“Di dunia Tumblr, orang-orang memahami bahwa sebuah kehilangan bisa ditemukan kembali dalam sela-sela kalimat yang ditulis.”
—

tannertan36
Not today Justin
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
DEAR READER
RMH

@theartofmadeline
tumblr dot com
he wasn't even looking at me and he found me
Peter Solarz
NASA
No title available

Love Begins
macklin celebrini has autism

Product Placement
styofa doing anything
AnasAbdin

Andulka
Lint Roller? I Barely Know Her
Xuebing Du
Claire Keane
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Switzerland
seen from United States

seen from South Korea
seen from United States

seen from Benin
seen from Australia

seen from Canada

seen from Finland

seen from Malaysia
seen from United States
seen from Malaysia
@icecold1805
“Di dunia Tumblr, orang-orang memahami bahwa sebuah kehilangan bisa ditemukan kembali dalam sela-sela kalimat yang ditulis.”
—
Mencintai Perempuan yang Gemar Menulis
Mencintai perempuan yang gemar menulis Kau akan tahu Kau harus bersikap lebih manis Karena kata-kata baginya adalah candu Serupa rindu yang mampu ia genggam berlama-lamanya waktu.
Mencintai perempuan yang gemar menulis Kau seharusnya bersyukur Karena seburuk apapun sikapmu Akan tetap ia abadikan namamu Dalam setiap goresan pikirannya Ya, kau akan abadi. Baginya kau abadi.
Mencintai perempuan yang gemar menulis Kau harus (setidaknya) rajin membaca Karena seringkali, diamnya adalah alat Untuk ia tuangkan dalam tulisan khidmat Dari sana kau tahu Bahwa sesungguhnya ia gemar berkata Hanya saja, bukan lewat bibir indahnya.
Mencintai perempuan yang gemar menulis Kau harus berhati-hati Karena bila kau membuatnya sakit hati Kau akan terkejut Betapa tulisannya lebih dari sekedar mengiris nurani Ia bisa membuatmu sekejap ‘mati’
Mencintai perempuan yang gemar menulis Kau harus menghargai setiap tetes tintanya Karena selain buah pikir, itu juga adalah separuh hidupnya
: seperti juga kau, yang dicintainya.
Bukittinggi, 27 Maret 2015
- Tia Setiawati
Saya hanya butuh ditemani dengan menyita sebagian waktumu. Lalu kita duduk berdua diteras rumah diiringi nyanyian mesin motor yang lalu-lalang. Jika perlu, 2 eskrim untuk berdua. Sesederhana itu, apakah kau keberatan?
Halo tuan,
Apa kabar?
Kau terlihat baik-baik saja atau sedang berusaha baik-baik saja?
Ketawamu kini meledak, akun instagrammu kini aktif, kehadiranmu di sana tidak terlewatkan sekalipun. Ini berarti kau kembali ke orbitmu bukan? Bahwasanya kau skrg baik-baik saja, tanpaku.
Bisa berbagi rasa? Sedikit saja. Agar aku mampu sepertimu. Menjadi yang terlihat kuat ketika nyatanya kita retak sedemikian hebat. Sebab, beberapa menit setelah telfon dimatikan, saya masih berusaha menguatkan hatiku hingga kini; 11 April 2018.
Kau tau sesuatu? Kau berhasil tuan. Membentukku menjadi si-pencemburu-terhebat di jagat raya. Saya mencemburui tawamu bersama yang lain, bersama teman dekatku sekalipun. Saya mencemburui oleh-oleh yang tertuju kepada teman-mu dan -ku bukan kepada ibuku. Saya mencemburui kedatangan pertama yang kau urus adalah rumah keduamu, padahal duniaku sedang hancurnya atas namamu. Singkatnya, saya membutuhkan kehadiranmu. Saya mencemburui ke-ada-anmu hingga larut malam untuk mengawal padahal ke-ada-an untukku diteras rumah dengan panggilan khasmu semakin kesini semakin melapuk. Saya mencemburui dm instagrammu, yang kau cari keberadaannya dengan kata "dimana?" sedangkan sudah berbulan-bulan lamanya kau kini tak pernah lagi bertanya padaku. Sadarkah kau tentang ini? Ohiya maaf, akunmu sebenarnya masih log in sedari dulu. Cuma kau tau kan, saya ini juga pembohong terbesar tuan.
