"Kau bilang kebaikan bisa membuat orang jatuh cinta, lantas mengapa banyak dari kita yang tak begitu benar-benar mencintai Allaah padahal kebaikan-Nya sudah takkan pernah mampu terhitung oleh kita?"
@terusberanjak
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
No title available

PR's Tumblrdome
No title available

ellievsbear
Show & Tell
tumblr dot com
todays bird
Monterey Bay Aquarium
RMH

gracie abrams

if i look back, i am lost
No title available
Keni
Cosimo Galluzzi

Origami Around

bliss lane
TMBGareOK. The Official They Might Be Giants tumblr

No title available
Sade Olutola

seen from Brazil

seen from Malaysia

seen from Germany
seen from Russia
seen from Palestinian Territories

seen from China

seen from United States

seen from Malaysia

seen from Norway
seen from Hungary
seen from Spain
seen from Malaysia

seen from Japan

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from Argentina
seen from Indonesia

seen from Canada

seen from Poland

seen from Saudi Arabia
@husnulizzah
"Kau bilang kebaikan bisa membuat orang jatuh cinta, lantas mengapa banyak dari kita yang tak begitu benar-benar mencintai Allaah padahal kebaikan-Nya sudah takkan pernah mampu terhitung oleh kita?"
@terusberanjak
Salah satu guru kami temen temen, bahkan mengatakan bahwa belajar tentang sejarah sudah masuk ke kategori ilmu yg fardhu ‘ain alias wajib utk setiap muslim. Tantangan yg terjadi hari ini dibaitul maqdis salah satu akar penyebabnya karena muslim sendiri terpecah belah, ga faham sejarah. Individualis, mementingkan diri sendiri sedang mrk disana sangat menunggu pembebas tanah tsb dari pejuang diluar negeri mereka. Ya Rabbi, ampuni kami🤲🏻
Mengamati diri dibagian fitrah belajar & bernalar dgn konsep 4E; enjoy, easy, excellent, earn.
Selepas lulus kuliah. Dimana saat ini rasanya selesai sudah kewajiban belajar krn mengikuti sistem “pendidikan” yg ada atas maklumat org tua yg dr turun menurun bermindset: anak itu harus sekolah, jenjang sd sampai dgn perguruan tinggi.
Aku yg dr kecil merasa menyukai buku, minta dibelikan buku meskipun tidak pernah sama sekali ada dorongan ataupun kebiasaan dikeluarga utk baca buku. Saat itu minta dibelikan novel anak anak islami. Meskipun saat itu faham bahwa membaca memang perlu ada sedikit paksaan utk konsentrasi, duduk diam dalam waktu yg cukup lama. Berulang kali baca krn tdk faham dgn mksd kalimatnya. Lulus kuliah aku coba membeli buku dr tema terdekat yg saat itu aku rasa butuh utk tau suatu ilmu. Dari situlah tahun ke tahun mulai berkembang. Keingin tahuan aku mekar se mekar mekarnya. Saat itu platform belajar online blm se ramai saat ini. Tidak lama pandemi datang, semua aktivitas berpindah menjadi online; kerja, belajar, seminar dsb. Dan dimulai saat pandemi kursus online banyak dan mudah ditemui sampai saat ini.
Ada benang merah saat aku mengamati diri sendiri. Apa yg aku sukai, bidang belajar apa yg aku merasa tidak ada keterpaksaan saat aku menjalaninya, saat menjalaninya waktu terasa sangat cepat berlalu saking enjoynya. Kalau anak ortu ku yg lain ada yg sukanya dibidang olahraga, komputer, bisnis, teknisi dsb. Aku rasa, aku sangat sangat mendapat gen turunan bahwa sangat suka belajar islam. Rasanya bnr bnr merekah saat perlahan menyelami ilmu ini. Makin diselami makin terasa luas dan ga ada habisnya.
Dititik ini aku sadar. Bahwa tidak ada anak yg terlahir sia sia. Disaat kadang terifikir “kok ortu ku mau ya punya anak banyak?” Sedang ada org lain yg bilang “peluang utk masuk surga ga tau ada dianak ke berapa”
Dengan harapan ini menjadi bisyarah dan semangat utk diri sendiri. Semoga kelak pintu surga utk org tua ku, berasal dr anak & keturunanku🥺🤲🏻 sebab aku merasa bakat ini suatu hari nanti ga akan sia sia
Apakah depresi (penyakit mental lainnya) itu tanda kurang iman?
