
shark vs the universe
Misplaced Lens Cap

Kiana Khansmith
Sade Olutola

No title available
Stranger Things
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

No title available
No title available

Origami Around
One Nice Bug Per Day

#extradirty

Love Begins

ellievsbear
art blog(derogatory)
Claire Keane
Three Goblin Art
Not today Justin

izzy's playlists!
official daine visual archive
seen from Malaysia
seen from Philippines

seen from Iraq

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from Canada
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Netherlands

seen from Switzerland
seen from Bangladesh

seen from Chile
seen from Belgium
@ilhamse-blog
bagaimana jika kita saling mendoakan
bagaimana jika ketika kamu membaca ini, kita saling mendoakan.. meski mungkin kita belum pernah tau sebelumnya.. dear people 🙂 berbicara baik atau diam. membantu daripada terus mempertanyakan. mendoakan daripada terus membicarakan. semua sudah ada yang mengatur. kita tidak tahu tentang apa yang ia bisikkan pada Tuhan nya disetiap pagi dan malam. kita tidak pernah tahu hal-hal apa apa saja yang…
View On WordPress
The times when Dua's are most accepted during Ramadan:
• 1. The third portion of the night shortly before sehri ends
• 2. Whilst fasting
• 3. Between Asr & Maghrib
• 4. Just before fast opens
• 5. On Jumma before & after khutba
• 6. Between Adhan & Iqamah
• 7. Whilst raining
• 8. After Qur'an recitation
• 9. The Night of Qadr
H-50 Ramadan Hafalanmu adalah rahasiamu. Mungkin orang-orang memujimu karena kamu penghafal Al-Quran tapi itu tak menambah apa-apa pada hafalanmu. Kamu tahu keadaan hafalanmu yang sebenarnya. Dan Allah tahu hafalanmu untuk siapa. - Ustadz Deden M. Makhyaruddin -
Perempuan itu mudah terhibur. Cobalah kamu telp dia minimal sekali sehari. Sekadar tanya sedang apa atau sudah makan dan sholat belum.
Tia Setiawati (via karenapuisiituindah)
Kedewasaan kita diuji ketika harus mempertimbangkan mana yang harus diperjuangkan; memperjuangkan mimpi-mimpi kita sendiri atau memperjuangkan mimpi-mimpi orang lain.
(via halamanbercerita)
Hingga pada keseluruhan isi semesta yang tak dimengerti kapan masanya berakhir. Menantikanmu adalah sebuah misteri yang tak akan bisa dipecahkan oleh siapa pun
Hujan Mimpi (via hujanmimpi)
Kamu, menyerah dan menyalahkan keadaan. Aku, berusaha dan mengupayakan segala kemungkianan.
Itulah bedanya kita dalam mengartikan cinta. (via mangatapurnama)
Tulisan : Perempuan Setelah Menikah
Barangkali dulu, ketika masih gadis. Di usianya yang telah memasuki kepala dua dan usia pernikahan, salah satu kekhawatirannya adalah tentang pasangan hidup. Entah bentuk khawatir seperti; apakah ada laki-laki yang mau menikahinya? atau apakah ia cukup siap untuk menjadi seorang istri? dan lain sebagainya. Dan kekhawatiran itu pun tumbuh subur seiring usianya yang merangkak naik, seiring banyaknya laki-laki yang datang silih berganti tapi tak satupun menarik hatinya.
Di bayangnya, kehidupan pasca menikah, apalagi menikah dengan laki-laki yang dicintainya adalah kehidupan yang segalanya indah. Padahal tidak demikian. Kata siapa bahwa selepas menikah, kekhawatiran perempuan akan sirna begitu saja? Justru sebaliknya, kekhawatiranya bertambah, semakin banyak. Dan ini menjadi sesuatu yang mungkin tidak akan pernah terbayangkan sebelumnya.