Sedikit lagi, saya ingin berbagi ingin. Saya ingin pergi jauh, ke pelosok diujung bumi. Saya ingin menjadi yang lain, apapun; jadi pesawat saja mungkin? Agar aku bisa pergi ke seberang dunia. Yang jelas, bukan menjadi diriku saat ini. Saya membencinya. Saya ingin memutar waktu, entah untuk mengulang, memperbaiki atau bahkan menghindarimu. Saya menginginkan semuanya yang mampu menjauhkanku darimu. Tapi bagaimana bisa kulakukan, jika isi kepalaku hanya berputar masih tentangmu?
Tuan, ini yang terakhir. Sesulit inikah mencintaimu?
“Seandainya waktu kita tepat. Seandainya aku siap. Seandainya kau tidak pergi. Seandainya kita tidak menunggu. Seandainya kau datang lagi..Seandainya;”
—
“Cinta memang diciptakan untuk menguatkan. Namun lantas mengapa kau yang dulunya kuat sendiri sekarang seperti mati jika ditinggal pergi? Ingatlah, dulu kau juga pernah kuat. Dan sendiri.”
— (via mbeeer)
Kepada, diriku sendiri.
11 Maret 2018, kau kembali menatap cermin dan ini untuk ke-seribu-kali-nya kau menangisi luka yang kau buat sendiri. Untuk kesekian kalinya, kau membaca matamu sendiri dan membuat pelupuknya berair. Kau melihat refleksimu sendiri dan menangisi dirimu yang tidak mampu menyembuhkan lukamu sendiri. Kamu ini bodoh.
Kau bilang desember selalu melekat dengan langit abu-abu. Desember sudah berlalu 2 bulan lamanya sementara kepergian masih begitu hangat memelukmu; dengan sangat. Desember akan tetap menjadi desember yang mendung, maka jangan membawa bulan yang lainnya kelabu. Kau terlalu jahat dengan dirimu sendiri, itulah mengapa kau masih bisa saja dilukai oleh siapapun.
10 bulan yang lalu kau berjanji membangun benteng yang megah. Memutuskan untuk tidak membiarkan siapapun menerobos. Lalu tiba pada kau hanya diketuk, kau merobohkannya dengan cuma-cuma. Kaukah yang terlalu lemah atau diakah yang terlalu bedebah? Harusnya kau paham, kau terluka karena keputusan yang kau ambil sendiri dan kini kau meraung-raung seakan mencari si kambing hitam.
Teruntuk diriku sendiri,
Sudah berkali-kali kau terluka dengan alasan yang sama dengan orang yang berbeda. Beribu kali kau berjanji, tidak jatuh pada lubang yang sama. Tidak akan pernah ada yang benar-benar mampu menyembuhkanmu. Kau seakan ditakdirkan untuk selalu mencicipi luka lamamu, sendiri. Maka dari itu, berhentilah menitipkan hatimu; sekali lagi.
Dari,
Aku; sisimu yang lain.
Duniamu-
Ini tentang duniamu. Lagi, semua gravitasi masih tentangmu. Kau hancur dan kini sedang memperbaiki, duniamu sendiri. Tahukah kau, ada dunia yang lain sibuk memikirkan duniamu. Dan sialnya, ia kini membantumu memperbaikinya tanpa sadar dunianya juga perlahan hancur berkeping.