Pertanyaan ini sering banget datang baik dr luar diri maupun diri aku sendiri. Been there for that ketika Allah uji dgn permasalahan mental dan saat cerita ke orang lain mendapat respon “kamu kurang iman” “kamu kurang ibadah” “ga deket sm Allah” dan judgement lain yg semisalnya. Tapi sebenernya gimana sih? Bener apa ngga orang yg punya masalah mental itu krn kurang ibadah, ga deket sm Allah dsb?
Pertama-tama kita perlu tau, kita ini ada diposisi mana dalam menyikapi permasalahan tentang mental ini, tentang ilmu kejiwaan. Mengutip dr diskusi bibu @fehanoum & Ust OM, ada 3 tipe kelompok ummat dalam memandang ilmu ttg kejiwaan ini
1. Extreme kanan. Yang menganggap ilmu kejiwaan ini ga ada kaitannya sama sekali dengan agama. Mereka menolak setiap solusi kejiwaan yg ditawarkan syariat. Mereka hanya mau mengambil solusi dr Barat tanpa peduli apakah solusi yg ditawarkan bertentangan dengan syariat atau tidak
2. Extreme kiri. Kelompok ini kelompok yang menolak mentah2 ilmu ttg kejiwaan, krn menurut mrk ilmu kejiwaan adalah ilmu yg diadaptasi dr dunia Barat. Mereka hanya menganggap setiap solusi yang menyentuh kejiwaan yg dijabarkan oleh Barat meskipun ada jurnal ilmiah/penelitian yg sudah dibuat dan dibuktikan, itu haram untuk digunakan sebagai alternatif, walaupun tidak bertentangan dengan syariat
3. Kelompok yang berada diantaranya. Ini kelompok yang masih sedikit sekali di ummat (setidaknya yg saya jg rasakan). Kelompok ini memahami pentingnya ilmu kejiwaan dan paham sedikit banyak bagaimana islam mengatur dengan sangat rapih ttg ilmu ini. Mereka mau mengambil solusi dari ilmu kejiwaan, selama solusi tersebut tidak bertentangan dengan syariat. Krn sebagian mereka meyakini, ilmu kejiwaan ini adalah juga bagian dari ilmu islam yg dicuri dari ummat ini.
Kelompok Ketiga (Kelompok yg berada dipertengahan) ini masih sangat sedikit sekali ada dalam ummat.
Padahal fenomena penyakit mental ini ga bisa diremehkan apalagi dianggap lalu, dan ga bisa melulu kita simpulkan kurangnya iman sbg satu-satunya penyebab dan jadikan rukyah sbg satu2nya solusi.
Jiwa manusia itu kompleks dan kadar keimanan seseorang itu berbeda-beda dan sependek diri ini belajar ga ada alat test untuk mengukur kadar keimanan seseorang.
Segala sesuatu butuh dan ada prosesnya. Kalau kita dgn background keluarga yg
paham syariat dan sejak kecil udah dikenalkan syariat, mungkin akan Iebih mudah menerima solusi jalur langit seperti "coba dibawa shalat deh, insyaAllah Iebih tenang" atau "dzikir terus yaa"
Ga sama sekali ada yg salah dgn solusi itu, tapi coba bayangkan bagaimana jika seseorang dgn kadar keimanannya rendah, yg sama sekali blm kenal syariat. Yang ga familiar dengan solusi jalur langit. Saat depresi berat misalnya, butuh solusi kejiwaan. Atau simplenya butuh validasi tentang perasaannya, butuh support sistem sesimple ditemenin untuk memproses emosinya tapi misal yg terjadi malah sebaliknya, tanpa kita mau memahami masalah yg dia punya, tiba2 kita tuduhkan ke dia "kurang iman itu" atau "jarang dzikir sm Allah sih makanya begitu"
Ya memang ada benarnya dia jauh dr Allah maka dia jd terganggu kejiwaannya (Qs Al Fath:4)
Tapi coba jawab pertanyaan ini;
Kenapa ada (bahkan ga sedikit) orang dgn tampilan luarnya terlihat sholeh/sholeha, terlihat baik ga berdosa, lembut tanpa cela. Tapi ternyata Allah buka aib dia yg ternyata diluar batas kenormalan manusia.
Misal: Si fulan terkenal sholeh, ahli ibadah tapi ternyata dia mengidap
penyakit kejiwaan, dia penyuka sesama jenis. (Aib: penyuka sesama jenis. Penyuka sesama jenis: penyakit kejiwaan)
Kenapa orang yg dikenal sholeh dan ahli ibadah bisa jg mempunyai gangguan atau penyakit kejiwaan?
Lalu bagaimana tudingan kurang iman, kurang ibadah kepada setiap mereka yang mengalami depresi, stress dan gangguan atau penyakit kejiwaan lainya?
Kalau ternyata, tidak menutup kemungkinan mereka yg ahli ibadah pun bisa mengalaminya. Dan banyak kasus nyata yg terjadi didalam ummat.
Pertama.
Karena ga semua kasus kejiwaan bisa di samaratakan sbg bagian dari gangguan jin, kurang ibadah dsbnya. Ada kasus-kasus yg berakar dari trauma, tekanan emosional, support system yang ga mendukung, lingkungan yang negatif dan lain sebagainya.