Khawatir ketika sudah menikah tapi belum juga hamil. Apalagi ketika melihat teman-temannya yang lain memperbarui halaman sosial medianya dengan berita kehamilan atau kelahiran. Lebih khawatir ketika ditanya oleh keluarga. Dan ini menjadi pembelajaran berharga bagi siapapun, bahwa barangkali ungkapan kebahagiaan kita di sosial media bisa menjadi sebab ketidakbersyukuran seseorang yang melihatnya. Juga ini akan menjadi pelajaran berharga bagi semua perempuan yang menikah nantinya dan belum segera dikaruniai anak, ia akan menjadi lebih memahami dan lebih empati kepada perempuan yang lainnya.
Kekhawatiran ketika suami atau anaknya sakit. Apalagi ketika melihat mereka tidak bisa tidur tenang, tidak bisa makan masakan yang dibuatnya dengan susah payah.
Kekhawatiran ketika belum bisa memasak. Meski kita tahu bahwa memasak bukanlah sebuah hal paling penting dari kesiapan menikah seorang perempuan. Tapi bagi perempuan itu sendiri, memasak untuk keluarga, apalagi melihat keluarganya memakan apa yang ia buat dengan susah payah adalah kebahagiaan yang entah bagaimana menjelaskannya. Khawatir ketika suami tidak mau memakan masakannya, khawatir kalau masakannya tidak enak. Meski, sang suami berusaha untuk menganggapnya bukan sesuatu yang penting. Tapi tetap saja itu penting bagi istrinya.
Kekhawatiran tentang bagaimana ia bisa berbaur dan bergaul dengan keluarga suami. Entah tentang bagaimana ia bisa membuka pembicaraan dan mertua. Bagaimana ia bisa menjadi menyenangkan untuk saudara-saudara suami. Dan memang selama ini tidak ada panduan tentang bagaimana membangun hubungan antara istri dan mertuanya. Dan itu selalu menjadi kekhawatiran tersendiri bagi perempuan yang akan dan baru menikah.
Ada begitu banyak kekhawatiran yang semakin hari semakin bertambah. Dan perempuan yang perasa, membuat kekhawatiran itu kadang tumbuh tak terkendali. Dan tugas laki-laki yang menjadi seorang suaminya nanti sebenarnya sederhana yaitu; jangan menambah kekhawatirannya. Jadilah laki-laki yang baik.
©kurniawangunadi | 10 Februari 2017
“Kamu tahu apa yang membuat generasi sahabat Rasulullah menjadi satu-satunya generasi terunik sepanjang peradaban manusia?”, tanya seorang Guru suatu hari. “Yang saya tahu”, selidik salah satu kawan, “mereka langsung melaksanakan apa kata Al Quran tanpa banyak basa-basi”. “Baik, itu salah satu jawabannya. Sekarang, apakah kau yakin generasi seperti itu akan terulang di masa depan?”, tanya beliau. “Saya… saya, ah, nampaknya tidak yakin”, jawabku sembari bingung sendiri. “Jawaban itu pesimis. Al Quran itu datang dan dicipta untuk umat manusia, dari zaman dulu hingga masa depan tanpa terkecuali. Jika kamu tidak yakin generasi semodel sahabat tidak akan terulang, berarti kamu nampak ragu pada keagungan Al Quran.” Kami diam, termenung. Lalu tersadar; kami punya kesempatan untuk jadi generasi terbaik. Kami punya.
@edgarhamas (via edgarhamas)
Saya selalu percaya bahwa sahabat bukan sebuah dinding pemisah dalam urusan mencintai.
Justru, saya melihat keduanya saling memahami dan mengisi. (via ariqyraihan)
Siapa pun yang pada akhirnya kau pilih untuk berdampingan denganmu. Doa-doa terbaik tak akan pernah berhenti tercurahkan untukmu. Sebab yang aku mengerti, kebaikan sekecil apapun akan tetap berbalik menjadi sebuah kebaikan
Hujan Mimpi (via hujanmimpi)
Paradoksal Abu Bakar dan Umar
Dari dulu saya sebenarnya bertanya-tanya, mengapa kisah hidup Abu Bakar jauh lebih sedikit yang kita temukan daripada kisah Umar?
