feel free to read teman-teman
https://karyakarsa.com/imnomi/kekasihku-selamanya
NASA
styofa doing anything
DEAR READER

No title available
Alisa U Zemlji Chuda

blake kathryn
tumblr dot com
cherry valley forever

pixel skylines
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
No title available
art blog(derogatory)

PR's Tumblrdome
Game of Thrones Daily
trying on a metaphor
AnasAbdin
dirt enthusiast
Sweet Seals For You, Always
i don't do bad sauce passes

titsay

seen from Germany

seen from Malaysia
seen from Germany

seen from United Kingdom
seen from Malaysia

seen from United Kingdom
seen from United States

seen from China
seen from China
seen from United States
seen from United States
seen from Türkiye
seen from Malaysia
seen from Netherlands

seen from Türkiye

seen from Spain

seen from Netherlands
seen from Netherlands

seen from Germany
seen from United Kingdom
@imnomii
feel free to read teman-teman
https://karyakarsa.com/imnomi/kekasihku-selamanya
Hai, teman-teman! Sekarang aku nulis di platform baru. Ayo mampir!
Tulisan ini tidak dibuat ketika aku jatuh cinta atau sedang sayang-sayangnya.
Tulisan ini muncul dikarenakan adanya sedikit rasa penyesalan dan akan berisi permintaan maaf yang tidak bisa secara langsung disampaikan. Ya, beberapa hari ini, jam tidurku terlewat pagi. Entah karena kebanyakan kafein atau hal-hal yang tidak penting. Seperti biasa, hampir setiap hari kami berdebat. Entah karena hal sepele atau memang karena emosiku yang sedang tidak stabil.
Ia memang hanya lelaki biasa, jauh dari kata sempurna. Namun ia selalu membuatku merasa berharga. Mencoba untuk selalu mencintaiku sebegini besarnya. Sikapnya selalu lembut saat bersamaku. Tidak pernah membentakku, pun berbicara kasar padaku bahkan ketika kami bertengkar hebat, sebab ia tahu aku benci hal itu. Hah, aku menulis ini dengan perasaan malu sebab yang sering membentak dan berbicara kasar adalah aku.
Entah baru berapa bulan kami bersama tapi sepertinya sudah lama sekali aku mengenalnya. Tidak ada perayaan di tanggal-tanggal tertentu sebab aku semakin mencintainya seiring bertambahnya waktu. Sepertinya baru kemarin ia berkata "Tahun baru mau ga jalan sama aku? Kita kencan di manaaa gitu". Kyaaa kiyowooo
Kebetulan yang sama, kami berdua takut akan rencana-rencana jangka panjang. Menyenangkan, bukan? Ini membuat kami lebih menghargai kehadiran masing-masing sebab kami paham bahwa tidak menutup kemungkinan bahwa kelak dua insan ini akan menjadi asing.
Aku tidak berani memimpikan hari di mana aku akan menghabiskan seluruh waktu dengannya. Sebab jika tak sesuai rencana, mimpi itu hanya akan mendatangkan kecewa. Namun seringkali aku bertanya pada diri sendiri "Suatu hari nanti, ketika sudah bukan aku alasan dari seluruh senyum serta gelak tawa ini, apakah aku rela melihatnya? lalu akan butuh berapa lama untuk hatiku baik-baik saja?".
Membayangkannya memang sedikit menyesakkan. Tidak sedikit. Pikiranku sedang sedikit kacau, lalu penyesalan ini mengetuk kepalaku. Membuatku sedikit menangis hingga menjawab pertanyaannya dengan suara bergetar.
Kekasihku ini mengerti jika ada sedikit yang berbeda dariku, seberapa keras aku mencoba menyembunyikannya pasti akan tertangkap olehnya. Lalu dengan menyebalkannya ia terus menggangguku lewat telepon, tidak mau disuruh tidur.
"Iya, kesal kamu seharian marah-marah terus. Kesalnya lumayan banyak", jawabnya ketika aku bertanya bagaimana perasaannya hari ini ketika kelakuanku yang seperti orang gila ini muncul lagi. Menggemaskan.
Aku suka sekali menggenggam tangannya meskipun aku tahu setiap minggu tidak akan berubah bentuknya menjadi memanjang atau tumbuh duri. Aku suka sekali memeluknya, sebab peluknya ialah tempat ternyaman yang bisa aku singgahi kapan saja. Hal yang aku benci dari wajahnya adalah alis dan hidungnya, sebab keduanya lebih bagus daripada milikku. Tapi tak apa, itu hanya alasanku untuk selalu menyentuhnya. Membayangkan jariku menyentuh hidungnya membuatku ingin mendobrak pintu kamarnya sekarang juga. Aku rindu tubuh itu, peluk hangat itu, ingin sekali kulumat habis bibir itu, namun tidak mungkin sebab aku bukan alien pun doraemon. Kalaupun bisa pasti aku diusir Pak RT.