Tuan,
Berbenahlah sesegera mungkin. Temukanlah kembali orbitmu yang lama. Gantilah langitmu dengan langit sore; selalu bergradiasi dan menenangkan. Kau terlalu larut dengan riuhnya kepala hingga kau lupa bahwa segala lukamu juga lukaku. Tidak usah meminta maaf, tanpa terucap kau akan selalu kumaafkan. Kau hanya sedang kehilangan jati dirimu. Tak apa, nikmati saja jika kau ingin. Toh dibalik luka selalu ada hikmah yang bisa kita tarik untuk jadi pelajaran hidup. Setelah ini, percaya padaku; kau akan menjadi sosok yang baru. Menjadi seseorang yang lebih dewasa dalam bersikap. Kau akan merasa seperti terlahir kembali. Kau akan memiliki benteng terkuat dan pastinya kau akan baik-baik saja. Sayangnya, itu tanpaku.
Nikmatilah lukamu tanpa harus menjadi zat yang baru. Sebab luka selalu bisa mengganti seseorang yang lembut menjadi sosok yang paling dingin sekalipun. Singkatnya, jangan berubah. Jikalau esok kau menemukan yang lain selain aku, kumohon dengan sangat:
Jagalah hatinya dengan baik. Pegang erat-erat kepercayaan orang tuanya. Jangan membalas chatnya melewati 1 jam, karena kalian bersama untuk saling melengkapi bukan untuk sekedar menemani. Jika dia mengusirmu, tetaplah bertahan untuk disampingnya. Sebab perempuan selalu mengucapkan hal yang tidak ingin dia ucapkan. Sering-seringlah mempelajari matanya, disanalah semua jawaban selalu bisa kau temukan. Dan juga, kunjungi rumahnya tanpa jeda sebab jarak selalu menyakitkan.
Semoga kau menemui dirimu kembali. Berjuta maaf kini akan selalu kulontarkan kelangit malam biar dia turun bersama hujan dan menerpa kulitmu. Kenanglah aku sebagai perempuan yang pernah mati-matian mengorbankan segala hal demi kebaikanmu.
Jika aku adalah beban yang selalu menyibukkan kepalamu. Mintalah untuk saya pergi, maka
saya akan pamit
atas inginmu.
10 Harusnya
1. Harusnya kau tidak mendiamiku ketika kita bertengkar hebat, sebab jika kau mengenalku saya adalah orang yang tidak pernah tau cara marah terlebih sama orang yang kusayangi.
2. Harusnya kau ada di pintu rumahku memasang senyum dan mata yang selalu kukagumi sebab rumahku masih tempat yang sama atau mungkin kau lupa jalannya?
3. Harusnya jawabanmu tidak berubah. Semisal :
“Silahkan lakukan pekerjaanmu terlebih dahulu”
“Bisa sambil chat? kan bisa sambil chat”
bukan malah
“Silahkan lakukan pekerjaanmu terlebih dahulu”
"Hum okaay”
4. Harusnya sejak awal tidak usah ada gantungan di pagar sebab jika kau berhenti itu menjadi pertanda kau juga ikut berubah.
5 Harusnya tidak perlu ada kata “kalau tidak sibuk” sebab
6. Kau harusnya tau, mengetuk pintuku berarti kau harus siap untuk segala kondisi termasuk meninggalkan teman-temanmu.
7. Harusnya kau tau membaca mataku.
8. Harusnya kau tidak mementingkan egomu; menyelamatkan dirimu. Sebab jika kau menyelamatkanku terlebih dahulu saya bisa membantumu menemukan dirimu kembali. Jika kau sibuk mengurus dirimu, kau lupa saya perlahan sedang mengambil keputusan entah untuk menunggu lagi atau bahkan pergi.
9. Harusnya kau berani mengajakku kemana saja untuk sekedar bicara dan menyatukan kepala. Sebab semarahnya diriku chatmu masih kubalas sticker.
10. Harusnya jika saya adalah apa yang kau butuhkan, kau tidak menghilang selama ini.
Left Unsaid.
Saya adalah pelupa terbaik di muka bumi ini. Maka kali ini saya menulis bukan karena saya kehilangan. Melainkan untuk mengasah kembali ingatan bahwa faktanya saya kembali lagi, sebegitunya menyayangi seseorang.
