Kemarin aku sempat berada dalam sebuah percakapan yang membuatku berpikir. Dulu aku selalu mengira setiap luka membutuhkan penjelasan. Bahwa setiap perpisahan harus ditutup dengan kata-kata, setiap kesalahan harus diakhiri dengan permintaan maaf, dan setiap rasa sakit pantas mendapat kejelasan.
Ternyata hidup tidak bekerja seadil itu.
Tidak semua orang sadar bahwa mereka pernah melukai. Tidak semua yang sadar memilih untuk meminta maaf. Ada yang pergi tanpa pernah tahu betapa dalam luka yang ditinggalkannya, ada yang tahu tetapi memilih diam, dan ada pula yang telah lama melanjutkan hidupnya, sementara kita masih sibuk menunggu jawaban yang mungkin tidak akan pernah datang.
Lalu, untuk siapa sebenarnya kita terus menunggu?
Barangkali, melanjutkan hidup bukan berarti berhasil menghapus luka. Kita hanya belajar membawanya dengan cara yang berbeda. Pada awalnya ia terasa begitu berat, seolah setiap langkah selalu mengingatkan bahwa ada bagian dari diri kita yang pernah patah. Namun waktu diam-diam mengajarkan bahwa sembuh bukan tentang menemukan semua jawaban, melainkan tentang berhenti menggantungkan kesembuhan pada orang lain.
Sedikit demi sedikit kita berhenti mencari penjelasan. Sedikit demi sedikit kita berhenti berharap seseorang datang membawa penyesalan. Bukan karena luka itu telah hilang, tetapi karena kita mulai menyadari bahwa satu-satunya hal yang benar-benar bisa kita kendalikan adalah diri sendiri.
Memaafkan ternyata bukan berarti membenarkan apa yang telah terjadi. Memaafkan adalah keberanian untuk mengambil kembali ketenangan yang selama ini tanpa sadar kita titipkan kepada orang lain. Ia bukan peristiwa yang terjadi sekali, melainkan latihan yang terus diulang. Ada hari ketika kita merasa telah benar-benar menerima, ada hari lain ketika kenangan itu kembali mengetuk. Dan itu tidak apa-apa, sebab sembuh memang tidak pernah berjalan lurus.
Hingga pada suatu hari, kita menyadari bahwa kenangan itu masih ada, tetapi tidak lagi menguasai. Lukanya belum sepenuhnya hilang, hanya saja ia telah berubah menjadi bagian dari cerita, bukan lagi pengendali hidup. Mungkin memang seperti itulah damai datang. Bukan ketika semua telah dijelaskan atau ketika permintaan maaf akhirnya tiba, melainkan ketika kita mampu berkata kepada diri sendiri, "Aku tidak lagi membutuhkan semua itu untuk tetap melanjutkan hidup dan aku ingin dilupakan oleh mereka."
Karena pada akhirnya, yang menyelamatkan kita bukanlah penjelasan yang datang terlambat, melainkan keberanian untuk terus hidup, terus mencintai, dan percaya bahwa hati yang pernah patah pun mampu pulih dengan caranya sendiri.