Disiplin Tanpa Drama
Bertemu buku ini di toko buku, dan baca baca halaman awalnya bikin aku tertarik. Karena belakangan ini, aku agak dibuat pusing dengan, “bagaimana cara menasihati tanpa marah-marah?” Termasuk ke diri sendiri. Kenapa ke diri sendiri? Karena saat aku sedang tersesat, aku sering kali berantem dengan diri sendiri dan jadi semacam kesal dengan diri sendiri terus kadang sampai berujung tidak menerima diri sendiri. Terus kepikiran, buat aku memperbaiki diri sendiri aja bikin cape sendiri, gimana ke orang lain, gimana kalau nanti di masa depan aku punya anak, kyaaa >< Di saat kita memiliki tugas buat saling menasihati tapi di sisi lain ngga boleh dengan sikap yang ga baik.
Lalu ditemukanlah buku ini, uhuy. Walaupun target utamanya adalah para orangtua yang sedang kebingungan dalam mendidik anak-anak mereka, penulis juga menganjurkan buku ini bagi siapapun yang memiliki kesulitan dalam mendisiplinkan seseorang. Nah, pas betul.
Sekarang, aku ingin mengutip salah satu bagian di halaman-halaman awal:
“ Hubungan atau koneksi, berarti kita memberikan perhatian kepada anak-anak kita, bahwa kita cukup menghargai mereka untuk mendengarkan, bahwa kita menghargai kontribusi mereka dalam memecahkan masalah, dan bahwa kita mengomunikasikan kepada mereka kalau kita berada di pihak mereka – entah kita senang dengan perilaku mereka atau tidak. Bahkan, ketika anak berperilaku buruk, itulah saat mereka paling membutuhkan koneksi dengan kita.
Meskipun demikian, koneksi TIDAK SAMA dengan memperbolehkan semua tindakan. Berhubungan dengan anak kita saat mendisiplin tidak berarti membiarkan mereka berbuat sesuka hati. Bahkan, justru sebaliknya. Bagian dari benar-benar mencintai anak kita, serta memberikan apa yang mereka butuhkan, berarti menawarkan batasan-batasan yang jelas dan konsisten kepada mereka, membuat struktur yang mudah diprediksi di dalam hidup mereka, serta memiliki harapan yang tinggi terhadap mereka.”
Nah, bagian awal kutipan penting, buat pendahuluan. Tapi yang buat aku tersadar, adalah bagian yang dibold. Kadang suka mikir ga sih, Ya Allah, banyak betul aturan-aturan yang Dia beri melalui Rasul-Nya. Tapi lihat, ternyata aturan-aturan itu justru bagian dari bukti bahwa Dia mencintai kita, hamba-hamba-Nya.
Belum lagi, “…serta memiliki harapan yang tinggi terhadap mereka..” Bukankah dengan masih terus tersedianya kesempatan bagi kita bertaubat, adalah bukti lain dari cinta Allah kepada kita?
(Hadits dicopy dari pencarian google, tapi teringat karena pernah disampaikan di suatu kajian)
Di dalam musnad Al-Imam Ahmad telah di sebutkan dari Rasulullah SAW ,beliau bersabda:
“Tidak ada satu hari pun yg berlalu melainkan laut meminta izin kepada Rabb-Nya untuk menenggelamkan Bani Adam.”
Sementara Allah SWT. berfirman:
“Biarkanlah hamba-Ku. Aku lebih tahu tentang dirinya ketika Aku menciptakannya dari tanah.
Andaikan ia hamba kalian, maka urusannya terserah kalian. Karena ia hamba-Ku, maka ia berasal dari-Ku. dan urusannya terserah kepada-Ku.“
Padahal alam aja saking lieurnya lihat kelakuan manusia, sudah gemas ingin menenggelamkan kita. Tapi Allah terus kasih kesempatan buat kita..


















