"Tak ada yang lebih menyenangkan daripada bau tanah bersih yang enak, kecuali wangi segar tumbuhan saat hujan turun membasahi mereka."
--Frances Hodgson Burnett dalam novel The Secret Garden
Cosimo Galluzzi

izzy's playlists!

⁂
Sade Olutola
almost home

@theartofmadeline
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
h
trying on a metaphor
Peter Solarz
No title available

shark vs the universe

PR's Tumblrdome
wallacepolsom
todays bird
No title available
Cosmic Funnies

ellievsbear

roma★

No title available

seen from China
seen from Czechia

seen from Canada

seen from Italy

seen from Malaysia

seen from United Kingdom

seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia

seen from Ireland
seen from Malaysia
seen from United States
seen from Qatar

seen from Colombia
seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States

seen from Bangladesh
seen from T1

seen from United Kingdom
@ilhammift
"Tak ada yang lebih menyenangkan daripada bau tanah bersih yang enak, kecuali wangi segar tumbuhan saat hujan turun membasahi mereka."
--Frances Hodgson Burnett dalam novel The Secret Garden
Hai, tumblr!
Ada apa saja sejak saya tiada?
Paris yang Berdarah Itu....
Pekan lalu saya menyantap buku Paris: The Secret History karya Andrew Hussey dengan lahap. Buku yang luar biasa mengasyikkan. Buku yang melengkapi imajinasi saya tentang Paris yang banyak dibentuk oleh bukunya Francois Furet, Revolusi Prancis, yang saya baca edisi Indonesia-nya berkat mahasiswi sastra Prancis yang sangat sering menenteng buku itu (terima kasih, Adessita Viani).
Karya Hussey mengisahkan sejarah Paris dari perspektif kelompok alternatif: para anarkis, komunis, pembangkang, pemberontak, kriminil, bajingan, lonte, hingga para seniman, penulis dan pemikir yang karya-karyanya serupa “teroris moral” - dari Montaigne yang sinis hingga Montesqieu yang berdarah dingin kala melihat istrinya mati terpanggang api, dari Balzac yang langgam politiknya konservatif hingga Racine yang progresif, dari Sade yang menghancurkan hingga Houellebecq yang “amoral”, dari Ferdinand Celine yang anti Yahudi namun tangguh berargumen hingga Andre Malraux yang menjadi menteri kebudayaan, dari Juliette Greco yang lirik-lirik lagunya meledek para pemikir hingga Herve Huibert yang memfilmkan dirinya sendiri yang sedang sekarat karena AIDS, dari Ravachoal yang memalu kepala korbannya sembari meneriakkan kredo anarko hingga Julles Bannot yang merampok dan melawan pengepungan polisi dengan gagah berani….
Paris tampil dalam wajahnya yang berdarah-darah. Penuh tembak menembak, saling hancur menghancurkan, bunuh membunuh, teror demi teror, pengkhianatan yang dibalas pengkhianatan: dari kekerasan era monarki, hingga teror dan kekerasan di zaman modern yang merentang sejak Revolusi 1789, rezim teror kaum Jacobin pada awal dekade terakhir abad 18, pendudukan Prussia, Komune Paris dan penghancuran kaum Communard, hingga pendudukan NAZI dan pemberontakan mahasiswa 1968.
Membaca Paris dari perspektif ini membuat imajinasi tentang Paris sebagai kota yang romantis layak dicoret dengan setegas-tegasnya. Imajinasi itu hanyalah brosur turisme yang tak berakar dalam sejarah Paris. Saya sudah meragukan imajinasi romantik itu sejak menekuri halaman-halaman bukunya Furet di awal tahun 2000an.
Paris telah akrab dengan teror sejak awal millenium kedua Masehi. Dalam nomenklatur sejarah Paris, kata “teror” bukan berasal dari abad 21 melainkan dari abad 18. Kata “teror” menyelinap dalam sejarah Paris bukan melalui orang-orang Islam, katakanlah gerilyawan Aljazair yang melawan pendudukan Prancis, melainkan melalui kelompok Jacobin yang mengambil-alih Paris pasca revolusi 1789.
