Pengharapan
Barangkali memang benar. Beberapa orang jatuh hati hanya untuk membuat orang lain terluka. Sedangkan perasaan adalah hal abstrak yang tidak akan pernah bisa dipaksakan. Dan adakalanya perasaan memang harus seperti itu - diketahui namun dibiarkan bertepuk sebelah tangan.
Lantas apakah itu layak disebut kesalahan? Tentu tidak, bukan?
Karena perasaan bisa hadir kapan saja, bisa menghampiri siapa saja, bisa tumbuh di mana saja. Maka bukan salah siapa-siapa jika harus berakhir tak semestinya.
Lalu sebuah kesyukuran besar yang kutemui adalah saat aku tahu dia tetap ada. Meski hatinya telah patah, namun masih memilih untuk menjaga. Meski harapnya telah porak-poranda, namun senantiasa menyuguhkan tawa.
Dia yang mengorbankan banyak hal hanya untuk melihat kita bahagia.
"Setidaknya kamu layak bahagia." Ucapnya diakhir percakapan.
Ingin kubalas pesan itu dengan ribuan ucapan terima kasih atas banyaknya tawaran bahagia yang ia beri. Namun aku urungkan. Kubiarkan pesan itu berakhir dengan dua centang biru sembari kepalaku menerawang jauh.
"Setidaknya," batinku. Jangan sebut ini patah hati. Karena kamu tidak sedang melaluinya. Fase ini adalah fase pembelajaran. Tentang pengharapan yang memang sudah menjadi pekerjaan kita sebagai manusia."
"Tapi satu hal yang perlu kau ingat lekat-lekat. Bahwa harapan selalu memiliki dua sisi. Harapan bisa membunuhmu kapan saja. Namun ia juga mampu menjadi alasanmu untuk tetap bangkit dari luka."
"Dan semoga yang kau temukan hari ini adalah apa-apa yang mampu membuatmu kuat di kemudian hari."
- Dariku; yang kau cintai.
01:16 a.m || 30 Januari 2022













