Aku tahu, rasa yang kau berikan selama ini hanya sebatas inginmu saja. Jika kau ingin datang, kau akan mampir beberapa saat, lalu akan menghilang begitu saja jika kau ingin pergi. Ironisnya, aku yang bodoh ini masih saja menunggu dan kembali membukakanmu pintu jika kau datang. Padahal itu hanya membuatku sakit.
Namun aku takkan sepenuhnya menyalahkanmu, karna berkat sikapmu pula, aku perlahan sadar. Hatiku yang terlalu rapuh ini perlahan menguat, membentuk dinding pertahanan baru agar tak lagi mudah kau sakiti. Airmataku yang terlalu gampang jatuh untukmu itu, perlahan membeku. Fikiranku yang dipenuhi oleh bayangmu perlahan memudar. Hingga akhirnya, kini aku telah sampai pada titik dimana mendengar namamu, hatiku tak lagi bergetar. Intinya, aku tak ingin lagi tahu segala hal tentangmu. Sungguh, aku lega.