Takkan Aku Biarkan Sang Mimpi Lari untuk Kedua Kali
Dalam semesta pena, aku adalah bayi yang baru lahir. Pada seperempat abad usia, aku terlahir kembali. Saat remaja, saat para karib asik dengan dunia merah jambu mereka. Menjadi penulis adalah mimpiku. Kenapa? Karena ingin mengajak orang lain kepada kebaikan melalui pena. Kenapa meski dengan pena? Kenapa tak jadi pembicara saja? Menjadi motivator yang memotivasi banyak orang. Jawabanku adalah karena aku tak mahu banyak mata melihatku karena menurutku parasku jelek bahkan bisa dikatakan cupu waktu itu (Maafkan ya Allah aku tidak bersyukur kala itu). Kenapa menghina diri sendiri? Karena aku memiliki krisis percaya diri ketika itu. Banyak luka yang tak pernah berhasil kuhapus semudah menghapus goresan tinta di papan tulis. Itulah mengapa krisis percaya diri menimpa hidupku yang kelam kelabu.
Para karib sibuk membalas sms sang kekasih. Kenapa aku tidak seperti mereka? Menikmati masa putih putih krem (seragam Mu’allimiin) dengan memiliki pacar. Jawabannya ialah karena tak ada laki-laki yang mendekat padaku. Sekalipun ada, dia sama cupunya denganku. Beruntung aku tidak mahu. Andaikan dia keren dan tampan mungkin saja aku mahu dan merusak komitmen dengan diri sendiri.
Semangat begitu menggebu, puluhan kompetisi kepenulisan kuikuti. Dari mulai cerpen hingga artikel. Tapi tak pernah sampai pada kata menang. Hendak masuk jurusan sastra, tapi terhalang restu orang tua. Akhirnya kubiarkan mimpi itu lari. Seiring berjalan waktu aku tahu kenapa tulisanku tak mampu membuat pembaca jatuh hati, jawabannya adalah karena ketika itu aku tidak membaca.
Tepat diseperempat abad usia kuputuskan untuk terlahir kembali. Krisis percaya diri sedikit demi sedikit kukikis hingga lenyap bersamaan dengan hadirnya sang kekasih yang sesungguhnya, satu-satunya umat manusia yang mengatakan bahwa aku ini cantik. Kini mimpi menjadi penulis akan kukejar, takkan ku biarkan dia lari untuk kedua kali.
Banjaran, 05 Mei 2020 | 02.06 WIB
Menanti waktu sahur.
















