Amplau adalah amplop angpau.
Gilz. Kreatif Hana ni ya.
Disuatu Kamis sore yang damai dengan perut kenyang setelah buka puasa dengan kering tempe bikinan Bulik Puji (Ibuknya Pekeh), Pekeh memegang sesuatu sambil senyum-senyum.
“Alhamdulillah…dapat amlop.”
“Dari siapa Keh?”
“Dari Ibuk. Uang beli obat kemarin, diganti Ibuk, dimasukin ke amplop diselipin di plastik makanan dari Ibuk tadi. Senangnya. Udah lama gak dapat amplop.”
“Ndeh, jadi ingat dulu ya Keh…”
“Iyaya. Hahaha”
Aku gak tahu ya ini terjadi pada semua anak rantau atau hanya terjadi pada aku dan Pekeh. Jaman kuliah dulu, beberapa kali Ibukku ataupun Ibuk Pekeh ngirim paket dari Duri ke Jogja. Lebih spesialnya lagi, ada “selipan” diantara barang yang ada. Selipan uang.
Bahagianya kayak dapat harta karun. Terima paket dari Ibuk aja udah senang. Buka bungkusan aja udah deg-degan. Liat isi barangnya tambah bikin bahagia bukan kepalang. Setelah tahu ada “selipan"nya, alis naik, mata berkaca-kaca. Terharu.
Itu tuh kayak, “Aaa…ada paket dari Ibuk. Aaaaa isinya rendang. AAAAAAAAA AADAA APA NEEEHH KESELIP NEEEEHH..AAAAAH IBUUUK…” terus nangis. Terus nelfon Ibuk.
“Buk, paketnya udah sampai.”
“Iya?”
“Buk, ada uangnya Buk.”
“Iya??” Ibuk sok kaget.
“Buk, makasih ya Buk.”
“Ya…sama-sama. Bagi dua sama Fiqih ya.”
“Ya…”
Terus aku langsung naik ke atas,
“Keeeeh!!! Liat niiiii…”
“Apa tuu??”
“Di paket Ibuk ada selipannya.”
“Alhamdulillah…”
Terus kami berdua senyum sampai mangap saking senangnya.
Pas Mbak No kuliah di Jatinangor, Ibuk juga suka ngirim paket. Aku yang masih SMA kebagian tugas motong-motongin selotip hehe. Jadi, kebayang gimana kejadian sebelum paket itu dibungkus rapi.
Tentang selipan tadi, yang bikin senang selain si uangnya sendiri (uangnya so pasti bikin senang wkwk), adalah karena kita tahu itu dari Ibuk. Terlepas dari berapapun jumlahnya. Itu dari Ibuk. Dari uang belanja Ibuk. Dari dompet Ibuk. Uang jajan dari Ibuk. Jadi sayang buat dipakai. Rasanya pengen disimpen aja. Tapi ujung-ujungnya dihabisin juga, kan Ibuk ngasih uangnya buat nambah-nambah jajan wkwkwk
Kalau Ade (adeknya mas Tatang), dulu suka di selipin surat sama mamanya. Ade gak cerita detail tentang isinya, yang jelas dia bilang “Aku nangis baca surat dari Mama.”
Aku juga jadi ingat ketika Bela ke Jogja, Ibuk tanya aku mau titip apa, aku jawab “Gak usah Buk.” Tapi Ibuk tetap menyelipkan rendang, oseng jantung ayam, dan kaleng sarden Mili yang entah kenapa di Jogja gak ada yang jual.
Senangnya. Senang kali!!!!!
Entah apapun bentuk selipan tak terduga yang dikirim Ibuk, Bulek, atau Mama kepada anak-anaknya adalah selipan kebahagiaan. Selipan rasa rindu ingin anaknya pulang.
Kadang kita merasa berat jadi anak rantau yang jauh dari orang tua.
Tapi kita gak tau seberat apa rasanya jadi orang tua yang anak-anaknya jauh dari pandangan mereka.
Semoga Bapak Ibuk kita sehat-sehat semua ya. Semoga jarak yang ada diantara kita tak sia-sia. Semoga jauhnya kita di dunia adalah jalan untuk bersatu abadi di surgaNya.