
*Ahad (7/9)* adalah hari paling penting karena kami akan mencoba tinggal di dalam kapal selama 12 jam. Ini SUPER penting supaya bisa menyiapkan barang sebelum naik kapal dan berlayar.
Misal, ember mana yang cocok jadi toilet? Disarankan masing-masing punya satu jadi pakai sendiri dan bersihkan sendiri. Ehe.
Selain itu, kami menyambut kedatangan tim Barcelona dan jika dibutuhkan bersih-bersih kapal mereka.
Pagi tim panitia menjemput Ustadz Bachtiar Nasir ke bandara dan langsung pertemuan dengan Dubes.
Siang semua sudah harus di Sidi Bou Said Marina. Masyarakat Tunisia juga tumpah ruah. Mereka tidak bisa masuk Marina, tapi mereka memenuhi pantai sepanjang sekian km. Di antara mereka ada yang berlayar menyambut tim Barcelona ke laut lepas.
Excited. Sudah latihan berhari-hari, kini akan naik kapal masing-masing bersama teman seperjalanan.
Siang itu, Thiago, Greta, Yasmine turun dari kapal Barcelona.
Star struck. Thiago asal Brazil, selalu senyum. Greta yang imut juga nampak sabar menghadapi orang-orang yang ingin berfoto bersama. Saya lihat dari jauh saja. Soalnya dikumpulkan sesuai kapal untuk naik kloter pertama.
Kenalan dengan banyak teman-teman negara lain. Rata-rata dokter dan perawat ternyata. Ada Toto asal Jerman, dokter. Emma Jerman juga, perawat. Keduanya tidak bekerja normal karena aktivisme pro Palestina mereka membuat mereka dihalangi dari pekerjaan normal.
'I work in research, so it's fine,' kata Toto.
Duh, sampai sore tetap belum bisa naik kapal. Alasannya ada larangan dari otoritas pelabuhan. Foto paspor sudah dikumpulkan padahal.
Akhirnya malam kembali ke bus dengan berjalan kaki. Bus tidak bisa mendekat ke Marina. Macet.
Sampai di titik bertemu bus, bus belum ada. Akhirnya duduk lama berdua dengan Teh Ipun Adara di pinggir pantai. Dingin disapu angin laut. Melihat gerhana bulan yang memerah. Apakah Gaza juga melihat bulan yang sama?
Di Gaza, selebaran Israel kembali menghujani langit Kota, mengancam warga agar mengungsi ke selatan. Faktanya, sudah puluhan kali mereka mengungsi, tak ada satupun tempat aman di Gaza. Jeritan pilu terdengar di antara mereka: *“Mau mengungsi ke mana lagi?”*
Israel membunuh banyak pengungsi yang mencari bantuan kemanusiaan ke lembaga yang dibuat Israel dan Amerika.
Pertemuan kembali di hotel. Kali ini diisi Thiago. Ada Mandla Mandela, cucu Nelson Mandela juga.
Thiago cerita bahwa dia tidak punya kasur di kapal. Kalau tidur bahkan sambil gelundungan di deck kapal. Toilet juga minim.
Sesama relawan saling mengingatkan, kami akan butuh banyak plastik untuk urusan 'itu'. Saya langsung mikir tentang ratusan plastik di dalam laut. Harus cari opsi plastik yang mudah terurai atau sejenis kertas yang aman untuk 'itu'.
Ember dan tali juga PENTING karena air tawar HANYA untuk minum. Sisanya pakai air laut. Dengan demikian, harus menimba air laut. Dulu waktu kecil rumah hanya seratus meter dari laut, jadi udah paham kulit akan seperti apa jika mandi dengan air laut.
Seperti Gaza yang juga cuci dan mandi menggunakan air laut.
Sorenya peserta diminta pindah ke Gedung Serikat Buruh. Ternyata ada Francesca Albanese, special rep UN for Palestine. Ada pertemuan para ahli hukum internasional juga. Mereka akan ikut sebagai observer, mendokumentasikan berbagai pelanggaran hukum Israel dan menggunakannya di pengadilan nanti.
Suasananya penuh semangat membara. *Gaza, tunggu kami!*
List terbaru peserta dan kapal sudah keluar. Dari Indonesia baru ada 26 nama. Siapa yang tidak lolos dari 30 orang?
