Kalimat dari Bapak yang bikin hati mencelos sekaligus tersadar:
"jangan minta jodoh ke Bapak, jelas Bapak gak punya kandidat. minta nya sama Yang Maha Kaya, Yang Punya segalanya"
Tentunya setelah kupermanis maknanya. Memang betul sepenuhnya apa kata Bapak itu. Bapak memang tidak punya kuasa apa-apa. Tapi seperti kebanyakan putri yang dikenalkan oleh orang tuanya pada orang baik yang mereka kenal, aku sempat berharap demikian. Melupakan betapa banyak hal yang telah dilalui Bapak dan Ibuk untuk sampai di titik ini.
Kehidupan rumah tangga yang jauh dari kata sempurna, namun juga tidak kurang kasih sayang, meskipun kadang dengan cara yang berlebihan. Aku saksi hidup kehidupan rumah tangga mereka, tentunya berpikir tidak ingin mengalami hal serupa. Sampai takut, sampai enggan, sampai malas, mengenal manusia lain demi terjalinnya suatu hubungan.
Berharap aku mendapat yang namanya "jodoh warisan Bapak". Naif sekali diri ini. Berharap ada yang berniat mengenalkan ku pada manusia laki-laki yang seperti inginku. Seperti yang terjadi pada dua kawan baikku beberapa waktu lalu dan kemudian hari. Ku pikir, indah sekali kisah mereka. Aku kapan? Siapa orangnya? Kapan?
Tanya terus, tanya melulu. Sampai di titik menghakimi diri sendiri dengan cara yang cukup keji. Jahat pada diri sendiri. Menyalahkan diri sendiri alih-alih menyadari bahwa semua yang terjadi di luar kendali ku sebagai manusia biasa.
Namun, bukan itu tentunya yang diinginkan Tuhan. Kupikir, aku tidak lah perlu setakut itu. Aku tak perlu sekejam itu, semarah itu pada diriku. Kupikir, saat ini aku perlu memeluk diriku yang sedari lama takut pada justifikasi pribadi. Memeluknya erat dan memintanya untuk lebih legowo dan memaafkan sisi diriku yang satunya lagi.
Aku masih bisa terus melangkah kan kaki sambil membuka diri. Masih bisa berdamai dan memperbaiki apa-apa yang sempat kusesali. Menerima apa yang menjadi takdirku dan melepaskan apa-apa yang bukan tercipta bukan untukku. Masih dapat kupakai untuk bekal hal-hal yang terjadi dan kualami sendiri, sebagai pelajaran hidup, sambil terus meneguk kehidupan saat ini.
Mungkin, yang perlu dilakukan adalah memantapkan hati. Meyakini bahwa semua doa kita sedang dalam antri. Berusaha lebih tabah dan sabar. Berbaik sangka pada pemilik semesta dan segala kebaikanNya.