Sementara, ga setiap dari kita tumbuh dikeluarga yg menanamkan nilai agama, ga setiap dari kita mendapatkan kasih sayang dan dukungan cukup dari keluarga jg lingkungan. Banyak hal yang bisa memicu munculnya gangguan kejiwaan pada diri seseorang. Dan Islam pastinya menawarkan solusi komprehensif untuk setiap masalah kehidupan.
Krn ga semua kasus kejiwaan bisa di samaratakan, maka penangannya pun ga bisa juga disamaratakan. Pengidap LGBT contohnya, ga semuanya disebabkan krn ketempelan jin atau dicintai jin sesama jenis. Kalau kasusnya krn ketempelan jin, insyaAllah biidznillah bisa selesai dgn rukyah dan pastinya dgn meningkatkan keimanan kpd Allah melalui ibadah dan mengingat Allah. Nah kalau kasusnya krn trauma masa kecil? Pernah menjadi kasus korban pelecehan sesama jenis, tapi dibiarkan oleh keluarganya krn mungkin malu dsbnya, atau pernah ada kekecewaan yg mendalam dgn salah satu orangtua, yg menjadikan dia benci sosok laki2/perempuan. Dan banyak contoh kasus lainnya. Untuk kasus-kasus semacam ini ga bisa hanya menjadikan rukyah sebagai satu-satunya solusi, atau sekedar anjuran "banyakin shalat dan dzikir".
Ini trauma yg dalam. Butuh ada proses untuk penyembuhan lukanya seiring dia menjalani perjalanan spiritualnya untuk mendekatkan diri ke Rabbnya.
Special case untuk LGBT, Islam menjelaskan cukup spesifik dalam masalah ini.
Tapi untuk kasus gangguan/penyakit kejiwaan lainnya, kita harus lebih banyak lagi membuka diri dan menggali ilmu ttg ini. Supaya ga melulu memberikan solusi instan apalagi tudingan “kurang iman” semata. Hal in yang seringkali ditepis oleh kelompok
extreme kiri dan extreme kanan. Mereka menolak menjadikan keduanya solusi yang beriringan.
Kedua.
Karena dia tidak menghadirkan hatinya ketika dia melakukan rangkaian ibadahnya kpd Allah. Padahal salah satu syarat sahnya ibadah itu adalah dengan menghadirkan hati atau kalau dalam istilah Islam disebut dgn istighdarul qalbi. Kalau istilah modern sekarang mindfulness. Pasti udh sering denger kan?
Sering kita jumpai orang sholeh tapi emosinya meledak2, ahli ibadah di siang hari tapi di malam hari matanya ga bisa menahan dari yg haram, hafidz quran
tapi sering mencela orang, dsbnya. (naudzubillahimindzalik)
Kenapa? Karena ibadahnya tak diringi dgn kehadiran hatinya.
Sama contohnya seperti kasus tentang orang yg dikenal sbg ahli ibadah, sholeh, baik ga berdosa, lembut tanpa cela. Ternyata dibaliknya, dia penyuka sesama jenis. BIG Why. KENAPA ibadahnya ga menjadikan dia malu atas dosanya? Karena yg beribadah hanya raganya, tapi tidak dgn hatinya.
Bagaimana cara menghadirkan hati?
Nah inilah salah satu peran dr ilmu kejiwaan yg menjelaskan, meng-claimed sbg ilmu milik mereka dan melakukan penelitian tentangnya. Sudah lama menjadi hidden gems dalam Al Quran dan hadits. Hanya belum banyak yg mau menyadari ada dan pentingnya hal ini.
Sebelum lanjut pertanyaan BAGAIMANA
Saya coba ambil contoh kasus lg yg sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari ya, untuk bs kita ambil sudut pandang berbeda ttg pentingnya ilmu kejiwaan ini
Kasus Pertama
Seorang istri yg kelelahan mengurus anak dan rumahnya, menjalankan setiap kewajiban didalamnya berusaha sabar dan memahami fitrahnya.
Butuh teman keluh kesah, tapi dia gamau keluhan yg ada dibalik tembok rumahnya diketahui oleh orang lain selain suaminya. Dan dia paham suaminya adalah tempat
teraman dan ternyaman untuk dia bercerita. Dia putuskan untuk menceritakan keletihannya dirumah berharap bisa mendapatkan kalimat lembut penuh
dukungan dgn bonus pelukan. Tetiba, yg dikatakan suaminya adalah sederet kalimat
“kamu kurang ibadah itu makanya ngeluh mulu" atau "kamu kurang dzikir jd suudzon terus” DEG! Seketika bukan solusi yg didapat sang istri. Justru rasa bersalah yg bertumpuk yg membuat dia merasa menjadi perempuan penuh dosa yg tak paham arti syukur.