Pasca Revolusi 1789 yang menghancurkan Bastille dan melengserkan Louis XVI, muncullah “rezim teror” yang dipimpin Robespierre dengan para hulubalangnya seperti Danton, Marat dan Desmoulins. Merekalah para Jacobin yang ditakuti karena kebrutalannya dalam mengeksekusi siapa pun yang dianggap kontra-revolusioner. 20 ribuan nyawa melayang di masa kepemimpinan inkuisitor bernama Robespierre ini. Termasuk Raja Louis XVI dan Ratu Antoinette.
Di tengah revolusi, kata Robespierre, “Kebajikan tanpa teror adalah fatal dan teror tanpa kebajikan ialah impoten. Menghukum para penindas kemanusiaan (dengan caa kekerasan) adalah hal yang bisa diampuni, sementara memaafkan mereka adalah barbar.”
Keep reading
"Disinfektan (cairan detol) bikin mata perih, Jon," keluh Fuad tiap kali disemprot sebelum masuk kantor. Bisa kamu bayangkan bagaimana ekspresinya seperti pendekar kura-kura di Dragon Ball sedang mengucek-kucek mata. SOP baru ini menyebalkan dan bikin gak nyaman. Tapi apa boleh buat? Virus makin menggila. Mereka ada di mana-mana, kasat mata, dan berlipat ganda. Segala ikhtiar demi membasmi komunis gaya baru, eh virus baru ini mesti diamalkan dan dioptimalkan. Kalau foto ini adalah ekspresi saya ketika pedih mata atau 'kapeureumpeunan' karena debu-debu di rumah. Saya memang malas beres-beres rumah. Dan, seringnya bersembunyi di balik jargon "kamar berantakan adalah ciri orang kreatif". Padahal saya gak kreatif-kreatif amat. Kreativitas yang paling mungkin bisa saya banggakan cuma membikin Tiara jengkel tapi gak bisa ngambek ke saya. Soal rumah yang berantakan, mungkin kamu sudah sering dengar dari mulut Fuad dan Fajar. Sialnya lagi, mereka sering menyombongkan peran mereka penting dalam menjaga kebersihan dan kerapian rumah ini. Tapi, jika kamu sering menonton film-film shaolin, kamu bakal tahu yang terpenting adalah pelajaran tentang proses mengangkut air dari sungai ke kuil di atas bukit. Bukan soal kehebatan jurus tapak Budha. (at Posyandu Melati) https://www.instagram.com/p/B-1N7qmgp1a/?igshid=1sghupi9j8igg
Sebelum masuk sekolah dasar, Bapak pelihara burung kenari. Jumlahnya gak sedikit. Mungkin ada sekitar 13-15 burung. Ditambah beberapa ekor murai dan jalak. Sebagai bocah, tentu saya senang tiap Sabtu dan Minggu melihat burung-burung itu dimandikan Bapak. Di hari libur itu juga kadang ada 1-2 teman Bapak bertamu buat ngobrol soal burung. Tapi, almarhum Ibu saya sering jengkel. Kakak sulung saya cerita, Ibu merasa terganggu dengan kicauan burung-burung itu. Atau, mungkin ibu tambah bingung membagi uang belanja antara buat ketahanan pangan keluarga dengan pakan burung. Dan, di periode itu Bapak lebih banyak disibukan oleh burung kenari dan vespa supernya yang sering mogok. Singkat cerita, Bapak mengalah dan menjual burung-burung kesayangannya. Tapi gak sampai hati kalau jual vespa tuanya. Waktu-waktu selanjutnya, satu persatu dari kami mulai meninggalkan rumah. Bapak harus bulak-balik antara Bandung dan Subang. Kakak sulung dan saya jarang pulang. Kakak perempuan tinggal dengan suaminya di luar kota. Yang tersisa di rumah hanya Ibu dan adik saya. Di periode itu juga, saya sering gagal menangkap pesan rindu dari Ibu supaya lebih sering di rumah daripada di kampus. Kemudian, Bapak kembali membeli 3 ekor kenari dan 2 ekor lakbert (lovebird). Ibu gak protes lagi. Malahan senang. Ibu juga yang memberi pakan jika Bapak sedang di Subang. Tapi, itu hanya bertahan selama beberapa pekan. Beberapa waktu setelah Ibu meninggal, Bapak jual dan ada beberapa yang dihadiahkan untuk cucunya. Bersisa tinggal 2 ekor burung kenari. Di periode ini, Bapak lebih sering tinggal di rumah kakak perempuan saya yang kosong. Tidak jauh dari rumah ini. Hanya 3 menit berjalan kaki. Kemudian, di suatu sore, saya lepas kedua burung itu supaya bebas. Saya bilang ke Bapak jika burung-burung itu kabur. Bapak gak marah, katanya yang penting mereka gak kelaparan. Kini, sejak Kerja dari Rumah (WFH), saya membayangkan alangkah lebih semaraknya jika di rumah ada beberapa ekor kenari. (at Cikutra) https://www.instagram.com/p/B-zOLKKgzcq/?igshid=1s0cjr10r00ii