Malam ini, kapal Thiago dan Greta dibom drone!
Kami rata-rata terbangun karena HP ribut tengah malam itu. SC GSF menyuruh tidak ada yang buru-buru ke Marina karena SC akan urus ini semua.
Media mengutip lembaga berwenang Tunisia mengatakan pengeboman ini adalah puntung rokok yang ceroboh hingga membakar geladak. CCTV dari kapal yang di sebelah Familia menunjukkan bom dijatuhkan dari drone.
Pagi pertemuan dengan Pak Nadir Sumud Nusantara Ini sekaligus berbagi pengalaman dengan rekan Malaysia yang naik kapal dari Barcelona.
Pada pertemuan ini, disampaikan bahwa sebagian kapal tidak bisa docking ke marina dan port. Kapal-kapal ini harus diperbaiki, tapi posisi mereka di tengah laut sehingga perbaikan tidak bisa dimulai.
Siang ada taujih dari UBN.
Hari ini Israel menyerang gedung lokasi pertemuan pemimpin Hms di Doha yang berkumpul membahas tawaran gencatan senjata Amerika. TV Israel dan Amerika menyelamati diri mereka karena berhasil membunuh pemimpin Hms.
*Katanya mau gencatan senjata, tapi yang sedang diajak berunding mau dibunuh.*
Sore lanjut pembagian kapal kembali, tapi ya masih simpang siur. Kita disuruh keluar dulu dari ruangan dan akan dipanggil bergantian.
Sampai malam belum ada kejelasan. Saat yang sama, ada undangan makan malam Nusantara (tim Malaysia, Indonesia, Pakistan, dan Maldives) dari Dubes Indonesia.
Saya ijin tidak ikut karena persiapan esok naik kapal, check out hotel, dan menitipkan barang untuk Indonesia.
Esok ke kapal hanya membawa ransel, ember, tas di badan isi paspor, HP burner alias HP yang harus segera dibuang jika IDF menaiki kapal.
Barang lain dititip ke panitia untuk dibawakan ke Indonesia.
Malamnya mulai pamit-pamit. Juga menulis wasiat.
Berusaha banget tidak lama-lama menatap wajah Bungsu, kakak-kakak mereka dan suami. Langsung lemah soalnya.
Malam itu, serangan drone kedua ke kapal Alma.
Ya iyalah, 60 lebih kapal, 600 aktivis.
Skenario perjalanan itu sudah hapal di luar kepala.
Skenario pertama: Penggagalan birokrasi di pelabuhan. Ini seperti Syawal 2024 lalu. Bu Maya Adara dan saya juga sudah mendaftar untuk berangkat. Ada tiga kapal besar. Gagal karena tidak ada negara yang mau memberikan benderanya pada kapal-kapal itu.
Skenario kedua: Dibom dan dirusak sebelum berangkat. Kapal Freedom Flotilla, Conscience dibom Israel di laut 30 km dari pantai Malta. Dua kali pengeboman itu merusak mesin kapal.
Mereka sudah lakukan ini tengah malam Selasa dan dinihari Rabu (9 dan 10 September).
Skenario ketiga: Kapal dinaiki IDF dan diambil alih, penumpang diculik ke Ashdod atau Askalon. Dipenjara dan dideportasi. Ini sering terjadi.
Untuk negara yang tidak punya hubungan diplomatik dengan Israel, disarankan mengambil instant removal itu. Artinya, in a way, mengakui sudah memasuki wilayah Israel tanpa ijin dan bersedia 'diusir' segera, dalam rentang 72 jam.
Indonesia sudah diskusi dan akan memilih dideportasi ke Jordan saja.
Pilihan lain menolak instant removal, dan menuntut pembebasan mutlak dengan bermartabat karena Israel sudah menculik mereka di perairan internasional.
Kalau diculik IDF, seluruh barang dirampas mereka. Jadi dalam merancang perjalanan kami membawa barang-barang yang sudah siap diambil IDF. Termasuk, HP juga diminta bawa yang belum pernah digunakan sebelumnya dengan daftar kontak minimalis. HP burner, nama lainnya.
Nanti yang dikembalikan IDF hanya paspor dan dompet saja. Uang biasanya diambil. Baju tersisa yang ada di badan.
Kayak gembel deh, katanya.