Sekali lagi, ga sama sekali menyalahkan solusi dari sisi syariat yg diberikan. Tapi, dalam kehidupan ada hal-hal yg memerlukan proses utk menyentuh hati dan jiwa, apalagi kalau berurusan dgn perasaan. Karena again, ga selalu yg larut dalam kesedihan itu identik dgn kurang dzikir atau jauh dari Allah.
Bukankah Nabi Yaqub ketika beliau merasa kehilangan Yusuf, putranya maka beliau larut dalam kesedihan mendalam hingga tangisan beliau membutakan mata beliau?
"Dan dia Yaqub berpaling dari mereka, seraya berkata "Aduhai dukacitaku terhadap Yusuf, dan kedua matanya menjadi putih karena sedih, dia diam menahan amarah kepada anak-anaknya." (Q.S Yusuf 84)
Inilah selimut hati yang penting untuk dimiliki oleh setiap keluarga ketika ada yang sedang larut dalam kesedihan, yaitu memberi ruang permakluman karena sejatinya mereka tak butuh vonis sebagai orang yang jauh dari Alloh, tapi ia membutuhkan hangatnya sapaan sebagai relaksasi jiwanya. Alangkah sedihnya mereka ketika justru sapaan yang mereka harapkan, justru vonis yang di sematkan, sehingga beban rasa hati semakin berlarut-larut karena dia merasa bahwa sekelilingnya tak sehati dengan apa yang dirasa. *tulisan dari feed Ust OM tentang VALIDASI RASA
Coba bayangkan dIm kasus seperti tadi, kalau vonis spt itu terjadi terus menerus ditujukan suaminya kepada istri. Tanpa mau mencoba berempati dan memvalidasi rasa sang istri. Kira2 apa yang akan terjadi?
Yes, sedih berkepanjangan yg bisa aja mengakibatkan depresi.
Sapaan menyamakan frekuensi untuk empati apa yang dirasa itu sangatlah penting, karena itulah cara merehatkan beban di dada sehingga energi yang terpancar adalah kebaikan, bukankah Nabi Yaqub ketika akhirnya mengerti bahwa Yusuf masih hidup dan beliau mencium baju Yusuf akhirnya kedua matanya kembali melihat? (Qs Yusuf 86)
Sapalah mereka yang sedih mendalam dengan ikut memaklumi apa yang dirasa, bisa jadi itulah yang meringankannya.
*diambil dari spostingan feed Ust OM tentang validasi Rasa
Sama seperti menghadirkan hati, validasi rasa juga bagian dr ilmu ttg memahami jiwa manusia
Kasus Kedua
Saat didzalimi terus menerus oleh beberapa teman dalam circle kita dgn omongan ga enak dibelakang sampai tersebar fitnah yg merusak kehormatan kita dan keluarga. Berharap dgn menceritakan ke salah seorang sahabat untuk bantu dicarikan solusi akan bisa Iebih meringankan beban kesedihan kita, tapi bkn empati dan ketenangan yg didapat justru tudingan "kamu suudzon aja kali" atau "udah, sabar. Maafin aja, emang orangnya gitu. Ga usah berlebihan deh nyikapinnya". Yet again, ga ada yg salah dgn anjuran untuk husnudzon, bersabar dan memaafkan. Dan memang sabar adalah sebaik-baik nasihat. Memaafkan adalah akhlaq yg mulia. Memaafkan itu salahsatu kunci penting untuk menyembuhkan luka batin kita. Tapi mengambil tindakan "tegas atas perbuatan dzalim orang tehadap diri kita bisa menjadi batasan untuk tetap menjaga kesehatan jiwa kita. Ini yang dinamakan personal boundaries. Mungkin banyak yg udh sering dengar kata ini.
Kalau saya ada dalam posisi orang tsb, yg di dzalimi dgn tersebarnya omongan ga enak apalagi fitnah. Saya maafkan itu pasti insyaAllah, not for them but for my own goodness. Walaupun mungkin akan membutuhkan waktu. Tapi mengambil tindakan tegas atas perbuatan mereka setelah kita tabayyun tentunya itu juga perlu. Dalam kasus in misalnya; Bibu akan menjaga jarak dan tidak lagi mau berada dalam circle mereka. Bukan hanya untuk memberikan batasan/boundaries for sake of our mental health tapi untuk memberikan perbaikan juga ke perbuatan dzalim mereka.
Hal ini bukan termasuk memutus tali silaukhuwah kita dgn sodara muslim. Tapi memberi ruang untuk memperbaiki dan tidak lagi saling menyakiti.
"Ishlah (perbaikan) itu wajib, sedangkan memaafkan itu sunnah. Jika dengan memaafkan malah membuat tidak terjadi perbaikan, maka ini berarti kita mendahulukan yg sunnah daripada yang wajib. Yang seperti ini tidak ada dalam syariat.” Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