Jadi segala keinginan itu akan aku tahan. Tulisan ini akan aku cukupkan. Sebab menuliskannya adalah salah satu caraku melepas rindu.
Perihal minta maaf karena sudah marah-marah seharian sudah dilakukan, tapi pasti hari ini juga akan marah-marah lagi karena sebenarnya ini adalah marah yang dikarenakan rindu. Biarin, siapa suruh udah sebulan ga ngapelin!
Sekian, dan terima pelukan yang banyak.
Hello, Tumblr!
Long time no see
Titip Salam
Titip salam buat ibumu, jika beliau sudah tak sabar menimang cucu; bilang saja ada wanita yang masih menyelesaikan pendidikannya.
Titip salam untuk ayahmu, jika beliau ingin ditemani bermain catur; bilang saja ada wanita yang sedang belajar membuatkannya camilan di dapur.
Titip salam untuk adikmu. Jika adik perempuanmu membutuhkan tempat bercerita; bilang saja akan ada wanita yang bisa ia ajak bicara perihal sastra dan segalanya. Dan jika adik lelakimu ingin bermain sepak bola; bilang saja akan ada wanita yang mengingatkannya untuk pulang saat senja tiba.
Ah ya, titip salam untuk hatimu.
Jika ia sedang lelah dengan keadaan; bilang saja ada wanita yang selalu mendoakan masa depannya.
Bila ia sedang rindu kampung halaman; bilang saja ada wanita yang ingin sekali pulang kesana bersamanya.
Bila ia sedang lelah berjuang; bilang saja ada wanita yang sedang mendukungnya dari belakang.
Dan bila ia bertanya wanita itu yang mana, bilang saja itu aku; wanita yang sempat kau ajak masuk dalam kehidupanmu.
“Cukup dengan kamu, dan pada seisi dunia aku akan memejamkan mata.”
—
“Aku punya dua puluh enam aksara dan dari sana aku belajar bahwa lebih mudah menyusun kata dibandingkan kita.”
—
“Sebab senja dan matamu adalah dua beda yang memiliki sama. Di mana keduanya akan selalu kudamba. Dan pada keduanya, aku bersedia pulang kapan saja.”
—
We're not lover.
We're just stranger with the same damn hunger; to be touched, to be loved, to feel anything at all.
Sesekali aku ingin melihat jingga terbenam di langit-langit mulutmu.
Yang begitu aku benci beberapa hari ini saat memejamkan mata adalah kudapati bayangan dirimu sedang mencumbu wanita lain di luar sana.
Barangkali, kau lebih dulu mengenyam bahagia daripada aku. Tak apa, yang fana memang cepat datangnya. Kita lihat saja nanti, seberapa dalamnya kau akan menyesali ini.
Kita tidak sedang berlomba-lomba untuk menunjukkan siapa yang lebih dulu bahagia, bukan?
Untuk seseorang di masa lalu;
Tulisan ini tidak akan berisi ungkapan kekecewaan, kemarahan, atau penyesalan tentang apa yang pernah kita lalui. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih pada banyak hal yang mungkin ketika kita bersama tidak sempat aku katakan hingga sampai pada ingatmu, namun kamu pasti tahu bahwa memilikimu aku tak pernah lepas bersyukur pada Tuhan, setiap waktu.
Terima kasih untuk waktu serta kesempatan yang sekiranya pernah kamu percayakan kepadaku, walau singkat segala yang pernah ada, aku sungguh bahagia dan nyaris sempurna ketika dilengkapi olehmu.
Terima kasih untuk mempercayakan rasamu padaku, telah menitipkan separuhmu pada tubuhku, sederhanapun yang sudah kita lewati, sungguh tak ternilai apa yang telah aku dapatkan dari menjalaninya denganmu.
Terima kasih untuk selalu meyakinkan, melengkapi, serta menguatkan aku dalam segala waktu dan kondisi, dalam kelam dan rumitnya kisah denganku, dalam sulitnya memahamiku, dalam amarah yang terkadang tak mampu aku bendung, pelukmu sungguh adalah pelebur segala gundah dan gelisah.
Terima kasih untuk tabah serta sabar yang kamu sematkan dalam setiap hari menjalani cerita denganku, tegar dan kuat yang selalu kamu yakini bahwa kita mampu menggapai hari demi hari dan akan tetap bersama. Hingga hari ini aku masih meyakini itu, kamu tetap ada di dalam diriku hanya saja sudah di lain cerita.
