Teruntuk Kalian yang Tidak Terkutuk
(Sebuah essay narasi dan keluh kesah tentang diri kalian yang menyebalkan)
Halo kalian, manusia-manusia modern sempurna.
Kalian yang hidup dengan baik-baik saja.
Kalian yang terlahir dari keluarga penuh kasih sayang.
Kalian yang setiap hari makan tanpa perlu berfikir atau mencari darimana.
Kalian yang mengenakan pakaian terbaik kalian setiap hari.
Kalian yang merasakan teknologi-teknologi baru nan mutakhir.
Kalian yang banyak mendapatkan kemudahan duniawi.
Kalian yang mungkin saja mendapat jodoh dari bibit bebet bobot yang bagus karena kalian berasal dari ras unggul atau dengan latar belakang kalian yang tadi sudah kuutarakan?
Atau kalian masih merasa serba kekurangan?
…
Kalau iya, kalian masih merasa kekurangan, masih merasa hari kalian buruk, …
Kalian yang dengan sebegitu beruntungnya masih saja mengeluhkan hari.
Kalian yang dengan sedikit masalah saja merasa hidup kalian sudah hancur.
Kalian yang sudah memiliki segala kebaikan yang Tuhan (bila ia ada) dan semesta berikan, masih saja merasa kekurangan
Lantas, bagaimana jika kalian merasakan hidup seperti kami?
Mungkin kalian sudah ingin bunuh diri
Atau mungkin berharap takkan pernah dilahirkan di dunia
Kalian mau tau seperti apa kehidupanku? Kehidupan kami?
Kami terlahir ke dunia dari dimana kemalangan bermula
Kami lahir dari ibu bapa yang sama seperti diri kami di hari ini terbentuk.
Biar kuceritakan siklus hidup kami.
Dan aku harap kalian DIAM!
Perhatikan dan mungkin catat dengan seksama apa yang ku jelaskan!
Supaya kalian malu padaku!
Dan mulai detik ini, kalian takkan pernah berani menatap kami dengan tatapan itu lagi. Tatapan seolah mengganggap kami hama yang menjijikkan yang harus segera menyingkir dari hadapan kalian
Kami terlahir di tempat yang mungkin kalian para manusia beruntung bahkan tak menyangka bahwa anak manusia bisa terlahir di tempat-tempat tersebut.
Di jalanan. Di sudut bangunan tua kumuh. Di ruangan dengan sanitasi terbatas. Di ruangan yang takkan kalian mungkin bayangkan.
Nah, sejak awal itu membuktikan bahwa kami berbeda dari kalian!
Dan mungkin sejak lahir, kita semua sudah tau takdir yang kita jalani. Pada saat kita bertemu saat dewasa kelak, kita adalah LAWAN!
Lalu nyatanya, walau lahir dari tempat yang tak kalian banggakan, kami nyatanya bisa bertahan. Hidup dan terus tumbuh.
Walau orangtua kami pun bahkan masing-masing dari mereka bingung, setiap kali mau makan harus makan apa, dapatnya dari mana, bagaimana cara mencarinya.
Orangtua kami saat kami lahir masih berusia muda.
Mereka rapuh. Kesulitan di sana sini. Di setiap relung kehidupannya.
Mereka sama sepertiku saat ini.
Mereka bersama mungkin karena alasan yang terduga.
Dan sebegini pun ku masih bisa beruntung mereka mau hidup bersama denganku.
Biasanya kalangan kami, bahkan tidak bisa menerima kelahiran anak mereka, dan membuangnya begitu saja di jalanan.
Dan setelahnya memutuskan untuk tak saling kenal, dan tetap meneruskan hidup dengan jalan yang keras
Kembali lagi ke kisahku, aku beruntung. Paling tidak bagi diriku
Entah menurut kalian bagaimana.
Walaupun ku telah terlahir, orangtuaku mau membesarkanku. Meski ujung-ujungnya takdirku tak jauh beda dengan orangtuaku. Jalanan
Jalanan adalah rumah abadi dari kami.
Ia yang mengajarkan kami untuk mawas diri.
Untuk menegaskan pada kami, siapa sesungguhnya diri kami.
Apa peran yang harus kami ambil dalam tatanan sosial.
Lalu ia juga yang mengajarkan kami, bagaimana membenci “si kaum beruntung” seperti kalian.
Dan bagaimana cara mengakali berbagai sistem, terutama sistem sosial yang kalian buat, yang sebenarnya sistem tersebut kalian buat hanya untuk kepentingan kaum kalian saja. Cih!
Terimakasih kepada kalian!
Kalian lah yang membentuk diri kami hari ini
Kalianlah yang menegaskan pribadiku saat ini
Kembali lagi, aku bertumbuh di jalanan sejak kecil.
Setiap hari menjalani hari dengan penuh tawakal.
Bahkan kalau ada pertandingan tawakal, mungkin aku dan kami lebih menang, dibanding orang beragama yang taat sekalipun.
Karena kami sesungguhnya yang paling tahu! Makna tawakal itu.
Tidur dimana malam hari saja, setiap harinya kami tidak tahu. Kami berpasrah pada semesta. Biarkan ia yang menggelarkan tanahnya untuk kami malam ini. Paling tidak untuk mengusir kantuk, sementara dingin menjadi selimut kami.
Dan bagaimana tidak pula?
Makan saja adalah sesuatu kemewahan terbesar bagi kami. Sesuap nasi bagaikan berlian. Dan mungkin yang terburuk, kami bisa bertengkar satu sama lain hanya karena soal urusan perut. Si kalian, “si kaum beruntung” itu, pasti akan menertawakan kami dan menganggap kami berperadaban rendah saat mengetahui hal itu. Tapi percayalah! Sesungguhnya kalian yang lebih rendahan!
