Hampir 2 bulan kami ditinggal sosok nenek tersayang, setelah 11 tahun berlalu saya baru merasakan kembali bagaimana rasanya ditinggal partner satu atap.
Kejadian ini memberikan banyak pelajaran, terutama tentang kehilangan. Ya, kehilangan orang terkasih. Beberapa hari yang lalu saya membaca postingan instastory seorang penulis,
Hidup ialah tentang hilang, datang dan segala diantaranya.
Sehari setelah nenek meninggal, lahirlah cucu beliau. Memang benar istilah ada yang datang, ada yang pergi. Disini yang membuat kehilangan begitu terasa adalah ketika tengah malam, ya memang tidak setiap malam saya di rumah tapi beliau selalu memanggil, ketika ditanya “iya ma, kenapa?” beliau hanya tersenyum dan menjawab tidak apa - apa, seolah hanya memastikan kalau beliau tak sedirian di tengah malam. Ada yang menemani.
Tapi memang namanya hati, cucu-mu ini kadang merasa kesal, selalu terbangun karena ocehanmu yang berujung uring - uringan sambil bilang “Ada apa sih maaa... Udah malem tidur.” Maaf mama... :(
Yang membuat selalu sedih adalah ketika kakek yang sudah pikun karena usia, sampai detik ini beliau selalu menanyakan nenek kemana? Sudah banyak yang menjelaskan nenek kemana dan selalu direspon dengan tangisan, iya tangisan. Dan mengeluhkan kenapa tidak dirinya sendiri yang diambil duluan olehNya.
Pertanyaan “Nenek kemana?” entah akan berakhir sampai kapan, meskipun hari ini dijawab, besok dan lusa akan terus diulang.
This is undelived feelings, ingin jumpa.
Padahal beliau sendirian menemani saat terakhirnya, tanpa ibuku dan kerabat. Entah ada komunikasi apa sampai keduanya meneteskan air mata, hanya mama dan bapa yang tahu, karena setelahnya ketika kakek ditanya tadi nenek ngomong apa?