Mama pergi dengan perlahan.
Mama seperti jantung kehidupan kami. Setiap apa yang kami lakukan, kemungkinan besar ada andil mama di dalamnya. Paling terlihat, ada di apa yang kami makan.
Sebagian besar makanan yang masuk ke perut kami adalah hasil masakan mama. Segala rempah bumbunya, perpaduan cita rasanya, bahan terbaik yang ia pakai, serta setiap cinta yang dia berikan dalam masakannya.
Mungkin sudah setahun lalu, mama sudah tidak terlalu aktif memasak. Parkinson membuat otot tangannya terus tremor sejak tiga tahun terakhir. Perlahan kami mulai kehilangan satu per satu rasa otentik dari masakan mama. Mama sudah tidak bisa memasak makanan lebaran lagi, tidak ada makanan buka puasa yang khas keluarga, lidah kami mulai terbiasa memakan makanan beli setiap berkumpul.
Ga masalah, yang penting kami masih bersama.
Mama pergi dengan perlahan.
Sejak tremor tangannya semakin menguat, mama mulai jarang menulis pesan WhatsApp. Sulit katanya mengetik, banyak typo. Ga masalah ma, bisa pakai voice note. Tapi mama ngga mau. Akhirnya grup WhatsApp perlahan mulai sepi dari ketikan mama. Mama perlahan jadi silent reader, dengan sesekali merespon 'react emoji'.
Ga masalah, yang penting kami tau mama masih membaca grup dan merespon.
Mama pergi dengan perlahan.
Mama adalah ibu rumah tangga dengan kegiatan hampir 24 jam penuh di rumah. Mama mengerjakan hampir semua pekerjaan rumah. Sejak mama didiagnosa parkinson, beberapa pekerjaan rumah perlahan ditinggalkan. Otot tubuhnya yang terasa makin berat, tidak kuasa untuk menahan beban pekerjaan rumah yang segitu banyak. Kami pun melakukan penyesuaian membagi pekerjaan rumah. Apalagi setelah mulai terasa gejala kanker, melakukan aktivitas mandiri seperti mandi, pakai baju, makan terasa berat. Raganya lemah dan makin melemah. Kami bergantian melakukannya untuk mama. Kami mulai terbiasa bersama-sama melakukan pekerjaan rumah.
Ga masalah, yang penting kami masih bersama mama
Mama pergi dengan perlahan.
Aku ingat dengan jelas bagaimana cerewetnya mama dulu. Mengomentari segala yang kami lakukan dari bangun tidur sampai tidur lagi. Dan sekarang, saat aku juga menjalani pekerjaan yang sama dengan mama sebagai ibu rumah tangga, aku paham betul, mengapa mama sangat sering mengomel. Rumah adalah kehidupannya. Segala yang terjadi di rumah, adalah kendalinya. Ada yang melenceng sedikit, sungguh bikin runyam kepala.
Namun beberapa bulan terakhir, suara mama melemah. Kami harus menempelkan telinga dekat-dekat di mulut mama supaya terdengar. Sampai pada sebulan terakhir di rumah sakit, suara mama yang sudah lemah makin melemah. Kami harus tebak-tebakan mama berbicara apa. Saking melemahnya, bahkan hanya nafas saja yang keluar. Kami betul-betul ngga ngerti apa yang mama katakan. Kami kehilangan suara mama di telinga kami.
Ngga masalah. Yang penting mama masih ada di dekat kami.
Dalam nafas tersengalnya di hari-hari terakhir mama, kami masih lihat mama berjuang. Kami tahu mama pasti senang kalau ditemani. Sama seperti beberapa jam sebelum waktu operasi, psikiater menanyakan ini pada mama.
"Ibu gimana perasaannya ada anak-anak ngumpul semua di sini?
"Senang.." 🥹
Mama yang seumur hidupnya dikelilingi keluarga kecilnya, sesederhana itu keinginannya. Mama yang ngga pernah meminta macam-macam, selalu terima apa adanya. Mama yang sabarnya seluas laut dan langit. Mungkin keberadaan mama tidak terlihat dari hingar bingar dunia luar. Tidak punya embel-embel gelar aktivis organisasi ini dan itu, jabatan ini dan itu. Tapi mama adalah dunia kami. Sebenarnya-benarnya wanita sholiha yang berbakti pada suami dan memberikan semua cintanya untuk anak-anaknya.
Mama terasa pergi dengan perlahan. Seperti menyiapkan segala sesuatunya supaya kami siap menghadapi hari-hari tanpa mama. Setiap doa yang mama sebut untuk anak-anaknya di waktu yang kami pun gatau, akhirnya membawa kami di waktu sekarang.
Kami mungkin ga sadar, semakin hari kami semakin erat dan kompak. Selama mama sakit, kami lakukan apa yang bisa kami lakukan sebisa kami. Bergantian ataupun bersama-sama. Sampai dirasa sudah cukup, mama akhirnya pergi.
Mungkin kami sekarang mulai terbiasa melakukan kegiatan apapun sendiri tanpa mama. Mungkin kami sudah terbiasa melihat grup WhatsApp yang sepi tanpa tulisan mama. Mungkin kami sudah terbiasa memakan masakan sendiri atau beli, bukan masakan mama. Atau mungkin kami sudah mulai terbiasa tidak mendengar suara mama.
Namun beberapa hari ini rasanya tetap kosong. Raga mama sudah ngga ada di dekat kami. Tidak terlihat di mata kami. Dengan perlahan kami biasakan setiap kali teringat mama.
Allahummaghfirlaha warhamha wa'afiha wa'fuanha..
Ya Allah ampunilah mama, terangi dan luaskan kuburnya, kumpulkanlah kami sekeluarga di surgaMu, di tempat terbaik yang kami belum pernah bayangkan sebelumnya.










