Belakangan ini, hidup terasa seperti berjalan di pasar yang bising. Semua orang berteriak menawarkan keyakinannya masing-masing yang sering berbenturan dengan apa yang kupercaya. Dulu, refleks pertamaku mungkin langsung menolak atau menghakimi. Tapi sekarang, ada jeda yang lebih lapang di dalam dada. Aku cuma membatin: mungkin mereka benar, atau mungkin mereka sedang tersesat mencari arah. Dan ya sudah, tidak apa-apa. Begitulah dunia bekerja.
Dulu aku pikir rasa aman berbentuk sandaran pada orang lain. Nyatanya tidak selalu begitu. Kebutuhanku perlahan bergeser. Aku mulai pelan-pelan menarik diri dari keriuhan, memilih memberi makan jiwa lewat hening. Alasannya sederhana: tangki energiku tak sepenuh dulu untuk dibagikan ke mana-mana. Banyak obrolan yang belakangan terasa bukan lagi merawat, melainkan pelan-pelan mengikis.
Tapi ini bukan berarti aku membenci manusia. Ini cuma cara hidup membukakan pintu yang baru. Orang-orang yang datang dan pergi dengan segala wataknya Hadir bukan untuk kuhakimi, melainkan jadi cermin untuk bersolek diri. Di titik ini, rasanya tak ada lagi yang lebih tinggi atau lebih tahu. Kita semua cuma peziarah yang sama-sama meraba jalan pulang, saling meminjamkan lentera di tengah remang.














