Terbaik
Keadaan yang saat ini kita miliki, kadangkala tak bisa kita lihat sebagai keadaan yang lebih baik dari keadaan sebelumnya. Saat kita tidak bisa melihat diri kita sendiri dari perspektif yang lebih luas, hanya berkutat pada apa-apa yang kita rasakan. Tapi kita tidak mencari tahu bagaimana orang lain melihat kadaan kita. Kadang, dalam hal tertentu seperti ini, kita membutuhkan penilaian objektif dari orang lain untuk bisa memahami keadaan kita sendiri. Alih-alih kita tenggelam dalam penilaian diri kita, terus mengerdilkan diri kita sendiri. Memang hal ini akan terasa sangat subjektif. Aku akan berikan contoh tentang ini, karena ini ada di sekitarku. “ Saat seorang temanku bercerita bahwa dia telah bercerai dari pasangannya yang tak bertanggungjawab, kemudian dia merasa tak lagi seberharga dulu dengan statusnya yang janda, usianya yang tak lagi muda, dan bertanya-tanya apakah masih ada yang mau menikahinya nanti. Di saat yang sama, temanku yang lain sedang berada dalam sebuah keluarga yang rusak, pasangan yang abusif, dan ia tak kunjung bisa keluar dari lingkaran setan itu karena ia tak memiliki supporting system yang kuat, setiap kali bercerita ke keluarganya malah di suruh bertahan karena keluarganya malu kalau anaknya jadi janda. Dan berakhir pada bertahan pada sebuah kondisi yang sulit, bagi dirinya, bagi anaknya, bertahun-tahun. ” Bukankah keadaan satu orang yang telah keluar dari rumitnya rumah tangganya jauh lebih baik dari keadaan temanku yang satunya? Sekali lagi, memang sangat subjektif. Tapi, kita bisa menilai dengan objektif bahwa kondisi yang kita nilai buruk terhadap diri kita, bisa jadi memiliki kebaikan yang benar-benar di cari oleh orang lain yang serupa masalahnya, tapi belum bisa keluar dari masalah tersebut. Coba lihat bagaimana masalah-masalah yang dulu kita miliki, telah kita selesaikan. Dan bagaimana masalah-masalah yang sama tersebut, masih berlangsung di orang lain di sekitar kita. Memahami sebuah makna, memahami sebuah keadaan, akan sangat sulit jika kita hanya melihat dengan cara kita sendiri. * * * * * Tak semua orang seberuntung kamu, tak semua orang seberani kamu untuk bisa menghadapi masalah, menerima risiko dari keputusanmu yang luar biasa, dan berani untuk berjuang selepasnya. Tak semua orang bisa memiliki keleluasaan yang bisa kamu lakukan. Dan tak semuanya, memiliki daya dukung yang cukup untuk menguatkan pijak kakinya selepas mengambil keputusan. Kamu berani. Sekarang, tinggal bagaimana kamu bisa fokus untuk menyusun langkah baru setelahnya. Menjadikan masa lalu sebagai pelajaran berharga. Dan jika kamu cukup tenaga, bantulah orang lain yang serupa masalahnya denganmu dulu, agar mereka juga bisa keluar darinya. ©KURNIAWANGUNADI