Pintu saya diketuk. Tuan datang bertamu dan memintaku untuk kembali keorbit. Sebab kau tau, 9 bulan lamanya pintuku tertutup dan aku memutuskan untuk menerima tamu tanpa membuka pintu. Kau datang menyuguhkan bingkisan yang bernama kepercayaan. Hingga tiba pada kau berhasil merobohkan segala benteng dan membuka pintu lalu menggenggam tanganku keluar dan berkata “dunia luar tidak sejahat apa yang kau kira”.
Semenjak itu, saya kini mencintai langit. Setiap warna yang berbeda selalu mengingatkan pada setiap pertikaian kita dijalan. Langit selalu bisa menjadi teduh jika perang dingin mulai meluap. Semisal “liat langit, warnanya bagus hari ini” sialnya saya lalu tersenyum dan lupa bahwa tadi saya memutuskan untuk mendiamimu. Masih berpikir bahagiaku tidak sederhana?
Semenjak itu, saya kini berani mengunjungi beberapa tempat. Lupa kalau beberapa bulan yang lalu saya selalu menghindari sudut kota dan baru menyadari bahwa lampu kota adalah pemandangan yang cukup menarik. Masih berpikir bahwa kau tidak lebih baik dari pria sebelummu?
Semenjak itu, saya baru merasakan apa rasanya menutup mata selagi masih diatas motor dan menemukan ketenangan yang lain dibanding suara mesin mobil. Masih berpikir saya selalu meragukan keahlianmu berkendara?
Semenjak itu, saya percaya saya bisa melakukan hal yang lebih dibanding duduk dirumah sambil mengukur seberapa kecil kemungkinan tahun ini saya bertemu sapa dengan jarum infus. Masih berpikir saya tidak mencoba berproses?
Semenjak itu, saya kini selalu menceritakan dan menunjukkan sisi terburuk yang terjadi selama beberapa siklus. Masih berpikir bahwa kau bukan tempat pertama saya mengadu?
Semenjak itu, saya tidak lagi memandangi hujan dibalik dinding melainkan kini saya berada diantaranya dan saya bersyukur akan itu. Masih merasa bersalah membuatku basah kuyup dan menyalahkan dirimu karena itu masalah kendaraan?
Kuingatkan sekali lagi, saya adalah pelupa terbaik di muka bumi ini. Saya lupa bahwa langit bisa saja mendung dan kelabu. Sialnya, perjalanan pulangku bersama orang lain selalu dipayungi langit abu-abu. Seakan memberi isyarat bahwa kita diambang kehancuran. Saya lupa bahwa mengunjungi segala tempat denganmu adalah cara terhalus membunuh diri. Sebab tidak ada sedikit celah untuk menghelas nafas bahwa tempat itu pernah menjadi bagianmu. Saya lupa bahwa saya tidak perlu takut akan jatuh dari motor melainkan harusnya saya berhati-hati pada men-jatuh-kan hati, padamu. Saya lupa bahwa berproses adalah pisau yang selama ini kuasah dan bisa saja mengirisku. Bahwa pada setiap kegiatan akan selalu bergantung atas namamu, dijemput dan diantar pulang misalnya. Saya lupa bahwa hujan selalu bisa memutar kembali gulungan ingatan. Dan saya lupa, bukan dunia luar yang jahat melainkan kamu. Dari semua itu, ketahuilah bahwa aku selalu menempatkan kebahagiaanmu pada bagian teratas. Sejauh ini, kau telah mengambil keputusan dan bebas kemana saja sedangkan saya masih ditempat yang sama.
Perkataan adalah doa
"Jika kau ingin saya menulis banyak tentangmu, patahkan hatiku."
Kau memang benar-benar ingin menjadi bagian tulisanku. Maka dari itu, kuberi selamat! Hatiku patah dengan tepat. Sudah sejauh ini, sayapun baru bertanya "Siapkah bersamaku?".
Desember memang selalu identik dengan perpisahan. Dan pada saat itulah, kau meyakinkan dirimu bahwa kau tidak siap.
Dengan rasa hormat, kuberitahu kau sekali lagi. Untuk tiba pada hatimu saya mematahkan hatiku berkali-kali, hanya untuk berharap bisa menjadi yang terbaik bagi siapapun yg bersamaku kelak. Lalu untuk apa kalau memang tidak siap?
