Helllooooooo… Cukup lama juga sejak terakhir kali wara-wiri di timeline Tumblr, but I knew I will come back for sureeeee, and tadaaaaa its me who never want delete this application although my memory card need some space every day… errrgghhh….
Hal yang pertama kali muncul dalam pikiranku saat ini tentang hal apa yang akan aku tuliskan adalah tentu saja beberapa hal yang terjadi dalam rentang waktu belakangan ini. And one big thing happened for sure in my life journal this year, yaitu menikah!! Hihi… Dan beberapa hal lainnya yang akan aku ceritakan agak detail dalam points berikut ini….
1. Aku menikahi pria yang sudah lama aku bayangkan. Yap. He is Aldian Farabi. Mungkin cerita tentang suamiku ini tidak pernah melintas dalam timeline Tumblrku, but for sure, he is the man I’ve been wanted to be my partner in life (till akhirah, aameen) for years! Yes, for years! Suatu saat akan ada cerita lengkap tentang pria kesayanganku ini, tapi beliau benar-benar sudah berlalu lalang di pikiran dan hatiku (tjieh) bahkan sebelum pertemuan kami yang pertama, bertahun-tahun sebelumnya. Setiap kali profilnya melintas bahkan sering kali sengaja kucari di media sosial, selalu datang pemikiran bahwa dia lah orangnya, dan ternyata Allah benar-benar mengantarkannya dekat denganku. And I married him. He will be my half in dunya till jannah, aamiin. Tentu saja banyak perubahan yang terjadi setelah menjadi seorang istri, tapi yang paling kurasakan adalah perasaan lega dan semakin bahagia, karena sudah jelas kemana perasaan cinta yang menggebu-gebu ini dicurahkan, dan semuanya dinilai ibadah, insya Allah. Ya Allah, tolong jaga kemurnian cinta dan niat kami seperti murninya mata air dalam surga-Mu, jadikan kami orang-orang yang dengan cintanya selalu mampu menebar banyak kebaikan di jalan-Mu. Aamiin ♥
2. Hal selanjutnya yang terjadi dalam kurun waktu ini adalah, menjalani program internsip dokter Indonesia, sebagai syarat menerima Surat Tanda Registrasi dokter umum yang dianggap memiliki kompetensi untuk menjadi dokter umum di Indonesia. Dan sekarang aku sudah berada di stase terakhir program internsipku, stase Puskesmas. Which is Puskesmas yang menjadi wahananya tak lain dan tak bukan adalah Puskesmas Woha. You know, a lot of things I got in my internsip journey. How I met 13 other doctors, my new sisters and brothers, who comes from different universities. We shared experiences, stories, and I would gladly say that I’m proud to be the part of Dokter Internsip Bima 2016-2017.
Oke, tentunya selain itu pengalaman lainnya yang aku temukan selama internsip di sini adalah salah satunya betapa orang Bima itu kuat-kuat. But sadly, kekuatan di sini bukan hal yang membawa pengaruh baik untuk diri mereka, tapi malah sebaliknya. Kebanyakan masyarakat Bima baru akan memeriksakan penyakitnya saat mereka sudah benar-benar terganggu dalam aktivitas kesehariannya, it means if we took an example of a woman with Breast Cancer, she was late, her cancer already in advanced stadium, di mana sudah sangat sedikit bahkan hampir tidak ada langkah pengobatan lagi yang bisa diusahakan. Memang mungkin faktor pendidikan, ekonomi dan budaya menjadi faktor penting yang melatarbelakangi hal ini, tapi untuk penyakit-penyakit lain pun, pasien-pasien baru akan memeriksan dirinya setelah penyakitnya dirasa benar-benar mempersulit aktivitasnya sehari-hari. Do you know what makes me really sad, I met patient with Breast Cancer while she was pregnant nearly in birth period, she didn’t come because of her cancer nor pregnancy, but to seek medicine because she felt difficult to breath, and it was because of her cancer has been spread in her lung. How irronic. Betapa kesehatan bukan menjadi hal yang utama dalam pikiran sebagian besar masyarakat Bima, yah, karena bekerja dan mencari uang untuk memenuhi kebutuhan dapur dan anak-anaknya di atas segala-galanya. Betapa luka-luka di kaki dan tangan para pekerja tidak begitu diperhatikan, mereka baru akan datang ke pusat kesehatan saat lukanya sudah membengkak, bernanah, dan jaringannya hampir akan mati. That’s a big thing in health life in here of course.
Hal lainnya yang paling menarik perhatianku adalah, betapa sebagian besar masyarakat Bima yang menganggap pemasangan infus adalah sumber dari kesembuhan, akan membaik kondisinya selama dipasangi infus. Tidak jarang pasien-pasien datang dan mengambil kesimpulan sendiri bahwa mereka hanya akan sembuh setelah diinfus, menginap semalam di Puskesmas. Pikiran ini sudah begitu mengakar dan menjadi sugesti sendiri bagi sebagian besar masyarakat. Bahwa infus adalah obat utama bagi penyakit mereka. And of course it’s undervalued human immune systems capability. Bahwa obat-obatan secanggih apapun tidak akan bekerja dengan maksimal tanpa ketahanan dari tubuh manusianya sendiri. Bahwa obat-obatan bukan selamanya hal yang paling penting dalam penyembuhan suatu penyakit, melainkan ada banyak unsur yang berpengaruh di dalamnya, yang paling besar adalah sistem ketahanan tubuh. Tapi justru hal yang paling penting ini dikalahkan kedudukannya oleh pemasangan infus, yang malah bisa memberikan resiko lain bila dilakukan dengan cara yang tidak tepat.
Ups, my paragraph end with some serious sentences. Hehe. Yap, thats some summaries from my journey in this past 2 years. And I can’t wait for another beautiful stories and surprises happen in the future. Semoga tetap istiqomah dalam jalan menggapai keridhoan-Nya. Aamiin.