Kalian “si kaum beruntung”, yang kalau makan di kedai makanan, menyisakan makanannya. Sial! Ingin rasanya ku ambil dari meja. Tapi pasti sebelum sempat kami mengambilnya, kami sudah diusir duluan. Bahkan kalau kami paksakan ambil, mungkin kami akan dipermalukan di muka umum.
Urusan kantuk demikian, urusan perut demikian.
Urusan pendidikan, kini ingin kuutarakan juga!
Agar kalian berhenti angkuh mulai dari detik ini juga!
Kalian “si kaum beruntung” menganggap pendidikan kalian tinggi?
Kalian menganngap, hanya dengan kalian bersekolah di institusi pendidikan, derajat kalian sudah naik?
Sesungguhnya di mata kami, kalian tidaklah setinggi itu.
Kalian hanya sedang dalam ilusi merasa tinggi saja.
Padahal kalian sesungguhnya lebih rendah dari kami dalam banyak urusan!
Terutama dalam perihal Pelajaran Merasa dan Moral.
Mau tau apa saja kurangnya kalian???
Kalian boleh saja sekolah tinggi, tapi aku dapat memastikan ini, sekolah yang pernah kalian pijaki pasti tidak akan mengajarkan kalian cara berbagi di keadaan paling sulit sekalipun dengan sesama orang dengan kesulitan.
Sekolah kalian takkan mengajarkan mampu bertahan hidup tanpa uang sepeserpun.
Sekolah kalian takkan mengajarkan cara melewati hari demi hari tanpa rumah.
Sekolah kalian takkan mengajari cara menjadi “ninja” seperti kami. Hidup dengan terlihat dan seketika bisa tak terlihat.
Sekolah kalian takkan mengajari caranya melewai hari demi hari penuh luka dan penuh ketidakpastian, namun mau tidak mau dihadapi.
Dan masih banyak lagi yang sekolah kalian tidak ajarkan, yang kami justru sangat mahir dalam hal itu.
Palingan juga sekolah kalian ujung-ujungnya hanya mengajarkan cara mendapat uang yang banyak, dapat jodoh yang satu kalangan, dan cara menindas kami ini.
Lalu bagaimana kabar kehidupan sosial kalian?
Kalian masih merasa hari kalian kurang sempurna?
Dan kalian masih ingin merusak hidup kalian yang sudah ada, dengan menengguk minuman yang sama seperti kami?
Jangan segampang itu kalian labil!
Pikirkan, sudah pantaskah kalian menenggaknya?
Kalau kami sih, mungkin saja pantas.
Kamu mau tau alasannya mengapa?
Karena hidupmu tak sama dengan kami.
Hidupmu berada dalam lintasan yang kalaupun berliku, kamu tetap masih berada dalam satu lintasan.
Setiap hari adalah ketidakpastian bagi kami!
Hidup adalah ketidakpastian dan pesakitan.
Kami bisa saja hari ini kuat. Tapi bisa saja sangat kesakitan di esok hari saat kejamnya jalanan, tiba-tiba datang.
Dan segala kebaikan serta keburukan, bisa datang dengan tiba-tiba.
Satu-satunya harta yang kami punya hanyalah jeritan dan kekuatan dari diri kami. Kekuatan itu yang menuntun kami menyelesaikan hari demi hari kami.
Hidup dengan ketidakpastian adalah keniscayaan bagi kami.
Dan saat kami sedang lelah, perkenankanlah kami menenggak.
Agar paling tidak ada secercah keindahan. Sedikit saja
Dari keseluruhan hidup kami yang sebagiannya sudah kamu ketahui.
Dan terakhir, bicara cinta. sungguh menyebalkannya saat kalian “si kaum beruntung” pamer urusan percintaan kalian.
Menyatakan bahwa cinta kalian suci, dan kalian lebih baik dan terhormat dalam urusan cinta.
Cih! Sesungguhnya kalian tidak tau apa-apa soal cinta!
Cinta kalian bahkan telah dikonstrusi oleh sistem yang kalian buat dan anut!
Cintaku, adalah mungkin cinta yang sesungguhnya.
Cintaku adalah mencintai hidup yang walaupun hidupku segini menghujamku dari berbagai sudut
Cintaku adalah mencintai ketidakpastian dengan penuh pasti
Cintaku adalah berbagi meski tidak memiliki apapun didunia ini
(Bahkan kalian pasti kebingungan, bagaimana bisa ada teori berbagi tanpa memiliki apapun bukan!? HAHAHA)
Cintaku adalah pelepas penat dan kepahitan
Cintaku adalah mencintai apa yang aku benci. Yaitu si kehidupan itu sendiri. Karena meski ku benci hidupku, ku tetap jalaninya hingga titik penghabisan.
Cintaku pasrah dan tulus.
Dan mungkin cintaku adalah yang menuntunku hingga detik ini
Dan kumohon, jangan samakan cintaku sama seperti cinta kalian, para “kaum beruntung”
Karena sesungguhnya cinta kalian terlalu menye-menye
Dan satu lagi, kumohon, jangan ajarkan atau hakimi kami, orangtuaku, makna cinta yang suci, ataupun cinta sejati. Karena sesungguhnya kalian tidak lebih tau dari kami…
Sesugguhnya kalian hidup dalam ketidak tahuan dan ketidak mau tahuan
(Bila aku masih sudi memaksakan diriku berdialog dengan orang-orang yang sebegitu ngehe nya seperti kalian)
(Tulisan ini penulis dedikasikan untuk teman-temannya di jalanan. Dengan penuh segala hormat dan tabik. Karena sesungguhnya mereka serba tahu dan sangat kuat dibanding penulis. Tabik)