suatu hari, ayah saya mengunggah foto bayi perempuan yang mengenakan tutup kepala, seperti kerudung berwarna merah muda, di grup what’s app keluarga. tak lama berselang, mas yunus mengirimkan foto yang sama kepada saya melalui pesan pribadi. tanyanya, “kic, itu mbak yuna atau attirah ya?” (attirah adalah kakak sepupu mbak yuna).
“mbak yuna skus. cantik yaa…” saya menjawab, setengah geli sekaligus sedih juga. mas yunus yang jarang sekali bertemu mbak yuna memang belum benar-benar mengenali wajah mbak yuna yang saat itu berusia 5 bulan. apalagi, wajah anak bayi seringkali berubah-ubah.
sebelum itu, refleks diri saya menuliskan, “masak muka anak sendiri nggak hapal sih?” untungnya what’s app ini medianya tulisan, saya sempat berpikir dulu sebelum mengirimkan. memangnya, nggak bisa hapal wajah anak sendiri itu mas yunus yang mau? enggak kan.
setiap satu hari residensi mas yunus berlalu, saya semakin sadar pentingnya kami untuk sama-sama belajar memaklumi. dulu saya masih suka berhitung: sudah berapa lama kami tidak bertemu, sudah berapa lama tidak telepon atau video call, sudah berapa lama tidak ada kabar, berapa baris chat dalam sehari, siapa yang lebih dahulu menghubungi, dan hal-hal sejenisnya. sampai suatu hari yang entah kapan, semua itu berhenti.
seringkali, berhitung seperti itu membuat saya tidak bersyukur, membuat saya menuntut–membuat saya kecewa sendiri. padahal, memangnya, nggak ketemu berbulan-bulan itu mas yunus yang mau? enggak kan.
saya jadi teringat dengan pesan ayah dan ibu sebelum saya menikah dulu. dalam setiap pernikahan, pasti ada masalah yang datangnya dari luar. saat masalah seperti itu hadir, jangan sekali-sekali menyalahkan pasangan kita karena masalahnya ada. siapa sih yang mau ada masalah? nggak ada kan. oleh karenanya, janganlah kita malah menambah rumit masalah. janganlah karena masalah A, kita menyimpulkan Z. belum tentu begitu!
belajar memaklumi ini ternyata ilmunya sulit, tetapi perlu dicoba dan kalau bisa dilakukan, hadiahnya besar. pelan-pelan, saya paham bahwa ucapan kangen (bagi mas yunus) justru akan menambah beban, jadilah rasa kangen itu ditelan saja dulu sendirian. tidak lagi harus bilang, “ke mana saja kok nggak ada kabar?” alih-alih cukup, “jangan lupa sholat dan makan. i love you.”
saya mulai paham bahwa saat tidak ada kabar, mas yunus biasanya berada di tengah kesibukan yang terlalu melelahkan (operasi bertubi-tubi, jaga sampai 48 jam, dan lain-lain), sehingga saya tidak perlulah menuntut harus selalu ada kabar. yang penting doanya, yang penting mas yunus tau bahwa saya akan selalu ada (insyaAllah) jika mas yunus membutuhkan.
ada banyak sekali maklum-maklum lain yang baru bisa saya pelajari seiring dengan berjalannya waktu. mas yunus pun begitu, akhirnya maklum bahwa ibu rumah tangga seringkali repot sehingga jauh dari ponsel. tidak angkat telepon tidak berarti mas yunus tidak diutamakan, dan seterusnya.
akhirnya, seni pernikahan adalah terus memaklumi sambil juga terus mengingatkan dengan baik. adalah menyayangi sebanyak-banyaknya namun berharap secukupnya saja. adalah berpikir berkali-kali sebelum berucap: adakah kata-kata kita membahagiakan pasangan kita, membuatnya merasa ada teman, aman, nyaman? atau jangan-jangan hanya menambah bebannya saja. nah, semangatlah kita terus berlatih sebab menerima tidaklah saat ijab kabul saja, tetapi juga setiap detik setelahnya.