Semoga kau paham perihal menerimamu sejak awal butuh sebulan lamanya, berjam-jam durasinya, seberantakannya otakku kudedikasikan untuk berpikir, yakin, merobohkan perbentengan, menyusun ulang kepercayaan dan kita hancur hanya dengan persoalan "tidak siap".
Tuhan, pertemuan ini lantas harus saya jadikan apa selain luka?
Hal yang paling ingin kubedah saat ini adalah kepalamu. Mencari bagian puzzle yang hilang dan memperbaiki sistem yang tidak sinkron dengan milikku. Ada banyak tanda tanya yang hingga kini tidak cocok pasang dengan jawaban yang nyatanya miliknya sendiri. Riuhnya 'jika' bentrok dengan 'mungkin'. Salahkah aku jika memulai mengukur siapa yang paling?
Bahkan untuk menyelamatkan siapa terlebih dahuku saya masih bimbang. Terlalu banyak hal bermetamorfosa menjadi zat baru yang berujung pada hipotesis. Berubahkah kini;
"Probabilitas yang diprioritaskan"
menjadi
"Prioritas yang diprobabilitaskan"
??
Ataukah kau memang ingin mundur kali ini? Oh tidak, mungkin saja berhenti. Sebab,
cahaya matamu kini redup,
genggamanmu tidak lagi erat,
responmu yang mulai memudar,
dan kini punggungmupun sulit untuk kuketahui keberadaannya. Jika kita memang benar-benar berhenti, jangan biarkan "bertahan" dan "berjuang" tinggal di depan pintu. Sebab, saya juga ingin memutuskan untuk menutup pintu lagi atau tetap membiarkannya terbuka seperti itu.
She wants to wait but she’s running out of patience. She knows that waiting is sometimes a waste of a time. She knows that she could be waiting for something that might not even happen. She has learned that it’s better to walk away than wait. It’s better to let go than hold on to what ifs and maybes and almosts but she also knows that some people need more time because she also needs time. Too fast and things fall apart. Too slow and things just lose their spark. She still can’t find the balance.
She wants to be understanding but sometimes she doesn’t understand. Why people act so busy if they care. Why people who claim to like her never reach out. Why people don’t make an effort if they are interested. She doesn’t understand silence. She doesn’t understand why simple things are hard to do but she also wants to be compassionate. She doesn’t know what people are going through so she wants to be kind but she doesn’t want to be a fool.
She wants to be positive but she doesn’t know how not to take things personally. She’s not good at pretending. She doesn’t know how to act like she’s not bothered when she is. She can’t act like she’s not sensitive when every little thing gets to her. She doesn’t know how to get her hopes up high without thinking of the worst-case scenarios. She doesn’t know how to go with the flow because she overthinks everything.
She wants to stick around but she finds it easier to walk away. She finds it easier to be alone. She finds it easier to be selfishly guarded instead of getting hurt again. She doesn’t know how to be brave anymore.
Maybe she wants someone to teach her how or maybe she just wants to feel safe or maybe she just needs to mend all the broken pieces before she opens up to love again. But for now, she got used to running. She got used to leaving. She got used to loving from a distance and wondering if it will ever turn into anything real.
—Rania Naim
Kau pria? Jangan dibaca, ini tentang ego perempuan.
Apakah perempuan atau aku saja yang suka menata hal-hal untuk masa yang akan datang? Bukan soal masa depan yang wah, cukup hal kecil semisal "minggu depan nonton ah bioskop lumayan sepi minggu nanti terus ajak si-dia".
Apakah perempuan atau aku saja yang mau menunggu sebuah kalimat yang telah terucap semisal "Besok kerjain bareng yuk"?
Apakah perempuan saja atau akukah yang terlalu lemah perihal "Fix hari ini kamu saya abaikan!" lalu berakhir luluh ketika di chat lagi.