Terima kasih untuk rindu yang senantiasa kamu jaga sepanjang waktu hingga jemari kita bersatu dan mata kita bertemu, untuk telah merawat mereka dengan penuh rasa sabar dan yakin bahwa akan lahir temu setelah penantian itu.
Terima kasih untuk banyak rupa wajah cerita dan kisah yang kamu bagi denganku, rahasia-rahasia kecil yang kamu percayakan pada jiwaku, mereka semua akan senantiasa kudekap dalam tubuh, abadi menjadi rahasiaku bersama langit, selamanya.
Terima kasih untuk cinta juga kasih ter-tulus yang mampu aku rasakan selama ini, setelah cinta dan kasih dari kedua orang tuaku.
Terima kasih untuk membiarkanku pulang, menjadikan kamu rumah tempat aku menitipkan segala, tempat aku berbagi seluruh, tempat aku merebahkan penat, tempat aku kembali berani menghadapi dunia yang tidak pasti.
Terima kasih untuk warna-warni kehidupan yang sebelumnya kurasa terlalu hambar, untuk tawa dan canda, untuk manis dan getir, kamu selalu kulihat sebagai pelepas segala ragu dan takutku.
Terima kasih untuk segala pelajaran hidup yang mungkin kamu tidak tahu telah memberinya, namun aku merasakan sendiri bahwa aku telah mendapatkan mereka. Terima kasih untuk banyak hal yang tak mampu aku ucapkan. Terima kasih untuk segala sesuatu yang aku lupa mensyukurinya ketika kita masih bersama.
Kamu, akan selalu menjadi bagian terbaik yang pernah aku miliki, pulang terbaik yang pernah ada, jiwa tertulus selamanya.
— wordhunter
Terimakasih, selamat menjalani Senin di 29.
29.04.19
Tidak ada kesedihan yang abadi, pun dengan cinta. Lalu kita berdua? Memilih cinta yang menyedihkan seperti ini. Bukankah ini lebih abadi dari keabadian itu sendiri?
Dari dulu saya tidak pernah sepakat dengan idemu perihal kewajiban kita masing-masing.
"Kita jangan pisah tetapi kita fokus dulu sama apa yang seharusnya kita lakukan. Kamu dengan skripsimu, aku di sini usahain buat kamu", katanya di siang itu.
Aku masih mengingat betul segala tentangmu. Bahkan pada apa yang pernah kau katakan padaku, aku mengingat setiap detailnya. Janji pun kata cinta yang selalu kau ucap, di kepalaku ia tersimpan rapih begitu terendap.
Apa yang harus kita kerjakan masing-masing katamu? Kesibukan-kesibukan itu hanya akan membuat kita menjadi asing. Dan ya, aku benar. Aku selalu benar perihal membacamu, Sayang.
Tetapi aku sudah berjanji, padamu, padaku. Aku tak akan merengek seperti anak kecil lagi di depanmu. Meski setiap hari, aku perlahan mati dibunuh rindu.
Malang, 09 April 2019
Sedang Ingin Mengingat Saja
Ternyata, sesuatu yang sederhana justru menjadi yang paling sulit dilupakan. Setidaknya, setelah almanak berganti sepuluh kali, aku baru menyadari bahwa percakapan-percakapan di masa silam masih hidup di dalam kenangan-kenangan berbentuk ponsel tua dan usang.
Membacanya kembali serupa menyelami lautan dingin—begitulah sikap yang kautunjukkan padaku setelah jarak menjadi dinding di antara kita. Percakapan pertama yang begitu membekas; ketidakpercayaan diri yang dulu sekali meranggas keberanian, bicara denganmu serupa memusatkan energi begitu besar.
Aku begitu bodoh di waktu itu. Membiarkan detik menjahit dirinya sendiri sampai akhirnya aku mengirimimu sebuah pesan teks—pesan yang menjadi titik permulaan dari perasaan yang kelak kita jahit bersama. Atau setidaknya, aku yang merasa begitu.
Membaca kumpulan pesan-pesan ini membuatku berpikir kembali. Siapa yang salah di antara kita? Kamu yang menyalahkan kepergianku ke kota lain atau aku, yang membiarkan perjalanan kita bergerak tanpa tujuan yang jelas.
Aku tidak pernah benar-benar mengatakannya padamu. Kaulah yang mempertanyakan.
Tiada jawaban yang jelas, kau memutuskan untuk mulai menjaga jarak—tidak dengan hatimu. Meski bibirmu berkata sebaliknya, melalui pesan demi pesan yang kita tukar aku begitu yakin bahwa pelan-pelan kita mulai memperbaiki jarak itu.
Membaca semua itu saja sudah menerbitkan senyum lagi di bibirku. Setelah sekian lama semua kata-kata membeku—mati ditikam kebodohan sendiri.
Semoga kau baik-baik saja. Aku hanya sedang ingin mengingat saja.
Jakarta,
29 Maret 2019