Jadi boleh kok kita meminta waktu dan membutuhkan jarak utk menyembuhkan luka atas perbuatan dzalim seseorang. Krn justru hal seperti ini lebih bisa membantu kita untuk tetap sehat jiwanya. Dibanding memaksakan diri dalm batasan yg kita sendiri sbnrnya udah ga mampu menerima kedzaliman seseorang, dgn tetap berbuat manis dan baik dihadapan mereka, tapi hati mash menyimpan luka. Yang bisa meledak sewaktu2, entah itu akan jadi mudharat untuk diri kita sendiri atau orang tersayang disekeliling kita.
Sampai disini paham yaa insyaAllah. Betapa PENTING dan URGENSinya ilmu kejiwaan untuk kita terima dan pahami.
Bukan hanya untuk bisa lebih memahami kebutuhan jiwa kita utk tetap jadi muslim yg sehat mental. Tapi juga, untuk memahami dan tau bagaimana harus bersikap kalau dihadapi dgn mereka yg bukan hanya sekedar butuh solusi akhirat tp jg butuh disentuh hati dari jiwanya.
Fakta tentang kaitan ilmu kejiwaan dan Islam dan urgensi dunia menghadapi masalah kejiwaan saat ini.
Ilmu psikologi selama ini dipandang oleh kebanyakan ummat sebagai ilmu yang jauh kaitannya dengan Islam dan masih tabu untuk diambil referensinya. Sedikit yang paham bahwa di tahun 1258 Masehi, ketika Mongolia menjatuhkan Baghdad, selain membunuh ratusan ribu ummat muslim saat itu, tentara Mongolia juga melenyapkan banyak kitab-kitab yang telah dikarang oleh ahli ilmu pengetahuan Islam dengan menghanyutkannya diatas sungai Tigris. Sampai menjadikan sungai itu berubah warna dari warna merah darah kaum muslimin yg dibunuh hingga berubah menjadi hitam warna tinta kitab yg dibuang. Orang-orang Tatar juga telah membawa kitab-kitab bernilai ini ke Ibu Kota Mongol untuk dimanfaatkan, padahal mereka waktu itu masih sangat terbelakang dalam hal peradaban. Dan di tahun 1924 terjadi pencurian besar besaran pada ilmu Islam dan banyak buku-buju yg diambil dan dilarikan keluar dr wilayah kaum muslimin. Ilmu tentang kejiwaan ini adalah salah satu ilmu yang mereka curi dari kaum muslimin sejak lama.
Sebagai muslim kita sangat paham bahwa setiap permasalahan kehidupan seseorang ada pada bagaimana hubungan dirinya dengan Rabbnya. Tapi seperti juga kesehatan fisik, Islam mengatur pula kesehatan jiwa dengan sangat rinci. Memisahkan antara kejiwaan dan Islam hanyalah menunjukkkan adanya mata rantai ilmu yang terputus, karena mustahil apabila urusan buang air kecil saja diberikan porsi perhatian oleh Islam, apalagi untuk masalah kejiwaan dan psikis. Saatnya mengkaitkan kembali antara kejiwaan dalam referensi terbaik islam dari pakar kejiwaan para ulama terdahulu dengan data science yang saat ini mulai banyak terungkap.
Kalo dari kata "psikologi" pasti yg terbesit langsung; ilmu yg identik dgn pemikiran liberal dan anti tuhan. Krn nama-nama tokoh psikologi dunia yang familiar dan sering kita dengar, nama sekelas "Sigmund Freud" yg anti tuhan dan teorinva banyak bertentangan dan keimanan kita sbg seorang muslim. Sigmund Freud menganggap kalau agama tidak memiliki keterkaitan dengan ilmu dan membatasi ruang gerak ilmu. Doktrin dan mindset inilah cikal bakal dari kelompok Extreme Kiri dan Extreme Kanan. Padahal ilmu psikologi sebenarnya sudah ada sejak zaman arab klasik, jauh sblm ilmu ini berkembang pesat di Eropa dan Amerika sejumlah sejarawan umumnya menyebutkan abad ke 9 - 11 sbg era keemasan Islam. Hal in ditandai dgn keberadaan Baitul Hikmah sbg pusat penelitian, penerjemahan dan sekaligus sbg perpustakaan terbesar yg pernah dimiliki islam. Dibawah kepemimpinan Harun al Rasyid dan al Ma'mun, Baghdad menjadi pusat pendidikan terbaik didunia yg menarik banyak sarjana2 Eropa berdatangan dan belajar ilmu pengetahuan.
Ahmad Ibnu Sahl al Balkhi
(lahir pada 850 | wafat pada 934)
Seorang intelektual muslim yg memperkenalkan Psikologi Islam dan Neuroscience. Beliau adalah orang yang pertama kali berhasil mengkaji bermacam macam penyakit yang secara langsung mempunyai keterkaitan antara fisik dan jiwa terdapat manuskrip kitab yg ditulis beliau yg disimpan rapih di Ayasofya Library, Istanbul. Berjudul “Keseimbangan Raga dan Jiwa"