Setiap satu jam sekali @yokapujatama mencari berita update Covid-19. Sebab, akhir bulan nanti, tantenya yang tinggal UK mau pulang. @ricksipamungkas sudah tak melihat ada harapan di Bandung. Ingin segera pergi ke Jakarta, tapi menunggu kepastian pandemi itu hilang. Tembakau @r.akbargunawan tertahan di J&T karena hujan dari siang sampai sore, bukan karena Covid-19. Tapi yang lebih mengganggu pikiran, sebentar lagi anak pertamanya lahiran. Setidaknya itu yang terlihat dari raut wajahnya. Om @edisudtardi, @jauharudinfuad dan akang @divinces asik membincnangkan panggung-panggung @bobanwar_ selanjutnya. Padahal, izin keramaian bakal sulit keluar. Kalau @kresnapermana berharap sekolah dibubarkan saja, eh diliburkan saja. Tak ada eskul musik di sekolah selama 2 pekan, 3 pekan, 4 pekan. Meski eskul libur, tapi upah tetap wajib dibayarkan. Foto ini diambil setelah Bob Anwar menggelar konser di @di.ruangtengah, 16 Maret lalu. (di Di ruang tengah) https://www.instagram.com/p/B-BtzjaAK3b/?igshid=3h1l9tcoclpy
Tiara adalah orang yang tepat ketika saya butuh rekomendasi film dan musik. Seleranya kadang aneh dan di luar jangkauan algoritma mesin pencari saya. Tapi, sekali tonton/dengar, saya langsung suka. Tapi soal sepak bola, kadang jengkel juga. Meski kami sama-sama dukung Liverpool, Tiara lebih mengidolakan David Silva daripada para pemain Liverpool. Soal seleranya yang satu ini, agak sulit saya cerna. Untungnya David Silva bukan pemain Everton atau MU. Tapi yang lebih penting, Liverpool musim ini lebih banyak menang daripada kalah. Meski kini liga sedang dijeda. Oya hari ini Tiara ulang tahun. Selamat ulang tahun @tiarafnugraha ! Alhamdulillah, kita berdua masih remaja. Buktinya, kita mau-mau aja disuruh @fajarmfitrah buat jongkok-jongkok, terus difoto. https://www.instagram.com/p/B9_mJz1Asyl/?igshid=1pu6hm2p92e1t
Karena dalam waktu dekat, @penerbitqanita bakal menerbitkan bukunya @kalis.mardiasih, saya jadi banyak baca soal kesetaraan gender. Hasil bacaan, termasuk obrolan-obrolan ringan dengan Kalis di sela-sela cek naskah bukunya dengan para editor (@budhyastuti & @ifa.zahr) saya ceritakan dengan sangat antusias ke @tiarafnugraha. "Bahwa kesetaraan gender itu bla bla bla..." "Self love itu bla bla..." Intinya, saya kayak anak kecil yang baru tahu kalau kodok itu hasil metamorfosis dari kecebong. Tiara dengan entengnya bilang, "baru ngerti ya? Makanya sering-sering baca buku-buku begitu." Asem. https://www.instagram.com/p/B9qC_V_govQ/?igshid=13wj0wqu8yf4a
Tahun-tahun sebelumnya saya tidak pernah punya resolusi untuk tahun baru. Awal tahun ini saya punya. Tapi, teman-teman banyak protes. Padahal resolusi itu adalah salah satu keahlian saya: tidak menaikkan berat badan. https://www.instagram.com/p/B7DenTcALzx/?igshid=xammasatk5j9
Saya suka bawa buku ke mana-mana. Biar dikira orang suka baca buku. Padahal, baca daftar komposisi chuba-chuba aja udah pusing, apalagi namatin buku. https://www.instagram.com/p/B7Ax4KsgP6L/?igshid=qvbyrfwwol13
