“Sometimes, when you‘re too close to someone, it’s hard to see who they really are.”
Memilih pasangan hidup adalah masalah klasik yang dijumpai setiap anak muda yang sudah atau akan memasuki usia umum pernikahan. Banyak macam cara yang bisa dipilih untuk mengatasinya. Ada yang memilih lewat jalan taaruf, ada yang memaksa harus pacaran terlebih dulu, ada juga yang mungkin lewat perjodohan. Tergantung kita ingin mengambil jalur yang mana. Saya sendiri? Saya cenderung fleksibel asal menemukan pasangan yang sesuai kriteria.
Perlu diingat bahwa pernikahan bukan merupakan garis finish, justru sebagai permulaan dari level yang lebih sulit dalam kehidupan. Oleh karena itu, kalau di tingkatan yang sekarang saja kamu masih terseok-seok, mungkin kamu perlu mempertimbangkan lagi pemikiranmu untuk segera menikah.
Kembali ke soal memilih pasangan hidup, menurut saya rasionalitas atau pemikiran yang jernih harus lebih didahulukan dibandingkan perasaan semata. Kenapa, karena ketika kita terlanjur menginvestasikan perasaan kepada seseorang, kita cenderung tidak bisa menilainya secara obyektif. Hampir semua dari kita setidaknya pernah sekali merasakan “jatuh cinta”, dimana pada saat itu kita pasti merasa si dia adalah orang yang paling pas untuk kita. Kita merasa bahwa she(or he) is the one. Kemudian ingat lagi ketika akhirnya kita move on, kita sadar bahwa si dia tidak sebaik itu dan bertanya-tanya mengapa dulu kita begitu yakin terhadapnya.
Saya sendiri memiliki beberapa panduan untuk menemukan pasangan hidup. Yang pertama dan yang paling mudah dilihat tentu soal fisik. Fisik memang seharusnya bukan jadi patokan utama tapi sebagai saringan pertama bagi saya dan sebagian besar laki-laki untuk memutuskan apakah ingin mengenal lawan jenis lebih lanjut. Fisik yang dimaksud disini tidak harus spesifik seperti berambut panjang, bertinggi sekian dan berbobot sekian, melainkan lebih tergantung pada kepuasan diri masing-masing.
Aspek yang kedua adalah visi. Visi yang saya maksud disini tidak hanya visi pernikahan saja tapi juga pandangan hidup secara keseluruhan. Hal ini akan berkaitan dengan aspek ketiga yaitu koneksi. Ketika pasangan berbeda visi, maka saat membicarakan masalah tertentu tidak akan nyambung, tidak akan menemukan solusi, tidak akan bisa bekerja sama karena keduanya sama-sama benar berdasarkan visi mereka masing-masing. Maka dari itu diperlukan kesamaan visi antar pasangan supaya dapat terjalin koneksi yang baik.
Yang terakhir adalah religi. Saya tempatkan di akhir bukan berarti karena tidak penting, justru sebaliknya. Saya menjadikan agama sebagai hakim dalam memilih pasangan hidup. Hakim tentu tidak akan memutuskan perkara tanpa melihat bukti dan saksi, kan. Kita tentu tidak berhak menilai agama seseorang baik atau tidak. Kita hanya bisa pada diri sendiri, apakah kita ridho memiliki pasangan dengan agama yang seperti itu? Jika jawabannya iya, apalagi yang kamu tunggu?