“Aku suka cerita dan berbagi masalah ke kamu, karena masalah kamu jauh lebih banyak daripada aku. Aku jadi lebih banyak belajar dari kamu” ucap seorang teman kepadanya.
Ia hanya tertawa. Bukan karena ucapan itu lucu, apalagi mengandung ejekan. Ia tertawa karena menyadari satu hal yang getir, orang lain justru mampu memetik hikmah dari luka-lukanya, sementara ia sendiri masih terseok-seok di titik yang sama, berkali-kali jatuh pada pelajaran yang serupa.
Ia berhasil menjadi cermin bagi orang lain, namun gagal bercermin pada dirinya sendiri. Menjadi sumber pembelajaran, tapi lupa untuk belajar.
Barangkali begitulah manusia, terlalu sibuk memahami derita orang lain hingga lupa menuntun dirinya keluar dari kegelapan. Pandai memberi nasihat, namun payah saat harus menerapkannya pada dirinya sendiri.