“Jika badan sakit, jiwa pun akan banyak kehilangan. Kemampuan kognitifnya dan tidak bisa merasakan kenikmatan hidup"
Sebaliknya dia juga menjelaskan “Jika jiwa sakit, badan pun kehilangan keceriaan hidup dan bahkan badannya pun bisa jatuh sakit"
(al Balkhi)
Pemikirannya tentang kesehatan mental, digalinya dari al-Qur'an dan Sunnah. Di antaranya adalah "Dalam hati mereka ada penvakit (QS. 2:10)
Juga perkataan Rasulullah sholallahu ‘alayhiwasallam yg diriwavatkan oleh Imam Bukhari “Ketahuilah! Sesungguhnya dalam badan manusia itu ada segumpal daging, apabila, ia baik maka seluruh badannya akan baik. Tetapi jika ia rusak, maka rusaklah seluruh badannya. Ketahuilah bahwa ia (segumpal daging) itu adalah kalbu"
Ibnu Sina
(lahir pada 981 | wafat pada 1037)
Ilmuan asal Bukhara ini dianggap sebagai
tokoh yg memiliki pengaruh paling besar dalam selarah ilmu psikologi. Dimana teorinya banyak "kesamaan" dgn
teori sekuler yg notabene sangat jauh zamannya dibanding Ibnu Sina. Salah satunya teori yg diungkapkan oleh Sigmund Freud dalam psikoanalisinya. Hanya bedanya dan nilai plus dari teori Ibnu Sina, beliau menyandarkan ilmunya pada al Quran dan Hadits.
Ibnu Kaldun
(lahir pada 1332 | wafat pada 1406)
Beliau juga punya peranan penting dalam memperkaya khazanah pengetahuan tentang psikologi Islam. Dalam teorinya, la menyebutkan bahwa faktor lingkungan dan individu yg berada disekitar manusia ikut membentuk kepribadian seseorang. Beliau jg percaya kalau perilaku manusia bisa dibentuk melalui pengalaman dan pendidikan. Gagasan ini member pengaruh yg besar terhadap psikologi modern yg muncul pada masa sesudahnya.
Tokoh psikologi lainnya
Ibnu al Haitam yg dikenal sbg penemu Psikologi Eksperimental dan Psikofisik. Dan Al Khindi sebagai perintis Psikologi Eksperimental. Kalau di era modern sekarang dikenalnya sebagai Psikologi Behavioristik, tokohnya BF Skinner dan Watson.
NOTE:
Banyak journal2 ilmiah yg menuliskan ttg kontribusi para ilmuwan Islam ini di bidang
psikologi. Silakan googling yah utk info details ilmu apa aja dr mereka yg banyak mempengaruhi psikologi modern sat ini.
Tidak dinafikan, Barat lah yg mengukuhkan disiplin ilmu ini. Meskipun begitu peradaban modern yg didominasi oleh psikologi Barat telah gagal dIm menyejahterakan aspek moral - spiritual manusia.
Erich Fromm seorang psikolog psikoanalisis asal Jerman dalam bukunya, membahas manusia dalam persepsi Karl Max yg menyatakan bahwa manusia modern menghadapi suatu ironi. Dimana mereka berhasil menggapai hal-hal material. Tapi kehidupan mereka sangat rentan dgn stress, depresi dan berbagai penyakit kejiwaan bahkan tdk sedikit yg memutuskan utk bunuh diri.
Jadi Yuk! Jangan menolak mentah-mentah ilmu ini. Saatnya membuka diri dan mempelajari kembali ilmu kejiwaan dalam referensi terbaik Islam dari pakar kejiwaan para Ulama terdahulu dengan data science yg saat ini mulai banyak yg terungkap.
Emotionally Immature Parents
Gimana rasanya dibesarkan oleh orang tua yang tidak matang secara emosional?
Apa yang terjadi pada diri kita di usia dewasa?
Apa itu emotionally immature parents (EIP)?
Sederhananya, EIP adalah ortu yang mengalami emotional loneliness selama masa perkembangan kanak-kanak. Kondisi ini apabila gak disadari dan diatasi maka berpotensi menjadi tidak matang secara emosional di usia dewasa, saat jadi ortu.
Seumur hidup dari lahir hingga akhir hayat, setiap manusia membutuhkan emotional intimacy. Awal mulanya dibangun dari lingkup terkecil dan disediakan oleh orang tua & keluarga. Sayangnya, gak semua ortu sadar & mau ngerti bahwa ngebangun emotional intimacy itu penting banget.
Yang kayak gimana yg disebut emotional intimacy?