Lalu, tiap membaca kisah mereka dari hadist, ada sensasi aneh dan unik yang muncul. Misalnya, saat kita membaca kisah Umar, beliau selalu tampil sebagai seorang yang kuat, tegas, dan cenderung keras.
Abu Bakar sebalknya, tidak menonjol dan tidak mau menonjol. Abu Bakar selalu meringkuk di pojokan dan tidak nyaman jika diminta tampil. Namun, saat ia tampil, jawaban dan tindakan-tindakannya membelalakkan mata.
Abu Bakar jelas adalah seorang phlegmatis murni. Jika ia tak harus muncul, ia takkan mau muncul. Ketika harus muncul, Abu Bakar pun bicara dengan kerendahan hati luar biasa. Kata-katanya singkat, tindak-tanduknya mencerminkan “siapa sih saya, bukan apa-apa”. Wajahnya merah saat dipuji. Ia tidak suka dipuji. Gambaran fisiknya pun makin menguatkan asumsi itu, “kurus, tinggi, berkulit putih, terlihat ringkih, agak bungkuk, berjenggot putih, dan pendiam”, begitu gambaran umum fisik Abu Bakar.
Abu Bakar beramal dalam diam, tapi amalnya luar biasa. Amalnya adalah yang terbaik. Hanya beberapa amal yang sempat Umar pergoki. Namun, saat Umar berhasil “menangkap basah”, ia hanya bisa kicep melihat kualitas amal Abu Bakar.
“Sungguh, engkau telah membuat kesulitan tiap pemimpin yang menggantikanmu, wahai Abu Bakar”, keluh Umar. Umar memberikan pernyataan itu saat memergoki Abu Bakar tiap pagi datang ke rumah janda tua di pinggir Makkah. Abu Bakar memberishkan rumah janda tersebut dan memasakkan makanan untuknya. Ia mengurus janda itu tiap hari. Padahal, saat itu Abu Bakar adalah khalifah.
Begitu pula saat Nabi bertanya kala bincang setelah subuh. Saat ditanya siapa yang hari ini sudah bersedekah, menengok orang sakit, dan bertakziyah, tak ada satupun sahabat yang sudah melakukannya kecuali Abu Bakar. Ia mengangkat tangan, mengaku dalam malu, sementara sahabat lain terbengong.
Abu Bakar, jangan main-main. Masih jam 5 pagi dan Anda sudah bertakziyah, bersedekah, dan menjenguk orang sakit? Seperti apa Anda menjalani hari-hari Anda? Jam berapa Anda bangun? Dan Anda malu-malu dalam mengaku kepada nabi? Duh, apalah kami dibandingkan Anda.
Dengan karakter Abu Bakar yang seperti itu, wajar saja tak banyak kisah yang kita dapatkan.
Umar, dalam berbagai segi, adalah kebalikan Abu Bakar. Umar adalah potret sejati dari karakter Koleris murni. Keras, tegas, raksasa, pemaksa, dan cenderung keras. Fisik Umar digambarkan sebagai, “tinggi-besar, berotot, botak, keras, kasar, pandangan matanya tajam, garang - semua orang takut padanya”.
Kata-kata khas yang ia pakai kadang mirip preman pasar, “penggal saja!”, “aku akan membunuhmu!”, “kita harus melawan mereka!”, “wahai Rasululah, kenapa kita harus takut kepada Quraisy?”
Kenyataannya, Umar memang mantan preman pasar Ukazh. Sebelum masuk Islam, ia adalah tukang berkelahi dan jagoan Ukazh.
Sikapnya yang berani mengambil resiko memang luar biasa. Dan seperti karakter Koleris lainnya, kita melihat seorang yang menonjol. Koleris banyak sekali mengambil inisiatif untuk perubahan - dan bagi mereka, itu adalah sesuatu yang biasa mereka lakukan. Saat kau menginginkan ketenangan, panggil phlegmatis. Namun, saat kau merasa buntu, panggil Koleris. Koleris akan memecahkan kebuntuan-kebuntuanmu dengan cepat.