Dengan demikian, seluruh tim memisahkan barang Selasa itu dan menitipkan HP sehari-hari, koper, dompet berisi kartu-kartu pada panitia. Ini akan dibawakan kembali ke Indonesia. Sebagian memilih opsi minta dikirimkan pada keluarga melalui kargo.
*Rabu pagi itu (10/10)*, mengirimkan pesan-pesan pada keluarga, teman, kerabat. Mengatur pengelolaan kelas sampai nanti kembali ke tanah air. Jika kembali.
Karena ada skenario lain, yang kami tahu dan mungkin terjadi: penyerangan seperti Mavi Marmara pada 2010. Sembilan syahid, dan puluhan luka.
Berat saat menatap wajah keluarga. Saya rasa yang lain juga. Dalam bus, air mata mengalir diam-diam. Mungkin ini kali terakhir melihat mereka.
Bismillah. Check out semua dari hotel. Kami berangkat. Doakan kami.
Kontingen Indonesia diantar Pak Dubes. Mobil dinas beliau dengan bendera Indonesia di depan dan membantu membukakan jalan-jalan yang sudah diblokade.
Kami tidak bisa sampai ke pelabuhan menggunakan bus. Harus berhenti lumayan jauh. Tapi masyarakat Tunisia demikian bersemangat membantu membawakan ransel, ember, dan bawaan lainnya.
Ribuan orang, mungkin belasan ribu, tumpah ruah di sepanjang pantai.
Relawan yang akan memasuki pelabuhan antri demikian lama di tengah terik matahari.
Akhirnya setelah sekian lama berhasil masuk dan segera diminta berkumpul di satu lokasi.
UBN dan Dubes menemani terus. Kadang Pak Nadir juga menghampiri.
Empat nama sudah disebut dan diminta siap-siap naik kapal pertama. Yang lain belum dipanggil.
Hujan gerimis. Waktu terus berjalan. Sampai Maghrib menjelang tidak ada kapal yang bisa keluar. Ini sepertinya skenario pertama, penggagalan melalui birokrasi.
Matahari semakin turun. Pelabuhan mulai gelap. Orang masih banyak dan ramai.
Thiago menyampaikan pegumuman penting. Masih diusahakan bisa naik kapal masing-masing malam ini. Kenalan dengan kru dan kapten, serta sesama teman sekapal. Silahkan cek perbaikan yang harus dilakukan. Jika akan menginap di kapal, boleh.
Tapi gelap begini, Thiago merasa serangan drone mungkin datang lagi. Kondisi beramai-ramai bisa membuat efek makin buruk. Saran Thiago jika akan kembali ke hotel, silahkan kembali ke hotel.
UBN meminta tim Indonesia berkumpul dan memisahkan diri di luar pelabuhan. Keputusannya cari hotel untuk malam ini. Tim kembali naik bus.
Kita sudah check out. Barang sudah dipisah untuk dibawakan ke Indonesia. Sekarang tim darat (land crew) harus cari hotel untuk relawan. Pasti susah lah cari hotel mendadak.
Sampai di hotel sudah malam.
*Pagi Kamis (11/10)*, masih sempat ngecek HP biasa sebentar sebelum seluruh barang dibawa ke bandara oleh panitia yang pulang hari itu.
Kami tetap optimis ini hanya tertunda. Insya Allah akan berangkat. Insya Allah.
Siang itu tim Indonesia kumpul lagi. Nama yang sudah teralokasikan kapal baru belasan. Saya sekarang ada di kapal besar bersama lima rekan Indonesia lainnya. Tidak di sailing boat lagi.
Sisanya belum ada alokasi. Kapal yang ada ijin keluar port baru beberapa. Sisanya masih tertahan dengan berbagai kendala: rusak harus diperbaiki, belum layak layar jauh, surat menyurat belum lengkap dsb.
Kemungkinan kapal yang tidak layak atau rusak akan ditinggal. Dengan demikian tidak semua relawan bisa naik kapal.
SC GSF mulai menyeleksi peserta. Peserta dipilih berdasarkan prioritas. Medis, jurnalis, dan anggota parlemen mendapat prioritas naik kapal.
Saya dibisiki satu peserta Indonesia kalau dia dichat SC GSF. Namanya masuk black list, tidak diijinkan berangkat karena satu hal.
