Do'a yang Tak Meminta Jawaban.
Kacamata round metal frame membuatnya tampak klasik,
minimalis,
seolah ia datang dari zaman di mana cinta masih dibicarakan pelan-pelan, melalui percakapan dan buku-buku tua.
Dari dialah aku jatuh cinta
pada halaman-halaman sunyi. Pada buku-buku yang tidak menawarkan pelarian, melainkan pertanyaan.
Ia mengajarkanku bahwa membaca adalah cara lain mencintai dunia tanpa harus memilikinya. Bahwa pengetahuan bisa menjadi rumah ketika manusia memilih pergi.
Aku mencintainya, Ya Allah, bukan dengan keramaian, melainkan dengan kesungguhanyang kupikir Kau sukai. Aku membawanya dalam doa-doa yang lirih,dalam sujud panjang yang hanya Kau dengar napasnya. Aku menyebutnya di waktu-waktu, di tempat-tempaf yang dipercaya manusia sebagai saat langit paling dekat dengan bumi.
Namun tetap saja, Engkau memilih mengambilnya.
Dan di sinilah aku berdiri sekarang,
seorang hamba
yang mencoba memahami kehendak-Mu
dengan akal yang terbatas
dan hati yang belum selesai belajar ikhlas.
Aku telah berjalan jauh.
Mengembara,
berpindah tempat,
berpindah peran,
mencoba hidup
dengan menolong luka orang lain
sementara lukaku sendiri
kubiarkan menjadi doa yang tak terucap.
Sepi datang tanpa permisi. Kenangan memukul bukan sebagai teriakan, melainkan sebagai ingatan kecil yang muncul di sela-sela kesibukan. Dan penyesalan, Ya Allah, ia tidak pernah menuduh, hanya duduk di sampingku dan menatap ke arah yang sama tanpa berkata apa-apa.
Aku tidak lagi bertanya
mengapa Engkau mengambil.
Aku hanya bertanya:
apa yang hendak Kau ajarkan
melalui kehilangan yang sedalam ini?
Jika cinta ini Kau jadikan jalan,
tolong tunjukkan ke mana ia bermuara.
Jika rasa ini Kau biarkan tinggal,
tolong jangan biarkan ia
menggerogoti imanku
perlahan-lahan.
Aku akan tetap berjalan, Ya Allah.
Sebagai hamba
yang mencoba percaya
meski tidak mengerti sepenuhnya.
Aku akan terus membaca hidup
seperti aku membaca buku-buku
yang dulu membuatku jatuh cinta:
pelan,
berulang,
dan dengan harapan
bahwa di halaman berikutnya
ada terang
meski kecil.
Dan jika pada akhirnya
aku harus mencintai
tanpa memiliki,
maka ajarilah aku
cara mencintai yang tidak 'menyakiti-Mu',
cara mengingat
tanpa menyimpan dendam pada takdir-Mu.
Sebab aku tidak ingin sembuh
dengan melupakan,
aku hanya ingin tenang
dengan memahami.