Ada banyak bentuknya, dari yg paling mendasar kayak ortu mau mendengarkan, memahami, menerima, terbuka, terhubung, dekat, percaya, dsb sehingga anak merasa aman & nyaman bersama ortu. Ortu mengenali anaknya bukan semata2 menilai. Kurangnya emotional intimacy berpotensi menumbuhkan emotional loneliness. Kalau ortu berusaha utk mampu genuine membangun relasi dengan emotional intimacy, maka gak perlu fafifuwasweswos juga anak akan bisa merasa nyaman & aman terbuka dan respect pada orang tua. Emotional loneliness yg gak disadari & diatasi inilah yg pada akhirnya dapat diteruskan ke anak dalam pola asuh, ketika jadi ortu.
Maka, kuharap dengan tulisan ini... Apabila kita merasa emotional intimacy-nya gak dipenuhi ortu, semoga kita gak meneruskannya ke anak kita kelak.
Lalu, gimana sih rasanya jadi anak yg dibesarkan oleh emotionally immature parents (EIP)?
Disclaimer: tulisan ini gak dibuat utk menyalahkan ortu & pengalaman lampau. Jadikan ini sebagai bahan refleksi agar kedepannya kita mampu jadi orang dewasa yg matang secara emosional ya
1. Komunikasinya susaaah
EIP cenderung komunikasi satu arah, entah hanya dia yg ngomong (merintah, menuntut, dll) atau diem-diem bae alias jarang merespon dengan baik. Jadi kalau mau diskusi agak susah karena ortu seringkali maksa pendapatnya atau gak jelas arahannya apa. EIP juga biasanya ingin jadi pusat perhatian dalam pembicaraan. Memaksa agar orang lain mendengarkannya. Jadi kalau menurutnya gak ada yang mendengarkannya, alih-alih introspeksi dan asertif, malah ngambek. Tapi sendirinya gak mau dengerin orang lain
2. Sikap & perilaku EIP bikan anak merasa kesal atau marah
Seringkali EIP menunjukkan sikap/perilaku yg nyebelin tapi gak terima kalau ada yg menganggapnya demikian. Ada beberapa kemungkinan respon anak dalam kemarahan di kondisi ini. Dua respon yang paling sering adalah:
* Anak memendam amarahnya dan/atau dialihkan ke hal lain atau orang lain karena takut kemarahannya malah bikin makin situasi kacau
* Anak bersikap pasif-agresif, jadi tampak kalem padahal hatinya dongkol abeszzz
3. EIP gak mau sebel sendirian
Pada banyak situasi, ketika EIP lagi sebel, dia juga mau semua orang di sekitarnya ikutan sebel sama apa yg lagi dia sebelin. Seringkali anak dari EIP ini jadi waswas dan takut salah dalam bersikap. It's like walking on eggshells
Bagi EIP, kemarahannya atau perasaan sebelnya hanya bisa diatasi oleh orang lain. Marahnya hanya akan reda apabila orang lain melakukan sesuatu yg menenangkan atau menyenangkan. Dan biasanya, anak-anaknya lah yg dianggap bertanggung jawab untuk itu
4. Gak peka dan sulit berempati
Ingin dimengerti tapi gak mau mengerti. EIP gak terbiasa utk ambil perspektif lain. Apa yang menurutnya benar adalah absolut. Anak jadi kurang punya kesempatan utk merasa dipahami dan saat dewasa, anak sering bingung sama emosinya sendiri. Kalau anak menegur sikapnya dan menyampaikan apa yg dirasakan, EIP cenderung defensif.
"Ya, Bapak/Ibu kan emang begini orangnya."
"Pokoknya Bapak/Ibu dah ngasih tau, terserah kamu aja lah." *ngambek*
5. Susah dibujuk kalau dah ngambek
Biasanya EIP menunjukkan sikap 'guessing game' alias ayo tebak isi hati & pikirankuuuu tanpa harus kukasih tauuu~ Seolah menyiratkan: "Kamu kan anakku, gak usah dikasih tau juga harusnya kamu tau dong!"
Kondisi ini kerap membuat anak jadi mudah cemas dan merasa bersalah. Beberapa orang dewasa ragu-ragu & gak pede tiap ngambil keputusan karena sejak kecil terbiasa kena 'guessing game' atau 'silent treatment' dari ortu.
6. Jarang mengakui kesalahan dan (apalagi) minta maaf
Bahkan ketika EIP sadar dia melakukan kesalahan, alih-alih ngaku, mereka cenderung menyalahkan orang lain dan nyari 'kambing hitam'.
"Ya abisnya kamu sih begini, kalau gak kan Bapak/Ibu gak begitu."
Minta maaf dari EIP mungkin jadi kalimat paling mahal & paling asing yg didengar anak. Bagi sebagian besar EIP, minta maaf itu gak perlu *formally* bilang "Bapak/Ibu minta maaf ya, Nak."
Minta maaf itu dengan, yaaa semua kembali kayak biasaaa laaahh~
Mom in Western countries: "I'm sorry it makes you feel sad."
Ibu-ibu di sebuah negara: "Udah makan belom? Noh, mangga udah dikupasin."