Dan itu pula yang dilakukan Umar. Saat jamaah muslim ketakutan di Makkah, Umar mengajak mereka berthawaf dan sholat di Ka'bah. Saat muslim yang lain hijrah diam-diam dalam malam, cuma Umar seorang yang menenteng pedang di bahunya sambil berteriak menantang di siang bolong, “Bagi yang mau menghadang aku untuk hijrah, silahkan!” Tak ada satupun orang yang menghadang Umar.
Makanya, dengan karakter Umar yang seperti itu, kisah tentang Umar membanjiri sirah nabawiyah Islam. Tidak heran.
Namun, ada satu hal yang unik, dan ini membuat kekaguman saya bertambah-tambah. Saat memilih pemimpin di Tsaqifah, mereka tidak memilih pemimpin yang menonjol. Mereka memilih pemimpin yang terbaik.
Abad 21 adalah abad ekstrovert. Saya yakin, andaikata ada pemilihan pemimpin antara Abu Bakar dan Umar tahun 2015 ini, Umar lah yang akan menang. Abad ini, orang yang lebih menonjol, lebih banyak berbicara, lebih banyak mengambil inisiatif, dia lah yang dipandang lebih baik. Setidaknya begitulah kata Susan Cain dalam bukunya Quiet. Pernahkah kamu berada dalam ruangan dan terpesona oleh orang yang banyak bicara dan aktif memberi ide, tapi kemudian kecewa karena ia tak bisa memimpin tim dan memberi hasil yang diharapkan?
Padahal, kepemimpinan bukan diukur dari seberapa baik ia bicara di depan publik. Ia bukan diukur dari keberaniannya untuk berorasi di depan orang-orang. Gandhi bukanlah orang yang jago pidato. King George X dari Inggris pun gagap saat coba bicara di depan rakyatnya (dan kemudian dibuatlah film King’s Speech untuk memotret fenomena itu).
Kepemimpinan, menurut saya, adalah lebih pada kemampuan membawa orang yang dipimpin untuk sampai ke tujuan. Jika demi sampai ke tujuan si pemimpin harus bagus bicara di depan publik ya bisa jadi. Tapi bukan itu fokusnya.
Makanya, ketika Utsman menjadi khalifah, ia jarang sekali pidato. Dan sekalinya pidato, ia cuma berpidato begini, “Sesungguhnya pemimpin yang terbaik adalah yang paling banyak kerjanya, bukan yang paling banyak bicaranya”. Lalu ia turun dari mimbar, meninggalkan jamaah muslimin yang bengong.
Peristiwa Tsaqifah - pemilihan pemimpin setelah wafatnya Nabi - tiba. Dari sinilah saya melihat cerminan karakter Abu Bakar dan Umar dengan sangat jelas dan kontras.
Abu Bakar dengan karakter phlegmatisnya benci tampil menonjol. Sebagai phlegmatis, Abu Bakar berpikir ia bukan apa-apa. Ia tak mau orang memandang dirinya. Kalau bisa, ia selalu ingin di pojokan saja.
Namun, hari ini berbeda. Situasi Tsaqifah sangat panas dan perlu keputusan. Walaupun Abu Bakar tak suka menjadi pusat perhatian, akhirnya ia maju dan memberikan usul. Ia meminta hadirin memilih antara Umar dan Abu Ubaidah sebagai pemimpin. Dalam kondisi biasa, kawan, seorang phlegmatis tak mau menonjol, tak mau memimpin. Namun, dalam kondisi terdesak dan kritis, saat ia melihat ia harus memimpin dan tak ada orang lain yang bisa, ia akan (terpaksa) tampil.
