kung, kangen.
sejak perginya kakung, aku memang bisa lebih bebas. tiap hari minggu tidak harus ada mesin elektronik rumahan yang harus kakung kerjakan karena konslet dan aku 'harus' bantu, tiap malam tidak ada permintaan untuk ditemani ke wedang ronde dekat perempatan yang kata kakung itu adalah langganannya kakung sejak masih pacaran sama uti, bahkan, tidak ada suruhan untuk beli rokok saat aku di tengah-tengah chord lagu yang sedang kupelajari.
aku sudah paham kalau membuka baut itu ke kiri sedangkan memasangnya ke kanan, aku juga tahu tentang tukang pecel andalanmu itu buka malam karena yang beli rata-rata kuli panggul pasar, bahkan aku sudah tahu cara ganti busi motor sendiri, semua karena ajaranmu, kung.
sebenarnya, kangen yang kurasakan tidak kangen yang menye-menye, tidak kangen yang tiap aku kangen kakung lalu aku menangis sedih. tidak pula kangen yang tiap aku ke makam kakung lalu aku membaca al-fatihah sambil menangis. tidak pula kangen yang menangis tiap membaca rabighfirlii waliwaalidayya sambil menangis.
kangenku sambil tersenyum. mengingat aku yang harus menahan pegal-pegal di tangan kananku saat kakung bilang "senternya diarahin ke sini, jangan gerak-gerak" saat kung bilang kita harus ganti bohlam lampu motornya mama saat menjelang maghrib, atau saat kung minta aku bersihkan busi motor dengan amplas halus tapi malah kuambil amplas kasar.
kung, kangennya haru. maaf, ya, dulu aku belum sempet bilang kalau aku sayang sama kung.
kung, aku sekarang harus benar-benar coba inget-inget wajah sama suara kung dulu. rasanya ngga enak banget harus bener-bener fokus dulu baru inget wajah sama suara kung.
kung, nanti malam ke mimpiku ya.
aku kangen kakung.