Ketahuilah, ketiga penjabaran itu adalah hal yang paling membatinkan. Menata suatu hal dan mencocokkan dengan waktu bukan perkara mudah untuk mencapai kata deal. Otak terkuras juga imajinasi yang dipaksa tergambar cukup menghabiskan energi. Tentang menunggu, itu persoal hati. Yang tiap waktu harus ditekankan jika sesuatu ada masanya masing-masing maka dari itu bersabarlah. Ketika sabarnya telah digantikan dengan yang lain, memangnya bisa apa? Ya sabar. Dan mengenai betapa bersikerasnya sang otak mengabaikan namun hati selalu memasang skill terbaiknya untuk memohon, akhirnya dia tetap kalah juga. Sudahlah, perempuan memang disalahkan karena tidak pernah bicara dan tidak pernah bisa dimaklumi wataknya yang biasa berakhir dengan tidak menjadi dirinya sendiri. Sekian
[ditulis dengan retina berair dan hati yang kini dihukum oleh otaknya sendiri]
Terkadang-
Terkadang ada hal yang memaksa kita mengelus-ngelus dada untuk rasa yang berkecamuk. Memiliki tetapi terasa tidak memiliki. Membingungkan? Tidak, itu menyakitkan.
Riuh langit dan bumi akhir tahun adalah sebuah perayaan bagi setiap orang. Api tercipta untuk santapan pelengkap pesta. Tawa dan cerita adalah rindu yang telah lama ingin dibenturkan. Teman adalah unsur terpenting dalam suatu perayaan. Semua nampaknya begitu ramai untuk kita lihat. Dan hanya dirikulah ruang yang paling sepi saat itu. Kau tau? Saya mencemburui siapapun yang sedang bersuka cita. Terserah, kau boleh mengutukku.
Terkadang selalu ada ritual
"Malam tahun baru sama si dia tidak?"
Satu mimpi yang nampaknya harus dicoret tebal-tebal. Bukan karena alasan yang bertele-tele. Cukup dengan semua orang punya hidupnya masing-masing. Jika kalian masih tidak mengerti, jawabannya: tidak, saya tidak merayakannya dengan siapa-siapa.
Terkadang memang selalu ada cerita yang tiba-tiba dirubah haluannya. Hal itu juga terkadang mengkhawatirkan jikalau tujuanpun turut ingin berganti. Kenapa? Sebab itu pertanda cerita akan selesai pada saat itu juga.
Terkadang saya juga tidak mengerti, perayaan ini kusebut merayakan kehilangan atau merayakan saya telah berjuang sendirian.
Si-Bapak-Pos
“haloo pak pos, ada kirimin kah hari ini?”
........................................
Berhari-hari saya menunggu, dan tak kutemukan apapun. Bapaknya yang kini gaji buta atau ada pekerjaan yang lebih menarikkah dibanding mengantar surat? Terlalu sibuk menunggu hingga saya lupa mengecek kotak suratku diluar sana.
Kau tau apa yang terjadi?
Kotak suratku kini tidak berbentuk; hancur. Tidak ada kiriman untuk orang yang kotak suratnya tidak terawat dan selain mengikhlaskan saya bisa apa?
Sepucuk Doa Untuk Ibu
Dear momme,
Sudah tidak terhitung ya ini keberapa kalinya kita dihadapkan dengan segala diagnosa? Sudah tidak kondusifkah sekarang? Bisakah kutarik hipotesis bahwa kita sekarang diambang kerapuhan?
Benteng seakan runtuh. Senjata kini tak setajam dulu. Panah yang selalu kita asah guna melawan apapun yang menghalau seakan berbalik menyerang tuannya. Pasukan serasa gugur satu persatu. Sedangkan musuh datang beruntutan menyerang satu titik; kita.
Perang seakan tidak akan pernah berhenti atas nama kita. Mendung seakan selalu siap menjatuhkan segerombolan rintik hujannya. Dan hujan yang tidak tau diri selalu berkunjung tanpa mengenal situasi. Sedikit lagi, kita lumpuh.
Tuhan, pinjamkan ibu saya benteng yang megah dan kokoh.