Dan di sinilah briliannya Umar. Ia tahu ia lebih menonjol dibanding Abu Bakar. Perawakannya lebih meyakinkan daripada Abu Bakar. FYI, menurut riset, orang dengan karakteristik tubuh tinggi besar dan kelihatan tegas lebih didambakan untuk menjadi pemimpin dibanding orang yang perawakannya kecil dan terlihat tidak tegas. Dan, tebak, kalau Umar memilih mengangkat diri menjadi pemimpin, takkan ada yang protes. Umar memang layak!
Tapi Umar menolak.
Ia tahu secara perawakan dan kasat mata, ia lah yang lebih cocok menjadi pemimpin. Tapi soal manusia terbaik, Abu Bakar lah orangnya. Saat itu adalah saat krisis, secara logika Koleris lah yang perlu mengambil alih. Tapi tidak, ia yang perawakannya “kurus dan ringkih” itulah yang dipilih sebagai pemimpin. Sang phlegmatis murni.
Selanjutnya adalah kisah tentang paradoksal. Abu Bakar yang dikenal pendiam dan tidak menonjol langsung tampil menjadi pemimpin yang luar biasa tegas, bahkan mengalahkan ketegasan Umar.
Saat Umar protes mengapa Abu Bakar memerangi kaum yang tidak membayar zakat, Abu Bakar balik menghardik Umar bahwa mereka memang harus diperangi. Saat Umar memprotes bahwa pasukan Usamah harus mundur, Abu Bakar menghardik Umar bahwa ia takkan menghentikan apa yang telah diperintahkan Rasulullah.
Ya, inti kepemimpinan adalah soal kemampuan membawa orang yang dipimpin demi mencapai tujuan. Dan Abu Bakar jelas orang yang paling memiliki kompeten di bidang itu. Maka, ketika dihadapkan sebuah tanggung jawab kepemimpinan, seorang phlegmatis akan mentransformasikan dirinya menjadi seorang -yang kadang- jauh berbeda. Seorang phlegmatis memang tak suka muncul, tapi ketika ia harus muncul, maka ia akan muncul.
Abu Bakar dan Umar. Kedua orang ini selalu saya pelajari kisah hidupnya dengan pendalaman yang jauh lebih mendalam dibanding kisah sahabat yang lain. Bagi saya, mereka adalah kisah persahabatan paradoks sekaligus unik luar biasa. Radiallahu Anhu (semoga Allah ridha kepada mereka)
Akhir kata, saya cuma bisa mengutip syair Imam Syafii untuk mengakhiri tulisan ini,
“Ya Allah, tempatkanlah aku bersama orang-orang saleh walaupun aku bukan termasuk bagian dari mereka”
Kalo sudah memilih keputusan yang baik; baik menurut kita, baik untuk saat ini, memgambilnya dalam kondisi yang baik dengan bercakap sama Allah sebelumnya, jangan sekali-kali menyesali.
Ibu, siang tadi. (via aksarannyta)
Arisan Puisi: Kelas Puisi
Jariku menari manja diatas kertas Mengingat namamu yang kemarin memelukku mesra didalam kelas Kini, kau sudah berlalu Meninggalkan bibit rindu Dan sebait rasa semu yang mengapit di puisiku
Kisaran, 16 februari 2017 @langit-teduh
keripik pedas dan secangkir kopi dihidangkan.. duduk di majelis kelas puisi.. panas dingin rasa lidah dan badan.. puisi dibedah dan dikoyak.. meja bedah berserakan remah remah kertas dan makanan nikmatnya konsumsi puisi disertai snack seminggu dua kali pertemuan..
