Dulu, dulu sekali setelah diterima sebagai mahasiswa baru bahasa Jepang sempat terpikirkan untuk menjadi guru PAUD. Tidak pernah terpikirkan bagaimana hebohnya menjadi guru PAUD, yang terpikirkan itu pasti menyenangkan. Mungkin ini juga efek dari-terlampau sering menemani Nafisa menonton Upin Ipin di masa-masa senggang sebelum masuk kuliah.
Dulu, yang terasa pasti sangat menyenangkan. Selain itu, ini juga bisa menjadi dua kali dayungan, bisa jadi sekalian mengajarkan Nafisa yang saat itu umurnya masih satu tahun.
Wah, sekarang Nadya jadi berpikir seribu kali. Entah bagaimana, apakah harus bersyukur atau malah ingin memutarbalik kembali dan memilih PGPAUD?
Semuanya terasa nyata sekarang. Bagaimana taihennya mengajar anak PAUD. Apalagi Kober (Kelompok Bermain)yang benar-benar belajar dari 0 alias belum ada kemampuan sama sekali.
Tidak bisa terhitung barangkali berapa pahala yang didapatkan oleh guru PAUD, apalagi di beberapa PAUD (atau mungkin semuanya) belajar Iqro juga. Wah, amal jariyah pisan. Lagipula, perjuangan mengajar dari 0 itu bukanlah perkara mudah, pantas saja kaum guru benar-benar harus dihormati, di apresiasi, dan diberi penghargaan. Tak salah bahwa guru disebut pahlawan tanpa tanda jasa. Beruntung sekali dan benar-benar harus bersyukur karena Allah telah menempatkan Nadya KKN di Garut dengan tema Pendidikan Anak Usia Dini Berbasis Revolusi Mental. Alhamdulillah.
Lantas bagaimana rasanya mengajarkan anak-anak dari 0?
Wah, sungguh luar biasa. Belum terpikirkan kata apa untuk mengungkapkannya selain, luar biasa. Kadang sempat terpikirkan, “Ya ampun ini kan cuman gini kok udah lupa lagi aja, sih” dan beberapa keluhan lainnya. Padahal gak boleh gitu, kalau boleh pinjam kata-kata Lae, “Setiap orang spesial dengan kecerdasan masing-masing”.
Mereka semua masih putih, bersih, dan polos. Wajar bahwa guru atau pengajar harus ekstra sabar untuk mengajarkan mereka. Ada yang terus-terusan bertanya, ada juga yang diam seribu bahasa, ditambah ada juga yang tidak bisa diam dan keras kepala. Wah, ada banyak macamnya.
Bersyukur bisa melihat macam-macam tingkah mereka, hitung-hitung belajar jadi seorang pendidik di kemudian hari. Pendidik dalam keluarga maupun lingkungan. Inilah bekal yang benar-benar bekal. Belajar itu dimanapun berada. Dalam setiap kejadian yang ditempuh di sini, di Garut, harus ada bekasnya. Jangan terlewati begitu saja tanpa ada pelajaran yang bisa diambil. Rugi. Semoga bisa terus mengambil hikmah dari setiap kejadian. Bukan cuman diambil, tapi dipelajari dan direnungi. Aamiin.
((it has been a long time since i wrote a story about my journey in this world. let’s make this better in the next post. Cheers!”
Yang masih dalam pencarian,
Nadya.