"Bagaimana jika Anda tinggal di negara yang luar biasa kaya dan tak seorang pun membayar pajak? Bagaimana jika Anda tinggal di negara tempat kegagalan adalah sebuah pilihan? Bagaimana jika Anda tinggal di sebuah negara yang begitu demokratis sehingga Anda memberikan hak pilih sampai tujuh kali dalam setahun? Bagaimana jika Anda tinggal di negara tempat pemikiran yang berlebihan dihalangi? Apakah dengan begitu Anda akan bahagia?" -Eric Weiner dalam The Geography of Bliss (terbitan @penerbitqanita ) https://www.instagram.com/p/B62CQtrgkVq/?igshid=aattvete9cyl
Saya terpancing oleh @zulfanasr, yang beberapa saat lalu memposting foto yang diedit oleh @rafqisadikin. Saya tiba-tiba percaya, mungkin bila sering melihat foto ini, saya bisa menahan keinginan untuk kembali gondrong. Si editor foto memesan untuk memasang hashtag #backinthedays . https://www.instagram.com/p/B6zrrCcAZB3/?igshid=gl752e15v50l
Kenapa ya orang kaya kalau bikin buku, kalimat-kalimatnya suka quoteable? Difotoin @yokapujatama . https://www.instagram.com/p/B6kBlrWAcKx/?igshid=1k6pxtgs6ty2d
Batavus Droogstoppel, si kering hati (1)
Batavus Droogstoppel ini orangnya sinis dan skeptis. Hatinya benar-benar kering. Saya kutipkan potongan satu paragraf dari makelar kopi satu ini.
".... di manakah letak kebajikan sejati seandainya kebajikan selalu memperoleh imbalannya? Mengapa kebohongan yang memalukan selalu diciptakan? Contohnya, Lucas, kuli gudang yang dulu bekerja untuk ayah Last & Co.--waktu itu firmanya bernama Last & Meijer, tapi keluarga Meijer sudah tidak ada lagi di dalamnya. Menurutku, Lucas benar-benar jujur. Tidak pernah ada sebutir pun biji kopi yang hilang. Dia pergi ke gereja tepat waktu dan menjauhi minuman beralkohol. Ketika ayah mertuaku sedang berada di rumah pedesaannya di Driebergen, lelaki ini menjaga rumah, uang tunai, dan segalanya. Pernah bank memberimya kelebihan uang tujuh belas gulden, dan dia mengembalikan uang itu. Kini, dia sudah terlalu tua dan rematik untuk bekerja sehingga menderita kelaparan, karena bisnis besar kami memerlukan orang-orang muda. Ya, Lucas ini orangnya penuh kebajikan--tapi apakah dia memperoleh imbalannya? Adakah pangeran yang memberinya berlian atau hidangan yang sangat lezat? Jelas tidak! Dia miskin, dan tetap miskin, dan memang harus begitu. Aku tidak bisa menolongnya. Kami perlu orang-orang muda yang aktif untuk bisnis besar kami."
Ngeri kan apa yang dikatakan si makelar kopi ini?
Focus on the costumer
Saya ingin mengutip pernyataan yang menarik dari Aritz Cirbián, seorang produser di Compacto. Berikut kutipan lengkapnya:
"Try to focus on the people who should be enjoying project, because that's where you'll find the answers--and the money too. It doesn't matter if you're trying to build the creative part of a project, or if you are trying to build the business part. The main thing is that you have to focus on the people who will be enjoying the project, the you'll find the answer sooner or later--usually sooner! I've also learned over the course of my work that it is better to be steady but go further. You have to be patient and go step by step to achieve something. You cannot achieve everything immediately."
O, jadi ini toh fungsi kerah baju yang sesungguhnya. (di Memento Coffe.co) https://www.instagram.com/p/B2_0nB0A_mt/?igshid=m70vlzflwawy
In the spring of 1978, when my parents were 23, my mother gave birth to me on their friend Robert’s farm in Oregon, with the help of two midwives. The labor and delivery took three hours, start to finish. My father [Steve Jobs] arrived a few days later. “It’s not my kid,” he kept telling everyone at the farm, but he’d flown there to meet me anyway. I had black hair and a big nose, and Robert said, “She sure looks like you.”
Lisa Brennan-Jobs