Malang, 16 Februari 2016 @arighidiary
Gaduh Riuh Senyap Tawa Seperti ruang kelas, puisiku butuh gaduh dan senyap untuk dituntaskan Dan dikirim: untukmu
Palembang syahdu, 160217 @kambingwangi
“anak-anak, kelas sudah selesai” Kulayangkan puisi ini di lembar kertas pertama Menggambarkan aku yang kagum akan indahnya diksi Aku tersenyum lagi setelah lewat waktunya kini Kemanakah aku pergi? Kupasrahkan telapak tangan menggelamkan
Medan, 16 Februari 2017 @katakanha
Aku pergi ke kelas mimpi Berenang dalam tepian sungai ke dalam diam Dia pergi dengan kembang merah hadiah pemberian kekasih Diberikan puisi bagi dirinya yang mau kembali Berakhirnya indah dengan ijab dan akad nikah didepan mata sayu kelabuku
Karanganyar, 16 Februari 2017 @starbow
Aku menghirup rindu-rindu yang terperangkap di dalam kelas ini, sedang dalam puisiku, aku mencoba menghidupkanmu kembali
Depok, 160217 @herdiniprmsr
Turbulensi mengguncang makna Sayap hitam menutup sang kala Dalam kelas puisi yang menjingga Membuka tabir ketidaktahuan Dalam kelas puisi tercinta
Surabaya, 16/02/17 @puisiamanda
Di kelas (lagi) beda ini Kuhadirkanmu dalam raga Kubawamu dalam jiwa Kuculik kau sedalamnya puisi wastu Adalah benar kau dalam kidungku
Surabaya, 16 Februari 2017 @bajakata
Menunggu
Aku menunggu kelas itu tak dipakai lagi, agar bisa mengeluarkan huruf-huruf kecil dari sangkar dan membiarkan mereka membentuk puisinya. Lalu, aku pun menangis sejadi-jadinya membaca surat cinta mereka.
Jogja, 160217 @theblackzorro
ketika maut
tak mampu mencabut
nyawa sajak-sajakku.
Kita beradu punggung,
sunyi menuju panggung.
@arcotransepoem
Ketiduran di Kelas
Ketika usaha menghapus kelas dibicarakan Eropa lewat pemikir, aku tidur bersama ibu guru Jakarta Selatan dalam mimpi-mimpi berbau bantal Kami gulingkan selimut iler di bibir-bibir terbuka jadi puisi-puisi utopian Sampai dering bel hancur dalam bangun kami, cita mati oleh nilai 45
Galunggung, 2017 @hamidfadaq
TIGA MEMOAR /1 di tanah matrilineal ini tiga memoar semudah itu terpatri;
nada indah alunan bansi tangisan kawan melepas pergi kelas yang dipadati puisi
/2 kau tahu? dari hulu segala itu akan menerus kukayuh sampai ke muara jauh
Padang, 16 Februari 2017 @aldimperdana
σχολείο
Telah ku sekolahkan puisi, agar Dikelaskannya ia dalam sajak Ditemukannya teman oleh huruf Disetiakannya sahabat kepada diksi Dibimbingnya guru berupa simbol Dan, semoga, Ia menemukan artinya sendiri atas makna.
cemeng coffe, ١٦/II/17 @melankogika
-Citacita- . Setelah membangun sebuah rumah dalam puisi Esok lusa, aku ingin cari istri yang bertamu di kelas ini. . -KamarGelap 2017-
@ditepiansepi-blog
“Su!”
Lambat muara, puisi-puisi ini semakin berkelas Serapah fitrah dari pencekik yang terus memecah “Su, hasil dan sastrawi bergulir kurun patah!” Tidak untuk kelas puisi; Negara hidup, yang mati tanpa adalah
Rhy Selatan Merapi, 16 (Feb)rua(ri) 2017
@sajakberserikat
11.50
malam kelas puisi larik rindu :k a m u:
Planet Namec, 2017 @awangesti
Aksara sunyi
Kelas ini kelak akan kekal bersama sepi. Tapi maknanya tidak akan pernah pergi. Ia akan mengejawantahkan segala melalui puisi. Seperti itulah, penggila kata memerangi diri dari segala yang selalu pergi.
