Rabu lalu, tanggal 12 April 2017, saya dan teman-teman saya mengunjungi pegunungan karst terbesar kedua di dunia yaitu Rammang-Rammang terletak di Desa Salenrang, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Untuk mencapainya, sekitar 2 jam dari pusat kota Makassar.
Hari sebelum kami berangkat, ada berbagai kendala yang karus kami hadapi, terutama transportasi. Rombongan kami sebanyak 8 orang. Dan kami janjian kumpul di rumah Cinta jam setengah 8, tapi ya...tentunya telat, jadi kami berangkat jam 10 lewat. Dan syukur, kami bisa berangkat dengan sebuah bus mini dari TVRI berkat teman kami, Cinta. Makasih cinta...<3
Sekitar 2 jam kami di perjalanan, kami sebenarnya lewat tol, dan akhirnya kami sampai di tujuan yaitu Rammang-Rammang.
Kalau saya dan rombongan berjumlah 8 orang, jadi harus memesan perahu berukuran sedang, harganya 350.000 dan dibagi 8 jadi Rp 35.000 per orang. Setelah itu, daengnya membawa kami menyusuri Sungai Pute. Sekitar 20 menit perjalanan untuk menuju Kampung Berua.
Pemandangan yang disuguhkan sangat indah sekali. Sungai Pute yang kami lewati dikelilingi oleh pemandangan karst/kapur yang menjadi khas dari wisata Rammang-Rammang ini sendiri.
Daeng yang membawa kami pun meminggirkan perahunya di Dermaga Kampung Berua. Tiket masuk kampung berua seharga Rp 3000. Dengan harga yang sangat murah ini, kita bisa menikmati keindahan alam di Kampung Berua. Kalau saya sarankan, teman-teman lebih baik menggunakan sepatu kets/sepatu gunung, karena disana kalian akan sedikit mendaki dan pijakannya itu bukan tanah yang rata melainkan batu-batu kapur yang tajam. Dan saya kala itu hanya menggunakan slip-on dan rasanya batu-batu yang saya injak seperti menusuk kaki alhasil sepulang dari Rammang-Rammang ada robekan di sepatu saya.
Setelah berfoto-foto, ada seorang bapak setempat memanggil kami dari bale-bale tempat berteduh dan memberitahukan kami kalau ada spot untuk foto-foto dibawah yang bagus. Jadi kami menuruti perkataan bapak itu, trek untuk turun ke bawah lumayan curam, jadi diharapkan kehati-hatiannya.
Terik matahari kala itu tidak menyurutkan semangat kami untuk mengeksplor keindahan Rammang-Rammang namun kenyataannya banyak dari kami mengeluh panas mati hari termasuk saya juga sih hehe.
Setelah kampung Berua, kami kembali naik ke perahu dan singgah dulu untuk mengistirahatkan diri sejenak di Kafe Rammang-Rammang. Kafenya dibuat konsep terapung, ada juga penginapan disana jadi pengunjung juga bisa menginap di Rammang-Rammang. Dan tempatnya sangat instagramable sekali, jadi pas kami sampai sudah banyak orang yang mengabadikan foto termasuk kami juga. The place was sooo beautiful because it feels so nature and peaceful, so far away from the city crowd. Selagi makan, kita bisa menikmati keindahan sungai Pute dan Pegunungan kapur disitu.
Next, spot yang akan dikunjungi yaitu Taman Batu. Kami tidak mengunjungi Telaga Bidadari karena satu dan lain hal. Tapi, ada tapinya, mengunjungi Taman Batu harus bayar 20 ribu per orang maksudnya per rombongan wkwk. Lumayan keren juga pemandangan batu-batuannya. Jam menunjukkan jam tiga jadi kami harus kembali.
Karena kami semua kelaparan walaupun tadi sempat ke Kafe tapi kami takut kalau makan disitu dan kekenyangan pulang-pulang ada yang muntah di perjalanan mengingat perjalanan ke Makassar lumayan jauh, jadi kami memutuskan untuk makan di kota saja, dan...teman saya, Angela ngidam makan coto hahaha jadi tempat makan yang dipilih itu Pallubasa Serigala (Fyi: Pallubasa dan Coto itu beda guys).
Dan hari itu kami menututup perjalanan di Pallubasa Serigala. Recommended buat kalian yang jalan-jalan ke Makassar, karena tempat ini juga salah satu destinasi kuliner favorit para wisatawan.
Overall, trip ini cukup melelahkan bagi saya dan yang lain juga karena harus jalan-jalan di bawah terik matahari, mendaki, dsb. Kami juga telat datangnya, waktu yang paling tepat untuk kesana sebenarnya pagi dengan sunset, supaya tidak terlalu panas. But,trip kami sangat worth it, dan rasanya ingin kembali mengunjungi Rammang-Rammang. Ciao :)
Hilery, Dhebytar, Feby, Salsa, Tania, Dissa, Cinta dan Kak Ica <3