Aku dan Perjalanan Ibadahku
Aku tidak pernah menyangka perjalanan umrohku akan terjadi seperti ini.
Dulu, di tahun 2023, aku sudah merencanakan akan berangkat di 2024. Bapak tahu rencanaku, Ibu bahkan berpesan agar aku tidak pergi sendiri, tapi bersama budeku. Saat itu rasanya sederhana: kumpulkan uang, tunggu waktu, lalu berangkat.
Tapi ternyata hidup tidak berjalan sesuai garis yang kita gambar sendiri.
Di 2024, aku diuji—terutama dalam finansial. Banyak keputusan yang kuambil dengan perasaan, bukan kebijaksanaan. Satu per satu rencana yang kususun runtuh pelan-pelan, termasuk rencana perjalanan yang sudah lama kutunggu.
Di waktu yang sama, kondisi Bapak mulai menurun. Lalu tahun 2025 datang dengan kenyataan yang tidak pernah siap kuterima: Bapak lebih dulu pulang.
Setelah itu, hidupku tidak langsung kembali tenang.
Secara pribadi, kondisi finansialku justru sedang tidak baik-baik saja. Mungkin beberapa orang di sekitarku tahu, tapi orang tuaku sendiri tidak benar-benar melihat seberapa beratnya saat itu. Banyak hal harus kupikirkan sendiri, sambil tetap mencoba terlihat kuat.
Di tengah keadaan itu, aku mengambil keputusan yang bahkan sekarang terasa sangat nekat: aku resign.
Keputusan itu otomatis membuyarkan rencana umroh yang sebelumnya ingin kulakukan bersama Ibu di bulan November. Aku tahu risikonya—kalau pindah kerja, biasanya cuti baru bisa diambil setelah satu tahun. Artinya, rencana itu terasa semakin jauh.
Aku diberi waktu sampai awal September. Tapi saat itu aku resign tanpa pegangan, tanpa arah yang jelas, bahkan tanpa tahu harus melangkah kemana. Untuk pertama kalinya, aku benar-benar merasa berjalan tanpa peta.
Tubuhku pun ikut menyerah.
Setelah Bapak pergi, kesehatanku menurun. Di bulan Juli aku sakit dua kali, salah satunya karena tipes. Menjelang hari terakhir bekerja, badanku sudah tidak enak. Minggu kedua September aku kembali tumbang—ternyata masih ada sisa tipes, ditambah sesak napas karena infeksi saluran pernapasan.
Di titik itu rasanya hampir putus harapan.
Beberapa kesempatan pekerjaan terlewat begitu saja karena kondisi fisikku tidak memungkinkan.
Aku mulai bertanya dalam diam
sebenarnya aku sedang diarahkan kemana?
Sampai akhirnya, tanpa pernah terpikirkan dan terbayangkan, aku dipertemukan dengan kantorku yang sekarang.
Mereka menerimaku dengan sangat baik, memberiku kesempatan untuk memulai lagi di saat aku sendiri belum sepenuhnya percaya diri. Dan yang paling tidak pernah ku bayangkan—ketika aku baru tiga minggu bergabung, mereka justru mengizinkanku mengambil waktu dua minggu untuk berangkat umroh.
Di situ aku mulai merasa, mungkin ada perjalanan yang memang tidak perlu dipaksakan jalannya. Ada arah yang baru terlihat justru ketika kita sudah kehabisan rencana sendiri.
Aku sempat berpikir, mungkin aku memang belum pantas datang ke sana. Aku membayangkan orang-orang yang pergi umroh adalah mereka yang hidupnya sudah rapi, imannya stabil, dan jarang jatuh pada kesalahan yang sama. Sedangkan aku… masih sering belajar dari hal yang sama berulang kali.
Namun saat akhirnya berada di sana, di antara ribuan orang yang mengelilingi Ka'bah, aku memperhatikan lebih dekat.
Ada yang menangis diam-diam.
Ada yang hanya duduk lama memandang.
Ada yang berdoa pendek berulang-ulang, seolah hanya itu yang mampu mereka ucapkan.
Dan tiba-tiba aku mengerti.
Tidak ada yang datang dalam keadaan sempurna.
Semua membawa beban yang tidak terlihat.
Semua datang dengan luka yang tidak mereka ceritakan.
Termasuk aku.
Di sana aku belajar bahwa perjalanan ini bukan tentang berubah dalam semalam, tapi tentang berani jujur pada diri sendiri—mengakui lelah, mengakui salah, dan tetap memilih kembali.
Aku sering berpikir, mungkin ada doa-doa yang dipanjatkan jauh sebelum aku benar-benar siap berangkat. Doa yang tidak lagi bisa kudengar langsung, tapi entah bagaimana tetap menemukan jalannya.
Dan mungkin, perjalanan ini bukan tentang akhirnya aku sampai di sana, melainkan tentang bagaimana Allah tetap menuntun langkahku, bahkan ketika aku sendiri sudah tidak tahu arah pulang.
Aku pulang bukan sebagai versi yang sudah selesai, hanya sebagai seseorang yang ingin terus memperbaiki langkahnya, pelan-pelan.
Karena ternyata, datang ke sana bukan tentang menjadi suci, tapi tentang belajar pulang.
Bahwa yang dicari Allah bukan manusia tanpa dosa, melainkan hati yang masih ingin kembali—meski berkali-kali jatuh di tempat yang sama.