Padang, 17 Februari 2017 @kidungsaujana
Di ruang hampa tanpa harpa Aku harap ada puisi Dengan kelas tanpa papan Pun seragam Hanya wifi dan kuota
Ndalegi, 17 Februari 2017 @agakdalam
Aku
Ialah aku anak puisi lahir memecah katup kelas melebur di antara katakatakata mencari jalan menuju rumah ibu puisi
Pluto, Februari 2017 @penjualkenangan
Aku ingat dahulu Malu malu melihatmu berjalan Dari jendela kelas Aku tersenyum Menggores tinta, menulis puisi
February 17, 2017 @galerikata.rindu
Pada hening selepas Isya Ada kelas memanggil-manggil Sebait, kiranya berbaris Dimulai pada satu, hingga sekian Puisi
Gresik, 17 Februari 2017 @coretan.makna
Kelas Puisi Regional Jawa Timur, Bali dan Nusa Tenggara
Daya Isi Salim A Fillah
Setelah daya sentuh dari ruh yang terhubung ke langit, penulis sejati harus ber-Daya Isi. Menyentuh tanpa mengisi membuat pembaca ternganga, tapi lalu bingung harus berbuat apa. Daya Isi adalah soal ilmu. Mahfuzhat Arab itu sungguh benar; “Faqidusy syai’, laa yu’thi: yang tak punya, tak dapat memberi”. Menjadi penulis adalah menempuh jalan ilmu dan berbagi; membaca ayat-ayat tertulis; menjala hikmah-hikmah tertebar. Semuanya sebagai mujahadah tanpa henti. Dia menyimak apa yang difirmankan Rabbnya, mencermati apa yang memancar dari hidup RasulNya; dan membawakan makna ke alam tinggalnya. Dia pahami ilmu tanpa mendikotomi; tapi tetap tahu di mana menempatkan yang mutlak terhadap yang nisbi; terus mencoba mencerahkan akal dan hati. Penulis sejati memiliki rujukan yang kuat, tetapi bukan tukang kutip. Segala yang disajikan telah melalui proses penghayatan dan internalisasi. Penulis sejati kokoh berdalil bukan hanya atas yang tampak pada teks; tapi disertai kepahaman latar belakang dan kedalaman tafsir. Dengan internalisasi itu; semua data dan telaah yang disajikan jadi matang dan lezat dikunyah. Pembacanya mengasup ramuan bergizi dengan amat berselera hati. Sebab konon ‘tak ada yang baru di bawah matahari’; tugas penulis mungkin memang hanya meramu hal-hal lama agar segar kembali. Atau mengungkap hal-hal yang sudah ada, tapi belum luas dikenali. Diperlukan ketekunan untuk melihat satu masalah dari banyak sisi. Atau mengingatkan kembali hal-hal yang sesungguhnya telah luas difahami; agar jiwa-jiwa yang baik tergerak kuat untuk bertindak. Maka penulis sejati lihai menghubungkan titik temu aneka ilmu dengan pemaknaan segar dan baru, dengan tetap berpegang pada kaidah shahih dan tertentu. Dia jalin makna yang kaya; fikih dan tarikh; dalil dan kisah; teks dan konteks; fakta dan sastra; penelitian ilmiah dan kecenderungan insaniyah. Dia menularkan jalan ilmu untuk tak henti menggali. Tulisannya tak membuat orang mengangguk berdiam diri; tapi kian haus dan terus mencari. Dia membawakan pemaknaan penuh warna; bisa beda bagi masing-masing pembaca; beda pula bagi pembaca yang sama di saat lainnya. Tulisannya membaru dan mengilhami selalu. Maka karyanya melahirkan karya; syarah dan penjelasan, catatan tepi dan catatan kaki, juga sisi lain pembahasan, dan bahkan bantahan. "Membaca dan menulis adalah menyalakan api", kata Victor Hugo. "Setiap patah kata yang tereja adalah letupan bara.
Asuransi Sampah
Asurasi sampah sepertinya adalah program yang sangat menarik untuk menyelesaikan polemik negara sekarang. Dan ini sangat bagus untuk masyarakat serta pemerintah.