Feb, 2017 “Aden minta maaf misal ado salah samo waang yo bal, mintak doanyo aden capek sembuh” -- "insyaAllah san, den jugo minta maaf banyak kurang jadi kawan. Ang semangat yo san"- Kurang lebih begitu percakapan terakhirku dengan ihsan, dan semoga Allah menempatkan sahabat kami ini di sisi terbaikNya Agustus 2016, aku kenal ihsan tentu tanpa sengaja. Sebagai sosok dengan postur tinggi, aku sadar betul kehadiranku di kursi depan akan mengganggu teman-teman di belakang, sehingga akhirnya memilih kursi tengah - belakang (masih keliatan papan dan slides kok hehe). Kuliah perdana kami, kelas N-35, teknik nuklir angkatan 2016 saat itu adalah Gambar Teknik. Kelas dimulai pukul 07.30, dan kami para maba bersemangat dan idealis ini sudah hadir 15 menit sebelum kelas dimulai. 10 menit setelah kelas berlangsung, datang lelaki yang berperawakan khas melayu. Mumpung ada bangku kosong di sebelahku, ia langsung duduk dan kami berkenalan dengan cara paling laki. Mengernyitkan dahi ke atas dan menyebut nama masing-masing dan bersalaman. Selesai kelas, barulah kami berbincang sejenak, hingga akhirnya aku dapati ia berasal dari provinsi yang sama denganku, sekolah yang sejenis tipenya dengan sekolahku, dan alasan yang mirip memilih nuklir denganku. "Den nak buat reaktor fusi macam iron-man tu bal",-- yang tentu kusambut dengan tawa karena persis sekali alasan ini yang kugunakan ketika ditanya "why nuclear engineering?". Sejak itu aku dan ihsan beserta satu lagi kawan kami Adib menjadi begitu dekat. Kami sering berdiskusi, belajar, dan mencari buka gratisan bersama, dan mengikuti rangkaian ospek bersama. Oktober 2016 "Den daftar KM ni bal, ang daftar ndak?"-- "Aden ndak do san, nak daftar BEM FT ajo nampaknyo ni"- "Ha mantap tu, nantik aden jadi ketua KM, ang jadi ketua BEM yo"-- "Hee panjang mimpi ha, tapi aminkanlah dulu se ndak"- Desember 2016 Libur semester perdana menyerang. Aku yang saat itu sudah dapat warning dari orangtua untuk pulang tiap semester sudah membeli tiket jauh hari sebelum keberangkatan. "Ang bilo balek san? samo lah yok aden beli tiket tanggal xx ha" - "Alah dah habis ni bal (sambil menunjukkan aplikasi book flight order yang penuh). Ndak bisa awak samo, aden minggu depannyo se lah"-- "Ha okelah, ketemu di sano awak nantik e"-
Februari 2017 Selama januari, isan tidak membalas satupun pesan lineku saat itu. Bahkan hingga februari, jadwal kuliah semester baru masuk, ia pun belum hadir dan mengisi KRS saat itu. DPA yang mengetahui kami teman baik lantas bertanya pada saya, namun saya tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan.
Hingga akhirnya kabar itu datang, 5 Februari 2017 Orangtua ihsan menelpon DPA kami dan mengabari kabar ihsan. Ihsan didiagnosa terkena kanker otak dan harus dirawat di RS pasca operasi.
I was calmed outside, but broke piece after piece inside. Di saat itu aku merasa terkena petir di siang bolong. Bagaimana mungkin, ihsan yang selama ini terlihat baik-baik saja, selalu tertawa ketika bersama, menyimpan rasa sakit yang mungkin aku tidak bisa menahannya namun ia bisa menjaganya begitu lama. Semakin menyakitkan, ketika aku baru mengetahui bahwa rasa sakit kepalanya mulai menjadi-jadi sejak ia di pesawat penerbangan balik ke Pekanbaru. Momen yang seharusnya aku bisa ada di sampingnya saat itu, namun malah tidak ada. Yang mungkin jika aku di sana menemaninya, mungkin ada hal berbeda dan tidak harus sampai begini. Minimal, ia tidak harus merasakan dan melewati semuanya sendiri. Padahal kami tau, sesama rantau kami harus berbagi, baik itu bahagia maupun derita. I kept thinking I wasn't a good friend for you eventhough you insist that I am a good fellow of yours. ____________________________________________________________ San, dah banyak tahun berganti, banyak pula cerita lama yang pernah kita impikan terjadi. San, kau inspirasi ketika kami membuka sesi konseling psikologi pertama di FT UGM, karena sejak itu aku tau, ada hal yang tidak bisa kita ceritakan bahkan ke teman terdekat, namun tetap butuh ditumpahkan dan disolusikan. Sejak itu pula aku bertekad membantu agar tidak ada lagi hal seperti ini terjadi, minimal kita kurangi dan aku tau itu juga yang kau inginkan pasti san. San, maaf aden belum bisa jadi kawan baik untuk kau. Masih sering kepala batu dulu, sampai sempat ndak betegur 3 hari. Makasih dah mau jadi kawan baik, berdiskusi, dan ngasi hikmah yang banyak untuk aden. San, kau kawan baik. Salah satu yang terbaik yang pernah kami punya. Kami sayang kau, namun Allah lebih sayang sama kau ya san. Semoga kau udah tenang dan lapang di sana ya san. InsyaAllah doa kami terus dilangitkan untuk sahabat terbaik kami. Alfatihah... 7 tahun meninggalnya sahabat kami, Ihsan Maulana Nooreza.