Jantung serasa melorot. Ada apa ini? Analisa saya, sepertinya masalah ini lebih karena karena kendala komunikasi lintas budaya. Harusnya bisa diselesaikan.
Teman ini bilang dia sudah minta maaf dan minta sesi verifikasi informasi, hadap-hadapan dengan yang membawa laporan ke SC GSF.
Jawabannya membuat tercengang. Tidak ada sesi verifikasi. Laporan diterima utuh.
Yang lebih bikin bertanya-tanya, SC GSF mengatakan akan ada puluhan relawan lain dari berbagai negara masuk daftar 'flagging' dan akan dieliminasi.
Ini sepertinya cara cepat proses seleksi tim SC GSF untuk mencapai angka relawan yang bisa naik kapal.
Iya pasti sulit sih ya mengelola ratusan orang dari 45 negara. Mengerucutkan angka menjadi sepertiganya, pasti pusing banget. SC GSF ini sama kayak kami, tidak dibayar dalam misi ini. Sebagian besar malah membiayai dirinya sendiri. Jadi, paham banget. Tension was high. Emotion was charged.
Beberapa info disampaikan juga dalam rapat, termasuk dinamika geopolitik. Tunisia ditekan sepertinya. Percobaan pembunuhan pemimpin Hms di Qatar mengubah poros yang ada. Rejim Negara Teluk paham sekali bahwa tidak ada yang aman di hadapan Zio ini.
Dalam rapat ada dua opsi yang dibahas. Berangkat sebagian, atau berikan seat pada relawan yang lebih mengokohkan misi GSF.
Relawan berasal dari 45 negara. Sebagian adalah negara bestie Israel seperti Amerika, Jerman, Inggris. Israel akan mikir beberapa kali untuk membunuh relawan asal negara ini. Misi GSF kemungkinan berhasil lebih besar.
Jika Indonesia, kontingen tiga terbanyak, memberikan kursi pada relawan-relawan Amerika dan Eropa, maka kapal-kapal ini akan semakin kuat. Kapal yang ada nama saya, misalnya, tadinya ada 15 negara (saya lupa persisnya). Orang Indonesia ada berenam (kalau tidak salah). Kalau Indonesia memberikan kursi mereka, maka penghuni kapal itu akan berasal dari 21 negara, bukan hanya 15 negara. Secara posisi, kapal itu akan menjadi lebih kuat.
Jika sebagian berangkat, maka control room harus segera dibangun di Jakarta. Misi berbahaya seperti ini harus dikawal dengan control room yang terkonek dengan baik dengan tim SC GSF, tracking system jalan, komunikasi antar kapal terjalin dengan baik, sistem komunikasi darurat dipahami dengan baik. Alur pengamanan saat diculik juga sudah terpetakan. Termasuk aktivasi tim darat di Jordan dll.
Pe-er berikutnya seleksi dalam tim Indonesia harus macthing dengan seleksi SC GSF. Yang diketahui dicoret SC GSF baru satu orang. Tapi dalam pelatihan ada relawan kita yang ditegur keras SC GSF gara-gara mengenakan kafiyeh mirip Abu Ubaidah. Which is you know lah ya, bagi kita mereka pejuang kemerdekaan.
Syuro siang itu kemudian memutuskan, all for one, one for all. Seluruh kursi Indonesia diberikan pada relawan yang akan membuat posisi kapal makin kuat sehingga misi menembus blokade lebih mungkin berhasil.
Kapal yang telah dibeli dan bantuan yang dimasukkan ke dalam kapal tetap berlayar bersama relawan dunia.
Ini bukan misi negara per negara. Tapi misi bersama 45 negara, satu kesatuan. Tujuan utamanya tembus blokade, bukan masuknya relawan Indonesia ke dalam Gaza.
Saat keputusan diketok, sebelah jiwa seakan dicabut. Gz, belum mungkin memelukmu langsung. Belum bisa menyampaikan padamu secara personal bahwa dukamu, duka kami. Sakitmu, sakit kami.
Bismillah, tim GSF akan tembus blokade dan buka koridor kemanusiaan. Tim Indonesia tetap terlibat dalam misi GSF kali ini. Selain ini, sekarang makin mengokohkan gerakan untuk usaha tembus blokade berikutnya.
Terima kasih IGPC sudah memberi kesempatan belajar dan beraktivitas bersama tim-tim hebat.
Next mission, insya Allah.