“Generosity is giving more than you can and pride is taking less than you need”
Di awal Juni kemarin, saya berangkat ke Surabaya untuk menemani istri pulang ke kampung halamannya. Sepasang sepatu keds yang jahitan bagian depannya mulai terlepas saya bawa di dalam koper. Lubangnya cukup menganga memang, tapi enggak apa-apa. Toh untuk pertama kali, saya mau menggunakan merk jasa servis sepatu yang gerainya hadir di di mal-mal besar.
Setibanya di sana pada malam hari, saya langsung masuk ke dalam gerainya untuk menemui staf pelayanan yang sedang bertugas. “Mas, saya mau jait sepatu ini. Sol depannya kaya mau lepas nih” ucap saya kepada staf pelayanan yang mengiyakan permintaan tersebut dengan ramah. Lalu ia menyarankan supaya penjahitan dilakukan pada kedua sepatu yakni sebelah kanan dan kiri. Saya sepakat dengan sarannya. Biar lebih awet ke depannya.
“Jadi berapa biayanya, mas?” tanya saya. “Totalnya jadi seratus lima puluh ribu rupiah” jawabnya kalem. Saya tercekat dan kalah kalem waktu mengetahui harganya. Seratus lima puluh ribu untuk mengesol sepasang sepatu? Tapi ya, namanya juga jual-beli di pusat perbelanjaan modern. Tak kenal istilah tawar menawar. Lagipula, saya masih perlu sepatu keds itu walau harga servisnya melebihi harga barangnya. Akhirnya, saya pun mengeluarkan kartu debit dari dompet untuk digesekkan pada gawai elektronik toko.
Hal serupa jadi pengalaman yang hampir sebagian besar dari kita pernah alami saat berbelanja di mal atau plaza. Biarpun mahal, kita tau kalau harga yang tertera bukan untuk ditawar - tapi dibayar. Beda ceritanya saat sekali-dua kali kita mencoba berbelanja di pasar tradisional atau pada pedagang kecil. Rasanya kalau enggak nawar tuh enggak afdol. Rasanya kalau berhasil nawar, seolah lebih cerdas sebagai pembeli.
Padahal jelas kalau mereka yang menjajakan barang dagangannya sendiri di pasar tradisional ataupun pedagang kecil yang berkeliling mengetuk pagar demi pagar rumah bukan pebisnis padat modal selayaknya mereka yang membuka gerai terang benderang di mal ataupun plaza. Ada hal yang terasa ironis di sana: kita rela membayar lebih puluhan hingga ratusan ribu Rupiah tanpa negosiasi kepada mereka yang lebih mampu ketimbang kepada mereka yang uang makannya bersumber dari keuntungan dagang di hari yang sama.
Hal ironis tersebut, membuktikan kebiasaan bermurah hati yang mungkin terlihat enggak menarik lagi buat sebagian besar dari kita. Pernah muncul meme yang populer di linimasa dua taun lalu. Bunyi kutipan di gambarnya, “Saat kamu membeli sesuatu dari bisnis kecil, kamu tidak membantu seorang direktur membeli rumah liburannya yang ketiga. Tetapi kamu membantu seorang gadis kecil agar bisa belajar menari, seorang anak laki-laki mendapatkan kaos timnya, seorang ibu menghidangkan makanan di atas meja, sebuah keluarga membayar utang atau seorang siswa membayar iuran sekolahnya”
Saat kita bertransaksi dengan para pedagang kecil di lingkungan sekitar, maka kita tengah berurusan langsung dengan kakek, nenek, ayah atau ibu dari sebuah keluarga yang betul-betul menumpukan hidupnya dari keuntungan berjualan. Dengan merelakan seratus lima puluh ribu keluar malam itu, saya merasa bersalah karena dulu pernah menawar harga jasa perbaikan sepatu dari seorang tukang sol keliling yang cuma seperlimanya.
Ternyata, keseringan nawar bisa bikin kepekaan hati menghambar.
Kalaupun ada jumlah yang harus dibayarkan untuk memperbaiki sepasang sepatu, maka seratus lima puluh ribu Rupiah akan melahirkan dampak yang lebih nyata bagi anak-istri tukang sol keliling di rumahnya. Jangankan seratus lima puluh ribu, selisih uang kurang dari Rp10.000 yang diikhlaskan sewaktu kita membayar ongkos ojek atau becak, kadang membuahkan doa baik buat kita. “Terima kasih banyak ya, dek. Semoga mudah rejekinya dan lancar urusannya”. Artinya, memang senyata dan sebesar itu dampaknya bagi mereka.
Maka, menghidupkan kembali tradisi bermurah hati perlu diawali dari kebiasaan sederhana dalam bertransaksi yang bisa kita lakukan mulai hari ini dengan para pedagang kecil. Beri mereka lebih banyak uang dari yang harus kita bayar atau ambil lebih sedikit kembalian dari yang seharusnya kita terima. Kita berharap semoga keringanan dalam bermurah hati juga bisa mendatangkan kemudahan atas limpahan rahmat-Nya.