[RESENSI BUKU] SENI TINGGAL DI BUMI
Penerbit: Kanan Publishing
Seperti buku “Perempuan Teduh” karya Harun Tsaqif, karya Teh Qoonita ini juga berupa buku antalogi. Buku antologi ini diisi dengan 67 cerpen yang beliau kelompokkan menjadi 6 tema besar. Gambaran besar dari isi buku ini adalah pedoman menjelajahi dunia ini sesuai aturan-aturan Islam yang disampaikan dengan kreatif. Cerita-cerita dalam antologi ini pun mudah dipahami oleh anak muda.
Berikut di bawah ini ulasan saya dari setiap Bab (tema) dalam buku ini:
Dalam tema pertama, cerpen-cerpen di sini ingin mendorong manusia untuk terus mengembangkan diri demi meraih ridha Allah SWT. Judul-judul tiap cerpen pun berkaitan erat dengan isu-isu yang dialami oleh pemuda-pemudi zaman sekarang.
Contoh: Tak Percaya Diri = menyikapi rasa insecure hamba Allah yang tiada habisnya, Social Climber = memberi perspektif baru kepada para pengejar titel melalui kisah para sahabat Rasulullah SAW, Status = membandingkan status keren yang didambakan manusia zaman sekarang dengan sirah pejuang Islam terdahulu yang statusnya tak hanya teringat di Bumi namun meroket sampai langit ketujuh.
Tentang Hati yang Ingin Dicintai
Wah, dalam banget ya nama babnya. Kumpulan cerpen dalam tema ini menjabarkan berbagai masalah hati beserta solusinya. Mulai dari hati keras yang masih bisa luluh, sampai pada cara menjaga rasa cinta supaya terhindar dari zina. Bacaan yang bagus untuk kalian yang ingin meninggalkan hubungan atau kebiasaan buruk yang menjauhkan kalian dari cinta Allah SWT.
Ini nih..bab spesial untuk perempuan. Tapi kaum laki-laki juga boleh baca kok, seagai bekal untuk mendidik anak dan istri Anda kelak. Bab ini berisi narasi pemuliaan perempuan dalam Islam. Ini pun diperkaya lagi dengan sirah beberapa perempuan mulia pada zaman kerasulan. Ini bagus untuk para perempuan yang ingin meninggikan derajatnya dengan jalan yang lurus, bukan malah keseret arus feminisme yang tak sesuai ajaran Islam.
Kalau mau sukses ya kudu pelajari biografi orang-orang sukses kan? Bab ini tepat untuk kalian yang ingin menjelajahi biografi manusia-manusia yang dinanti-nanti oleh surganya Allah. Mulai dari para nabi pada zaman kerasulan, sampai pejuang-pejuang hebat pada masa khilafah. Bahasanya tidak berat sehingga bisa dimengerti oleh anak SMP sekalian. Jadi untuk kalian yang belum terbiasa membaca sirah nabawiyyah tulisan Teh Qoonita ini bagus untuk menumbuhkan rasa kagum kalian terhadap para pejuang agama Allah
Menurut saya ini bagian paling seru dalam buku ini. Sesuai judul babnya, kita diajak untuk melihat keadaan dunia kita dengan kacamata yang jernih. Kita akan mengetahui asal usul konflik disuatu wilayah, baik yang sudah tinggal sejarah, maupun yang masih berlangsung sampai detik ini. Merindingnya, bab ini juga menunjukkan kelemahan umat Islam saat ini. Jauh berbeda dengan masa kejayaan Islam zaman dulu yang telah berlangsung selama berabad-abad. Buat kalian yang merasa buta politik, bab ini adalah lentera ilmu yang bisa membuka perspektif kalian kondisi masyarakat dunia yang tak selalu diajarkan di bangku sekolah.
Bab terakhir dalam buku ini, berisi cerita buatan maupun yang nyata tentang kiat-kiat menyiapkan tempat terbaik di surga-Nya Allah. Bahasa penyampaian dan perspektif yang digunakan Teh Qoonita pun sangat kreatif sehingga saya tidak bosan membacanya meskipun konsep narasinya sederhana. Contoh, siapa sangka cerita yang berawal dari melihat sesuatu dari jendela pesawat bisa menumbuhkan inspirasi islami?!
Mempunyai desain cover yang sangat cantik dan unik
Penggunakan bahasa yang cukup ringan sehingga bisa dipahami oleh anak yang baru berumur 10 tahun
Setiap judul cerita kreatif sehingga bisa memancing para pemuda untuk membaca sampai selesai tanpa rasa bosan
Masih terdapat typo di berbagai halaman
Penamaan rezim tidak konsisten. Contohnya di cerpen “Islam Garis Letoy” Ada rezim yang sama tapi penamaan yang berbeda, yankni “Dinasti Ottoman”, “Ottoman”, “Utsmani”. Saya sebagai pembaca memahami bahwa rezim yang dimaksud oleh penulis adalah Kesultanan Utsmaniayyah. Maka dari itu, seharusnya penulis tidak mencapuradukkan “Utsmaniyyah” dengan “Ottoman”, sebab nama resminya diambil dari bahasa Arab yakni (دولت عليه عثمانیه). Sehingga kita sebagai seorang Muslim sebaiknya membuang kata Ottoman, sebab itu adalah ejaan dari orang-orang Amerika, Inggris, dan negara Barat lainnya yang tidak terbiasa menggunakan bahasa Arab.
Akhir kata, saya merekomendasikan buku ini untuk kalian yang masih dalam tahap-tahap awal mendalami Islam. Karena bahasa yang digunakan cukup sederhana dan tetap kreatif, saya anggap buku ini aman dibaca oleh anak yang baru berumur 11-12 tahun maupun orang-orang dewasa sekalian.