7. Pengennya anak-anak auto nurut
EIP punya unrealistic expectation, yaitu anak akan meniru apa yg dia lakukan. Tapi dgn sikap yg (menurutnya) sempurna baiknya. Kalau gak gitu, mereka anggap anaknya gak nurut. Ini berpotensi bikin anak saat dewasa merasa 'not good enough' :(
8. Self-esteem EIP ada pada kepatuhan anak
Mereka cenderung menilai anak secara kaku "nurut atau engga", there's no in between. Makanya EIP juga sering disebut punya fragile self-esteem karena apa yg membuatnya feel okay itu dari penilaiannya terhadap orang lain.
9. Peran tiap orang di keluarga tuh *keramat* bagi EIP
Kebutuhan utama mereka adl dihormati & dituruti, jadi di mata mereka keluarga itu perlu ada semacam 'struktur'. Gak ada kesetaraan. Jadi, kalau ada yg dianggapnya gak sesuai peran & gak submisif bisa bikin mereka jengkel.
"Apaaah? Anak gak sesuai sama ekspektasiku??
“Ndak mau tau alasannya apa, pasti kamu yg salah jadi kamu yg harus berubah yah anakkuuuu~”
“Dah, ndak usah macem-macem, ikutin aja."
10. Membangun relasi bukan didasari intimasi tapi dependensi
EIP lebih seneng sama anak yg bisa dependen ke mereka. Semakin anak dependen dan tampak butuh mereka, semakin mereka merasa sbg ortu yg *baik*. Karena anak yg dependen biasanya nurut.
Makanya EIP kurang suka anak yg mandiri & bisa speak-up. Bagi mereka itu ancaman.
Nah, inilah yg seringkali melandasi adanya 'anak kesayangan' untuk mereka, biasanya yg bisa nurut & ngikut.
11. EIP memaknai waktu secara gak konsisten
Waktu paling 'tepat' bagi EIP adl sekarang. Bukan mindful ya, artinya EIP memandang masa lalu dan masa depan terjadinya SEKARANG. Makanya sering ngungkit masalah di masa lalu atau nakut-nakutin yg terjadi di masa depan
Sering juga nih, EIP punya pola begini:
Janjiin sesuatu -- gak ditepati -- minta maaf (tapi gak sungguh-sungguh, biar cepet adem aja) -- tersinggung & marah kalau orang lain membahas kesalahannya -- janjiin lagi -- dan seterusnya
Nah begitulah kurang lebih apa yg dirasakan anak yg dibesarkan oleh emotionally immature parents.
Gak ada ortu yg sempurna tapi jauh lebih baik kalau ortu mau terus belajar memahami & mencoba mengakui kesalahan. Dekatlah, kalaupun gak secara fisik tapi coba secara emosional
Gak mudah hidup dalam relasi yg buruk dgn ortu dan tetap bertahan. Karena ortu apalagi orang dewasa atau lansia yg hidupnya dah lebih dari setengah abad, kecil kemungkinan mereka mau berubah
Ga ada pilihan lain selain bersabar zah
Alhamdulillah tsumma alhamdulillah. Allah hadirkan nikmat disaat yg tepat. Saat ini sdg senang sekali baca buku setelah sebelumnya berjuang untuk bisa betah untuk baca. Terus upgrade agar dapet metode yg pas sm diri ini. Terus upgrade dan evaluasi jg agar tetap dapat kenikmatan ini. Allhamdulillah dapet, dan saat ini msh terus mengupayakan meskipun metodenya cukup membuat kegiatan membaca ini menjadi lama durasinya. Underlined the text then write it into a sticky notes. Jadi, bukunya banyak sticky notesnya krn poin yg didapat dr hasil baca langsung ditulis sbg langkah ‘highlight’ the point atau mengikat ilmu itu sendiri dgn mencatat ulang. YaAllah ini sebuah nikmat yg baru aku temui setelah 24 tahun umurku, setelah menempuh sekolah bertahun tahun baru aku dapati metode enak ku dalam belajar. Dalam hati terlintas “andai dulu udah begini. Eh astaghfirullahal’adzim.. Allah ga suka kalo kita berandai andai ttg yg sudah dan akan terjadi” sebab suatu ilmu tidak datang kpd kita selain atas izin Allah. MasyaAllah🥺
Husnudzon = Allah minded
yang paling baik mendidik diri sendiri ya diri sendiri
Memanglah lawan dr org yg punya trust issue utk cerita adalah kita duluan yg mulai utk kepo buat nanya. Jadi... latihlah diri utk berempati
Orang yang beres dengan dirinya akan jauh lebih mudah untuk mengenali orang lain
Setiap kejadian yg terjadi di dalam hidup kita sebetulnya netral. Lalu apa yg ngebuat kejadian tsb terasa berat dihati? Mungkin beban emosi atau, dosa kita yg blm sempat kita taubati