Angkot sepertinya menjadi transportasi yang paling sering aku gunakan selama ini.
Ada banyak rasa yang bersatu padu disetiap penantian, persinggahan, dan perjalanannya.
Aku merasa kesal tiap kali harus menunggu lama. Leherku pegal karena menengok cukup lama ke arah kanan, memastikan apakah angkot yang lewat adalah rute yang kucari.
Terkadang juga terasa sedih. Kala itu, kakiku mulai keram karena lamanya menunggu. Waktu terus berdenting, sedang di dalam kepalaku seperti ada yang siap untuk meledak. Aku.. tak bisa tetap berdiri tanpa tahu berapa lama lagi agar aku bisa duduk dan melakukan perjalanan. Jadi, aku menyerah dan memesan transportasi online.
Namun jika ditimbang lagi, bukan penantian yang membuatnya terasa menyedihkan. Tapi fakta bahwa ternyata aku tidak bisa bersabar sedikit lebih lama lagi. Angkot yang kutunggu lewat hanya sesaat setelah aku menekan tombol pesan di layar ponsel. Selalu saja seperti itu..
Meski kesal dan sedih, anehnya ada perasaan lain yang menggelitik dihati. Itu adalah saat dimana aku menyaksikan dengan seksama banyak kendaraan dan orang-orang berlalu lalang. Dan bagaimana setiap orang itu begitu beragam jenis dan berbeda macamnya. Aku mungkin tidak bisa membaca pikiran seseorang. Namun aku bisa sedikit melihat bagaimana tiap orang menanggung bebannya masing-masing.
Ada yang menjinjing nya dengan enteng. Ada yang menopangnya di punggung namun masih bisa berdiri tegap. Ada juga yang menopang dipunggung sambil berbungkuk karena begitu berat. Ada juga yang bahkan harus menyeret seluruh tubuh mereka, membawa tanggungan yang amat besar.
Sekalipun begitu, mereka yang menjinjing bukan berarti telah melalui hidup dengan banyak kebahagian. Boleh jadi, beban di dalamnya juga amat berat namun terlihat ringan karena terlanjur terbiasa. Atau mungkin saja mereka telah melalui begitu banyak trial error untuk menemukan cara membawa beban berat dengan mudah.
Aku lelah dan diselimuti banyak gelisah tiap kali angkot yang kunaiki berhenti cukup lama, menunggu sang calon penumpang dengan setia.
Namun, perasaan lelah dan gelisah itu menciut. Tiap kali aku memikirkan betapa sabar sang sopir menjemput calon penumpang satu persatu. Aku hanya perlu menunggu sekali ini. Sedang mereka harus menunggu berkali-kali, setiap hari.
Wajahku muram bahkan sejak pertama kali aku membuka mata dipagi hari. Setelah sholat, aku harus bergegas segera melakukan berbagai rutinitas sebelum berangkat ke kantor. Jika bukan karena harus naik angkot, aku bisa tidur sedikit lebih lama lagi. Bagaimana tidak? Perjalanan yang seharusnya bisa ditempuh dengan hanya 5-10 menit dgn kendaraan pribadi, harus kutempuh selama 30 menit dengan angkot.
Maka setiap 5 langkah perjalananku ke tempat pemberhentian angkot, aku menggerutu diam-diam di dalam hati. Kakiku lemas, dan Jantungku berdebar begitu hebat. Khawatir kalau-kalau angkot pertama di pagi ini akan terlewat. Jika begitu, aku harus menunggu lebih lama lagi untuk angkot berikutnya.
Namun, ketika angkot tidak lagi menjadi rutinitas ku di hari kerja. Aku sedikit rindu. Dan banyak malu, juga merasa bersalah pada diri sendiri. Nampaknya Aku berubah menjadi lebih malas. Rutinitas pagiku terisi dengan tambahan jam tidur yang sebenarnya sudah banyak. Kebiasaan membaca buku pun mendengarkan Kalamullah selama perjalanan yang cukup panjang jadi hilang. Aku kembali memupuk kebiasaan buruk, dan menebang kebiasaan yg baik (meski dipaksa keadaan).
Hidup selalu seperti ini. Selalu ada hal yang kita lepaskan, untuk setiap hal yang kita dapatkan. Tentu akan luar biasa jika justru yang terlepas adalah keburukan dan yang tergapai adalah kebaikan.
( Racauan tidak jelas yang memotong waktu tidurku beberapa menit. Mereka terlalu penuh, hendak tumpah dari pikiranku. Jadi kutuang saja mereka ke gelas ini. Maaf jika ada dari kalian yang tidak sengaja meminumnya.. )